Misteri tewasnya Pendeta Yeremias Zanambani & konflik tak berkesudahan di Papua

Misteri tewasnya Pendeta Yeremias Zanambani & konflik tak berkesudahan di Papua post thumbnail image
  • Muhammad Irham
  • BBC News Indonesia

Seorang pendeta bertanda Yeremias Zanambani tewas ditembak senjata api dan ditikam sebilah bayonet di Hitadipa, Kabupaten Intan Hebat, Papua, pada Sabtu (19/09). Mematok kini tak ada satu bagian pun menyatakan bertanggung jawab untuk kematian Pendeta Yeremias.

Peneliti tentang Papua dari Lembaga Ilmu Wawasan Indonesia (LIPI) menyebut, misteri maut pendeta ini menjadi bagian sebab narasi konflik tak berkesudahan kurun TNI dengan kelompok bersenjata dalam Papua.

Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyatakan informasi kematian Pendeta Yeremias kemungkinan akan mendapat sorotan lantaran dewan gereja dunia. PGI menyimpan ini sebagai kejadian yang berulang.

Tengah Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua, Socratez S Yoman, mendakwa adanya oknum TNI di balik kematian pendeta Yeremias Zanambani.

Di bagian lain, TNI membantah anggotanya terlibat dalam pembunuhan pendeta Yeremias Zanambani. Saat ini TNI sedang melakukan investigasi untuk mengungkap pelaku pembunuhan.

Apa dengan sejauh ini diketahui?

Pendeta Timotius Miagoni masih dalam kondisi berduka. Sahabat karibnya, Pendeta Yeremias Zanambani, tewas mengenaskan di kandang babi dengan luka tembak dan tikam, di dalam Sabtu (19/09).

“Iya betul. Dia tunggal di kandang. Ditembak di situ, ” katanya kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/09).

“Kami sekolah sama-sama. Kami tugas di sini juga dengan pendeta ini. Seorang pemandu, dia punya jabatan tinggi, ” tambahnya.

Timotius mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi termasuk istri korban. Menurutnya, tidak ada saksi mata secara tepat, saat Yeremias dibunuh.

Kata tempat, kejadian ini berawal saat Yeremias pulang ke rumahnya, pada Jumat (18/09). Keesokan harinya, pukul 15. 00 WIT, ia bersama istrinya pergi memberi makan babi di kandang yang jaraknya 50 meter dari rumah.

“Lalu, begitu tunggu-tunggu dua punggung babinya belum datang, yang lain itu (sudah) kasih makan. Perut belum datang. Maka isterinya itu ke rumah, sedang dia masa untuk anak-anak, ” kata Timotius.

Sampai pukul 18. 00 WIT Yeremias belum juga kembali ke panti. Istrinya pun menyusul ke kampung babi.

“Jam 6 tidak datang. [Istrinya] kembali lagi ke kandang. Pendeta ini sudah dibunuh, ” kata Timotius.

Timotius mengatakan Yeremias tidak langsung meninggal. Ia sempat bertahan hingga pukul 12 suangi di kandang babi tersebut.

“Minggu pagi, pemuda-pemuda muncul. Langsung dia (dibawa) sampai dalam rumahnya. Langsung hari Minggu itu, mereka tidak ibadah. Mereka kuburkan [Pendeta Yeremias] di samping lapangan. Lalu mereka lari, ” kata Timotius.

Ia melanjutkan, keterangan ini sudah disampaikan kepada pemerintah kawasan setempat, termasuk TNI dan Polri.

Janji Yeremias menjadi misteri, namun diyakini ada sejumlah saksi yang mengikuti keterangan langsung dari pendeta itu sebelum akhirnya meninggal. Kematian itu kemudian menimbulkan spekulasi.

Saling tuduh

Socratez S Yoman yang menyebut dirinya Pemimpin Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (BPP-PGBWP) mendakwa TNI berada di balik moralitas Yeremias.

