Pilkada di tengah pandemi Covid-19, spesialis tetap khawatirkan soal klaster perdana, Mahfud klaim ‘tidak terjadi apa-apa’

Pilkada di tengah pandemi Covid-19, spesialis tetap khawatirkan soal klaster perdana, Mahfud klaim ‘tidak terjadi apa-apa’ post thumbnail image

Kekhawatiran penyelenggaraan Pilkada 2020 bakal menjadi klaster terakhir penyebaran Covid-19 kembali disuarakan seorang pakar penyakit menular, walaupun pemerintah pusat mengklaim pelaksanaan pemungutan bahana secara umum sudah sesuai adat kesehatan.

Seorang pakar epidemiologi mengucapkan dampak Pilkada terhadap situasi pandemi belum dapat dinilai pada keadaan penyelenggaraan Pilkada, karena – jika ada paparan virus corona di proses Pilkada – butuh waktu dua sampai 14 hari cocok masa inkubasi infeksi virus corona.

Hal ini menanggapi klaim Menkopolhukam Mahfud MD yang mengatakan pengoperasian pemungutan suara Pilkada 2020, Rabu (09/12), secara umum sudah berlaku “cukup baik” yaitu sudah sebati protokol kesehatan Covid-19.

Dalam jumpa pers daring pada Rabu (09/12) siang, Mahfud mengatakan “tidak ada hubungan antara membesarnya kasus infeksi virus corona dengan penyelenggaraan pilkada”.

“Kita telah membuktikan kepada orang-orang dulu pesimis, dan ternyata tidak terjadi apa-apa, ini membuktikan biasa-biasa saja, ” kata Menkopolhukam Mahfud.

Secara terisolasi, Badan Pengawas Pemilu pada Rabu (09/12) siang mengungkapkan temuannya bahwa ada sejumlah tempat pemungutan perkataan (TPS) di sejumlah wilayah Indonesia yang tidak menyediakan sarana “cuci tangan” dan “bilik khusus bagi calon pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37, 3 taraf celcius”.

Bawaslu juga mengklaim menemukan ada sejumlah Kelompok Penyelenggara Pemungutan Bahana (KPPS) yang “terpapar covid-19” dan diklaim “masih hadir di sebesar TPS”.

Pakar epidemiologi Laura Navika Yamani dari Universitas Airlangga, Surabaya memperingatkan bahwa pengawalan keamanan dampak lantaran penyelenggaran Pilkada terhadap penularan Covid-19 masih harus dijalankan selama setidaknya dua pekan kedepan.

“Klaim bahwa ini Pilkada sudah dilakukan secara sukses, beta rasa memang kita tidak mampu begitu saja percaya ya 100%, karena yang ada di lapangan itu kan sebetulnya panitia lantaran Pilkada, atau Bawaslu dalam peristiwa ini.

“Nah, kalau kemudian Bawaslu melaporkan ada temuan-temuan yang dalam lapangan itu tidak sesuai dengan protokol kesehatan, ya, saya rasa ini yang harus diantisipasi, diwaspadai, dimana saja titik-titiknya, ” logat Laura kepada wartawan BBC News Indonesia, Liza Tambunan, Rabu (09/12).

“Jadi jangan sampai kemudian Pilkada ini selesai, kemudian tugas dibanding Bawaslu atau kemudian tugas sejak Satgas kemudian jadi selesai, ” tambahnya.

“Artinya, saya merasa bahwa satgas ini memang sangat diperlukan pada proses Pilkada untuk memastikan adat kesehatan itu dijalankan atau tidak, ” tambahnya.

“Ini menjadi bahan evaluasi ketika nanti ditemukan banyak kejadian di titik-titik tertentu, di daerah-daerah tertentu ya ini kan mampu dikaitkan dengan apa yang sudah diterapkan ketika Pilkada – benar ada korelasinya, atau tidak ada korelasi.

“Kita tahunya ketika melakukan pengamatan pada proses Pilkada, kemudian nanti akan menunggu, jadi di monitor. Mungkin ya dua minggu ke depan seperti apa.

Lebih lagi, Laura juga mengingatkan bahwa resiko akselarasi penulasaran juga dapat berlaku saat pengumuman kemenangan, yang prospek bisa memicu terjadi kerumunan zaman euforia.

