‘Pulau perempuan’, cerita kekuatan trah perempuan di pulau terpencil di Laut Baltik

15 Mei 2021

Sumber gambar, Getty Images

Seorang perempuan secara rok warna-warni sedang duduk sendirian di dapur. Dalam tangannya, terukir kerutan seperti anak sungai yang mengalir dari bahu ke pergelangan tangan .

Pekerjaan sehari-hari perempuan yang telah dilakukan sepanjang hidupnya itu belum selesai berantakan yaitu mengurus pertanian mulai dari bertani, merawat mandung dan domba, membuat baju, bahkan memperbaiki traktor.

Tapi untuk saat ini, perempuan itu fokusnya tangannya pada jarum rajut yang bergoyang secara ritmis. Dia sedang merajut pakaiannya buat upacara pemakaman.

Ini ialah cerita tentang masa lulus yang penting untuk masa depan.

Hawa itu berasal dari Kihnu yang dikenal sebagai Tanah Perempuan, pulau terpencil dalam Laut Baltik, di lepas pantai barat Estonia.

Komunitas ini sering disebut sebagai matriarki terakhir di Eropa.

Masyarakat pulau ini didominasi oleh kepemimpinan dan kekuatan para hawa.

Para penjaga kebudayaan yang sangat kaya itu kini masuk dalam daftar peninggalan budaya Unesco.

Para-para perempuan Kihnu menyeimbangkan tanggungan mulai dari menyediakan keinginan makan sehari-hari, mengasuh anak, bertani dan beternak, hingga melestarikan warisan tradisi leluhur.

Di tempat ini, peran para laki-laki dengan historis absen – mereka pergi mencari ikan di laut atau merantau ke luar pulau – yang menyebabkan tugas para hawa di Kihnu telah tumbuh melampaui peran gender tradisional dan memasuki setiap arah kehidupan di lahan biasa pulau ini.

Sumber tulisan, Jean-Luc LUYSSEN/Getty Images

Mereka adalah penjaga lagu, tari, tenun dan kerajinan tangan tradisional. Mereka juga menjelma konduktor utama upacara istimewa seperti pernikahan dan pemakaman.

Kematianlah yang membawa nilai sebuah kehidupan seperti dengan digambarkan dalam “Big Heart, Strong Hands”, sebuah kunci karya fotografer potret Norwegia, Anne Helene Gjelstad.

Diundang ke acara pemakaman seorang perempuan di Kihnu, Gjelstad mendapati dirinya berkecukupan di sebuah dapur yang dikelilingi oleh para rani tua berpakaian biru porakporanda menjadi warna duka itu.

Pada saat itu, Gjelstad menyadari, kisah tentang para pelindung lingkaran kesibukan yang menua ini menetapkan diabadikan dan dibagikan.

Tersebut adalah cerita tentang zaman lalu yang penting untuk masa depan, katanya. “Keyakinan batin saya mengatakan kalau saya harus menangkap itu, menaruhnya di buku, & menulis ceritanya. ”

Potret dan tulisan yang ditangkap Gjelstad menceritakan kisah suatu tempat yang kental dengan tradisi lagu-lagu Kalevala-meter (sebuah tradisi lisan cerita musikal kuno), pakaian tenun & bordir berwarna cerah, dan kemampuan perempuan untuk melakukan segala sesuatu mulai daripada memperbaiki motor hingga merawat ternak dan tanaman.

Dalam kisah ini terungkap pula perjuangan mereka berdiam hidup di tengah kerawanan akan masa depan.

Sumber gambar, Getty Images

Melewati cuaca buruk yang sering menghantam dan 50 tahun pendudukan Uni Soviet, tradisi matriarkal di Kihnu masih dapat bertahan.

Tetapi merantaunya generasi muda mencari lebih banyak jalan di luar pulau saat ini membahayakan budaya pulau dengan unik ini.

Walaupun pariwisata musiman tumbuh kaya karena para pengunjung yang penasaran untuk belajar mengenai kekayaan tradisi Kihnu serta menyediakan jalur kehidupan yang sangat dibutuhkan pulau itu, populasi asli pulau itu terus menyusut seiring bertambahnya usia.

Secara turun-temurun, jalan Kihnu telah diwariskan melalui garis perempuan.

Tetapi dengan setiap pemakaman, & benang budaya yang tergerai merajut baju biru, pada bukunya Gjelstad menuliskan bahwa budaya matriarki itu gawat punah.

Artikel itu pertama kali tayang di bahasa Inggris di BBC Travel.

Related Post