Polisi selidiki ‘siapa yang menyuruh’ seruan ‘jihad’ dalam azan, MUI tekankan teks azan tak boleh diubah

Polisi selidiki ‘siapa yang menyuruh’ seruan ‘jihad’ dalam azan, MUI tekankan teks azan tak boleh diubah post thumbnail image

Kepolisian Jawa Barat cukup mendalami kemungkinan adanya “perintah sebab pihak tertentu” dalam kasus ‘ajakan jihad’ melalui perubahan lafal bang yang disebarkan di media baik.

Dugaan itu didasarkan bahwa ‘ajakan jihad’ melalui azan itu dikerjakan secara serentak, kata seorang pejabat Polda Jabar, seperti dilaporkan kuli di Bandung, Yulia Saputra buat BBC News Indonesia.

“Ini lagi didalami, karena yang kita khawatirkan di satu hari serentak (video azan), ada di Jabar maupun daerah lain. Nah, tentunya Jawa Barat akan fokus untuk menyelidiki sapa yang menyuruh dan siapa yang memviralkan, ” kata Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Erdi Adrimulan Chaniago, Jumat (04/12).

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menangkap setidaknya dua orang yang diduga masing-masing mengubah dan menyebarkan lafal azan dari ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’.

Mereka dianggap sudah menimbulkan kebencian atau permusuhan di masyarakat.

Berdasarkan keterangan salah-seorang tersangka, Polda Metro Jaya mengeklaim bahwa mereka mengaku mendapatkan video azan berisi ‘ajakan jihad’ itu dari grup WhatsApp Forum Muslim Cyber One (FMCO News).

Terhadap pengakuan itu, Polda Jabar mengaku “masih mendalaminya”, kata Erdi. Sejauh ini Polres Majalengka telah memeriksa tujuh karakter terduga pelaku ‘azan jihad’.

“Penyidik juga akan mencari apakah tersedia yang menyuruh dan sebagainya, dicek handphone dan sebagainya. Jadi itu tunggu dulu, ” tambah Erdi. Tujuh orang terduga melafal ‘azan jihad dilaporkan meminta maaf.

Erdi menambahkan, polisi menaruh perhatian khusus pada siapa yang pertama kali memviralkan video tersebut. Beberapa orang telah dipanggil untuk menjalani penyeliaan yang dijadwalkan pekan depan.

“Jadi seluruhnya lagi penyidik dari Polda Menggambarkan dan penyidik dari Polres Majalengka akan menyelidiki siapa yang memviralkan dan siapa yang menyuruh. Ini ada perhatian khusus dari Polda Jabar, ” ujar Erdi

MUI: Seruan salat tidak boleh diubah

Sementara, Pemimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rachmat Syafe’i mengatakan, perkataan azan tidak boleh diubah, karena hal itu menyalahi syariat.

“Gak bisa (diubah). Teks seruan salat itu tidak bisa diubah seolah-olah itu. Azan itu walaupun buat azan apa saja, termasuk untuk azan perang, azan prahara ataupun azan kelahiran, tetap saja teksnya seperti azan mengajak salat, ” kata Rachmat.

“Hukumnya sudah menyalahi ketentuan syariat, ” papar Rachmat saat dihubungi wartawan di Bandung, Yulia Saputra untuk BBC News Indonesia, melalui saluran telepon, Jumat (04/12).

Kalimat azan yang diubah menjadi ajakan berjihad, kata Rachmat, tidak relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Sangat tidak relevan. Jadi justru dari segi isi tidak relevan, bahkan membuat keonaran, ” tegasnya.

Karena itulah, Rachmat mengaku mendukung langkah polisi menganalisis kasus tersebut.

Dua orang pelaku dan penyebar ‘azan jihad’ ditangkap

Polisi telah menangkap seseorang dengan diduga mengubah lafal azan dibanding ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’, karena tindakannya dianggap menerbitkan kebencian atau permusuhan di klub.

Besar Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono, dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia, Jumat (04/12), membenarkan bahwa polisi telah menangkap pria berinisial SYM, 22 tarikh.

Dalam sepekan terakhir, beredar sejumlah video di media sosial yang menunjukkan sejumlah orang yang mengubah sebutan azan dari ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’.

Diunggah oleh sejumlah media, ‘ajakan hijad’ dalam seruan salat oleh sejumlah orang itu sepatutnya digelar di beberapa tempat bertentangan.

Kehadiran video ini kemudian membakar kontroversi dan muncul kecaman dari berbagai pihak.

Sejumlah tokoh keyakinan dan politikus lantas meminta penjaga untuk mengusut siapa pelakunya.

Ditangkap dalam Sukabumi dan Jakarta

Menurut Argo, SYM ditangkap pada hari Jumat (04/12) dini hari, karena sengaja menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau kesumat berdasar SARA.

“Tersangka diamankan di Hidup Raya Sukabumi, Kecamatan Cibadak, Jawa Barat, ” kata Argo Yuwono.

Tempat dijerat Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Cetakan 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 156a KUHP.

Sebelumnya, Kamis (03/12), penyidik Polda Metro Jaya juga telah menangkap seorang pria berinsial H yang diduga menyebarkan video “ajakan jihad” melalui perubahan pengucapan azan di media sosial.

Menurut petugas, H ditangkap di Cakung, Jakarta Timur pada Rabu (02/12).

Yang terlibat diduga menyebarkan video tersebut melalui akun instagram pribadinya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, tersangka H mengiakan mendapatkan video azan berisi ‘ajakan jihad’ itu dari grup WhatsApp Forum Muslim Cyber One (FMCO News).

“Modus operandi pelaku memang masuk dalam satu grup WhatsApp FMCO News ( Wadah Muslim Cyber One ), kemudian dia menemukan adanya unggahan video-video yang ada di grup tersebut, ” kata Yusri Yunus kepada wartawan, Kamis (03/12).

Sejauh tersebut belum ada keterangan resmi apakah kedua penangkapan ini saling bersentuhan.

Related Post

Genting ekonomi akibat Covid-19: IMF perkirakan 'luka ekonomi' karena krisis global akibat pandemi virus corona bertambah buruk dari perkiraan

Genting ekonomi akibat Covid-19: IMF perkirakan ‘luka ekonomi’ karena krisis global akibat pandemi virus corona bertambah buruk dari perkiraanGenting ekonomi akibat Covid-19: IMF perkirakan ‘luka ekonomi’ karena krisis global akibat pandemi virus corona bertambah buruk dari perkiraan

Sedekah Moneter Internasional (IMF) mengatakan pandemi virus corona merusak ekonomi dunia lebih buruk dari angka prediksi yang dikeluarkan sebelumnya. IMF saat ini memprediksi output ekonomi dunia tahun ini akan