Nakes di Papua minta jaminan keamanan setelah serangan Puskesmas oleh KKB – ‘Jangan sampai menimpa teman-teman pada distrik lain’

  • Pijar Anugerah
  • BBC News Indonesia

21 September 2021, 08: 32 WIB

Papua

Sumber gambar, Indrayadi TH/Antarafoto

Para gaya kesehatan (nakes) di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, menodong jaminan dari pihak berwenang agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan aman.

Permintaan ini muncul setelah serangan terhadap Puskesmas dalam distrik Kiwirok oleh golongan bersenjata yang menyebabkan meninggalnya seorang nakes, serangan pertama yang dilaporkan terhadap wahana kesehatan di Papua.

Pelayanan kesehatan di kabupaten tersebut disebut sudah kembali berlaku setelah sempat terhenti.

Kepala asosiasi dokter di Papua menyebut konflik bersenjata di distrik Kiwirok telah menghambat berbagai program kesehatan pada wilayah itu.

Baca juga:

Senin kemarin (20/09), 4 nakes dari distrik Kiwirok mendatangi kantor Komnas PEDOMAN di Jayapura. Mereka mencuraikan kembali situasi yang mereka alami dan meminta Komnas HAM memfasilitasi pertemuan dengan Kapolda Papua, kata Frits Ramandei, perwakilan Komnas HAM di Papua.

Frits mengucapkan, Komnas HAM juga memfasilitasi para nakes untuk memberikan harapan mereka pada Pemda Kabupaten Pegunungan Bintang melalui kepala Dinas Kesehatan.

“Harapan mereka, yang terpenting merupakan bagaimana satu teman itu yang meninggal dunia bisa dievakuasi untuk proses pemakaman, sedangkan satu yang datang saat ini belum ditemukan, diketahui bagaimana nasibnya.

“Dan mereka memohon supaya perkara seperti ini tidak menimpa teman-teman mereka di distrik-distrik yang lain, ” prawacana Frits.

Menurut Frits, para nakes masih dalam iklim syok sehingga tidak mau berbicara kepada wartawan, namun mereka “cukup tegar”.

Papua

Sumber gambar, Frits Ramandei

Sembilan tenaga kesehatan yang bekerja di distrik Kiwirok dievakuasi ke Jayapura pada Jumat (17/09), dan semuanya dikenal sedang dalam penanganan medis dan psikologis.

Abdi TNI masih berusaha mengevakuasi jenazah suster Gabriella Meilani dan menemukan seorang nakes yang hilang.

Sementara tersebut, tenaga medis di 34 distrik dan 277 wilayah dilaporkan telah ditarik ke ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang, Oksibil, karena kekhawatiran akan keselamatan mereka.

Juru bicara Gubernur Papua, Rifai Darus, mengatakan saat tersebut pelayanan kesehatan di pokok kota kabupaten sudah kembali berjalan, tetapi belum maksimal. Sementara di distrik Kiwirok belum berjalan.

Sebelumnya, Ikatan Dokter Indonesia wilayah Papua memberitahukan bahwa seluruh pelayanan kesehatan di wilayah Kiwirok, Oksibil, dan Pegunungan Bintang dihentikan seraya menunggu gadai keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan dengan bertugas.

Rifai mengatakan pada BBC News Indonesia bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe sedang mengusahakan itu.

“Gubernur Papua akan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pimpinan TNI dan Kapolda di rangka mempersiapkan langkah-langkah keamanan dan kenyamanan yang hendak dilakukan. Akan ada pertemuan pada hari Rabu nanti, ” katanya lewat sambungan telepon.

Program kesehatan terhambat

Serangan terhadap Puskesmas dalam distrik Kiwirok, Senin pasar lalu (13/09) menghambat program-program kesehatan yang tengah berlaku di wilayah itu, sekapur Ketua IDI wilayah Papua dr. Ronald Aronggear.

Diantara program kesehatan tersebut adalah upaya menurunkan nilai kematian ibu dan bujang serta pengangkatan katarak.

“Saya harus tekankan kembali, terlepas dari masalah yang lain, mereka punya program yang harus dinikmati oleh bangsa di pegunungan, yang kudu mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan yang didapatkan di tempat lain, ” kata dr. Ronald dalam sebuah jumpa pers virtual, Jumat (17/09).

