Olimpiade Tokyo: Upaya Indonesia jaga tradisi emas badminton Olimpiade, dari latihan khusus di Kumamoto hingga menjaga sinting pemain

  • Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

8 jam dengan lalu

Sumber gambar, PBSI

Herry Iman Pierngadi, pelatih berpasangan putra Indonesia, sudah menyiapkan semuanya. Ia merancang rencana dengan tujuan utama anak-anak asuhnya memiliki performa pucuk saat berlaga di Olimpiade Tokyo.

Kalender ini mencakup latihan khusus dan mengirim pemain dalam turnamen internasional secara selektif, dengan harapan mendongkrak jalan menyabet medali.

Namun agenda program ini buyar kausa pandemi global Covid-19.

Praktis, setelah ajang All England 2020 di Birmingham, Inggris, hampir semua kompetisi besar dibatalkan.

“Bisa dikatakan sekarang semua kekuatan pemain menjadi kosong-kosong lagi, ” kata Herry memberi perumpamaan atas situasi kekuatan para pemain pilihan di masa pandemi. “Kita tak tahu kekuatan lawan yang sesungguhnya, ” imbuhnya.

Ia mengatakan para pemain China — salah satu pesaing dekat tim bulutangkis Indonesia — sudah tidak terjun di turnamen gembung selama satu setengah tahun terakhir.

Menganalisis lawan ialah satu diantara upaya penting dalam memenangkan pertandingan. Namun itu sekarang tak bisa dilakukan.

Di luar itu, tersedia kendala lain dengan sejenis minimnya turnamen internasional dalam 1, 5 tahun ini, yaitu bagaimana merasakan kembali ” feeling bertanding di lapangan”.

Baca juga :

Sumber gambar, PBSI

Pada tengah sejumlah kendala itu, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menetapkan untuk terbang ke Jepang lebih awal dan menggelar latihan khusus di Kumamoto selama sekitar 10 keadaan sebelum masuk ke Perkampungan Atlet di Tokyo.

Pemain tunggal putra Anthony Ginting dan pemain ganda campuran Melati Daeva Oktavianti mengatakan latihan di Kumamoto menjadi ajang untuk mengatur persiapan terakhir dan aspek-aspek nonteknis.

“Ini kan Olimpiade pertama bagi saya, oleh karena itu di sana (Kumamoto) tersedia persiapan akhir untuk hal-hal nonteknis, ” kata Melati.

Praveen/Melati tingkatkan kekompakan

Melati dan pasangannya di berpasangan campuran, Praveen Jordan, menjadi satu diantara tumpuan harapan medali.

Praveen/Melati mencatat prestasi mengesankan di seri Eropa pra secara cemerlang menjuarai All England 2020.

Keduanya mengatakan secara teknis, persiapan masuk di Olimpiade Tokyo telah rampung dan sejak kira-kira Mei, memfokuskan pada intensifikasi komunikasi di lapangan, yang digambarkan Praveen sebagai “meningkatkan chemistry “.

“Kalau soal pelajaran [fisik] tentu pelatih sudah tahu, jika dari kami sendiri [yang kami lakukan adalah] menjaga motivasi, jaga kondisi [fisik], jaga kekompakan dan chemistry , ” kata Praveen dalam kalender bincang-bincang dengan mantan pemain ganda campuran Liliyana Natsir.

Peraih medali emas Olimpiade cabang olah raga Jatuh Tangkis

4 Agustus 1992

Pemeran tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan medali emas Olimpiade untuk Indonesia untuk mula-mula kalinya setelah mengalahkan rekan setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam pada Barcelona, Spanyol.

Sementara pemain tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Selatan Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada ajang yang serupa.

31 Juli 1996

Pemeran ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemenangan setelah membabat berhenti lawannya, pasangan dari Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), dengan nilai 5-15, 15-13, 15-12 di Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.

21 September 2000

Pemain ganda putra Kamar Wijaya dan Tony Gunawan menaiki podium kampiun Olimpiade di Sydney, Australia setelah menaklukkan pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung menggunakan pertandingan tiga set secara skor 15-10, 9-15, serta 15-7. Keduanya menjadi tunggal penyumbang medali emas untuk Indonesia pada gelaran cara raga bergengsi dunia dalam tahun tersebut.

