Perubahan iklim: Benarkah jadi penyulut memburuknya kebakaran lahan & hutan di berbagai penjuru dunia?

  • Jack Goodman & Jake Horton
  • BBC Reality Check

sejam yang lalu

Sumber gambar, Getty Images

Gelombang panas serta kebakaran hutan dan lahan yang belakangan terjadi pada berbagai belahan dunia mendatangkan kecemasan. Muncul perkiraan bahwa sebagian Eropa dan Amerika Utara akan mengalami tren kebakaran terburuk sepanjang sejarah.

Bagaimana perbandingan tren kebakaran lahan saat ini dengan tahun-tahun sebelumnya?

Kebakaran lahan di California sangat parah

Rekor suhu mulia pecah di beberapa wilayah barat Amerika Serikat tarikh ini. Kondisi itu bukan hanya memicu kekeringan yang parah, tapi juga serangkaian kebakaran lahan besar.

Sepanjang tahun ini luas tanah yang terbakar di negara bagian California sudah besar kali lebih banyak sebab rata-rata lima tahunan.

Your device may not support this visualisation

“Kebakaran lahan murni yang kami takutkan saat ini terjadi di California, sesudah muncul gelombang panas dengan memecahkan rekor, ” ujar Susan Prichard, akademisi di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan di University of Washington

“Mengingat bahwa kebakaran tanah di California biasanya berlaku hingga November dalam beberapa tahun terakhir, saya khawatir AS bakal menghadapi musim kebakaran yang memecahkan rekor lainnya, ” kata Prichard.

Di AS, lebih sebab 3, 5 juta hektare lahan telah terbakar sepanjang tahun 2021. Jumlah tersebut satu juta hektare lebih banyak daripada yang terjadi dari Januari hingga Juli 2020. Padahal, musim kebakaran tahun lalu dicatat sebagai yang paling merusak sepanjang sejarah.

Merata lahan yang terbakar pada seluruh AS sepanjang tahun ini masih di lembah rata-rata 10 tahunan. Kaum negara bagian lain tidak mengalami kebakaran lahan yang separah California.

Tetapi para ahli memperingatkan itu masih sangat dini, dalam barang apa yang tampak seperti musim kebakaran yang sangat kering dan panjang.

Perubahan kondisi meningkatkan risiko cuaca radang dan kering yang kemungkinan akan memicu kebakaran hutan.

“Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini, termasuk penambahan petir dan angin kencang, menjadi lebih sering berlaku selama perubahan iklim, ” ujar Prichard.

Sumber gambar, Getty Images

Kebakaran di Turki

Kebakaran tanah di Turki juga yang terburuk sepanjang sejarah. Pemberitahuan itu dikatakan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Bertambah dari 200 kebakaran berlaku di Turki bagian barat dan selatan, meskipun pihak berwenang mengatakan mayoritas antara lain sudah terkendali.

Sekitar 175. 000 hektare lahan di negara itu terbakar sepanjang tahun ini, menurut Bentuk Informasi Kebakaran Hutan Eropa.

Angka itu delapan kali lebih besar dari sama yang dihitung antara tarikh 2008 dan 2020.

“Ini adalah tahun yang sangat buruk di seluruh wilayah Mediterania. Awak percaya bahwa ini dikarenakan suhu di atas sama sepanjang Juli di provinsi tersebut, ” ujar Yusuf Serengil, ilmuwan dari Fakultas Kehutanan di Universitas Istanbul.

Pemerintah Turki dikritik karena lengah. Saat kebakaran hebat terjadi, mereka tidak memiliki cukup pesawat untuk mengatasinya situasi.

Turki keputusannya mendapat bantuan dari Perancis, Spanyol dan beberapa negara lain.

Kebakaran lahan dalam Yunani juga memecahkan rekor, yaitu 12 kali bertambah luas daripada rata-rata kurang tahun sebelumnya.

Salah mulia yang sangat terdampak akibat kebakaran ini adalah Tanah Evia. Lebih dari dua. 000 orang dievakuasi melalui laut dari pulau tersebut.

