Sriwijaya Air SJ182: Hingga hari ke-10 rekaman kokpit CVR belum terlihat, dapatkah penyebab kecelakaan diungkap?

2 jam yang lalu

Tenggat hari ke-10 pencarian, bukti rekaman suara di kokpit atau CVR Sriwijaya Air SJ182 masih belum ditemukan.

Padahal untuk mengungkap penyebab kecelakaan bagian kotak hitam itu dibutuhkan untuk melengkapi rekaman data penerbangan-FDR, kata Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Sejauh ini, tim Basarnas mengakui kesulitan menemukan CVR karena pencarian dilakukan secara manual dengan meraba pakai tangan serta terhambat arus laut yang kuat. Waktu pencarian pun diperpanjang balik hingga tiga hari ke depan, Kamis (21/01).

Di sisi lain, mantan ketua KNKT menyebut hasil investigasi sebetulnya tetap bisa dirilis walaupun ia sebut laporan akan laksana film bisu.

Sementara Tukang bicara KNKT, Indrianto mengatakan pihaknya baru bisa merilis laporan simpulan penyebab jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 setelah mengantongi bukti yang lulus.

Melalui pesan singkat kepada BBC News Indonesia, ia mengatakan buat mengungkapkan kasus kecelakaan penerbangan diperlukan kedua barang bukti berupa rekaman data penerbangan atau FDR & rekaman suara di kokpit atau CVR.

“Keduanya bersifat saling menutup bukan menggantikan, ” katanya.

Namun, Indrianto tak menyebutkan lebih lanjut, apakah hanya dengan berbekal FDR, KNKT dapat merilis laporan kecelakaan dengan diduga menewaskan 62 orang pengikut dan awak pesawat. KNKT era ini sedang fokus mengunduh data FDR yang sudah ditemukan sejak pekan lalu.

Sedangkan untuk CVR, yang baru didapatkan hanya tempat penyimpanan memorinya saja. Sedangkan modul memorinya sampai saat ini sedang belum ditemukan.

Tanpa CVR semacam ‘film bisu’

Namun, menurut mantan Ketua KNKT, Tatang Kurniadi hasil laporan pendalaman bisa saja dirilis tanpa disertai bukti CVR, meski kata tempat yang akan ditampilkan “seperti tahu film bisu, gerakannya ada akan tetapi suaranya nggak tahu”.

Peristiwa tersebut pernah terjadi dalam kasus Adam Air 2007 silam.

“Kayak dalam Adam Air itu delapan bulan di dalam air masih bisa ketemu. Siapa tahu untung-untungan. Maka kalau investigator sehingga sesempurna jika itu ada. Tapi laporan ini bisa jalan. Nah, mereka yang menerima laporan juga mestinya mengaji bahwa CVRnya nggak ketemu, ” kata Tatang kepada BBC News Indonesia, Senin (18/01).

Kata dia, tanda berupa FDR dan CVR lebih mudah ditemukan pada pesawat-pesawat dengan jatuh di darat, tapi jika di laut cenderung lebih suram ditemukan, bahkan bisa mengalami kebobrokan.

Membongkar-bongkar CVR dengan ‘meraba pakai tangan’

Ahli bicara Badan SAR Nasional, Agus Basori mengungkapkan sulitnya menemukan modul memori CVR di lautan karena terhalang cuaca hujan dan aliran laut. Belum lagi modul sejarah sudah tidak lagi dilengkapi secara alat pelacak.

“Ya teman-teman di lembah itu, pakai tangan ambilnya. Meraba-rabanya pakai tangan. Kesulitannya di danau. Karena sudah tak ada finger-nya itu, casing-nya juga tidak ada, ” kata Agus kepada BBC News Indonesia, Senin (18/01).

Basarnas telah menemukan data rekaman penerbangan ataupun FDR, Selasa (12/01). Tiga hari kemudian, tim penyelam mendapatkan cadar dan baterai CVR. Akan tetapi modul memorinya sudah terlepas lantaran perangkat ini dan masih belum ditemukan.

