Milenial Muslim bicara soal makna jihad: ‘Menghidupkan peradaban, bukan mematikan’, ‘layani warga hingga ke pelosok’

  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

24 menit yang lalu

Sumber gambar, BBC Indonesia

Tiga perempuan muda Muslim membagikan pengertian mereka soal makna ibadah termasuk ‘jihad’ dalam konteks yang mereka pahami.

Dalam bulan Maret dan Apr lalu, sejumlah anak muda yang masuk kelompok umur milenial disebut polisi sebagai pihak yang terlibat di dalam serangan terorisme di Gereja Katedral Makassar dan rencana penyerangan di Mabes Polri.

Salah satunya Zakiah Aini, 26, yang dilaporkan hendak melakukan aksi teror demi apa yang dia sebut “jihad”.

Namun, tiga perempuan muda yang diwawancarai BBC tak sependapat dengan pemahaman jihad misalnya itu.

Ajeng Satiti Ayuningtyas, thirty, misalnya, memilih untuk berjihad dengan membagikan ilmu bagi para anak-anak jalanan.

“Saya sebagai perempuan, terlepas kita ibu atau bukan, kita punya rahim. Saya percaya Allah memberi kita kekuatan untuk menghidupkan peradaban, bukan mematikan peradaban.

“Itu yang saya yakini, kita bisa melahirkan kebaikan di mana saja, inch ujarnya.

Badan Lokal Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan perempuan serta mereka yang berusia milenial lebih berpotensi terpapar radikalisme.

Menjadi Kamtib hingga Satpol PP

Ajeng Satiti Ayuningtyas memahami jihad sebagai cara proses kebaikan di jalan Tuhan.

“[Jihad] tidak melulu dilekatkan dengan permusuhan, peperangan. Jihad tersebut tidak berarti pakai pedang dan senjata, tapi bisa pakai ilmu, ” ujar Ajeng.

Ia memilih untuk berjuang dengan memberikan kesempatan bagi anak-anak jalanan untuk mengembangkan diri, melalui gerakan yang didirikannya Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci- sebelumnya bernama Sekolah Kolong Cikini).

Sumber gambar, Ajeng Ayuningtyas

Di sekolah itu dia mencoba membuka mata anak jalanan bahwa mereka pun berhak bercita-cita tinggi.

Jika pada sekolah formal, anak-anak biasa bercita-cita menjadi dokter, arsitek, atau pilot, di Sekoci, cita-cita anak-anak yang diasuhnya lebih beragam.

“Ada yg mau jadi [petugas] kamtib, satpol PP, ada yang mau oleh karena itu kenek bus. Ya nggak bisa disalahkan, karena sehari-hari lekat dengan profesi tersebut.

“Jadi kami berikan perspektif berbeda. Ada seluruh profesi lainnya yang dapat kalian lihat. Harapannya mereka punya daya atau kemampuan untuk mencapai cita-cita itu, ” ujar Ajeng.

Sumber gambar, Sekoci

Mereka yang diajar di Sekoci kebanyakan anak-anak pekerja casual di Jakarta, seperti pedagang asongan, supir kendaraan umum, hingga pemulung.

Anak-anak terkait menghabiskan waktu di jalanan, kebanyakan sebagai pengamen.

Meski tidak kalah pintarnya dengan anak-anak lain, mereka yang besar di jalanan seringkali tak bisa mencapai cita-cita yang tinggi karena sejumlah hal, salah satunya karena putus sekolah, kata Ajeng.

Sumber gambar, Sekoci

Salah satu anak didik Sekoci, misalnya, yang maka akan diikutkan olimpiade matematika pada sekolahnya, tiba-tiba putus sekolah tanpa alasan jelas.

“Kami sampai datangi sekolahnya. Ini anak kemana? Sekolahnya malah mau mengeluarkan anak ini. Kami cari anak itu kemana-mana, ” ujar Ajeng.

Baru belakangan, ia tahu anak seorang pengemudi bajaj itu dibawa oleh ibunya ke kota lain secara tiba-tiba.

Alhasil, fasilitas pendidikan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yg diterimanya putus.

