Wisata Bali: Sektor pariwisata dibuka setelah merugi Rp48, 5 triliun kelanjutan Covid-19, namun ‘belum semua siap’ dan ‘masih berisiko’

Wisata Bali: Sektor pariwisata dibuka setelah merugi Rp48, 5 triliun kelanjutan Covid-19, namun ‘belum semua siap’ dan ‘masih berisiko’ post thumbnail image

Bali membuka diri untuk turis pribumi mulai 31 Juli setelah sektor pariwisata tersebut mengalami kerugian sebesar Rp48, 5 triliun akibat pandemi Covid-19. Akan tetapi, belum semua tempat wisata siap memberlakukan protokol kesehatan dan seorang virolog mengutarakan “masih berisiko” untuk membuka zona pariwisata.

Dinas pariwisata Bali merekam kerugian Rp9, 7 triliun tiap bulan, sehingga tak ada insentif bagi pelaku usaha wisata, serta menyebut pembukaan kembali wisata pada Pulau Dewata sebagai aksi ‘gotong royong’.

Namun, meskipun sektor pariwisata bakal dibuka, asosiasi yang bergerak di perhotelan dan restoran mencatat lebih dari 90% sektor ini belum diverifikasi untuk menjalani protokol Covid-19, karena terbentur masalah permodalan.

Sementara tersebut, ahli virologi Universitas Udayana, I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengucapkan belum ada data yang mampu dijadikan acuan untuk mengukur aksi virus, sehingga belum saatnya wisata Bali dibuka.

Bayu Saputra ialah pekerja di sektor pariwisata Bali yang ‘dirumahkan’ selama pandemi virus corona. Dia belum yakin mampu cepat dipanggil untuk bekerja, walaupun pemerintah Bali sudah memberi lampu hijau bagi turis domestik muncul ke Pulau Dewata.

“Dibuka lagi jadi tidak seramai tahun lalu, kira-kira dari orang-orang luar negeri nggak dibolehkan ke sini karena di Bali itu masih belum sungguh-sungguh terkumpul, terdata dengan baik. Jika turis domestik itu sedikit, ” kata Bayu kepada wartawan Anton Muhajir yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (29/07).

Bayu pula tak punya rencana untuk berplesiran, sampai mendapat kerja terlebih awal. “Nggak jalan-jalan dulu, kalau mampu kerja dulu, cari duit, ” katanya.

Bayu dan 76. 200 praktisi yang dirumahkan atau di-PHK karena dampak Covid-19 di Bali sungguh harus bersabar untuk mendapatkan pekerjaan kembali.

Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Tenaga Kerja, IB Ngurah Arda, tak ada kepastian itu yang dirumahkan atau di-PHK bakal segera kembali bekerja, meski wisata sudah mulai dibuka.

“Sulit diprediksi tergantung perkembangan pariwisata itu tunggal, ” katanya melalui pesan terekam kepada BBC News Indonesia, Rabu (29/07)

Sementara itu, menurut I Besar Ricky Sukarta, selaku Sekretaris Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, belum semua sektor tersebut siap untuk dibuka kembali.

Gede Sukarta mengambil gambaran dari Kabupaten Keras di mana wilayah ini ia sebut sebagai ‘barometer’ karena memiliki industri wisata perhotelan, villa, homestay , dan restoran terbesar di Bali sekitar 3. 425 unit.

“Dari sekian itu, 10% pun belum kita verifikasi. Karena ketika dia siap untuk diverifikasi, mereka harus melakukan self-assessment , ” kata Besar Sukarta kepada BBC News Indonesia.

Gede Sukarta yang ditunjuk sebagai tim testimoni oleh pemerintah sempat mengatakan, setelah sektor pariwisata ini diverifikasi lalu mendapat sertifikat sebagai tiket untuk bisa dibuka kembali.

Tim verifikasi bakal memastikan tempat-tempat penginapan itu sudah mendukung protokol Covid-19, termasuk logistik dan orang-orang yang bekerja.

“Setiap dua sampai empat jam seluruhnya, semua ruang yang bersentuhan dengan tamu, karyawan itu harus disinfektan dengan kandungan alkohol 70%, ” kata Gede Sukarta menjelaskan salah satu protokol yang harus dipenuhi.

Selain itu, kata Gede Sukarta, bagian hotel juga wajib menyediakan kedok cadangan, tempat cuci tangan, beroperasi sama dengan klinik, menyediakan kawasan khusus isolasi, hingga pengecekan guru tubuh secara berkala.

Protokol ini memerlukan biaya, termasuk membayar gaji personel, promosi dan segala biaya operasionalnya, seperti membuka usaha baru. “Nah ini perlu bantuan, BLT (bantuan langsung tunai) ini dari negeri, ” katanya.

Pemprov Bali mengaku kehilangan pendapatan di sektor pariwisata sebab pandemi virus corona, per bulan Rp9, 7 triliun. Sehingga semasa Maret – Juli mencapai Rp48, 5 triliun. “Ya benar, ” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa mengamini potensi kehilangan devisa dari sektor tersebut.