Kemarin, Basarnas bersama pihak terkait memutuskan menambah waktu pencarian tenggat tiga hari ke depan, Kamis (21/01). Tim masih punya jalan tiga hari mendatang untuk menjumpai modul memori CVR sebelum diputuskan kembali apakah pencarian akan ditambah waktunya atau dihentikan.

Untuk menyesatkan video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Semasa tiga hari ke depan, Basarnas melaporkan tim inti yang bekerja melakukan proses pencarian tidak bertukar jumlahnya. Akan tetapi tim pendukung sebanyak 3. 500, jumlahnya bakal berkurang setengahnya karena kemungkinan terkebat dengan evakuasi bencana lainnya seperti gempa di Sulawesi Barat, serta banjir di Kalimantan Selatan.

Seberapa penting CVR dalam penyelidikan?

Pengamat sekaligus praktisi penerbangan, Alvin Lie mengungkapkan pentingnya CVR dalam sebuah penyelidikan pesawat jatuh. Menurutnya, data dari CVR ini berfungsi sebagai penyelaras secara data FDR.

“Sehingga perubahan-perubahan pada peralatan pesawat, misalnya ketika putaran mesin ditinggikan suaranya, ada atau tidak, untuk cek responsif. Dengar atau tidak, ” kata Alvin pada BBC News Indonesia, Senin (18/01).

Selain itu, CVR juga dapat mengungkap aspek komunikasi terakhir antara penerbang saat pesawat dalam detik-detik tak terkendali.

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

“Kalau minus CVR tentunya tidak akan lengkap karena yang dimiliki KNKT cuma data teknis, aspek teknis dibanding pesawat itu sendiri, sedangkan arah human itu tidak ada. Sehingga kalau gambar itu ada periode yang masih kosong, belum terisi gambarnya, ” kata Alvin.

Sejauh tersebut, Alvin memperhatikan KNKT telah bergerak cepat dalam upaya pengungkapan jatuhnya Sriwijaya SJ182.

Sementara itu, pengamat penerbangan lainnya, Ruth Hana ada KNKT akan tetap bisa meneruskan investigasi jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 meski tanpa bukti CVR.

“Ya, memang hasil penyelidikannya jadi kurang lengkap. Kurang akurat. Tapi tanpa khawatir, karena tetap dengan FDR saja sudah banyak membantu para investigator, untuk mencari kemungkinan penyebab kecelakaan itu. Jadi nggak menjelma patokan utama, harus ada CVR, ” katanya.

Percepatan identifikasi penumpang secara CCTV

Sampai Kamis (21/01), selain mencari modul memori CVR, Basarnas pula fokus pada pencarian korban.

Sejauh ini, Basarnas telah mengumpulkan arah jenazah penumpang dan awak Sriwijaya SJ182 dalam 300an kantong. Tetapi, dari jumlah itu, baru 29 orang yang sudah teridentifikasi.

“Harapannya dengan semakin banyaknya body remains atau human remains yang ditemukan oleh tim penyelam ini akan semakin mempercepat dan mempermudah tim DVI untuk mengidentifikasi korban, ” sekapur Juru bicara KNKT, Agus Basori.

Salah seorang keluarga penumpang Meizar Ararni yang hingga kini masih menyambut hasil pencarian dan identifikasi membuktikan pihak keluarga sudah merelakan kematian penumpang atas nama Panca Widya Nur Santi.

Namun Meizar berharap pihak berkuasa dapat menggunakan bukti CCTV untuk percepatan identifikasi bagi penumpang yang belum ditemukan.

“Tolong CCTV tersebut segera dibuka, diperlihatkan kepada pihak DVI RS Polri, untuk memacu identifikasi visual. Kalau ada 62 jenazah yang diidentifikasi secara forensik, maka butuh waktu lama. Akan tetapi kalau visual forensik akademisnya, identifikasinya jadi lebih cepat, ” logat Meizar.

Related Post