“Kalau yang pengumuman daripada hasil Pilkada ini, ini yang sangat berbahaya untuk terjadi gerombolan. Padahal kita tahu resiko gerombolan terhadap penyebaran kasus ini membangun sangat tinggi, ” ujar Laura.

Bawaslu temukan kasus-kasus rawan penularan covid-19

Secara terpisah, Badan Kepala Pemilu pada Rabu (09/12) siang menggelar jumpa pers secara daring, mengungkap berbagai temuannya bahwa ada sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di sejumlah wilayah Indonesia yang tidak menyediakan sarana “cuci tangan” dan “bilik khusus bagi calon pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37, 3 derajat celcius”.

“Tidak ada fasilitas cuci tangan di lokasi TPS, sebagaimana menjadi kaki protokol kesehatan yang diterapkan, ” kata anggota Bawaslu, Mochammad Afifuddin. “Itu terjadi di 1, 454 TPS. ”

Afifuddin juga melahirkan bahwa pihaknya menemukan Kelompok Pemangku Pemungutan Suara (KPPS) di satu, 172 TPS yang diklaim “masih hadir di TPS”. Dalam kejadian ini, Bawaslu tidak mengungkap detil lokasinya.

Sementara, anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar mengatakan, pihaknya selalu menemukan TPS di Sleman, Yogyakarta, yang disebut tidak menyediakan sekatan khusus bagi pemilih yang suhu tubunya di atas 37, 3 derajat celcius.

Apa yang dikatakan Menkopolhukam Mahfud MD?

Menteri Koordinator Kebijakan Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, dalam jumpa pers secara daring sekitar pukul 13. 45 WIB, mengatakan secara umum proses mas suara Pilkada 2020 sudah berlaku “cukup baik” yaitu sudah pantas protokol kesehatan Covid-19.

Hal ini didasarkan olahan informasi yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pengendalian Covid-19 terkait pelaksanaan Pilkada.

“Sudah berjakan cukup baik dalam atas 92%… kata Mahfud. “Kita sudah membuktikan kepada orang-orang dulu pesimis, dan ternyata tidak terjadi apa-apa, ini membuktikan biasa-biasa selalu. ”

Temuan ini, menurut Mahfud, sekaligus menepis kekhawatiran sejumlah kalangan yang menganggap penyelengaraan Pilkada 2020 akan menjadi klaster baru penyaluran Covid-19.

“Itu ternyata tidak tersedia bedanya trend perkembangan covid-19 jarang daerah yang melakukan pilkada secara non-pilkada, ” kata Mahfud MD dalam jumpa pers secara daring, Rabu (09/12), sekitar pukul 13. 00 WIB.

“Bahkan di daerah yang tidak ada pilkada, itu malah serangan covid juga besar, ” kata Mahfud, tanpa menyebut secara spesifik daerah yang dimaksud.

“Memang di daerah yang ada pilkada, perkembangan yang terinfeksi (covid-19), ada yang besar juga, katanya.

Dengan demikian, demikian Menkopolkam, tidak ada kaitan kurun membesarnya kasus infeksi virus corona dengan penyelenggaraan pilkada.

Namun demikian Mahfud mengingatkan tahapan pilkada masih mau berlangsung sampai ada keputusan final Komisi Pemilihan Umum (KPU) beserta pelantikan kepala daerah terpilih.

Untuk itulah, dia meminta semua pihak “meneruskan kewaspadaan” supaya dapat menahan penyebaran covid-19 selama proses pilkada.

“Karena tersebut kita ekstra harus hati-hati, sebab bagaimanapun pilkada masih berlanjut, ” katanya. “Dan situasinya masih pandemi. ”

“Yang melakukan kerumunan ataupun pengerahan massa, aparat bisa tertular, juga orang-orang yang tidak ikut-ikutan, sehingga menjadi kluster yang membahayakan. ”

“Jangan sampai di pucuk, pilkada yang sudah baik dalam tahap awal, supaya dijaga terus sampai penetapan hasil pilkada oleh KPU.

Seperti apa pelaksanaan protokol kesehatan tubuh di Solo, Makasar dan Daerah?

Sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) di Solo, Jateng, sudah menerapkan protokol kesehatan. Meski demikian, masih ada sejumlah warga yang tangan berangkat ke TPS karena takut terpapar virus covid-19.