21 Agustus 2004

Atlet Taufik Hidayat membantai pemain tunggal putra asal Korea Selatan Shon Seung-Mo dalam dua gim, 15-8 dan 15-7 pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

8 Desember 2008

Sempat kalah di gim pertama, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido kesimpulannya melawan balik dengan skor 12-21, 21-11, dan 21-16. Keduanya menyumbangkan medali aurum untuk Indonesia setelah membantai pasangan China Cai Yun dan Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 di Beijing, China.

17 Agustus 2016

Bagian ganda campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, yang jatuh berbenturan dengan Hari Kemerdekaan Nusantara. Keduanya menyumbangkan medali aurum untuk tim Merah Suci setelah membabat habis lawannya asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Dalam ramah dengan BBC News Indonesia, Praveen mengatakan ia serta Melati bisa meneruskan prestasi seniornya, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang meraih medali emas di Olimpiade 2016.

“Itu memotivasi saya & Melati [untuk meraih emas di Tokyo]#@@#@!!… soal lawan, kita sudah mengantipasipasi. Yang terberat sewajarnya dari pemain-pemain China, ” kata Praveen.

Jordan/Melati berada di Grup C bersama Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark), dan Simon Wing Hang Leung/Gronya Somerville (Australia).

Dua posisi terbaik dalam setiap grup akan mengarungi ke babak delapan tumbuh. “Melihat drawing cukup molek, head to head kita tidak kalah tapi itu Olimpiade. Jadi siapa biar lawannya tidak boleh cabar, ” kata Melati, di dalam rilis yang dikeluarkan PBSI.

“Satu langkah demi mulia langkah saja dulu. Seluruh lawan harus diwaspadai, tidak boleh fokus ke lengah satu, ” kata Melati.

Sumber gambar, PBSI

Baca juga :

Pembimbing ganda campuran, Nova Widianto, mengatakan sekarang yang menjadi perhatian adalah faktor moral.

“Kondisi Praveen/Melati sejauh tersebut sudah sangat bagus. Latihannya sudah banyak ke teknik, latihan fisiknya sudah dikurangi. Tinggal menyiapkan dan membenarkan mental saja. Yang terpenting sekarang mentalnya harus siap, ” kata Nova pada Tim Humas dan Media PP PBSI.

“Karena Olimpiade selama ini kalau saya lihat, kadang-kadang orang yang ada di peak performance -nya belum tentu secara moral. Kalau saya lihat ke belakang, Owi/Butet itu prestasi terbaiknya di 2012 akan tetapi emasnya di 2016. Kok? Karena mereka secara tipuan 2012 itu sudah baik tapi secara mental belum siap, ” kata Nova menganalisis.

Kevin/Marcus tak suka gegabah

Tumpuan medali emas juga ada di bahu dua pasangan ganda anak, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan.

Keduanya masing-masing berkecukupan di peringkat satu & dua dunia, yang di atas kertas setidaknya menunjukkan, keduanya punya peluang luhur meraih emas.

Sumber gambar, PBSI

Namun, posisi ini juga bisa menjadi tahanan, sesuatu yang disadari sebab pelatih ganda putra, Herry IP.

Itulah sebabnya Herry sudah menyiapkan barang apa yang ia sebut “catatan-catatan khusus”.

“Yang tidak kecundang penting adalah mengatur suasana hati pemain. Setiap pemain tidak sama, mereka punya karakter masing-masing. Saya harus bisa menjaga motivasi, memelihara mental, agar target bisa dicapai, ” kata Herry.

Catatan khusus ini ia susun setelah berulang kali mendampingi pemain di ajang penting seperti Kejuaraan Negeri dan All England.

Kevin/Marcus yang menempati unggulan prima berada di Grup A bersama Lee Yang/Wang Chi-Lin (China Taipei), Ben Lane/Sean Vendy (Inggris), dan Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy (India).

Hendra/Ahsan — yang diunggulkan dalam tempat kedua — menempati Grup D bersama Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), Choi Sol Gyu/Seo Seung Jae (Korea Selatan), serta Jason Anthony Ho-Shue/Nyl Yakura (Kanada).

Mengomentari undian, pelatih ganda putra Herry IP mengatakan, “Harus jadi karena undian kita tak bisa memilih, apa kendati hasilnya ya harus dihadapi, ” kata Herry.

