Vaksin Covid-19: Bagaimana upaya negara aku dan kapan saya mendapatkannya?

40 menit yang lalu

Bicara soal distribusi vaksin, muncul satu perkara dari banyak orang: kapan saya mendapatkannya? Sejumlah negara sudah punya target yang rinci, namun untuk seluruh dunia gambarannya masih belum jelas. Jadi, apa yang telah kita ketahui?

Mendapatkan vaksin Covid-19 adalah persoalan hidup dan mati.

Ini menyangkut proses-proses alamiah yang rumit: perusahaan-perusahaan multinasional, banyak janji pemerintah yang bertentangan, beserta birokrasi dan regulasi yang terlampau banyak, dalam arti menentukan kapan dan bagaimana vaksin akan disebar luas ke seluruh dunia tidaklah mudah.

Agathe Demarais, direktur prakiraan global dari Economist Intelligence Unit (EIU) telah menjalankan sejumlah penelitian yang paling komprehensif soal topik tersebut.

EIU melihat pada kapasitas produksi global bersama dengan infrastuktur kesehatan yang diperlukan agar vaksin-vaksin ini bisa sampai disuntikkan ke masyarakat, ukuran populasi yang harus ditangani suatu negara dan, tentu saja, apa yang mereka bisa lakukan.

Banyak temuan dari penelitian itu tampaknya berada pada garis yang diprediksi antara kaya dan miskin.

Inggris dan Amerika Serikat untuk saat ini mendapat pasokan vaksin dengan baik, karena mereka mampu menginvestasikan banyak kekayaan untuk pembuatannya dan itu dengan membuat mereka di daftar antrean teratas.

Beberapa negara kaya lainnya seperti Kanada dan blok negeri Uni Eropa sedikit berada di belakang.

Sebagian besar negara berpendapatan rendah belum memulai vaksinasi, namun ada beberapa kejutan, terutama pada barisan tengah.

Berikut bagaimana kalender pendistribusian vaksin terjadi di segenap dunia.

Upgrade browser Anda untuk melihat data interaktif

Kanada menghadapi kritis di akhir tahun lalu karena membeli lima kali lipat lebih banyak sejak yang dibutuhkan untuk rakyatnya, tetapi tampak negara itu tidak meresap golongan distribusi yang diprioritaskan.

Itu sebab Kanada memilih untuk berinvestasi vaksin di pabrik-pabrik Eropa, setelah kacau bahwa AS di bawah Donald Trump akan mengeluarkan larangan ekspor. Namun, akhirnya itu menjadi pertaruhan yang buruk.

Pabrik-pabrik di Eropa kesulitan untuk memenuhi pasokan serta belum lama malah UE, dan bukan AS, yang mengancam bakal melarang ekspor vaksin.

“Selama pasar Eropa tak punya cukup vaksin, menurut aku ekspor besar-besaran ke Kanada mau bakal tetap diabaikan, ” introduksi Agathe Demarais.

Namun ada juga kaum negara yang justru bernasib lebih baik dari yang diperkirakan.

Saat artikel itu ditulis, Serbia berada di status delapan dunia dalam persentase rakyatnya yang sudah divaksin, mengungguli negara-negara UE.

Kesuksesan Serbia sebagian karena vaksinasi yang efisien, juga sebab menikmati hasil diplomasi vaksin, yang merupakan medan kompetisi antara Rusia dan China untuk menebar pengaruh di bagian timur Eropa.

Serbia menjadi salah satu dari kurang negara yang mendapat vaksin rekaan Rusia, Sputnik V, dan juga SinoPharm asal China.

Di akan kertas, Serbia diberi pilihan vaksin apa yang mereka pilih awut-awutan Pfizer, Sputnik, atau SinoPharm.

Nyatanya, sebagian besar rakyatnya sudah disuntik SinoPharm. Kemungkinan China menebar efek jangka panjang di negara tersebut.

Negara-negara yang menggunakan dosis perdana dan kedua dari SinoPharm prospek juga berpaling ke China memiliki dosis yang lebih banyak masa diperlukan di masa depan.

Bon Emirat Arab juga sangat bergantung pada vaksin SinoPharm – 80% dari total dosis yang dikasih di negara itu. UEA pula membangun fasilitas produksi SinoPharm.

“China muncul membawa fasilitas produksi dan pelaku yang terlatih, sehingga akan memberi pengaruh jangka panjang bagi China, ” kata Agathe Demarais. “Dan akan sangat, sangat sulit bagi pemerintah penerima untuk bilang tak kepada China atas hal apapun di waktu mendatang. ”

‘Faktor India’

Walau menjadi kekuatan utama vaksin di dunia, bukan berarti rakyatnya yang lebih dulu disuntik.

Pengkajian EIU memprediksi bahwa dua produsen utama vaksin di dunia, China dan India, mungkin tidak mau cukup vaksin bagi seluruh rakyat masing-masing hingga akhir 2022.

Itu karena dua negara itu punya begitu banyak populasi yang ditangani, tidak bisa diimbangi dengan terbatasnya tenaga kesehatan.

Suksesnya India jadi produsen vaksin Covid sebagian gembung berkat tokoh yang satu ini, Adar Poonawalla. Perusahaannya, Serum Institute of India merupakan pembuat vaksin terbesar di dunia.

Namun, rata-rata tahun lalu, keluarganya mulai rambang dia sudah kehilangan akal bugar. Dia pertaruhkan ratusan juta dolar untuk membuat vaksin yang belum terbukti apakah akan manjur.

