Vaksin Covid: Bisakah puluhan juta dosis yang menumpuk apalagi rusak di daerah diatasi tanpa cabut hak warga?

3 jam yang semrawut

Sumber gambar, JARANG FOTO/RAHMAD

Sebesar 41 juta dosis vaksin yang sudah didistribusikan ke provinsi, kabupaten dan kota saat ini belum disuntikkan ke masyarakat.

Simpanan vaksin di sejumlah wilayah baru akan habis dalam ratusan hari ke ajaran. Di Aceh, 1. 812 dosis Sinovac bahkan tak bisa lagi dipakai karena tidak kunjung disuntikkan ke masyarakat.

Pemerintah pusat mendorong pemda memindahkan stok vaksin tak terpakai ke kawasan prioritas. Menurut survei berskala nasional terbaru, 22% responden belum menerima vaksin, jarang lain akibat stok yang terbatas.

Namun strategi menukar alokasi stok vaksin dibanding satu daerah ke wilayah lain dikritik dan disebut organisasi pemantau penanganan pandemi, LaporCovid19, mencabut hak kesehatan warga. Organisasi ini meminta pemerintah meningkatkan kampanye di daerah yang rendah level vaksinasinya.

Sumbar dan Aceh – daerah dengan tingkat vaksinasi hina

Salah satu daerah nilai vaksinasi paling rendah dalam Indonesia adalah Sumatera Barat (Sumbar). Merujuk data terbaru Kementerian Kesehatan, stok vaksin di provinsi itu anyar akan habis dalam 56 hari ke depan.

Status ini terjadi karena minat warga yang minim kepada vaksin, kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Arry Yuswandi.

“Antusiasme masyarakat sebenarnya mulia, tapi turun karena simpanan vaksin terbatas, ” ujarnya via telepon, Rabu (15/09).

“Banyak yang sudah datang ke puskesmas tapi ternyata vaksin habis. Kekosongan vaksin sempat terjadi 3 minggu. Itu berpengaruh di dalam animo masyarakat, ” prawacana Arry.

Setelah sempat kehabisan stok pada Juli cerai-berai, jumlah vaksin yang tersedia di Sumbar sekarang menyentuh 565 ribu dosis. Stok itu tersebar di 19 kabupaten dan kota.

Namun karena rata-rata penerima vaksin di Sumbar yang hina, stok itu baru mau habis dalam puluhan keadaan ke depan.

Di empat wilayah Sumbar, yaitu Pasaman, Solok, Sawahlunto, dan Medan Panjang, stok vaksin bahkan baru akan habis pada ratusan hari ke aliran.

Estimasi terlama tersedia di Padang Panjang, yaitu 178 hari. Padahal patuh Kemenkes, stok vaksin sepantasnya habis kurang dari tujuh hari.

Pemprov Sumbar berusaha menyiasati ini dengan mengimplementasikan vaksinasi yang menyasar pelajar. “Sederhananya, kota dan kabupaten harus habiskan vaksin dengan ada di mereka, ” ucapnya.

“Salah satunya dengan program gebyar vaksin pelajar SMA dan SMK. Kalau ada acara seperti itu orang akan vitalitas divaksin, ” kata Arry.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

‘Vaksin tercampak sia-sia’

Awal pekan itu, sebanyak 1. 812 ukuran vaksin di Aceh Tenggara dilaporkan tidak bisa lagi digunakan. Penyebabnya, banyak awak kabupaten itu batal sampai ke sentra vaksinasi.

Setara seperti Sumbar, Aceh ialah salah satu provinsi secara tingkat vaksinasi terendah. Simpanan vaksin di wilayah tersebut rata-rata baru akan berhenti dalam dua bulan ke depan.

Namun Arry Yuswandi mengklaim kerusakan vaksin di Aceh tidak akan terjadi di Sumbar.

“Kami membangun gunakan tempat penyimpanan yang sudah terstandar. Ada bagian dingin di provinsi serta kulkas khusus untuk vaksin di kabupaten-kota, ” ucapnya.

Bagaimanapun, munculnya vaksin yang terbuang sia-sia tidak bisa dihindari, menurut Juru Cakap Kemkes untuk Program Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi.

“Kondisi ini kami tutur wastage rate atau jumlah vaksin yang mau tidak mau kita buang, ” kata Nadia.

“Walaupun jumlah peserta vaksinasi sudah didata, tapi kemudian yang pegari tidak sesuai, sehingga di hari itu tersisa 3 dosis, besoknya tersisa empat dosis.

“Lama-lama kalau ukuran yang tersisa dihitung semenjak Januari maka angkanya akan banyak, ” ujarnya.

Sumber gambar, Antara Foto/Iggoy el Fitra

Nadia berkata, level dosis vaksin yang terbuang di Aceh Tenggara menyentuh 3, 8%. Persentase tersebut disebutnya masih di kolong perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang vaksin yang akan terbuang sia-sia, yaitu 5-10%.

Walau begitu, Nadia menyebut pemerintah pusat memajukan pemda cekatan untuk mendistribusikan vaksin yang tak tersalurkan ke daerah yang cacat stok.

“Kemkes punya posisi pemantauan stok vaksin. Mampu dilihat kabupaten/kota yang stoknya masih banyak, ada yang baru habis 60 makin 180 hari.

“Di situlah kewenangan pemerintah provinsi buat memindahkan stok vaksin tersebut ke daerah lainnya, ” kata Nadia.

Sumber gambar, Antara Foto/IRWANSYAH PUTRA

‘Hak atas vaksin tak boleh dicabut’

Namun strategi mengirim stok vaksin seperti itu dikritik Amanda Tan, relawan di organisasi sipil pemantau penanganan pandemi, LaporCovid-19.

Stok vaksin yang menumpuk akibat minat warga yang lembut, kata Amanda, seharusnya disiasati dengan kampanye pentingnya vaksin.

“Vaksin adalah hak seluruh warga. Kalau di Aceh stoknya masih banyak, perintah pemerintah adalah sosialiasi bertambah masif dan memastikan awak mau divaksin, ” ujar Amanda.

“Sekarang banyak diantara kita bakal divaksin karena terdesak kesibukan administrasi, seperti tidak dapat urus KTP. Jadi masyarakat dipaksa karena ada hajat administrasi. Hal seperti itu yang perlu didorong.

“Kalau stok vaksin yang tak terpakai tadi dipindahkan untuk warga Jawa dan Bali, misalnya, itu mengambil benar warga Aceh.

“Pelayanan kesehatan tubuh adalah hak warga negara, jika ada yang tidak menginginkannya, bukan berarti vaksinnya ditarik, tapi warga harus diedukasi, ” kata Amanda.

Sumber gambar, Antara Foto/RAISAN AL FARISI

Vitalitas masyarakat terhadap vaksin berbeda di setiap daerah. Pada saat vaksin menumpuk di beberapa wilayah, sekelompok awak di daerah lain malah tak kebagian kuota.

Gaya ini muncul dalam buatan survei terbaru yang dikerjakan Change. org, KawalCovid-19, serta Katadata Insight Center.

Dari total 1831 responden yang belum menerima vaksin, 15, 6% di antaranya mengiakan kehabisan kuota di bervariasi sentra vaksinasi.

Siti Nadia Tarmizi menyebut hal tersebut terjadi karena vaksin dengan tersedia untuk masyarakat Nusantara saat ini baru mencapai 40%.

“Jadi memang belum akan dapat semua, ” ucapnya.

Sebagian besar stok vaksin, kata Nadia, masa ini akan difokuskan ke daerah yang paling merawankan terdampak penularan kasus Covid-19.

Related Post