“Putus lagi sekolah… Ini seperti rantai yang tak putus, ” kata Ajeng.

Sumber gambar, Sekoci

Sekarang, anak itu telah kembali bersekolah, tapi Ajeng masih berupaya mengaktifkan kembali KJP anak itu.

Ia juga berupaya membantu anak-anak putus sekolah lainnya mengikuti program kejar paket.

Sekoci, yang menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti membaca, menghitung, hingga bermain, didirikan Ajeng di tahun 2015.

Sebagian besar dari anak didik Sekoci menjalani sekolah formal, sehingga kegiatan Sekoci diperuntukkan untuk melengkapi pendidikan anak-anak tersebut.

Gerakan tersebut juga memberi penekanan khusus pada perilaku, mengingat jalanan bukan tempat yang ramah anak.

Ajeng bercerita Sekoci didirikannya karena ia merasa resah dengan apa yang didengarnya tentang anak jalanan.

Sumber gambar, Sekoci

Ibunya dulu tinggal di kawasan padat penduduk di Jakarta Pusat yg kerap menyaksikan bagaimana anak jalanan terlibat kekerasan lalu narkoba.

Saudaranya sendiri pernah mengalami perlakuan kasar dari anak jalanan.

Atas dasar itu, ia memutuskan bergerak untuk menjangkau dan mengedukasi anak-anak jalanan.

Di masa pandemi Covid-19, anak-anak itu menghadapi tantangan lebih berat karena Pembelajaran Jarak Jauh, khususnya yang orang tuanya tak memiliki ponsel.

Namun, meski sulit, belajar jarak jauh tetap dilakukan.

Sumber gambar, Sekoci

Kini, pekerjaan Sekoci pun sudah diperluas ke pendidikan pengasuhan anak, atau raising a child , yang diberikan kepada sejumlah pekerja informal di Jakarta, seperti tukang sapu, penjaga keamanan, hingga pra pengamen.

Ajeng mengatakan meski penuh tantangan, ia yakin apa yang diperbuatnya adalah salah satu struktur ibadahnya.

“Di petunjuk diajarkan berbuat baik nggak usah jauh-jauh, yang deket-dekat ini sudah ibadah, ” pungkasnya.

‘Gigi bengkak bukan kutukan’

Untuk Gracety Shabrina, 28, jihad adalah perjuangan untuk melayani sesama.

“Kita dapat berjuang sesuai kemampuan anda atas keilmuan dan kesempatan yang kita miliki, untuk dimanfaakan sebaik-baiknya untuk masyarakat.

“Untuk kebermanfaatan seluas-luasnya agar bisa menjadi amal jariyah kita, ” ujarnya.

Sebagai dokter gigi, yg dilakukannya adalah mengupayakan kesehatan gigi masyarakat melalui plan yang dibentuknya sejak kuliah, Dentist Day Out.

Sumber gambar, Gracety Shabrina

Melalui program itu, dia telah bepergian ke sejumlah daerah pelosok di Philippines untuk memberi penyuluhan terkait kesehatan gigi warga, juga pemeriksaan gigi warga sebagaiselaku, ala, menurut, gratis.

Salah satunya ialah ke Baduy Dalam, Provinsi Banten, yang warganya menyikat gigi dengan sabut kelapa.

Yang mengejutkan, kata Grace, gigi mereka sangat baik.

Hanya, saja, katanya, ada beberapa warga yang giginya bengkak karena cara menyikat gigi yang tak benar.

Sumber gambar, Dentist Day Out

Di daerah itu pula gigi bengkak dipercayai adalah sebuah kutukan, hal yang kemudian diluruskannya kepada warga.

“Kami tidak proses interfensi agar mereka memanfaatkan sikat gigi seperti yg kita lakukan karena ada adat yang melarang mereka untuk menggunakan hal-hal contemporary.

“Sehingga kami melakukan pendekatan, tidak masalah mereka gunakan sabut kelapa, tapi dengan teknik dan cara yang benar, ” ujarnya.

Di lain waktu, Grace dan kawan-kawannya menyambangi pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), ke sebuah desa yang mayoritas beragama Kristen.

