Virus corona: Limbah infeksius Covid-19 masih ditemukan di TPA, ‘ada kebebasan, pengabaian, dan tidak ada pengawasan’

Virus corona: Limbah infeksius Covid-19 masih ditemukan di TPA, ‘ada kebebasan, pengabaian, dan tidak ada pengawasan’ post thumbnail image

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Limbah infeksius atau Bahan Berbahaya & Beracun (B3) medis yang diduga berasal dari rumah sakit, klinik, puskesmas atau fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) kerap ditemukan selama kala pandemi Covid-19 di Tempat Penyingkiran Akhir (TPA).

Perhimpunan Rumah Kecil Indonesia (PERSI) mengeluhkan minimnya sarana pengolahan limbah B3 medis, & ‘kebingungan mau diapakan’.

Pemerintah mencatat terjadi peningkatan hingga 30% limbah B3 medis di masa pandemi, dengan rencana menambah fasilitas pengelolaan yang sejauh ini masih berpusat dalam Pulau Jawa.

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Sementara, aktivis lingkungan menilai masih ditemukannya limbah B3 medis dalam TPA, merupakan bentuk kelonggaran serta pengabaian atas masalah lingkungan & manusia.

Deretan truk sampah berbaris dalam jalur Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Satu persatu sampah dari punggung truk dikeruk eskavator menjadi ‘bukit sampah baru’.

Setidaknya setiap hari kira-kira 750 ton sampah dari keluarga, pabrik, pertokoan, perkantoran di 16 kecamatan di Kabupaten Bekasi berakhir di TPA ini.

Lahan seluas 11, 6 hektar telah menjadi perbukitan sampah setinggi hingga 20-30 meter dari permukaan jalan.

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto berada di tengah-tengah gunungan sampah. Hanya beberapa menit berjalan menelusuri lokasi TPA Burangkeng, ia menemukan rangkaian botol infus yang masih lengkap dengan jarumnya.

“Kayaknya darahnya juga masih ada nih. Saya ambil lagi. Ini siap urusan domain pemerintah, urusan B3 ini, limbah infeksius ini. Oleh karena itu ternyata banyak, ” kata Ciling sambil mengangkat beberapa selang infus yang bercampur dengan limbah rumah tangga, Rabu (14/10).

Tak jauh dari lokasi sampah rangkaian botol infus, pula ditemukan masker, baju pasien buat operasi, dan sarung tangan longgar yang biasa digunakan di fasilitas layanan kesehatan.

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

“Ini ternyata juga di beberapa bercak kita juga menemukan bekas menyarung tangan. Jadi ini memang, TPA ini menjadi sasaran pembuangan limbah medis, ” kata Bagong dengan ditemui wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham.

Di antara barisan mobil besar, Paminan, 50 tahun, berdiri di atas salah satu truk sampah. Mengorek-ngorek punggung truk, meminta ada material yang bisa ia jual.

Paminan sudah menjadi pemulung hampir tiga dekade, mengaku menemukan limbah medis untuk dipilih dan dijual lagi.

Pemulung TPA Burangkeng

“(Botol infus) diambil, cuma yang nggak tersedia airnya, kan sudah termasuk target limbah. (Masker, hazmat, sarung lengah karet) Nggak diambil, ” sekapur kakek 12 cucu ini.

Paminan tidak punya pilihan untuk berjibaku dengan tumpukan sampah, yang telah bercampur dengan limbah medis. Antara takut dengan tidak takut penularan Covid-19, ia mengatakan “Kita bilang gamang, ya namanya cari (uang) pada sini. Dibilang nggak takut, ya takut. ”

Pemulung lainnya, Arsanah, 45 tahun, sudah biasa menemukan limbah medis, termasuk botol infus dengan masih lengkap dengan jarumnya.

“Dibungkus, pada plastik. Saya sobek, ada gitu, saya gunting, jarumnya dibuang, botolnya saya ambil, masih ada airnya kan. Kalau dijual Rp2 ribu (per kilogram), campur-campur, sama tutup gallon (air), sama infusan tersebut, ” katanya.

Pemulung TPA Burangkeng

Setiap hari Arsanah mengumpulkan material berupa plastik atau botol kaca buat dijual lagi dengan harga Rp400 – 2000 per 1 kg. Material yang didapat dalam mulia hari hingga 20 kilogram, dengan pendapatan fluktuatif Rp20. 000 berantakan 50. 000/hari.

Menurut catatan KPNas, total pemulung yang menggantungkan hidup dibanding limbah di TPA Burangkeng diperkirakan 200 orang. Itu belum termasuk dengan pekerja pengangkut sampah.

