Pembatasan mudik Lebaran: Jutaan diprediksi tetap pulang kampung, ada potensi ‘ledakan kasus, lansia paling berisiko jadi korban’

  • Callistasia Kejayaan
  • Wartawan BBC News Indonesia

5 Mei 2021, 20: 05 WIB

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Kelompok usia 50 tahun ke atas diprediksi akan menjelma kelompok yang paling sensitif terkena dampak Covid-19, dalam tengah gelombang mudik Idul Fitri, yang oleh negeri disebut mungkin akan dilakukan oleh sekitar 18 juta orang.

Pegangan resmi dilarang per 6 Mei, tapi banyak warga yang sudah kembali ke kampung halaman mereka sebelum aturan resmi berlaku.

Kira-kira 85% orang yang meninggal akibat Covid-19 berusia pada atas 47 tahun, menurut data Satgas Covid-19.

Sebagian besar dari kelompok itu juga belum divaksinasi, hal yang dapat memproduksi keselamatan mereka terancam.

‘Merasa suka anak pulang’

Anak sebab Halimatuh, 65, yang letak di Deli Serdang, Sumatera Utara, adalah salah satu dari warga yang kembali ke kampung halaman pra larangan mudik resmi sah Kamis (06/05).

Putranya, Rudi, 33, mudik dari Tangan bersama keluarganya setelah tiga tahun belakangan tidak pegangan.

Halimatuh mengatakan senang anaknya pulang, meski pula merasa khawatir. Ia sendiri belum divaksinasi karena mengiakan belum mendapat pemberitahuan dibanding pejabat kelurahan setempat.

“Ibu senang kalau anak pulang. Ini kan sudah 3 tahun dia nggak balik… Karena walaupun pandemi, pandemi, pandemi, cuma kita membentuk ikut aturan.

“Kita antisipasi supaya nggak terkena. Kita ikuti anjuran pemerintah. Kita siap siaga, ” ujar Halimatuh pada Dedi Hermawan yang melaporkan buat BBC News Indonesia.

Sementara itu, putranya, Rudi, mengatakan selalu menjaga adat kesehatan, seperti dengan memasang masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, agar tak membahayakan keluarganya di panti.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Di Solo, Sugiyem, 50, mengatakan tak begitu kacau dengan kepulangan anaknya di masa mudik ini.

“Ya nggak begitu khawatir karena anak saya telah divaksin di pabrik [tempatnya kerja]. Tapi nanti masa sampai di ruma ya tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak untuk lebih berhati-hati, ” cakap Sugiyem, seperti dilaporkan kuli Fajar Sodiq pada BBC News Indonesia.

“Kalau tempat belum divaksin, saya hendak menolak anak saya pulang, ” tambahnya.

Sugiyem sendiri belum divaksin sebab tak masuk kelompok prioritas vaksinasi.

Kira-kira 85 % penderita Covid usia lanjut wafat

Meski mereka yang mudik mengaku sudah melakukan protokol kesehatan, daya lonjakan Covid-19 diperkirakan agung setelah masa lebaran, cakap Ketua Satuan Tugas Pengerjaan Covid-19 Doni Monardo.

Pada diskusi yang digelar Rabu (05/05) kemarin, Doni, meluluskan contoh kenaikan angka peristiwa kematian setelah masa liburan, yakni mencapai lebih daripada 205 kasus per keadaan di awal Januari cerai-berai.

Kelompok yang memutar rentan adalah lansia, sebutan Doni.  

“Apalagi dengan usianya di atas 60 tahun dan punya komorbid. Presentasi kematian yang terpapar Covid, lantas meninggal negeri, [sebanyak] 85% [berusia] dalam atas 47 tahun, ” kata Doni.

Sumber tulisan, Satgas Covid-19

Dicky Berakal, pakar epidemiologi dari Griffith University, Australia, mengatakan peristiwa senada.

Ia melihat tersedia potensi ledakan kasus secara orang-orang di atas 50 tahun sebagai kelompok memutar berisiko menderita sakit pelik lalu mengalami kematian.

Ditambah lagi, kata Dicky, banyak dari mereka belum divaksin.

“Data memang pada 47 ke atas (berisiko), tapi setidaknya 50 tarikh ke atas kita kejar dalam dua bulan tersebut, kalau bisa, untuk diproteksi dengan vaksinasi karena itu yang berkontribusi untuk kesakitan dan kematian.

“Mereka yang nanti berkontribusi pada ledakan, yang kelompok tersebut yang akan sangat banyak. Kalau bicara angka kesakitan dan kematiannya, ini yang harus segera diantisipasi, ” kata Dicky.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

‘Fokus vaksin pada kelompok rawan’

Saat ini mereka yang berusia di atas 60 tahun termasuk dalam ikatan prioritas vaksinasi. Namun capaian vaksinasi pertama kelompok itu baru mencapai sekitar 12%, menurut data Kementerian Kesehatan.

Sementara, kelompok dalam usia 50 tahun belum masuk prioritas vaksin.

Siti Nadia Tarmizi, demi juru bicara vaksinasi Covid-19, mengatakan kelompok itu mutakhir akan divaksin di bulan Juli, bersama masyarakat ijmal lainnya.

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Namun, meski banyak lansia yang belum menerima vaksinasi, sejumlah orang dengan masuk kategori ‘pelayan publik’ sudah menerima vaksin, yakni sebanyak 50, 25% untuk vaksinasi tahap pertama.

Yang masuk kelompok tersebut di antaranya adalah aparat sipil, jurnalis, hingga distributor.

Namun, belakangan, pemberian vaksinasi juga meluas had ke keluarga anggota DPR, tersangka kasus korupsi,, had seniman dan budayawan dalam Jakarta.

Pemberian vaksinasi pada kelompok di asing sasaran utama ini dikritisi oleh Dicky.

“Ini ada godaan dalam perjalanan yang tidak bisa dihindari oleh pemerintah, tapi ini berbahaya sekali karena artinya kelompok lansia menjadi klan yang sangat tertinggal. Belum lagi kita harus menaikkan usia 50 tahunan tersebut.

“Kita harus prioritaskan penjagaan kelompok rawan… kita harus refocusing target dari vaksinasi kita, ” ujarnya.

‘Efektifkan PPKM’

Terpaut mudik, Dicky Budiman, mengutarakan yang kini bisa dilakukan daerah tujuan mudik merupakan mengefektifkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM berbasis mikro.

Pihak berkuasa di daerah tujuan mudik, kata Dicky, perlu melaksanakan pengetesan, penelusuran kasus, maka isolasi warga yang pasti.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Sementara itu, Doni Monardo kembali mewanti-wanti warga untuk tidak mudik.

Pada diskusi yang sama Rabu (05/05), Komjen Pol. Arief Sulistyanto, Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri, mengatakan jumlah titik penyekatan akan ditambah demi mencegah warga pegangan.

Related Post