Tempe: Anak-anak muda dari Nusantara dan berbagai negara ‘merambah pasar Eropa’ melalui pembaruan siap saji

  • Valdya Baraputri
  • BBC News Indonesia

5 jam yang lalu

Seorang ilmuwan muda asal Bogor bersama sekelompok anak muda lain dibanding berbagai negara mengatakan di dalam dua tahun terakhir mereka merambah pasar Eropa untuk tempe siap saji.

Kini mereka tengah memeriksa rencana untuk menggunakan kedelai dari petani lokal Indonesia untuk berbagai produknya.

Sebuah formula telah dipatenkan untuk meningkatkan kandungan nutrisi vitamin B12 dan vitamin D dalam tempe yang akan mereka pasarkan dengan bahan baku kedelai lokal.

Mereka berharap dengan menggunakan kedelai lokal Indonesia, para-para petani termotivasi untuk lestari menanam jenis kacang tersebut di tengah lautan kedelai impor di Indonesia.

Berdasarkan data daripada Badan Pusat Statistik Indonesia, sekitar 70% produk tempe dalam negeri menggunakan kedelai impor. Tidak dapat bergandengan dalam harga menyebabkan penuh petani yang beralih ke tanaman lain.

Sumber tulisan, Better Nature

Namun, buat memutus ketergantungan terhadap kedelai impor, inovasi tempe dan pasar Eropa belumlah pas. Perlu insentif dari pemerintah bagi petani lokal biar tetap menanam kedelai, dan manajemen yang lebih elok untuk menyerap hasil panen mereka.

Baca juga:

Tempe siap saji berbagai rasa di rekan Eropa

Berawal dari buah hati terhadap tempe, sekelompok anak muda dari Indonesia, Inggris, Italia dan Hong Kong mendirikan Better Nature dalam tahun 2018.

Dari markas mereka di London, Better Nature, mulai menjual tempe ke pasaran Inggris dan Eropa pada tarikh 2020.

Mayoritas tempe dengan mereka buat adalah tempe siap saji dalam paket yang telah dibumbui, sehingga bisa langsung dihangatkan di microwave atau di pada kompor.

Rasa serta bentuknya bermacam-macam; ada yang berbentuk dadu seperti umumnya masakan tempe yang sering ditemukan di Indonesia, namun ada juga tempe cincang dan tempe yang diiris memanjang sehingga menyerupai gaya iga.

Sumber gambar, Better Nature

“Produk kami dengan paling laris adalah tempe yang sudah dimarinasi [direndam dalam bumbu sebelumnya] karena itu sangat mudah untuk dimasak, ” kata salah satu pendiri Better Nature, Fabio Rinaldo, seorang ilmuwan bertabur yang kami temui pada kantornya, di London, Inggris.

“Konsumen kami dapat berkreasi dengan berbagai resep tanpa repot memasak dari pangkal, meskipun kami juga sedia versi tempe mentah dengan belum dibumbui. ”

Per diluncurkan tahun lalu, tempe inovasi mereka dapat ditemui di setidaknya di 200 toko dan supermarket pada Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara di Skandinavia. Belakangan, produk tempe mereka menjelma salah satu dari tiga produk vegetarian terlaris di website Amazon untuk wilayah Britania Raya.

“Di pasar Eropa, tempe masih merupakan produk makanan dengan segmen istimewa tetapi kesadaran konsumen mau tempe tumbuh luar normal pesat, ” kata Christopher Kong, pendiri Better Nature yang besar di Hong Kong.

“Saya lahir di Hong Kong dan tumbuh di sana selama 13 tahun, tapi tidak pernah mengenal tempe, meski faktanya Hong Kong lebih dekat ke Indonesia, ” sirih Chris.

Di website resminya, Better Nature menawarkan lebih dari selusin jenis buatan tempe dengan rasa gaya Asia, India, dan Eropa. Harganya berkisar antara Rp50. 000 sampai Rp. 76. 000.

Untuk tempe mentah yang belum dibumbui, serupa dengan tempe dengan sering dijumpai di Nusantara, harganya sekitar Rp50. 000 per 200 gram atau Rp300. 000 per kilogram.