Bukan hanya di TPA Burangkeng, temuan limbah B3 yang diduga berasal lantaran rumah sakit, puskesmas, dan klinik juga ditemukan di aliran sungai Cisadane, Kota Tangerang.

Komunitas Banksasuci

Komunitas Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci), rutin berpatroli di sungai Cisadane, pertengahan Oktober kemarin. Direktur Bank Sasuci, Ade Yunus mengatakan, sampai saat ini sedang ditemukan limbah B3 medis. “Temuan kita hanya 5 buah sampah medis berupa infusan. Tapi kalau yang sebelumnya, agak kita dapatkan temuan sekitar 30an, ” katanya, Selasa (20/10).

Ade Yunus menduga sampah berbahaya ini berasal dari TPA Cipeucang. Kata dia, sulit untuk menelusuri sumber limbah medis tersebut, karena sampahnya tercerai berai. “Jadi kita belum tahu sumbernya dalam RS, puskesmas, atau klinik mana kita belum tahu sampai masa ini, ” katanya.

Banksasuci juga meminta seluruh warga di Kawasan Kali Cisadane yang menemukan limbah B3 medis, untuk segera melaporkan ke komunitas untuk dimusnahkan.

“Karena kebetulan di Banksasuci sudah memiliki insinerator yang merupakan standar untuk pemusnahan sampah medis, atau sampah limbah B3 di atas 800 drajat Celsius, ” kata Ade Yunus.

Komunitas Banksasuci

Limbah B3 medis meningkat 30% di masa pandemi

Penanganan limbah infeksius atau B3 medis khusus Covid-19, diatur istimewa dalam Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SE. 2/MENLHK/PSLB3/PLB. 3/3/2020 Tahun 2020. Peraturan ini mengenai Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Vila Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19).

Penanganan Covid-19 diperlukan medium kesehatan, seperti alat pelindung diri (APD), alat dan sampel laboatorium. Setelah digunakan, sarana kesehatan tersebut menjadi limbah B3 dengan bagian limbah infeksius sehingga perlu dikelola seperti limbah B3.

Secara garis gede, regulasi ini mengatur pengelolaan limbah infeksius yang berasal dari fasyankes untuk penyimpanan dalam kemasan tertutup maksimal 2 hari sejak dihasilkan; mengangkut dan/atau memusnahkan pada pengolahan LB3 menggunakan fasilitas insinerator secara suhu pembakaran minimal 800°C ataupun otoklaf yang dilengkapi dengan pencacah;

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Terakhir, residu hasil pembakaran atau cacahan hasil otoklaf dikemas dan dilekati simbol “Beracun” dan label LB3 yang selanjutnya disimpan di tempat penyimpanan tengah, LB3 untuk selanjutnya diserahkan dalam pengelola LB3.

Aturan lain terkait limbah B3 juga diatur dalam Menjemput No. 32/2009 tentang Perlindungan serta Pengelolaan Lingkungan Hidup. Badan cara yang sengaja membuang limbah B3 ke media lingkungan hidup tanpa izin akan diberikan sanksi peringatan hingga dibekukan izin usahanya.

Hukuman administrasi ini tidak membebaskan penanggung jawab usaha dari jeratan kejahatan. Bagi mereka yang sengaja membuang limbah B3 hingga mencelakai orang lain, sanksinya adalah penjara suntuk 15 tahun dan denda Rp15 miliar.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat terjadi peningkatan 30% limbah B3 medis di era pandemi. Berdasarkan peta jalan 2019 -2020, KLHK memprediksi limbah B3 mencapai 293, 87 ton/hari. Namun, di masa pandemi jumlahnya diperkirakan 382, 03 ton/hari.

Selain itu, kapasitas pengolahan limbah B3 medis di beberapa daerah terutama di luar Jawa masih terbatas.

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Rumah sakit sampai ‘kebingun g an’

Keterbatasan fasilitas pengolahan limbah B3 ini dikeluhkan oleh Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), Lia G. Partakusuma. “Di Sumatera itu nggak ada pengolah limbah. Dia harus buang ke tanah Jawa. Jadi ada tuh pada Kepulauan Riau. Itu satu. Lah, gimana ceritanya orang disuruh lempar ke Jawa, ” katanya pada BBC News Indonesia, Selasa (20/10).

Persoalan serupa juga terjadi pada panti sakit di Papua, dan Nusa Tenggara Timur, termasuk Bali. PERSI mencatat harga buangan limbah B3 medis dari fayankes sebesar Rp7000 – 170. 000 per kilogram.

Cara lain menyiasati pembuangan kotor medis agar tidak melanggar patokan, pihak rumah sakit pun kudu mencari lahan khusus, kata Lia.

