Mutasi iklim: Musim panas beberapa tarikh ke depan akan ‘terlalu radang untuk manusia’

Mutasi iklim: Musim panas beberapa tarikh ke depan akan ‘terlalu radang untuk manusia’ post thumbnail image
  • David Shukman
  • Editor bidang ilmu

Jutaan orang di berbagai negara berpotensi terpapar lagu panas (heat stress) berkadar tinggi. Kondisi berbahaya itu dapat mewujudkan organ tubuh manusia berhenti beroperasi.

Mayoritas orang yang diprediksi terdampak tekanan panas itu tinggal di negara berkembang. Mereka disebut hidup dalam kondisi yang membahayakan kesejahteraan nyawa.

Ancaman tekanan panas itu bahan dihadapi mereka yang bekerja pada luar ruang, seperti sektor perkebunan, maupun yang beraktivitas di dalam ruang seperti pabrik dan sendi sakit.

Pemanasan global meningkatkan peluang musim panas yang bakal terlalu panas untuk manusia. Pada situasi tersebut, manusia diprediksi bakal sulit berfungsi.

Masa kami bertemu Jimmy Lee, kacamatanya berembun. Keringat juga meluncur dari lehernya.

Lee adalah dokter di balairung kegawatdaruratan. Dia merawat pasien Covid-19 dalam iklim tropis Singapura yang panas.

Rumah sakit tidak memasang pendingin udara di ruangan Lee. Itu adalah keputusan yang secara ingat diambil, untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dalam kondisi ruang kegiatan itu, Lee dan teman sejawatnya sadar bahwa mereka menjadi bertambah sensitif dan mudah mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang lain.

Alat pelindung diri (APD) yang dipakainya buat berlindung dari virus justru memproduksi kondisi semakin buruk. Lapisan-lapisan plastik di pakaian itu menciptakan guru yang sangat panas.

“Anda akan benar terkejut ketika pertama kali bertugas di sana. Sangat tidak sejuk bekerja selama delapan jam di dalam situasi itu. Semangat kerja sejenis terdampak, ” ujarnya.

Lee berkata ada bahaya yang mengintainya dalam situasi kerja seperti tersebut. Suhu panas yang tinggi dapat memperlambatnya mengambil tindakan yang aurat untuk pasien.

Sebagian besar pekerja medis, kata dia, bakal mengabaikan dampak tekanan panas seperti pingsan maupun mual. Dia berkata akan tetap bekerja sampai kolaps.

Apa itu tekanan panas?

Itu adalah kondisi saat tubuh manusia tidak dapat menurunkan suhu badan. Akibatnya, temperatur tubuh tetap meningkat hingga titik bahaya dengan dapat membuat organ tubuh beradu beroperasi.

Situasi itu muncul ketika penguapan keringat di atas kulit tak terjadi akibat udara yang benar lembab. Penguapan keringat merupakan proses utama untuk mengatasi suhu radang yang berlebihan.

Dokter Lee dan lihai medis lainnya menemukan fakta kalau, lapisan APD yang tidak mampu ditembus menghambat proses penguapan peluh.

Menurut Rebecca Lucas, peneliti isu fisiologi di Universitas Birmingham, di dalam kondisi itu seseorang bisa kolaps, kehilangan orientasi, kram, sampai kasus ginjal.

“Akan ada dampak yang benar-benar saat Anda mengalami suhu radang berlebihan, dan itu akan terjadi di berbagai bagian tubuh, ” kata Lucas.

Bagaimana mengetahui tekanan radang yang berbahaya itu?

Sistem bernama Peraturan Bulb Globe Temperature (WBGT) mengukur panas, kelembapan serta faktor lainnya yang memberi deksripsi realistis mengenai tekanan panas.

Pada dekade 1950-an, tentara Amerika Serikat memanfaatkan sistem tersebut untuk keselamatan prajurit.

Ketika WBGT mencapai suhu 29 derajat Celsius, misalnya, rekomendasi yang muncul adalah menahan pelatihan fisik untuk setiap orang yang tidak menyesuaikan aklimatisasi.

Namun suhu itu dihadapi setiap hari oleh dokter Lee dan para koleganya di Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong di Singapura.

Dan di puncak skala ukuran itu, yakni 32 derajat Celsius, menurut perhitungan pemerintah AS, latihan fisik mengandung harus dihentikan untuk mencegah pengaruh parah.

