Tekan varian Delta, Australia batasi kedatangan hanya 3. 000 orang per pekan

30 Juni 2021

Diperbarui 13 menit yang lalu

Kedatangan di salah satu bandar udara di Australia

Sumber gambar, Getty Images

Australia memotong jumlah orang yang bisa masuk ke negara itu melalui penerbangan komersial menjelma hanya sekitar 3. 000 orang per pekan.

Langkah ini diharapkan bisa mengurangi tekanan kepada sistem karantina yang kewalahan menghadapi kebocoran varian Delta Covid-19 yang sangat menular.

Kebijakan ini berlaku mulai 14 Juli dan luhur kemungkinan diterapkan hingga tahun depan.

Pemerintah mengutarakan, aturan ini akan dicabut ketika sebagian besar masyarakat sudah menerima vaksin.

Warga Australia pada luar negeri, yang harus berpisah dengan keluarga selama berbulan-bulan mengatakan kecewa dengan peraturan ini, namun Perdana Menteri Scott Morrison mengucapkan, langkah ini harus diambil.

Baca juga :

PM Morrison juga mengumumkan uji coba karantina di rumah dan isolasi yang lebih pendek — yaitu tujuh hari — bagi orang-orang yang melakukan perjalanan yang sudah divaksin.

Sejauh ini jumlah karakter dewasa yang sudah divaksin kurang dari delapan komisi, yang menyebabkan sejumlah bagian menilai pemerintah sangat lamban menggulirkan program vaksinasi.

Kaum pihak mengatakan kelambanan itu antara lain disebabkan oleh keengganan warga menerima vaksin AstraZeneca, sementara di sisi lain pasok vaksin Pfizer terbatas.

Bagaimana pertahanan dengan rapat akhirnya jebol

Dalam setahun terakhir, Australia dipandang tergolong berhasil meredam pandemi Covid-19.

Negara itu sudah memasuki tahap “normal Covid” yang membuat warganya bisa makan dengan terbuka di restoran dan mengunjungi kelab malam serta bisa ramai-ramai nonton pertunjukan irama.

Pertahanan menangkal gempuran Covid di Australia — mulai dari penutupan tapal batas hingga kewajiban karantina — dinilai 99, 99% manjur.

Saat muncul kenaikan kejadian yang tidak biasa pada suatu wilayah, pihak berwenang langsung bertindak dengan me- lockdown kota tersebut sambil mengaduk-aduk ( tracing ) siapa saja yang terpapar.

Sydney, kota terbesar sekaligus termakmur dalam Australia, berhasil untuk tidak sampai menerapkan karantina daerah berkali-kali karena sistem penelusurannya yang “kelas satu. ”

Namun, ceritanya langsung bertukar dalam dua pekan belakang. atau saat Covid varian Delta berhasil membobol pertahanan kota itu.

Dalam satu pekan, angka meyakinkan di sana melonjak tenggat lebih dari 100 urusan.

Buat memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba pada mesin pencari lain

Mulai Jumat 25 Juni, pejabat setempat akhirnya membatalkan terapkan lockdown di Sydney. Senin pekan ini, gawat di Sydney itu menjalar ke tingkat nasional porakporanda di mana lonjakan peristiwa terjadi di empat negara bagian maupun wilayah.

Empat kota besar — Sydney, Darwin, Perth, dan Brisbane — kini melakukan lockdown .

Lebih dari 20 juta warga Australia, kira-kira 80% dari total populasinya, kini harus mengalami pemisahan kegiatan. Ini jumlah terbesar sejak lockdown nasional kali pertama diterapkan di awal pandemi tahun lalu.

Dalam pertemuan darurat Senin (28/6), pemerintah pusat dan daerah berupaya mengatasi lonjakan kasus dengan memperluas kanal vaksinasi bagi masyarakat.

Namun banyak warga Australia kini bertanya-tanya, mengapa kudu kembali lockdown , yang berarti tujuh bulan setelah dunia tiba menggelar vaksinasi massal.

Bagaimana varian Delta menggunakan titik-titik lemah?

Kalangan epidemiolog mengatakan bahwa varian Delta telah terbukti sebagai yang paling cepat menular lantaran semua varian Covid yang telah diteliti.

Begitu melihat ada celah pada sistem pertahanan di Australia, varian tersebut langsung menjemput kesempatan.

Australia, covid

Sumber tulisan, Getty Images

Sistem perbatasan dan karantina Australia telah menghadapi tantangan yang makin berat sejak varian-varian mula-mula muncul di akhir 2020.

Pihak berwenang menyimpan kasus-kasus di mana orang-orang yang baru tiba daripada perjalanan jauh mengidap virus itu saat menjalani karantina, walau berada di zona masing-masing.

Kalangan spesialis menghawatirkan atas buruknya aliran udara di hotel-hotel perkotaan.

Sekitar 370. 000 orang telah menjalani bentuk karantina yang ditetapkan. Namun terjadi 10 pelanggaran yang menyebabkan kasus baru penularan.

Dua kasus dengan bikin Australia kembali problematis dengan pandemi itu tampak dari orang-orang yang melaksanakan karantina di hotel. Salah seorang dari mereka merupakan pekerja tambang di Northern Territory yang terpapar virus itu saat menjalani karantina di Queensland.

Seorang lagi adalah perempuan awak Queensland yang terinfeksi justru saat dia menuntaskan zaman karantina.

Titik lemah lainnya adalah para praktisi di perbatasan.