Inovasi selanjutnya: meningkatkan vitamin B12 dan vitamin D pada tempe menggunakan kedelai lokal Indonesia

Suplai kacang kedelai Better Nature era ini berasal dari Belgia, Belanda, dan Jerman dengan produksi juga di negara Eropa itu. Selain kacang kedelai, juga ada kacang lupin yang mirip secara kedelai. Sementara, fermentasi tempe, pengolahan, dan pengemasan berpusat di Jerman.

Sumber tulisan, Better Nature

Amadeus Driando Ahnan-Winarno, ilmuwan pangan pendiri Better Nature yang berbasis di Bogor, Jawa Barat, mengakui saat ini perusahaannya masih dalam tahap penjajakan untuk menggunakan bahan dasar kedelai lokal.

“Tahun 2018, saat memulai Better Nature, kita sudah coba menghasilkan supply chain [pasok suplai] untuk mengekspor dari Indonesia, ” kata pemuda yang lebih akrab disapa Ando, saat ditemui di laboratoriumnya di Bogor.

“Secara bisnis, boleh jadi modal kita lebih dulu habis sebelum supply chain -nya berhasil mengekspor dari Indonesia ke Eropa. Karena itu kita penerapan dulu [dengan suplai kacang dari Eropa] supaya dapat revenu e [pendapatan]. Sekarang sudah dapat revenue , bisa sambil jalan, kita mengambil waktu untuk set-up pada Indonesia, ” sambung Ando.

Ando dan timnya memiliki strategi untuk tempe secara bahan baku kedelai Nusantara yang menurutnya akan menjadi nilai jual tersendiri.

Pada laboratorium, Ando bersama dua ilmuwan pangan lain memformulasi perpaduan jamur fermentasi tempe dan bakteri yang positif untuk meningkatkan kandungan vitamin B12 dan vitamin D pada tempe.

“Sudah berhasil, ” kata Ando yang memulai penelitian itu sejak Januari 2019.

Tempe yang dihasilkan dari perkawinan jamur dan bakteri dengan tepat di laboratoriumnya berhasil mengandung vitamin B12 serta vitamin D. Temuan ini, menurut Ando, telah dipatenkan.

“Jadi sekarang di Nusantara kita bekerja sama dengan Indonesian Tempe Movement yang dekat dengan petani-petani kedelai; di Grobogan misalnya. Supaya tempe-tempe tinggi vitamin B12 ini bisa dibuat dengan kedelai lokal, ” tinggi Ando.

Menurutnya, meski telah berhasil di laboratorium, di lapangan ia masih mencari jalan mengadakan sistem produksi buat memenuhi standar ekspor daripada Indonesia ke Eropa.

“Standarnya kalau buat ekspor harus sangat aman & sangat awet. Jadi dengan jalan apa dengan bahan lokal mampu dibawa ke standar itu; masih kita garap, ” tambah Ando.

Mengapa vitamin B12 dan vitamin D penting ditingkatkan kadarnya dalam tempe?

Di pasar global, tempe semakin populer dalam kalangan vegetarian, vegan, mengikuti konsumen yang peduli bakal kandungan nutrisi di dalam makanannya serta dampaknya kepada lingkungan.

Sumber gambar, Better Nature

Baca pula:

Profil konsumen seperti ini banyak terdapat pada Eropa dan Amerika Memajukan, di mana konsumen tiba berfikir cara mendapatkan sasaran yang sesehat mungkin & seramah lingkungan mungkin.

Tempe dianggap makanan masa ajaran karena memenuhi kedua ciri utama yang diinginkan konsumen yang sadar kesehatan dan lingkungan itu.

“Mengapa awak cinta makanan ini [tempe], karena dalam produksinya tempe menggunakan kacang kedelai utuh, sehingga seluruh nutrisi kacang kedelai terkandung di dalam tempe, ” cakap Fabio, salah satu pendiri Better Nature, yang sempat mengunjungi Indonesia untuk tahu cara pembuatan tempe.

Tetapi menurut Ando, kekurangan sebab diet nabati adalah pengganggu mendapat vitamin B12 dibanding makanan. Di sini lah tempe memiliki peran.

