Perjamuan Natal di Betlehem sepi, pandemi Covid-19 sebabkan ekonomi kota terpuruk

Perjamuan Natal di Betlehem sepi, pandemi Covid-19 sebabkan ekonomi kota terpuruk post thumbnail image
  • Yolande Knell
  • BBC News, Bethlehem

A Christmas market in Manger Square, in Bethlehem, in the occupied West Bank (20 December 2020)

Pohon besar dengan hiasan bintang di atasnya dipasang pada Manger Square, Betlehem untuk perayaan Natal, namun kali ini jauh dari meriah.

Pada 2019, musim liburan Natal seperti ini menarik ribuan pengunjung ke kota mungil di kawasan pendudukan Tepi Barat, Palestina.

Pengunjung membanjiri kota ini sepanjang tahun lalu.

Sebelum pandemi melanggar, masih banyak pihak yang berniat 2020 akan lebih baik buat pemasukan bisnis di kota tersebut.

“Tingkat okupansi lebih lantaran 90%. Semua orang melakukan investasi di sektor ini, ” kata Mariana al-Arja, manajer hotel Angel.

“Para pengusaha mulai membangun hotel-hotel baru. Saya membangun 22 ruang hotel mewah. Namun kini [bisnis] mati. Sangat sedih, ” tambahnya.

Suasana kosong di hotel Angel, Betlehem.

Hotel Angel merupakan tempat pertama terjadinya peristiwa virus corona Maret lalu sesudah seorang turis Yunani yang status di hotel itu dinyatakan membangun.

Arja sendiri dan sejumlah staf lain dinyatakan positif. Mereka melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Dua bulan kemudian, semua pemesanan hotel dibatalkan, dan dia terpaksa memberhentikan 25 karyawan dan menutup hotel.

Ia mengutarakan dampak terhadap bisnis virus corona lebih buruk dibandingkan dampak kebengisan konflik Israel-Palestina. Namun di pusat ini semua, Arja menyatakan optimistis, bisnis akan pulih kembali.

“Di sinilah tempat Yesus lahir. Saya yakin turis akan kembali ke Bethlehem namun perlu waktu, ” katanya.

Mariana al-Arja mengatakan ia yakin bisnis akan pulih kembali.

Tidak hanya hotel, restoran dan toko-toko cinderamata juga tutup.

Angka pengangguran meningkat serta perekonomian kota yang selama berzaman-zaman menggantungkan diri pada kunjungan pengikut Kristen, terpuruk.

Namun di bagian lain kota, sejumlah bisnis online lulus meraup untung.

Di toko cenderamata kayu pohon zaitun, saya temukan mereka sibuk melayani pesanan.

Pemilik toko Christmas House, Jack Giacaman, mengepak barang-barang pesanan berupaya ornamen kelahiran Yesus.

“Tahun ini sangat gawat. Pada awalhnya, tak ada kerja. Pada pertengahan tahun, saat musim panas, sebagian besar dari kami tak mampu cari uang untuk beli roti sekalipun, ” katanya.

“Bekalangan ini, terima kasih Tuhan… semua orang, pra Natal ingat tentang Betlehem dan mereka ingin beli sesuatu. Hari ini saja saya mengirim bahan ke berbagai tempat dunia, ke Selandia Baru, Kanada, Inggris, ” tambahnya.

Jack Giacaman di tokonya di Bethlehem.

Wali kota Betlehem menekankan bahwa peringatan Natal tidak akan dibatalkan namun bakal sangat berbeda dibandingkan biasanya.

Prosesi dengan diizinkan hanya marching band gabungan pramuka untuk menyambut pendeta yang diundang untuk memimpin perayaan suangi Natal pada 24 Desember.

Misa malam Natal, yang dianggap sebagai arah paling penting dalam rangkaian acara di Gereja Kelahiran, akan ditutup untuk umum.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang berusia 85 tahun, tidak akan hadir.

Karantina ketat diterapkan di wilayah Palestina, Tepi Barat dengan diduduki Israel karena naiknya urusan Covid-19.

Semua warga harus langgeng berdiam di rumah mulai pukul 19: 00 sampai 06: 00 pagi dan sepanjang hari Jumat dan Sabtu – waktu akhir pekan di Palestina.

Untuk menyesatkan video ini, aktifkan JavaScript ataupun coba di mesin pencari asing

Dalam tengah persiapan Natal tanpa kegiatan di luar rumah ini, para pendeta meminta jemaat Kristen buat mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.

“Natal yang sedih, tapi kita tahu saat Yesus lahir, malaikat berkata, ‘Jangan takut’, ” sirih Issa Thaljieh, pendeta Ortodoks Yunani di Gereja Nativity.

“Kita tahu Yesus Kristus dilahirkan untuk kita, menyelamatkan kita dan inilah cara kita untuk bahagia – untuk merasakan perdamaian dari dalam dan kesenangan dari dalam, ” tambahnya.

Manger Square di Bethlehem di daerah yang diduduki Tepi Barat, pada 23 Desember.

Di satu sudut di Manger Square, Gloria Nasser merancang kue dan kurma Palestina.

Dia telah lama tinggal di situ & biasanya puluhan rekan dan saudaranya datang untuk bersama-sama menonton parade dari balkon rumahnya.

Namun tahun itu, teman-temannya tak diizinkan datang.

Nasser mengutarakan umat Kristen setempat memiliki perintah untuk mengingatkan dunia tentang pesan Natal.

“Saat orang mengatakan Betlehem, karakter terpikir Yesus dan tempat dia dilahirkan, ” katanya.

“Kami tahu di seluruh dunia, banyak tanggungan yang terdampak virus. Jadi tarikh ini, kami harus tetap memiliki harapan dan berdoa agar pandemi selesai. ”

Related Post