“Kapan mereka berhenti? Engkau bunuh rakyat kecil, kau sejumlah KKB (kelompok kriminal bersenjata), itu sudah dari dulu. Mereka bikin mitos atau stigma-stigma, ” katanya kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/09).

Dalam keterangan dari Socratez Yoman, tertulis “Pendeta Yeremias tewas ditembak Pasukan TNI dalam operasi militer pada saat Pendeta Yeremia ke negeri babi miliknya untuk memberi makanan. ”

Peristiwa disebutkan terjadi Sabtu, 19 September 2020.

Kelompok yang menamakan muncul Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) juga mendakwa TNI yang membunuh pendeta Yeremias.

“Penembakan itu bukan jauh daripada saksi mata justru di aliran puluhan warga masyarakat setempat, ” kata juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom dalam keterangan tertulis.

Sementara tersebut, seorang pejabat TNI mengatakan kepada media, tuduhan yang dilayangkan itu sebagai ‘fitnah keji’ dan mengutarakan ini sebagai upaya kelompok bersenjata di Papua menarik perhatian dalam momen sidang umum PBB.

TNI menyangka kelompok yang mereka juluki Golongan Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) tersebut sebagai pembunuh pendeta Yeremias. Kepolisian Papua juga menyatakan ini sebagai kejadian yang direncanakan KKSB buat menarik perhatian menjelang sidang umum PBB.

TNI bersama Polri telah menurunkan tim investigasi, dan berjanji langsung memberi perkembangan informasi.

“Ini proses sedang tetap berjalan, kemudian juga masa ada perkembangan akan disampaikan. Lalu pihak kepolisian juga melaksanakan investigasi, jadi sama-sama kita melaksanakan investigasi nanti apa yang disampaikan, hendak disampaikan kemudian, ” kata Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/09).

Desakan pembentukan tim mandiri

Silih tuduh soal pembunuhan Pendeta Yeremias Zanambani mendorong Persatuan Gereja-Gereja pada Indonesia (PGI) mengirim surat ke Presiden Joko Widodo, yang ditembuskan ke Kapolri dan Panglima TNI.

PGI menginginkan investigasi yang independen. Tidak hanya melibatkan TNI-Polri, investigasi itu dihendaki melibatkan juga kelompok kebiasaan, gereja, dan Komnas HAM.

“Kami menyarankan untuk membuat tim investigasi dengan didalamnya terdiri dari pelbagai karakter, lembaga untuk menyelidiki kasus penembakan itu, ” kata juru cakap PGI, Philip Situmorang, kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/09).

Philip memasukkan, sejauh ini PGI belum mengadukan kejadian ini ke Dewan Gereja Dunia. Tapi kata dia, kejadian ini kemungkinan sudah mendapat sorotan dari Dewan Gereja Dunia melalui informasi yang sudah menyebar luas. “Karena bisa saja informasi tersebut bukan saja melalui PGI tetapi juga dari pihak-pihak lain, ” katanya.

Philip menyebut “ini kasus dengan berulang, yang tidak ada pengerjaan sama sekali dari pemerintah”.

Sebelumnya, Presiden Lembaga Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (BPP-PGBWP) menyebut Yeremias adalah pendeta ketiga yang mati di Papua, setelah dugaan pembunuhan Pendeta Geyimin Nirigi (2018) dan Pendeta Elisa Tabuni (2004).

Sejauh ini bagian Istana belum merespon surat lantaran PGI. Sejumlah pejabat di Biro Staf Presiden yang dihubungi BBC News Indonesia belum menjawab seruan wawancara.

Pegiat HAM Papua, Theo Hasegem, menilai sulit mempercayai investigasi yang hanya dilakukan pihak TNI-Polri, tatkala ada tuduhan oknum TNI terkebat di dalam pembunuhan Pendeta Yeremias Zanambani.

Kelanjutan investigasi sepihak, kata Theo, akan membawa krisis kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.

