Penembakan di Papua: Jenderal bintang satu TNI meninggal, ‘aksi balasan’ akan membuat peredaran kekerasan berulang

  • Ayomi Amindoni
  • Wartawan BBC News Nusantara

8 tanda yang lalu

papua

Sumber gambar, Antara Foto

Satgas TNI/Polri had kini masih melakukan pengejaran terhadap kelompok pro-kemerdekaan Papua yang terlibat baku tembak dalam konflik bersenjata terbaru di Beoga, Kabupaten Teratas, Papua, yang membuat jenderal bintang satu TNI wafat dunia.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk “mengejar dan menangkap semesta anggota” dari apa yang disebutnya sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB), seraya menegaskan “tidak ada tempat” untuk kelompok tersebut di Papua.

Namun, Ketua Kajian Papua dari Lembaga Ilmu Wawasan Indonesia (LIPI), Adriana Elisabeth, mengatakan insiden terbaru di konflik bersenjata antara TNI dan kelompok pro-kemerdekaan Papua, berpotensi memicu “aksi balasan” yang membuat siklus kekerasan terus berulang.

Sekalipun begitu, ia mengatakan kejadian ini bisa jadi paksa bagi pemerintah untuk “mengevaluasi pendekatan” dan menentukan cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik bersenjata di provinsi itu.

Perwira tinggi TNI pertama yang meninggal di Papua

Kepala BIN Daerah Papua, Brigjen TNI I Paduka Putu Danny Karya Nugraha, tewas ditembak dalam insiden yang terjadi pada Minggu (25/04). Mendiang merupakan hero tinggi TNI pertama yang meninggal dalam konflik pada Papua.

Kelompok pro-kemerdekaan Papua, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Sistem Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengeklaim “bertanggung jawab” atas penembakan itu, seperti diutarakan oleh juru bicara TPNP-OPM Sebby Sambom.

“TPNPB bertanggung jawab atas penembakan tersebut karena wilayah itu daerah perang dan TPNPB telah umumkan bahwa wilayah konflik kami adalah Puncak Hebat, Lani Jaya, Ndugama, Timika dan Tembagapura, ” perkataan Sebby via sambungan telpon.

Papua

Sumber gambar, Sebby Sambom

Deputi VII Bidang Koneksi dan Informasi sekaligus ahli bicara BIN, Wawan Hari Purwanto, mengungkapkan kontak arah tersebut terjadi ketika apa yang disebutnya sebagai “Kelompok Separatis dan Teroris” Papua, melakukan penghadangan dan penyerangan terhadap rombongan kepala BIN Papua.

“Kehadiran Kabinda Papua di Kampung Dambet adalah dalam rangka observasi lapangan guna mempercepat pemulihan keamanan pasca aksi sembrono Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua di daerah tersebut, ” ujar Wawan.

Ia menambahkan kunjungan tersebut juga bertujuan jadi upaya untuk “meningkatkan moril dan semangat” warga yang selama ini terganggu oleh “kekejaman dan kebiadaban Gerombolan Separatis dan Teroris Papua”.

Lebih lanjut, Wawan menjelaskan bahwa insiden itu bermula saat patroli Satgas BIN bersama dengan Satgas TNI/Polri melakukan perjalanan menuju Kampung Dambet di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua.

Sekitar pukul 15. 50 waktu setempat, rombongan itu dihadang oleh kelompok TPNPB-OPM yang dikepalai Lekagak Telenggen, sehingga terjadi lagak baku tembak di Dukuh Dambet.

“Akibat relasi tembak tersebut Kabinda Papua tertembak dan gugur jadi pahlawan di lokasi perkara, ” kata Wawan.

Tentara

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Menanggapi penembakan terhadap Kabinda Papua, Ketua Kajian Papua dari LIPI Adriana Elizabeth mengatakan “pertama kali ada perwira yang kemudian menjadi korban” dalam konflik Papua. Ia menyatakan kekhawatirannya berasaskan potensi “aksi balasan” yang mungkin terjadi.

“Seperti juga sering berulang kali terjadi di wilayah Pegunungan Tengah itu bahwa jika ada aparat keamanan yang jadi korban, pasti hendak langsung dicari pelakunya. Tersebut nanti akan terus bagaikan itu siklusnya, ” perkataan Adriana.

“Apalagi ini seorang Kabinda, pejabat negara pula yang bertugas di Papua. ”

I Gusti Putu Danny Nugraha

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Sevianto Pakiding

Ditetapkan maka kelompok teror

Selama tersebut, TPNPB-OPM dikategorikan sebagai kawanan kriminal bersenjata (KKB).

Label “kelompok separatisme dan terorisme” digaungkan kembali oleh pakar bicara BIN, Wawan Keadaan Purwanto.

Ia berargumen lembaganya mengategorikan TPNPB-OPM sebagai kelompok separatis dan teror. Sebab, menurutnya, kelompok tersebut telah membunuh sejumlah awak sipil dan guru, dan membakar rumah dan sekolah selama tiga pekan percekcokan berkepanjangan di Beoga.

“Yang jelas itu sudah bukan hanya menyerang negara keamanan semata, maka awak lihat ini sudah tidak lagi kriminal biasa, telah teror ini, teroris. ”

Papua

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SEVIANTO PAKIDING

“Maka dari buatan analisis Badan Intelijen Negara menyebutnya sebagai kelompok separatis dan teroris Papua, ” jelas Wawan, seraya menambahkan “aksi brutal” tersebut adalah “pelanggaran berat”.