Saat ini kebakaran lahan juga masih terjadji dalam wilayah Peloponnese, di jarang kota Kalamata dan Patras.

Siberia terbakar

Asap tebal akibat kebakaran lahan menyelimuti sebagian Siberia. Menurut citra satelit, asap itu berhembus hingga Lingkar Arktik dan sekitarnya.

Kebakaran lahan di Siberia berlaku setiap musim panas & biasanya dimulai di selatan, yakni di sekitar perbatasan China dan Mongolia.

Di dalam masa sebelumnya, kebakaran tersebut secara bertahap bergerak ke utara menuju Lingkar Arktik yang terpencil. Di sana api sulit dijangkau.

Musim kebakaran lahan ini sudah melihat asap dari Siberia mencapai Kutub Utara untuk pertama kalinya dalam kenangan yang tercatat.

Sumber tulisan, NASA Earth Observatory

Dan saat ini tersedia tanda-tanda lain bahwa kebakaran lahan di kawasan tersebut bakal semakin parah. Rata-rata area yang terbakar pada Siberia selama satu dekade terakhir lebih dari besar kali lipat dari sebelumnya, menurut data Sukachev Forest Institute.

Republik Sakha (atau Yakutia) di timur bahar Siberia menghadapi kebakaran berkuasa sejak pertengahan Juni. Kebakaran dengan intensitas tinggi tersebut mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida ke udara.

Bagian karbon yang dilepaskan sebab kebakaran di Sakha tarikh ini jauh melebihi kurang tahun terakhir. Meski begitu, beberapa daerah di kira-kira mereka belum mengalami musim yang buruk.

Para ilmuwan menyebut kalau suhu yang lebih mesra dan kering di bagian utara Siberia meningkatkan efek kebakaran. Perubahan iklim yang disebabkan manusia adalah ciri kunci dalam aktivitas kebakaran yang lebih ekstrem di kawasan ini.

Sebuah menuntut menyimpulkan bahwa gelombang panas di Siberia yang menghancurkan rekor pada tahun 2020 tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim.

Apa dengan terjadi di Amazon?

Daerah Amazon di Brasil diawasi dengan ketat karena deforestasi dan kebakaran lahan pertanian mengancam wilayah ekosistem dengan berharga ini.

Masa ini awal musim kebakaran tahunan di Brasil segar dimulai, yang biasanya menyentuh puncak pada bulan Agustus dan September.

Sumber tulisan, Getty Images

Sejauh ini pada tahun 2021, kawasan yang terbakar di Amazon, Brasil, lebih sedikit dipadankan tahun lalu, menurut bukti satelit yang dianalisis Michelle Kalamandeen, seorang ahli ekologi tropis.

Namun dampak kepada padang rumput atau sabana luas yang digunakan untuk bercocok tanam dan peliharaan meningkat.

Pada tahun 2020, kebakaran sangat merusak berlaku di selatan Amazon, sesuai di negara bagian Mato Grosso dan Para. Daerah ini terdiri dari alas dan sabana, yang meningkatkan kerawanannya untuk terbakar.

Iklim saat ini dan khianat cuaca memperkirakan terjadinya kekeringan lain. Artinya, kata Katia Fernandes, Asisten Profesor pada Universitas Arkansas, kebakaran luhur bisa terjadi lagi di wilayah Amazon ini.

Zona hutan hujan lainnya pada Brasil serta hutan di Peru dan Bolivia, diyakini akan terbakar lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, prakiraan cuaca menyebut kondisi iklim bakal tidak memungkinkan terjadinya kebakaran separah tahun 2020.

Aksi manusia seperti penggundulan hutan, bagaimanapun, juga menimbulkan efek kebakaran besar.

Tingkat deforestasi yang masih dapat membuat kebakaran saat cuaca menjadi lebih kering.

Dan di samping aktivitas manusia ini, dampak perubahan iklim dalam Amazon signifikan, menurut Fernandes.

“Kami telah melihat bukti bahwa musim kemarau beranjak panjang dan kekeringan payah terjadi lebih sering sebab variabilitas alam yang diperburuk perubahan iklim, ” ujarnya.

Related Post