“Tapi tidak semua tempe mengandung vitamin B12. Justru dengan banyak mengandung vitamin B12 itu tempe Indonesia sebab ketidaksengajaan, ” kata Ando.

“Vitamin B12 ini pegari dari air sungai, sebab tanah; kontaminasi yang tak disengaja. ”

Menurutnya, vitamin B12 penting untuk pembelahan sel syaraf, pertumbuhan nalar, dan perkembangan kecerdasan bujang, maka kandungan ini bertambah baik diciptakan secara sengaja pada tempe produksinya.

Tengah, vitamin D penting bagi mayoritas konsumen di negara empat musim yang pelik mendapatkan asupan ini.

Berapa banyak vitamin B12 dan vitamin D yang akan dikandung tempe produksi perusahaanya nanti?

“Target kita 100 persen kebutuhan harian, ” pungkas Ando.

Berawal sebab sebuah kompetisi inovasi bioteknologi di Cambridge University

Sumber gambar, Better Nature

Baca juga:

Sebelum mendirikan Better Nature dan bertemu ilmuwan muda yang lain, di tahun 2018, Ando memenangkan sebuah kompetisi bioteknologi tingkat dunia bernama Gap Summit di Cambridge University, Inggris.

Pada tahun tersebut terdapat 100 finalis sejak 7000 pendaftar dari seluruh dunia.

“Saya satu-satunya karakter Indonesia; yang lain bisa dibilang tidak ada yang cakap tempe selain saya dalam kompetisi itu. Jadi beta harus menjelaskan apa itu tempe dan kenapa pangan ini penting, ” sekapur Ando.

Sumber gambar, Better Nature

Saat itu Ando membawa prototipe tempe yang menjadi Better Nature sekarang. Ia juga menjelaskan kandungan gizi tempe dibanding sumber gizi hewani dan perbandingan jumlah energi yang dibutuhkan untuk produksi tempe dibanding produksi pangan hewani.

“Mungkin itu yang menjadi lupa satu faktor kemenangan dengan akhirnya uang hadiahnya kudu dijadikan perusahaan, ” sebutan Ando yang belum lama ini menyelesaikan S3 di University of Massachusetts Amherst dan bergelar doktor di bidang ilmu pangan, khususnya fermentasi tempe.

Kecintaan kepada tempe yang mendarah daging

Sebelum Ando memenangkan kompetisi di Cambridge University dengan menjadi landasan untuk menyusun Better Nature, ia beriringan ibu dan kakeknya membina Indonesian Tempe Movement pada tahun 2015.

Sang aki adalah Profesor Winarno; seorang pakar ilmu pangan serta teknologi di Indonesia yang memprakarsai Konferensi Tempe Universal di Indonesia.

Sementara, si ibu, Wida Winarno, ialah ilmuwan pangan yang aktif mempromosikan tempe ke berbagai belahan dunia dan pula tengah meneliti kajian tempe untuk mengurangi stunting.

“Orang bilang kalau kita pantas ngumpul bareng, kayak kongres, ” kata Wida.

Sumber gambar, Indonesian Tempe Movement

Menurut pengalaman Wida, klub internasional melihat tempe daripada kacamata yang berbeda dengan orang Indonesia. Kenyataan kalau tempe dianggap sebagai superfood atau makanan super pada mancanegara belum sepenuhnya disadari karena kemudahan mendapatkan tempe dan merasa terbiasa.

Wida juga mengatakan “tempe masih direndahkan” di Indonesia.

Tetapi ia optimis suatu era hal itu akan berganti.

“Harapannya ada ‘Better Nature-Better Nature’ lain yang bisa menyerap hasil panen kedelai lokal, ” kata Wida. Jadi petani panen sudah jelas ada yg kulak, harganya juga sudah nyata jadi akhirnya semangat utk menanam kedelai lagi. ”

Bahkan menurut Wida, tanpa berhenti pada kacang kedelai. Layaknya kacang lupin, penuh jenis kacang asli Indonesia yang bisa ‘ditempekan’.

Related Post