Sumber gambar, Gracety Shabrina

Lulusan pesantren Santri Siap Guna Daarut Tauhiid, Bandung, Jawa Barat, terkait mengatakan, ia tergerak buat membuat gerakan itu setelah menyambangi Karimun Jawa di tahun 2012.

Di situ dia melihat sulitnya warga untuk mendapat servis gigi. Bahkan, ada warga yang harus menyewa kapal ke Jepara untuk menuju fasilitas kesehatan.

Sekarang, di tengah pandemi, meski tidak seaktif dahulu menyambangi daerah-daerah terpencil, kegiatan penyuluhan tetap dilakukan Dentist Day trip, baik secara online, juga offline.

Sejumlah anggota gerakan itu pun masih mengabdi di daerah terpencil di Maluku maupun Kalimantan.

Sumber gambar, Dentist Day Out

Ia merasa apa yang dilakukannya kepada pasiennya adalah wujud ibadah serta caranya melaksanakan sumpah dokter.

“Semua orang sama, pasien kita juga. Mau di kota, di desa, yang kaya yang miskin, Islam, Hindu, Kristiani tetap pasien kita juga wujud di sumpah dokter kita.

“Kalau di agama di bahasnya muamalah jadi dibolehkan, disarankan malah, ” ujarnya.

‘Tak mengganggu orang lain’

Untuk Nadia Rahmawati, 17, jihad seharusnya tidak mengganggu orang lain.

Sumber gambar, Nadia Rahmawati

Sebelum dididik di Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, Jawa Tengah, Nadia memandang agama lain sebagai musuh.

“Sebelumnya, saya beranggapan bahwa agama saya yang paling benar lalu seharusnya yang disembah adalah Allah, bukan batu, matahari, atau lainnya, ” ujarnya.

Sumber gambar, NAdia Rahmawati

Namun, setelah mendalami ilmu agama, pandangannya berubah.

“Pengurus pondok saya membekali santri-santrinya bahwa meski kita berbeda dalam kegamaan, tapi kita bersaudara. Berbuat baik tidak memandang agamanya apa, ” ujar Nadia.

Di pesantren itu juga Nadia mengikuti kegiatan kunjungan ke gereja serta tempat pendidikan pastor.

Sumber gambar, NAdia Rahmawati

Di tahun 2019, dia bahkan pernah membacakan suatu puisi di dalam gereja, tak lama setelah peristiwa pengeboman gereja di Sri Lanka.

Saat itu, dia sudah tak merasa risih sama sekali masuk ke rumah ibadah agama lain.

“Rasanya seperti log in ke rumah saudara, inch ujarnya.

Nadia, yg sempat mengikuti kegiatan lintas agama- Pondok Damai 2021- mengatakan ia kini terus berupaya membagikan pemahamannya soal keberagaman pada junior-juniornya.

Baginya jihad adalah sesuatu yang tidak menyakiti orang lain, apalagi melakukan tindakan-tindakan yang disebut radikal.

“Jihad itu artinya berpindah dari buruk ke baik. Kalau merusak orang lain, itu tidak diajarkan di agama kami, ” katanya.

Perempuan, milenilal, gen Z sebagai target

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2020 mengungkapkan bahwa perempuan lebih berpotensi terpapar paham radikalisme dibandingkan laki-laki.

Selain itu, kelompok umur milenial dan gen Z juga disebut berpotensi besar terpapar.

Abdul Qodir, pengasuh Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak, yang aktif mengadakan kegiatan keberagaman untuk para santrinya, mengatakan buat mencegah radikalisme, anak-anak muda perlu diberi pemahaman soal makna jihad.

“Jihad bukan mati di jalan Tuhan, tapi hidup pada Jalan Tuhan, itu justru lebih sulit.

“Remaja perlu diedukasi untuk mengakses pengetahuan keagamaan dan informasi dari ustad-ustad yang santun, tinggalkan ustad-ustad yg mengajarkan kebencian. Intinya, jangan salah pilih guru ngaji, inch ujarnya.

Pesantren yg diurusnya sempat viral di tahun 2019 karena turut menyambut jemaat dalam Misa Natal di Semarang oleh bermain rebana.

Related Post