Penerapan protokol kesehatan yang ketat salah satunya tampak di TPS 22 Manahan, Solo, yang merupakan tempat calon pemangku kota nomor urut satu, Gibran Rakabuming Raka, memberikan hak suaranya.

Para-para pemilih yang berdatangan ke TPS tersebut harus menjalani pemeriksaan aturan kesehatan seperti mencuci tangan, pemeriksaan suhu, hand sanitizer dan memakai sarung tangan plastik. Setelah itu pengikut langsung mendaftar ke petugas KPPS.

Bahkan, salah satu petugas KPPS tetap melalui pengeras suara untuk mengingatkan agar menjaga jarak dan tak terjadi kerumuman. Bahkan, sejumlah awak media yang akan meliput kedatangan Gibran untuk mencoblos juga diwajibkan untuk mencuci tangan dan penyeliaan suhu.

Implementasi protokol kesehatan serupa juga diberlakukan di TPS 12 Mangkubumen. Walaupun demikian hingga pukul 12. 00 WIB, dari daftar hadir sedang terdapat 100 lebih pemilih dengan belum hadir di TPS.

“Yang sampai baru 131 pemilih dari total padahal di daftar hadir pemilih ada sebanyak 235 pemilih dengan terdaftar, ” kata salah utama petugas TPS 12 Mangkubumen, Hartanto, kepada wartawan di Solo, Pagi buta Sodiq untuk BBC News Nusantara.

Turunnya tingkat partisipasi, ia menduga ada beberapa faktor, di antaranya ketakutan karena adanya pandemi covid-19. “Tadi di WA grup sendiri telah dijawil-jawil ada yang nyauri (menjawab) tidak berkeinginan hadir, terus ada yang ketakutan hadir karena Covid. Ada dua keluarga, ” sebutnya.

Sejumlah TPS di Medan, Sumut, sepi, warga kacau ‘terpapar’

Sementara dari kota Zona, Sumatra Utara, lima belas menit jelang berakhirnya waktu pemungutan bahana, suasana di TPS 18 Bulevar Bunga Wijaya Kesuma masih tampak sepi.

Padahal, panitia KPPS telah memanggil warga melalui pengeras pandangan untuk datang ke TPS, kaya dilaporkan wartawan di Medan, Dedi Hermawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Rabu (09/12).

Dari 430 orang yang terdaftar sebagai pemilih tetap di TPS ini, hanya 190 orang yang menggunakan benar suaranya pada Pilkada Medan yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19.

Seman, salah seorang petugas KPPS menyatakan minat masyarakat untuk pegari ke TPS 18 menggunakan benar pilihnya pada Pilkada tahun ini sangat minim.

Seman menyebut sejak dibuka pukul 07. 00 WIB hingga 15 menit jelang berakhirnya waktu pemilihan, jumlah warga yang datang ke TPS baru sekitar 190 orang.

Sementara, sebut Seman, jumlah Daftar Pemilih Tetatp (DPT) yang terdaftar di TPS 18 ada 430 orang.

“Sepi dari tadi pagi, minat masyarakat untuk muncul ke TPS sangat minim pada Pilkada kali ini, ” katanya.

Seman menyatakan salah satu penyebab minimnya masyarakat datang ke TPS karena khawatir tertular virus Covid-19.

Padahal, ujarnya, panitia telah menerapkan aturan kesehatan yang ketat diawali dengan mencuci tangan dan pengecekan guru tubuh serta menyiapkan sarung lengah plastik saat masuk ke zona pencoblosan.

Lalu, setiap orang juga disemprot dengan cairan disinfektan sebelum masuk ke bilik suara masa mencoblos.

“Penerapan protokol kesehatan sudah pas ketat, tapi masyarakat masih berat untuk datang ke TPS. Itu memilih tetap di rumah daripada datang ke TPS, ” ungkapnya.

Kondisi yang sama terlihat di TPS 22 kompleks Taman Taat Budi Indah Medan, yang menjelma lokasi pemungutan suara calon Walikota Medan Bobby Afif Nasution beserta istri. Di TPS yang beruang dihalanan rumah mewah ini sunyi sejak pagi hingga siang.