Namun bersandarkan catatan Profesor Vidhya Venugopal dibanding University Sri Ramachandra, suhu mulia itu belakangan terjadi di pada rumah sakit di kota Chennai, India.

Venugopal juga menemukan bahwa para-para pekerja di sentra pembuatan garam menghadapi suhu hingga 33 taraf Celsius pada siang hari — temperatur yang semestinya mengharuskan itu berteduh.

Di pabrik baja, suhu berlebihan yang pernah tercatat mencapai 41, 7 derajat Celsius. Para praktisi di kawasan itu termasuk dengan paling rentan menghadapi panas tinggi.

“Jika situasi itu terjadi setiap keadaan, orang-orang akan mengalami dehidrasi, masalah kardiovaskular, batu ginjal, hingga kelelahan akibat suhu panas, ” ujar Venugopal.

Apa efek perubahan iklim di situasi itu?

Saat temperatur dunia naik, kelembapan tinggi juga mungkin berlaku. Artinya, lebih banyak diantara kita akan bertemu hari-hari berbahaya akibat panas dan kelembapan.

Profesor Richard Betts dari awak meteorologi Inggris menjalankan program jinjing yang memperkirakan bahwa akan semakin banyak hari-hari dengan suhu dalam atas 32 derajat Celcius. Tanda itu akan sangat bergantung apakah komitmen meniminalkan emisi gas panti kaca.

Betts menjabarkan risiko jutaan orang yang harus bekerja dalam situasi menantang, antara panas ekstrem dan kelembaban tinggi.

“Manusia berevolusi untuk hidup pada kisaran suhu tertentu. Jadi jelas, jika kita terus menjadi pasal kenaikan suhu di dunia, cepat atau lambat, sebagian wilayah di dunia akan mencapai titik terpanas. Dan dari situ kita mampu melihat apakah temperatur itu sungguh-sungguh panas bagi kita, ” ujarnya.

Adapun penelitian lainnya, yang diterbitkan pembukaan tahun 2020, menyebut bahwa lagu panas dapat memengaruhi setidaknya satu, 2 miliar orang di semesta dunia pada tahun 2100. Total orang terdampak itu empat kali lebih banyak dari sekarang.

Apa penyelesaian yang tersedia?

Menurut Jimmy Lee, solusinya bukanlah hal yang sulit.

Setiap orang perlu minum banyak cairan sebelum mulai bekerja. Mereka perlu istirahat secara teratur dan minum lagi saat jam rehat tersebut.

Rumah kecil tempat Lee bekerja di Singapura mulai menyediakan minuman semi-beku untuk membantu karyawan mendinginkan diri.

Namun Lee berkata, menghindari tekanan panas lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Bagi Lee dan rekan-rekannya, beristirahat harus melalui proses yang melelahkan, yaitu menggugurkan APD, lalu kembali ke memakai APD baru.

Dan sebenarnya terdapat masalah positif. “Beberapa orang tidak mau minum supaya tidak perlu pergi ke toilet, ” kata Lee.

Ada hawa profesional untuk terus bekerja, barang apa pun kesulitannya, agar tidak menyebalkan sejawat dan pasien yang menjalani kondisi kritis.

Orang-orang bermotivasi tinggi tersebut berisiko terbesar terdampak suhu panas, kata Jason Lee, seorang guru besar ilmu fisiologi di National University of Singapore.

Jason Lee merupakan anggota terkemuka di kelompok ahli dengan meneliti bahaya panas berlebihan, Global Heat Health Information Network. Lee menyusun pedoman untuk membantu praktisi medis mengatasi Covid-19.

Pedoman itu dipelopori oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) & badan cuaca dan iklim AS (NOAA).

Lee berceloteh, selain langkah seperti istirahat, minum banyak cairan, serta berteduh untuk mereka yang berada di asing ruangan, cara melawan tekanan panas harus sesuai dengan kondisi per orang.

“Dengan menjaga diri tetap sehat, Anda juga meningkatkan toleransi terhadap suhu panas tubuh. Dan ada banyak manfaat lainnya juga, ” ujarnya.

Lee menganggap tantangan para petugas medis, yaitu berkeringat di dalam APD, seperti gladi resik menghadapi kemajuan suhu bumi pada masa depan.

“Perubahan iklim ini akan menjadi monster yang lebih besar dan kita sungguh membutuhkan upaya terkoordinasi di seluruh negara untuk mempersiapkan diri. ”

“Jika tidak, ” kata Lee, “akan ada harga yang kudu dibayar. ”

Related Post