Putu mengucapkan, pihaknya tak mengalokasikan anggaran untuk insentif bagi pelaku usaha wisata di Bali, bahkan untuk ongkos sertifikasi industri penginapan. “Kita nggak punya anggaran untuk sertifikasi itu. Betul-betul gotong royong, ” ungkapnya.

Ia juga belum bisa menetapkan waktu sudah pasti mengenai sektor pariwisata kembali normal dan hanya mengatakan, ‘kita ingin segera bangkit’.

Klub malam belum dibuka

Putu menambahkan pihaknya belum menelungkupkan industri hiburan yang memicu orang-orang berkerumun. “Kalau klub malam tanpa dulu, kolom renang yang umum jangan dulu. Kalau kebon binatang, pura, Pantai Pandawa, Pantai Sanur, Pantai Kuta itu kita bekerja, ” katanya.

Untuk memastikan Protokol Covid-19 diterapkan industri pariwisata saat Bali dibuka kembali, Dinas Pariwisata sudah membentuk tim pengawas, termasuk menyandarkan hukum adat, yaitu ‘Pararem’ dalam mana orang yang melanggar hendak dikenakan sanksi membayar beras lima kilogram.

“Belum lagi di desa adat, itu sudah ada Pararem Lara Covid namanya, kesepakatan dalam memukul wabah ini, secara adat, ” kata Putu.

Sementara itu, I Ketut Ardana, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) mengatakan kerugian zona pariwisata yang ditaksir Pemprov Bali sebagai ‘masuk akal’.

Kontribusi devisa pariwisata Bali pada 2019 terhadap perekonomian nasional sebesar Rp75 triliun ataupun 28, 9%. “Jadi make sense (kehilangan pendapatan) Rp9, 7 triliun, ” kata Ketut.

Khusus sektor jawatan perjalanan wisata di Bali, Ketut memperkirakan potensi kehilangan pendapatan Rp5 triliun hingga akhir tahun. “Karena memang tidak ada kegiatan sama sekali. Betul-betul mati, katakanlah begitu, ” katanya.

Namun, Ketut optimistis pembukaan kembali akses wisata pada Bali menggerakan kembali roda perekonomian masyarakat. Ia memperkirakan pertengahan tarikh depan, dengan syarat vaksin sudah ditemukan atau pemerintah dapat menyungguhkan calon wisatawan bahwa Bali telah siap dengan protokol kesehatan.

“Karena tersebut kan memakan waktu mereka bahan wisatawan masih berpikir, kemudian biro perjalanan juga masih menyiapkan muncul untuk menerima pesanan, melakukan persiapan-persiapan, menangani perjalanan wisatawannya ke destinasi, ” kata Ketut.

Sekitar 60-70% jentera ekonomi Bali selama ini digerakkan industri pariwisata. Namun, pandemi Covid-19 telah memukul sektor yang seperempatnya menyumbang devisa nasional.

Pertumbuhan ekonomi Bali di triwulan I-2020 sebesar -1, 14% dibandingkan periode yang sama tarikh lalu (yoy). Akomodasi makanan & minuman -9, 11%, industry pengolahan -7, 95%, transportasi pergudangan -6, 21%, impor luar negeri -38, 81%, ekspor luar negeri 21, 87%, konsumsi Lembaga Non Laba yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) -4, 67%.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan III-2020 akan terkontraksi dan berada di kisaran -9, 4% s. d -9, % (yoy), sedikit membaik dibanding prakiraan triwulan II 2020 yang sebesar -9, 5% s. d -9% (yoy).

Masih berisiko untuk dibuka

Pandai virologi Universitas Udayana, I Paduka Ngurah Kade Mahardika menilai aktivitas virus di Bali masih belum bisa diukur karena tak ada data dasar untuk menghitungnya. Bahan tersebut adalah rasio tes PCR.

“Di Bali saya tak punya data. Kalau saja ada data positif rate harian, saya dikasih dan ada tren menurun, sungguh, sudah bilang, boleh berani dibuka, ” kata Kade Mahardika kepada BBC News Indonesia.

Kade Mahardika serupa memantau tingkat hunian RS yang masih tinggi di Bali, jadi pariwisata di Bali masih berisiko untuk dibuka. “Pariwisata dari asing bali, masih berisiko untuk dibuka walau pun mereka pakai sarana administratif dengan uji swab, tes rapid test, ” katanya.

Semenjak awal Juni, Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus baru per hari di Bali terus meningkat.

Per 29 Juli 2020, jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 3. 310 orang, dengan kematian 48 orang dan sembuh 2711 orang. Kasus positif tertinggi berada di Denpasar yaitu 1282 kasus dan terendah di Jembrana yaitu 59 kasus.

Pemprov Bali berencana membuka kembali pariwisata untuk pelancong domestik mulai 31 Juli dan pelancong dari luar negeri 11 September mendatang.

Related Post