“Jadi TNI dan pihak aparat penegak asas, itu mengeluarkan statement yang sebanding. Kalau awalnya mengeluarkan statemen yang sama, itu masyarakat Papua tak bisa percaya kepada TNI serta polri. Kan polri belum mengabulkan identifikasi dan olah TKP, langsung memvonis bahwa pelaku itu ialah KKB-OPM, ” kata Theo kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/09).

Theo mendorong pemerintah membentuk tim gabungan dari TNI-Polri, gereja, LSM & Komnas HAM.

“Jadi tim itu tidak berpihak pada TNI, tidak juga berpihak kepada OPM. Tim ini kalau memang diinvestigasi persis. Bahwa tim ini memang kudu ketemu kedua belah pihak OPM dan juga TNI, ” katanya.

Peran pendeta di tanah Papua

Peneliti rumor Papua dari Lembaga Ilmu Wawasan Indonesia, Rosita Dewi, mengatakan kedudukan pendeta sangat sentral bagi masyarakat Papua.

Sejak zaman penjajahan Belanda, menurutnya, gereja telah memberikan penyajian dasar bagi masyarakat Papua. “Mereka sebagai penyedia, pelayanan pendidikan kesehatan tubuh, mereka terlibat di situ, ” katanya.

Kedekatan pendeta dengan masyarakat tidak sekadar ikatan keagamaan, tapi sudah masuk dalam adat dan sosial.

“Ketika terjadi konflik lahan, dalam kampung, peran pendeta masih kerap terlibat di situ. bagaimana itu bisa membantu, misalnya menyelesaikan sengketa adat, walaupun tetap tidak bisa, serta merta, memerankan sebagai aktivis adat, ” kata Rosita.

Buat memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Kedekatan ini yang kemudian membuat hubungan emosional, ketika sebagian pendeta menangkap masalah dan kegelisahan umum. Menurut Rosita, saat pendeta kronis untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua, justru dianggap sebagai pro-kemerdekaan Papua.

“Nah itu juga sebenarnya, banyak yang membaca sebagai bentuk pendeta tersebut berpolitik, ” kata Rosita.

Keberadaan zahid dan gereja-gereja sangat strategis jadi resolusi konflik yang kerap berlaku di Bumi Cendrawasih.

“Mereka mampu menjadi mediator untuk konflik di papu, bagaimana itu bisa itu bisa memberikan pengertian kepada bangsa tentang, misalnya, program pemerintah sentral mengenai pembangunan. Gereja ini bisa jadi kepanjangan tangan pemerintah tengah, daerah juga, ” tambah Rosita.

Konflik tak berujung?

Namun persoalannya, riwayat yang saat ini dibangun di Papua terbatas pada dua alternatif: pro-kemerdekaan Papua dan pro-NKRI. Peristiwa ini yang membuat, konflik hanya bisa diselesaikan dengan moncong senjata.

“Semakin keruh nggak akan ada ujungnya, ketika misalnya lagi-lagi pendeta atau gereja di dalam persepsinya pemerintah atau aparat mereka dekat dengan kelompok-kelompok pro-kemerdekaan, kemudian mereka di- judge sebagai separatis. Kan belum tentu, ” katanya.

Riwayat dan pendekatan yang saat itu dipertahankan pemerintah menurut Rosita, dikerjakan mengerahkan pasukan sebanyak-banyaknya ke Papua.

“Mau menyelesaikan konflik, maka ruang percakapan harus dibuka. Dialog dengan semua stakeholder . Negeri dengan Papua. Papua dengan Papua. Nah ini juga dialog yang harus dilakukan sebenarnya, apa gerangan sebenarnya? Agendanya apa? ” logat Rosita.

Pada akhirnya, konflik antara klan bersenjata dan TNI-Polri membuat kelompok menjadi korban. “Situasi ini selalu akan memperkuat distrust masyarakat ke pemerintah Indonesia, jika hal-hal sesuai ini terulang kembali, ” sekapur Rosita.

Related Post