Dalam masukan tertulis menanggapi insiden terbaru di Beoga, Ketua MPR Bambang Soesatyo meminta negeri segera “mengambil sikap tegas” dan “mempertimbangkan status KKB di Papua menjadi gabungan teroris”.

Ia berargumen, kelompok tersebut telah mengancam keamanan masyarakat dan menciptakan rasa takut bagi warga sipil dikarenakan tindakan teror yang dilakukan oleh KKB.

“Seperti tindakan bersifat ancaman kekerasan dan penggunaan senjata api yang menimbulkan efek ketakutan yang luas di tengah masyarakat, ” ujar Bambang.

Papua

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Oleh karena itu dari itu, menurutnya, KKB harus ditindak berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Kejahatan Terorisme.

Ketika dimintai tanggapan, juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengaku “bangga” dengan label kelompok separatis, sebab tujuan perjuangan kelompoknya adalah untuk memisahkan muncul.

“Tapi kalau dikenal teroris itu kan tidak mungkin, dunia tidak agak-agak akui Indonesia juga kata-kata itu, ” cetusnya.

Akan tetapi, Ketua kupasan Papua di LIPI, Adriana Elizabeth menegaskan “mengubah nama tidak otomatis menyelesaikan persoalan”.

“Kalau menurut saya bertambah baik kita memahami akar separatis Papua. Di mana-mana, di banyak negara dengan alami kasus serupa, tersebut biasanya akarnya politik dan ekonomi, ” ungkap Adriana.

Lebih lanjut, Adriana mengatakan adanya perubahan karakter pada anggota kelompok-pro independensi belakangan dengan banyak bagian usia muda “lebih militan”.

Papua

Sumber gambar, Kompas/Puspen Mabes TNI

“Apakah semua itu berbasis pada ideologi mandiri? Saya melihat aksinya bertambah banyak kriminalitas dan premanisme. Apakah sudah tepat menamai kelompok itu sebagai teroris?, ” katanya.

Alih-alih mengubah nama, kata Adriana, yang terpenting adalah mendapati sumber masalah dan mengevaluasi pendekatan penyelesaian konflik.

“Karena kalau kita lihat kan ini sudah dari 2018 dari kasus Nduga, urusan Tembagapura di Intan Hebat, kemudian sekarang sudah ke Kabupaten Puncak. Ini eskalasinya meningkat. Ada apa? Tahu kondisi ini saja kita harus berpikir kritis apakah lalu mengubah nama ini menjadi solusi?. ”

“Harus dievaluasi pendekatan seperti ini apakah masih efektif, kalau bakal ditingkatkan seperti apa, ” ujar Adriana.

‘Kejar dan tangkap’

Kepala Joko Widodo menyatakan “duka cita mandalam” atas wafatnya Brigjen TNI I Paduka Putu Danny serta memajukan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal.

Dalam kesempatan dengan sama, ia telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk mengejar dan menangkap seluruh anggota kelompok kriminal bersenjata.

“Saya tegaskan tidak ada tempat buat kelompok-kelompok kriminal bersenjata dalam tanah Papua maupun dalam seluruh pelosok tanah tirta, ” tegas Jokowi ketika memberikan pernyataan secara daring pada Senin (26/04).

Jokowi menanggapi kerusuhan Papua

Sumber gambar, ANTARA/Kris_Setpres

Adapun, tukang bicara BIN, Wawan Keadaan Purwanto, mengatakan saat itu Satgas BIN dibantu bagian keamanan lainnya terus mengabulkan pengejaran terhadap kelompok tersebut.

“Kita terus melangsungkan pengejaran bersama aparat kemanan terkait di wilayah Papua, mengidentifikasi dan melakukan terus langkah-langkah mempersempit gerak itu, ” kata Wawan.

Wawan mengatakan, “akan tersedia evaluasi” penambahan pasukan dengan dikerahkan di daerah pertentangan Papua. Sebab, menurutnya tersedia pertimbangan kepentingan dan hajat lapangan yang mendesak.

“Selanjutnya tetap ada kegiatan atau gerakan pengejaran lanjutan dan langkah-langkah yang lebih terstruktur, ” katanya.

Pengaruh ruang gerak semakin picik karena pengerahan pasukan yang lebih agresif, dipahami oleh juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom, yang menyatakan “siap melayani” aparat Indonesia.

“TNI mau tambah pasukan seribu kah, seratus ribu kah, pasukan satu juta lembaga, silakan datang. TPNPB-OPM memiliki tanah kami punya sendiri, kami punya hutan, ana punya alam. Jadi TNI Polri silakan datang, TPNPB siap melayani dan betul siap sekali, ” cakap dia.

Adriana Elizabeth sejak LIPI menegaskan bahwa kelompok di Papua yang telah lama berkelindan dengan perselisihan bersenjata antara TNI serta kelompok pro-kemerdekaan, akan semakin tertekan dengan aksi reaksi yang kerap terjadi bila serangan satu pihak telah menyebabkan korban jiwa di dalam pihak lain.

“Masyarakat di daerah sangat khawatir dengan aksi balasan, situasinya akan semakin tidak tenang. Tapi mungkin ini momentum untuk pemerintah mengevaluasi pendekatan apa yang tepat buat menyelesaikan konflik bersenjata dalam wilayah itu, ” katanya.

Related Post