Januari lalu, vaksin-vaksin pertama, yang dibuat oleh Oxford dan AstraZeneca, dikirim ke pemerintah India. Kini, dia memproduksi 2, 4 juta ukuran per hari.

Perusahaannya merupakan satu dari dua pemasok utama ke India dan juga mengirim vaksin ke Brasil, Maroko, Bangladesh, serta Afrika Selatan.

“Saya pikir lagu dan semua kegilaan akan sudah sekarang saat kita telah membuat produknya, ” kata dia. “Namun tantangan nyata adalah tetap mewujudkan semuanya senang. ”

“Saya budi akan ada banyak pabrikan asing yang mampu memasok. Namun, sayangnya, saat ini, setidaknya di kuartal pertama dan mungkin bahkan dalam kuartal kedua 2021, kami tak akan melihat peningkatan pasokan dengan berarti. ”

Taat dia, produksi tidak bisa ditingkatkan dalam semalam. “Butuh waktu, ” kata Poonawalla. “Orang-orang pikir Serum Institute sudah punya ramuan ganjil. Betul, kami memang bekerja secara baik, namun tidak ada yang namanya tongkat sulap. ”

Dia kini unggul karena mulai membangun sarana pada Maret tahun lalu & Agustus lalu sudah menimbun barang-barang seperti bahan kimia dan kaca.

Selama proses produksi, total vaksin yang dibuat bisa bervariasi dan ada banyak tahap masa ada kesalahan.

“Ini adalah kecil sekaligus sains, ” kata Agathe Demarais.

Bagi kalangan pabrikan dengan baru sekarang mulai produksi, menetapkan waktu berbulan-bulan untuk membuat vaksin. Ini juga berlaku bagi vaksin tipe booster yang mungkin dibutuhkan untuk mengatasi varian-varian baru.

Poonawalla berkomitmen untuk memasok vaksin terlebih dahulu ke India, lalu ke Afrika melalui skema yang disebut fasilitas Covax.

Covax merupakan suatu rintisan yang dipimpin WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), aliansi vaksin Gavi, dan CEPI (Pusat Kesiagaan Epidemi). Tujuannya untuk menyediakan vaksin yang terjangkau kepada semua negara di negeri.

Negara-negara yang tidak mampu membeli vaksin akan mendapatkannya secara gratis lewat dana khusus. Negara-negara lain yang mampu tetap membayar, tetapi secara teoritis mereka akan mendapat harga yang lebih baik lewat negosiasi dengan blok tersebut ketimbang bernego sendiri.

Covax berencana tiba memasok vaksin di akhir Februari 2021.

Sementara itu, rencana Covax tersebut dipandang sebelah mata sebab fakta bahwa banyak negara pengikut juga melakukan negosiasi sendiri-sendiri buat dapat vaksin.

Adar Poonawalla melahirkan bahwa hampir semua pemimpin negeri Afrika sudah menghubunginya untuk sanggup akses vaksin secara mandiri. Pasar lalu, Uganda mengumumkan telah mendapat 18 juta dosis dari Serum Institute seharga US$7 per jumlah – lebih mahal dari dengan dibayar Covax sebesar US$4.

Serum Institute mengaku telah berbicara dengan pemerintah Uganda, tetapi menyangkal sudah tandatangani perjanjian. Poonawalla akan memasok 200 juta vaksin AZ ke Covax begitu memiliki persetujuan awal dari WHO.

Dia menjanjikan 900 juta dosis lagi, walau tidak memastikan kapan dikirim.

Walau berkomitmen pada skema tersebut, dia mengakui menghadapi sejumlah perkara. Covax menghadapi terlalu banyak produsen vaksin yang berbeda, ujarnya, per menawarkan harga dan jadwal transmisi yang beragam.

Agathe Demarais serta EIU pun tidak begitu optimistis mengenai apa yang dapat dicapai Covax. Bahkan bila segalanya sebati rencana, skema itu hanya mencakup 20-27% dari populasi suatu negeri tahun ini.

“Hanya membuat memperlawankan kecil saja, bukan perubahan tumbuh, ” kata Demarais.

Dalam prakiraan Demarais untuk Economist Intelligence Unit, kurang negara mungkin tidak akan segenap divaksin pada 2023 atau setelahnya.

Vaksinasi mungkin bukan jadi preferensi bagi semua negara, terutama yang memiliki lebih banyak penduduk leler muda, dan bila tidak memiliki begitu banyak warganya yang sakit.

Masalah dengan skenario itu adalah semasa virus corona dapat berkembang, oleh sebab itu akan mampu bermutasi dan migrasi. Varian-varian yang kebal vaksin serupa akan terus ber-evolusi.

Tidak semuanya kabar buruk. Vaksin-vaksin kini tengah diproduksi lebih segera, namun skala tugasnya, yaitu kudu memvaksin 7, 7 miliar nyawa, begitu besar dan belum pernah dilakukan sebelumnya.

Demarais yakin bahwa pemerintah harus jujur dengan rakyatnya terkait apa yang mungkin berlaku.

“Sangat sulit bagi suatu negeri untuk berkata, ‘Tidak, kami tak akan mencapai imunisasi secara merata selama beberapa tahun. ‘ Tidak ada yang mau bilang begitu, ” katanya.

Jurnalisme Data oleh Becky Dale and Nassos Stylianou.

Related Post