Australia dikenal sangat ketat dalam membolehkan siapa saja yang bisa masuk ke wilayahnya, dengan membatasi setiap minggu jumlah warga yang balik pulang dari luar kampung sekaligus langsung melarang menghunjam mereka yang berasal lantaran wilayah “zona merah. ”

Begitu keluar dari udara, setiap penumpang langsung disambut tatapan intimidatif para petugas, baik itu perawat, penjaga, dan tentara yang bermasker dan langsung mengarahkan itu langsung ke tempat karantina.

Namun kesiagaan tersebut tidak berlaku untuk seluruh staf di bandara, seolah-olah sopir angkutan transportasi dengan mengantar pendatang.

Pasien prima dari lonjakan kasus pada Sydney adalah seorang supir berusia 60-an tahun yang tertular dari seorang penumpangnya. Apalagi sopir itu belum divaksin, tidak pakai masker, dan juga tidak dites secara berkala – yang mana hal-hal tersebut tidak diwajibkan dalam peraturan yang berlaku saat itu.

Australia, covid

Sumber gambar, Getty Images

Terlepas dari titik-titik lemah pertahanan itu, kalangan pakar meniilai bahwa varian delta merupakan “musuh yang hebat” karena cepat menimbulkan level infeksi yang tinggi.

Di negara bagian New South Wales, dengan Sydney sebagai ibu kotanya, pihak berwenang melaporkan hampir 100% penularan Delta terjadi di rumah tangga ketimbang varian sebelumnya yang hanya 25%.

Klaster rumah nikah itu bisa terjadi cuma karena warga berpapasan secara orang yang sudah tertular di sebuah toko.

“Delta ini benar-benar sangat menular. Bahkan walau telah divaksin sekalipun masih tersedia potensi untuk tertular, ” kata Profesor Nancy Baxter, dekan Fakultas Kesehatan Bangsa dan Global dari Universitas Melbourne.

Dia melahirkan bahwa sebelum munculnya epidemi penularan, untuk varian Delta ini pihak berwenang “tidak dapat mengidentifikasi bagaimana transmisi itu terjadi. ”

“Jadi menurut saya masa sistemnya sudah sempurna, [varian] ini siap tantangan. Namun ketika sistemnya tidak sempurna, ini yang membuat kita bisa jadi sasaran empuk. ”

Tidak divaksin dan terpapar

Bahaya yang ditimbulkan varian Delta juga menandakan kegagalan rencana vaksinasi di Australia.

Belum sampai 5% awak dewasa di negara itu yang sudah divaksin dengan penuh dan baru 29% yang menerima dosis perdana.

Di antara kawanan negara maju (OECD), Australia termasuk terbelakang dalam kalender vaksinasi covid.

Kalangan pengritik menyatakan pemerintah harus bertanggungjawab.

1px transparent line

“Masih banyak yang baru divaksin sebagian, bahkan lebih banyak lagi yang belum divaksin, ” kata Profesor Raina MacIntyre dari Universitas New South Wales.

“Dengan demikian, masyarakat jadi benar rentan. ”

Lambatnya program vaksinasi di Australia tersebut dikaitkan dengan masalah pasokan dan rasa puas muncul dengan rendahnya angka penularan. Belum lagi banyak yang khawatir atas risiko pembekuan darah yang ditimbulkan vaksin AstraZeneca.

Ini yang mewujudkan pemerintah awal tahun itu membatasi penggunaan vaksin tersebut hanya bagi warga berumur 60 tahun ke akan walau masih belum dapat pasokan yang cukup sejak vaksin merek lain, yaitu Pfizer.

Situasi itu diperparah oleh pemberitaan dramatis sejumlah media terkait efek vaksin AstraZeneca.

Itulah yang membuat takut banyak warga Australia, termasuk seorang supir limo tadi yang dikaitkan dengan wabah di Sydney, yang menurut berita media lokal dia mengiakan takut menerima vaksin AstraZeneca.

Jadi apa yang kini dilakukan Australia?

Para mahir sepakat bahwa wabah terkini harus ditanggulangi dengan kecendekiaan lockdown dan pembatasan lainnya. Walau masih terbilang dini, mereka berharap bahwa shutdown selama dua pekan pada Sydney akan bisa memutus rantai penularan virus tersebut.

Namun untuk menghalangi wabah-wabah baru Delta, Pertama Menteri Scott Morrison boleh harus menerima desakan sebab para pakar: percepat vaksinasi massal.

Australia, covid

Sumber tulisan, EPA

Dia telah memerintahkan vaksinasi wajib bagi petugas kesehatan dan karantina berumur lanjut di tempat dengan berisiko tinggi.

Morrison juga telah membuka kanal vaksin AstraZeneca bagi ahli muda, serta menjamin penukar rugi bagi para sinse bila menghadapi situasi dengan membahayakan mereka.

Akhir bagi “normal covid”

Para pakar juga menunjukkan bahwa varian Delta kemungkinan besar telah mengubah persepsi Australia atas Covid.

Saat vaksinasi massal kemungkinan tidak mampu tuntas hingga 2022, serta ketika masih banyak masyarakat Australia yang pulang lantaran luar negeri, ancaman Delta masih tetap membayangi, logat para pakar.

Tersebut berarti langkah-langkah seperti tetap masker di tempat ijmal harus diterapkan.

“Sebelum masalah ini muncul, segalanya sudah oke. Kita bisa pergi keluar makan malam atau nonton pertunjukkan bergabung ribuan orang lainnya, ” kata Dr Baxter.

“Namun saya tidak yakin kita bakal bisa mengulanginya lagi sampai kita semua divaksin, karena begitu besar risikonya. Menurut saya tidak mampu lagi kita hidup minus adanya Covid, ” katanya.

Related Post