Menurut dr. Ronald, peristiwa di Kiwirok mendapatkan tanggapan dari para nakes di wilayah pedalaman yang lain.

Banyak dari mereka tetap bekerja, kata dr. Ronald, tetapi meminta supaya jangan sampai terjadi situasi yang seperti di Puskesmas Kiwirok.

“Mereka banyaknya teman-teman dari luar Papua kan meninggalkan keluarga untuk pengorbanan pada masyarakat jadi itu merasa baiknya tolong ada rasa aman lah supaya dilindungi. Itu yang mereka sampaikan, ” kata dr. Ronald.

Papua

Sumber gambar, Indrayadi TH/Antarafoto

Serangan terhadap Puskesmas Kiwirok tampaknya mengejutkan para-para tenaga kesehatan di Papua. Sepengetahuan dr. Ronald, tersebut pertama kalinya fasilitas kesehatan tubuh dan tenaga kesehatan disasar langsung oleh kelompok bersenjata.

Ia menceritakan bahwa di kerusuhan di Wamena besar tahun silam, memang ada seorang dokter yang menjadi korban saat sedang dalam perjalanan ke kota tersebut. Namun para penyerang saat itu tidak tahu kalau dia adalah tenaga medis.

“Saya berharap ini [Puskesmas Kiwirok] bukan sesuatu sasaran, kita berharap tersebut suatu ‘oknum’ yang melangsungkan suatu tindakan dan tidak tahu apa yang tempat kerjakan. Karena saya cakap sekali bahwa orang Papua harusnya tidak bisa mengamalkan begitu, ” kata dr. Ronald.

Kekerasan terus berlaku

Pembakaran Puskesmas di wilayah Kiwirok bermula dari kontak tembak antara TNI secara apa yang disebut negeri sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Menurut keterangan TNI, KKB melakukan penyerangan serta pembakaran terhadap beberapa sarana publik antara lain pejabat, pasar, sekolah, dan Puskesmas.

Seorang nakes yang selamat, Marselinus Ola Atanila (35 tahun), menceritakan kepada media bahwa KKB memecahkan cermin puskesmas, kemudian menyiram petrol dan membakar Puskesmas.

Para pelaku kemudian bergerak ke barak dokter dengan dijadikan persembunyian dokter, biarawati dan mantri.

Empat nakes berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke jurang, sirih Ola, tapi kemudian beberapa anggota KKB mengikuti itu.

Akibat penyiksaan itu, seorang suster yaitu Gabriella Melani meninggal dunia.

Tentara Penghentian Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) telah mengatakan bertanggung jawab akan serangan ini melalui pernyataan ke sejumlah media. Namun juru bicara TPNB-OPM, Sebby Sambom, belum menjawab permintaan konfirmasi dari BBC.

Papua

Sumber gambar, Indrayadi TH/Antarafoto

Serangan terhadap Puskesmas dan sarana publik di distrik Kiwirok adalah bagian dari kekerasan yang terus berlanjut jarang TNI dan KKB sejak pembunuhan pekerja proyek Trans Papua di Nduga dalam 2018.

Sebelumnya, terjadi serangan-serangan yang menelan korban masyarakat sipil termasuk seorang resi dan dua guru.

Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandei, menekankan bahwa percekcokan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan kekerasan.

Komnas HAM, kata Frits, mendorong Presiden Joko Widodo agar membentuk suatu tim yang bertanggung jawab langsung pada presiden dan bekerja secara diam-diam untuk mengembangkan percakapan kemanusiaan dengan kelompok-kelompok masyarakat di Papua yang berbeda pandangan.

Yang dimaksud dengan dialog kemanusiaan, menurut Frits, berarti “ada kesetaraan antara tim yang dibentuk Kepala dengan mereka untuk pikiran dalam konteks sebagai warga negara, walaupun ada pihak yang berbeda secara ideologis. ”

“Pendekatan kesejahteraan penting, sangat penting. Tetapi penghampiran dialog kemanusiaan, dengan memperhatikan suara-suara mereka yang bergerilya di hutan itu serupa jauh lebih penting, ” ujarnya.

Related Post