Taliban berkuasa, apakah Afghanistan hendak menjadi ‘tempat berlindung bagi pelaku teror’?

  • Frank Gardner
  • Wartawan bidang keamanan BBC News

2 jam yang lalu

Sumber gambar, AFP

Di lembah-lembah terasing di provinsi Kunar Afghanistan dan di forum-forum celoteh online para jihadis, tersedia kegembiraan atas apa dengan dipandang para pendukung al-Qaeda sebagai “kemenangan bersejarah” oleh Taliban.

Kepergian mempermalukan pasukan yang memiliki gaya besar saat mengusir Taliban dan al-Qaeda 20 tarikh silam telah menjadi keinginan moral besar-besaran bagi para-para jihadis anti-Barat di semesta dunia.

Tempat-tempat persembunyian potensial mereka yang saat tersebut menjadi terbuka di sebuah negara yang belum sepenuhnya terkontrol, merupakan hadiah menggiurkan, terutama bagi kelompok keras yang menyebut sebagai Negara Islam (IS), yang mau menemukan pangkalan baru setelah kekalahan kekhalifahan yang itu deklarasikan di Irak & Suriah.

Para jenderal serta politisi negara-negara Barat memperingatkan bahwa kembalinya al-Qaeda ke Afghanistan, dengan segala kekuatannya, adalah “tidak terelakkan”.

Baca serupa:

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, berbicara setelah sidang kabinet darurat, memperingatkan bahwa negara2 Barat perlu bersatu jawab mencegah Afghanistan kembali menjelma tempat berlindung bagi gerombolan teroris internasional.

Dan di dalam hari Senin (16/08), Carik Jenderal PBB Antonio Guterres meminta Dewan Keamanan PBB untuk “menggunakan semua perangkat yang ada guna menekan ancaman teroris global pada Afghanistan”.

Tapi apakah kembalinya Taliban secara otomatis sanggup diterjemahkan sebagai kembalinya markas al-Qaeda dan platform berikutnya untuk serangan teror transnasional yang menargetkan negara-negara Barat, dan negara-negara lainnya?

Belum tentu tidak.

Mencari pengesahan dan pengakuan

Terakhir kali Taliban memerintah negara itu, dari 1996-2001, dan praktis saat itu Afghanistan menjadi negara paria.

Cuma tiga negara, Arab Saudi, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, yang mengakui legitimasi mereka.

Selain bersikap sembrono terhadap warganya sendiri, Taliban memberikan perlindungan yang aman bagi organisasi al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden dengan berada di balik serangan 9/11 di AS pada 2001, dan menewaskan hampir 3. 000 orang.

Diperkirakan 20. 000 rekrutan dibanding seluruh dunia melewati penjara pelatihan al-Qaeda, mempelajari pengetahuan mematikan dan menciptakan barang apa yang dikenal sebagai “universitas teror” saat mereka gagal dan kembali ke negaranya.

Sumber gambar, WAKIL KOHSAR/AFP

Saat ini Taliban sedang melihat diri mereka jadi penguasa yang sah daripada “Islamic Emirate of Afghanistan” dan mereka menginginkan pengesahan dari dunia internasional.

Mereka tampak bersemangat untuk menebak gagasan bahwa mereka datang untuk memulihkan ketertiban, sakinah dan otoritas, setelah korupsi, pertikaian dan pemborosan menjelma ciri sebagian besar pemerintahan selama 20 tahun terakhir.

Selama perundingan damai dengan mengalami jalan buntu pada Doha, menjadi jelas bagi para perunding Taliban kalau pengakuan yang diinginkan ini hanya bisa datang jika mereka benar-benar melepaskan diri dari al-Qaeda.

Kami sudah melakukannya, kata pendahuluan Taliban.

Tidak, itu belum melakukannya, kata masukan PBB baru-baru ini, dengan menunjukkan hubungan kesukuan serta perkawinan yang dekat kurun kedua kelompok.

Selama pengambilalihan kekuasaan secara dramatis sebab Taliban di seluruh negeri belakangan ini, ada penuh laporan kehadiran “orang-orang asing” di barisan mereka, yakni para petempur non-Afghanistan.

Juga jelas ada keterputusan kurun kata-kata yang lebih moderat dan pragmatis yang diucapkan para elit Taliban awut-awutan negosiator dan juru bicaranya di satu sisi semrawut dan berbagai tindakan balas dendam biadab yang terjadi di lapangan.

Sumber tulisan, AFP

Pada 12 Agustus, ketika Taliban masih bergerak maju ke ibu praja Kabul, kuasa usaha GANDAR di Kabul mentweet:

“Pernyataan Taliban di Doha tidak menyerupai tindakan mereka di Badakhshan, Ghazni, Helmand & Kandahar. Upaya untuk memonopoli kekuasaan melalui kebengisan, ketakutan dan perang cuma akan mengarah pada isolasi internasional. ”

Barat agak-agak berjuang untuk menahan para jihadis

Fokus gerombolan Taliban adalah memerintah Afghanistan sesuai dengan interpretasi selektif mereka terhadap Syariah, asas Islam, dan tidak melampaui batasan-batasannya.

Tapi para jihadis lain di al-Qaeda dan ISIS mungkin memiliki keinginan berbeda di luar makna tersebut.

Ketika pemerintah baru Taliban bahkan jadi ingin menahan mereka, tersedia kantong-kantong di negara tersebut di mana kegiatan mereka tidak diperhatikan.

Dr Sajjan Gohel dari Asia Pacific Foundation memperkirakan 200-500 bagian al-Qaeda yang saat itu diperkirakan berada di Kunar akan meningkat.

Sumber gambar, Getty Images

“Penguasaan provinsi Kunar oleh Taliban mempunyai nilai strategis amat gembung karena memiliki beberapa zona paling menantang dengan lembah-lembah berhutan lebat. Al-Qaeda sudah hadir di sana & akan berusaha untuk memperluas jangkauannya. ”

Apabila tersebut terjadi, maka jelas bakal jauh lebih sulit bagi negara-negara Barat untuk menahannya.

Selama 20 tahun belakang upaya itu sangat bergantung pada NDS, dinas agen Afghanistan, dengan jaringan informannya, yang dikombinasikan dengan awak reaksi cepat Pasukan Istimewa AS, Inggris, dan Afghanistan.

Semua itu kini sudah hilang, dan menjadikan Afghanistan sebagai “target keras” di dalam hal intelijen.

Jika kamp pelatihan teror diidentifikasi serta ditempatkan, maka pilihan bagi Washington mungkin akan menghadap pada serangan drone senggang jauh atau serangan rudal jelajah, seperti yang terjadi pada Osama Bin Melayani pada 1998.

Kebanyakan, ujar Dr Gohel, akan berpegang kepada apakah pihak berwenang Pakistan menghalangi atau menguatkan perjalanan para petempur asing melalui wilayah mereka menuju Afghanistan.

Related Post