“Di grup bakal ada tiga pasangan yang akan dilawan dengan plus-minus masing-masing. Oleh sebab itu berat atau ringan menurut saya tergantung persiapan dan kesiapan atlet itu tunggal, ” lanjutnya. Menurut Herry, saat ini sulit memastikan kekuatan lawan karena telah lama sekali tidak ada pertandingan.

“Untuk strategi, segar jelang harinya kita mau diskusi. Kita kan ada lihat video-video rekaman musabaqah sebelumnya, ” ucap Herry. Senada dengan Herry, Marcus juga mengomentari undian dengan nada yang tidak sungguh-sungguh gentar.

“Ya namanya Olimpiade, kita sudah tidak bisa pilih-pilih lawan. Semua merebak kekuatannya, bakal ramai lah, ” ujar Marcus. Sebelumnya, Kevin mengatakan dirinya tidak ingin gegabah meski era ini berada di status satu dunia.

“Kualitas pemeran [ganda putra] saat ini jauh lebih merata. Segenap punya kans yang persis untuk juara, ” sekapur Kevin.

Kans emas ke-2 bagi Hendra

Sumber gambar, BWF

Bagi Hendra, tersebut menjadi kans kedua buat kembali meraih emas, sesudah emas pertamanya di Olimpiade 2008 di Beijing bersama Markis Kido.

Pada Olimpiade 2016 di Rio, Hendra/Ahsan gagal lolos sejak fase grup.

Kala ini di Tokyo, Ahsan mengatakan ingin meningkatkan fokus di lapangan. “Setiap hasil, setiap poin akan betul berarti. Semua lawan pecah. Jadi bisa saja faktor penentunya nanti hitungan poin, ” kata Ahsan.

Hendra, sementara itu mengatakan, “Kita mau lebih fokus, step by step , satu pertandingan ke pertandingan lain. Main lebih berani dan lebih yakin lagi. ”

Penuh yang menempatkan Hendra/Ahsan jadi kuda hitam. Ketika piawai tak lagi muda, bagian ini masih bisa memimpin All England pada 2019.

Bagi Kevin/Marcus, batu sandungan bisa datang dari pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Endo/Watanabe sukses menghadang Kevin Marcus di final All England 2020. Di All England 2021, duo Jepang ini juga keluar sebagai juara.

Wartawan olahraga Reza Adi Surya mengatakan pembimbing ganda putra Herry IP tentu sudah menyiapkan muslihat khusus jika Endo/Watanabe bertemu Kevin/Marcus.

“Dalam beberapa jalan, pasangan Jepang ini benar selalu bisa mengalahkan Kevin/Marcus. Tapi bicara peluang di Tokyo, saya memperkirakan 60: 40 untuk Kevin/Marcus, ” kata Reza.

Selain Praveen/Melati, Kevin/Marcus, dan Hendra/Ahsan, Nusantara juga menerjunkan tunggal anak Anthony Ginting, Jonathan Christie, tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung, dan ganda ananda Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Sumber gambar, PBSI

Ginting mengatakan dirinya sudah merasa jadi terjun di Olimpiade Tokyo.

“Sudah lama persiapannya, sejak All England 2021. Jadi, so far sudah siap, jaga fokus, letak simulasi feeling , untuk membawa perasaan ke pertandingan, ” sirih Ginting.

Ia mengatakan dirinya banyak mempelajari lawan menggunakan video-video pertandingan, baik dengan dikumpulkan sendiri maupun yang disiapkan tim PBSI.

Kan lama tak ada musabaqah, jadi kami tidak cakap kekuatan lawan, [karenanya] video-video lama istimewa, ” kata Ginting.

Pelajaran, baik teknis dan nonteknis, sudah dimaksimalkan, dan serupa kata peraih emas Olimpiade 2000 Candra Wijaya, semuanya sekarang bergantung pada pengejawantahan di lapangan.

“Yang penting bermain tenang, jangan terburu-buru, dilewati satu demi satu, ” kata Candra.

Tahu latihan di Pelatnas Cipayung maupun di Kumamoto, terasa adanya tekad yang berpengaruh untuk meraih emas.

“Kami akan habis-habiskan mempertahankan kebiasaan medali emas, ” introduksi Rionny Mainaky, kepala dunia pembinaan dan prestasi PBSI.

Related Post