“Kalau terpaksa, mereka ditimbun. Kayak membongkar-bongkar lahan. Itu juga kalau membuang sampah menggali (tanah) itu, kudu punya izin Kemendagri dari Pemda setempat. Jadi terpaksa, mereka mengabulkan penimbunan. ”

Komunitas Banksasuci

“Suka dukanya banyak sampai gitu. Kita sampai bingung mau diapain, ” kata Lia G. Partakusuma.

Patuh Lia, limbah B3 medis sepantasnya menjadi tanggung jawab pemerintah, biar fasyankes bisa fokus menangani anak obat.

“Kita sekarang urusannya bagian pendahuluan (pelayanan), sama bagian belakang (pembuangan limbah). Bagian depan BPJS, penagihan. Bagian belakang, urusannya limbah ini-itu. Kasian amat rumah sakit. pelayanannya jadi terganggu, ” kata Lia.

Pada tengah penambahan limbah B3 medis di masa pandemi Covid-19, Lia berharap pemerintah menerapkan konsep pengerjaan limbah medis berbasis wilayah. Berarti, pemerintah daerah menyiapkan tempat istimewa untuk pembuangan limbah B3 medis di wilayahnya masing-masing.

“Jadi di mulia daerah, orang rumah sakit (buang) ke situ semua. Dari puskesmas ke situ semua. Jadi, mutunya bisa dijamin kan. nggak jauh-jauh, ” kata Lia.

Terkait dengan temuan limbah B3 medis pada TPA, Lia menduga terjadi kebocoran saat pengiriman ke tempat pengerjaan.

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Rencana tambahan fasilitas pengolahan

Direktur Jenderal Pengelolaan Kotor, Limbah dan B3 (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati melalui pesan kecil mengatakan sudah menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada pemda. “Wilayah TPA dan pengelolaannya ada di lembah Pemda, ” katanya.

Sementara itu, Besar Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Sri Eni Mainarti mengatakan aturan dalam atas kertas sudah disepakati fasilitas layanan kesehatan terkait pembuangan limbah B3 medis.

“Aturan secara tertulis telah ada peraturan menteri kesehatan, menteri lingkungan hidup, soal B3 bagaikan apa. Tapi faskes secara mutlak sudah menjalankan, ” katanya.

Sri Eni mengatakan akan menelusuri temuan limbah B3 di TPA Burangkeng.

“Mungkin nanti tempatnya kalau kita bisa telusuri, kita cari. Burangkeng tersebut sampahnya dari mana saja dibuang ke sana. Dicari dulu detailnya seperti apa. Tapi kalau pengawasan Puskesmas sudah dengan pihak ketiga, ” katanya.

Limbah B3 medis TPA Burangkeng

Pada tengah persiapan pemerintah pusat membentuk fasilitas pemusnahan limbah B3 medis, dan rencana Pemda Kabupaten Bekasi menelusuri limbah B3 yang berharta di TPA Burangkeng, para pemulung di sana masih menemukan adanya sampah berbahaya tersebut.

Ketua KPNas Bagong Suyoto bahkan mengaku sudah menjumpai limbah medis ini sejak tiga bulan lalu, dan hari ini masih menemukannya.

“Berarti selama ini itu ada kelonggaran, ada pengabaian, tidak ada pengawasan mengenai pengelolaan limbah infectious atau limbah medis. Zona, limbah ini dalam kategorinya limbah B3. Jadi dia harus dikelola secara ketat sesuai SOP-nya, ” kata Bagong.

Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Dedi Supratman mengatakan semua pihak bertanggung jawab atas temuan lapangan itu, karena lagi-lagi limbah medis dengan tercecer berisiko menginfeksi orang-orang dengan tinggal di bantaran kali Cisadane, termasuk pemulung sampah.

“Dia kan nggak paham. Tahunya pungut saja, serta mungkin pikiran dia suntikan, botol infus, itu kan mungkin jika dijual lumayan, tapi kan tak seimbang dengan risiko yang mereka terima, ” kata Dedi.

Related Post

Mal, toko, restoran, dan pasar tradisional di Jakarta sambut ‘new normal’: Ada menu digital, tombol lift tanpa sentuh, disinfektan bajuMal, toko, restoran, dan pasar tradisional di Jakarta sambut ‘new normal’: Ada menu digital, tombol lift tanpa sentuh, disinfektan baju

Berbarengan dengan masa transisi pembatasan sosial berskala besar di wilayah DKI Jakarta, toko nonpangan di pasar tradisional, mal, dan toko-toko asing diizinkan beroperasi kembali secara terpatok mulai Senin (15/06),