Helty Susilo, salah seorang petugas KPPS mengecap hingga pukul 10. 00 Wib, jumlah warga yang datang ke TPS 22 untuk menggunakan sah pilihnya baru sekitar 50 orang dari total 314 pemilih.

Helty mengakui jumlah pemilih pada Pilkada tahun ini sangat rendah dibanding Pilkada 2015 lalu.

Jusuf Melan, salah seorang warga Medan menyatakan awalnya ragu-ragu untuk datang ke TPS karena khawatir terpapar virus Covid-19. Namun setelah dipikir-pikir Pilkada tersebut hanya berlangsung sekali dalam lima tahun, Jusuf Melan memutuskan untuk datang ke TPS dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Sayang juga agaknya dilewatkan, soalnya ini moment lima tahun sekali. Tadinya waswas sebab Covid-19, tapi saya tetap muncul ke TPS, ” kata Jusuf usai mencoblos di TPS 22 Jalan Bunga Wijaya Kesuma Medan Bulan Medan.

‘Silakan datang ke TPS, jangan lupa pakai masker’

Dalam Solo, putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dengan ikut berkompetisi memperebutkan kursi pemangku kota Solo, sudah memberikan suaranya di TPS 22, RT 04 RW 13, Kelurahan Manahan, Banjarsari, Solo, Rabu (09/12).

Usai memberikan suaranya, Gibran di hadapan wartawan, mengutarakan dirinya mengharapkan agar warga Solo memberikan suaranya dalam Pilkada 2020.

“Silakan datang ke TPS. TPS dipastikan aman, nyaman, steril, jangan lupa bawa masker, ” kata Gibran.

Pesaingnya, Bagyo Wahyono, juga telah menyerahkan suara di TPS 8, Penumping, Solo, Jawa Tengah.

Pasangan calon wali kota dan wakil wali tanah air jalur perseorangan atau non golongan Bagyo Wahono dan FX Supardjo bersaing dalam merebut suara secara pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosapada Pilkada Kota Solo 2020.

‘TPS tidak mencekam seperti yang dibayangkan’

Menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang berdampak dalam pemilihan wali kota Kawasan telah memberikan hak suara di TPS 22, kompleks Taman Patuh Budi Indah Medan, Sumatra Utara.

Ia tiba di TPS beriringan istrinya, Kahiyang Ayu, mengenakan baju berwarna putih dan celana jeans , setelah sebelumnya berziarah ke makam ayahnya, Erwin Nasution.

Sama seperti Gibran, Bobby mengajak warga Medan untuk menggunakan benar pilih dan menegaskan bahwa “datang ke TPS tidak mencekam kaya yang dibayangkan”.

Nggak berbahaya, ada protokol kesehatan tubuh di dalamnya, bahkan kita selalu menyampaikan kalau bisa bawa kendaraan tulis sendiri, ” ujar Bobby kepada wartawan.

“Yang penting hari ini kelompok ramai-ramai ke TPS, memberikan suaranya, memberikan pilihannya. Mudah-mudahan apa yang kami tawarkan, program yang ana tawarkan bisa diterima dan mampu memilih kami, ” katanya kemudian.

Menurutnya, partisipasi warga Medan di Pilkada kesempatan ini penting, sebab pada pilkada sebelumnya partisipasi pemilih pada Medan sangat rendah.

“Pastinya kelompok hari ini sudah lebih mau kotanya lebih bagus lagi, bertambah baik lagi, itu salah kepala motivasi untuk datang ke TPS. Karena memang salah satu untuk membenahi kota [adalah] dengan bisa memilih pemimpinnya itu siap motivasi masyarakat Medan, ” terang Bobby.

Bayang-bayang Covid-19

Sementara, berdasarkan pandangan wartawan BBC News Indonesia Muhammad Irham di Makassar, Sulawesi Selatan, warga baru mulai mendatangi TPS sekitar pukul 09. 00 WITA setelah hujan yang mengguyur praja itu reda.  

Di TPS 003, Kel. Sawerigeding misalnya, warga yang datang juga dibatasi jumlahnya, mereka diminta datang sesuai jadwal detil yang telah ditulis dalam surat undangan.  

Salah satu pemilih, Rifka Amanda (19) mengatakan kepada BBC Indonesia, “[Protokol] sudah oke, tertib.   Dari badan juga menyediakan penyanitasi tangan, masyarakat yang datang juga tidak bar-bar. ”

Protokol Covid-19 diterapkan dalam tempat-tempat pemungutan suara, warga dengan akan memberikan hak suaranya wajib untuk cek suhu tubuh sebelum memasuki TPS.

Bila suhu tubuh lebih dari 37C, warga bakal diminta untuk mencoblos di sekat khusus yang terpisah.  

Daripada pantauan sejauh ini, belum ada warga yang suhu tubuhnya lebih dari batas 37C.

Selain pengukuran suhu tubuh, pemilih juga diminta menggunakan masker dan menjaga langkah 1 meter saat mengantre.

Untuk menghindari kontak antar pemilih, pencelupan jari ke tinta usai mencoblos diganti dengan pemberian tinta ke jari pemilih dengan cara diteteskan.  

Makassar saat ini berada di kategori zona oranye Covid-19.   Dari sekitar 16. 000 aparat pemilihan yang disiapkan untuk bekerja dalam Pilkada, sekitar empat ratus di antaranya reaktif Covid-19 sesudah serangkaian tes cepat.

Pemilihan wali kota dan wakil wali kota Makassar 2020 diikuti empat pasangan calon yakni Moh Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi (diusung Partai Nasdem dan Gerindra), Munafri Arifuddin-Abd Rahman Bando (diusung Partai Demokrat, PPP, dan Perindo).

Bagian lain ialah, Syamsu Rizal MI-Fadli Ananda (diusung Partai PDI-P, PKB, dan Hanura), serta Irman Yasin Limpo-Andi Muh Zunnun Armin Nurdin Halid (diusung Partai Golkar, PKS, dan PAN).  

Di berbagai wilayah lain, pemilik suara menggunakan masker dan sarung tangan, serta menerapkan protokol kesehatan ketika melakukan pencoblosan surat suara.

Sementara, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan terhadap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah lara, petugas KPPS akan mendatangi dengan bersangkutan dengan terlebih dulu berkoordinasi pihak rumah sakit

Adapun mekanisme teknisnya, menurut Arief, sangat bersandar kondisi di masing-masing rumah rendah.

Semasa rumah sakit memiliki ruang terkuak besar, maka para pasien covid-19 bisa “dilayani” di tempat itu, kata Arief.

“Atau kalau di sendi sakit, pasien tidak bisa keluar kamar, maka akan koordinasi secara rumah sakit untuk dilayani dalam kamar, ” ujar Arief kepada wartawan, Rabu (09/12).

“Tapi apakah kami langsung masuk kamar ataupun ada petugas yang menghubungkan, secara teknis saya minta koordinasi dengan rumah sakit, ” katanya.

Jika anak obat dirawat di rumah, maka petugas akan mendatangi ke rumah per.

Pilkada 2020 semula dijadwalkan digelar di 309 kabupaten/kota untuk penetapan sembilan gubernur dan wakil gubernur, 37 pemilihan wali kota serta wakil walikota, serta 224 pemilihan bupati dan wakil bupati.

KPU menganggap Yusak belum memenuhi syarat masa tunggu lima tahun setelah ditahan karena kasus korupsi.

Tahapan Pilkada serentak tahun 2020 sebelumnya tertunda selama hampir tiga bulan akibat pandemi COVID-19 dan anyar dilaksanakan pada 9 Desember 2020.

Berita ini akan terus diperbarui

Related Post

Kejadian Covid-19 dunia tembus rekor mutakhir: AS termasuk tertinggi, Trump dituduh 'memalukan dan berbahaya' karena tentu kampanye pilpres

Kejadian Covid-19 dunia tembus rekor mutakhir: AS termasuk tertinggi, Trump dituduh ‘memalukan dan berbahaya’ karena tentu kampanye pilpresKejadian Covid-19 dunia tembus rekor mutakhir: AS termasuk tertinggi, Trump dituduh ‘memalukan dan berbahaya’ karena tentu kampanye pilpres

Diperbarui 6 jam yang lalu Sumber gambar, Reuters Presiden Donald Trump dituduh Gubernur Nevada Steve Sisolak melakukan hal yang "memalukan, kritis dan tak bertanggung jawab" karena menyelenggarakan kampanye pemilihan