Kuli keturunan Tionghoa pada 1965, Oei Hiem Hwie, yang memilih jadi WNI, lalu dituduh PKI dan dipenjara

  • Famega Syavira Putri
  • BBC News Indonesia

2 Oktober 2021, 08: 44 WIB

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Davies Surya

Puluhan ribu eksemplar koran memenuhi lantai perut sebuah perpustakaan di Surabaya. Sebagian dijilid, sisanya dibungkus plastik sesuai bulan terbitnya masing-masing.

Kamar-kamar & ruangan di lantai mulia penuh dengan rak menyimpan buku dan majalah, pula beberapa memorabilia. Di kurun berbagai dokumen itu, tersedia naskah asli salah seorang penulis Indonesia paling berguna, Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di kertas penyalut semen.

Pemilik koleksi itu adalah Oei Hiem Hwie, 86 tahun. Pada tahun 1965, Hwie yang hidup sebagai wartawan dituduh jadi anggota PKI dan ditahan di berbagai penjara, hingga berakhir di Pulau Buru.

Di pulau itu dia berteman dengan pujangga Pramoedya Ananta Toer & membantu Pram menyelundupkan naskah-naskah yang dianggap terlarang di era Orde Baru, keluar dari Pulau Buru.

Saat ditemui kuli BBC News Indonesia Famega Syavira Putri, di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya introduksi September lalu, Hwie menerangkan kisah hidupnya.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Menetapkan menjadi Indonesia

Hwie ada pada 26 November 1935 dari keluarga yang disebutnya “sulit bila disebut suku Tionghoa asli”.

Ibunya, The Lekas Nio, adalah peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah beberapa generasi tinggal di kaki Gunung Merbabu, Magelang, dan tidak bisa lagi bicara bahasa Tionghoa. Ayahnya, Oei Tiong Han, lahir di Hokkian dan kemudian merantau ke Jawa.

Sebagai keturunan Tionghoa di masa itu, menjadi Indonesia bukan hal yang otomatis terjadi. Hwie memutuskan menjelma warga negara Indonesia arah pilihannya sendiri.

Kelak, negara yang dia pilih itu justru membawanya ke tangsi.

Karena ayahnya adalah awak negara asing, meskipun lahir dan besar di Indonesia, Hwie mengikuti kewarganegaraan ayahnya. Hingga muncul aturan baru pada tahun 50-an, kalau warga keturunan Tionghoa kudu memilih untuk menjadi WNI atau warga negara Tiongkok.

Awalnya, Hwie sempat mau tetap mempertahankan kewarganegaraan desa leluhurnya.

Namun kecintaannya pada Indonesia akhirnya lulus, dan dia resmi memastikan menjadi WNI.

Di memoarnya, Dari Pulau Kejar Sampai Medayu Agung, Oei Hiem Hwie menulis kalau dia memilih menjadi WNI karena “berarti ikut membantu kemajuan Indonesia dan sosialisme yang kami banggakan”.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Hwie aktif berorganisasi di Baperki.

Baperki merupakan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi massa yang dibangun oleh warga keturunan Tionghoa yang bertujuan menentang segregasi berdasarkan keturunan seseorang.

“Di kepala dan sebal saya tertanam perjuangan melayani diskriminasi, bagaimana berintegrasi secara rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama mewujudkan tatanan sosialisme, ” kata Hwie di dalam memoarnya.

Organisasi ini awalnya bernama Baperwatt, atau Pranata Permusyawaratan Warganegara Keturunan Tionghoa. Namun nama ini dinilai membatasi keanggotaan pada kaum Tionghoa saja. Maka, Baperwatt diubah menjadi Baperki, serta anggotanya bukan hanya warga Tionghoa.

Mewawancarai Presiden Soekarno

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Davies Surya

Sejak kecil, Hwie dengan suka membaca dan selalu ingin tahu, bercita-cita menjadi wartawan. “Saya ingin oleh sebab itu wartawan karena wartawan itu harus belajar dan terang semua hal. Itu sungguh cita-cita saya, ” kata pendahuluan Hwie.

Pada 1962, tempat diterima bekerja di koran Trompet Masjarakat di Sial. Ini adalah koran yang didirikan oleh warga rumpun Tionghoa, Goei Poo Aan, pada 1947.

Tampang ‘Seabad pers kebangsaan 1907-2007’ mencatat bahwa Trompet Masjarakat adalah harian dengan informasi “sepedas cabe rawit” yang setia berada di rel rakyat kecil. Dengan kelakuan itu, tak hanya sekadar Trompet Masjarakat berurusan dengan meja hijau.

“Bukan hanya lawan, tapi kawan sendiri pun akan dikritik dengan tajam kalau berlaku tidak adil atau merugikan perhatian bangsa, ” kata Hwie.

Pekerjaannya sebagai wartawan juga yang membawanya bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah masa tersebut, termasuk presiden pertama Nusantara, Soekarno.

“Tahun 64 itu saya dapat tugas dibanding redaksi untuk meng- interview Bung Karno, ke Jakarta, ” kata Hwie. “Ini laksana ujian. ”

Hwie, dengan saat itu adalah kuli muda, berangkat ke Istana dan berhasil menemui Soekarno di Istana Negara. Dia sangat terkesan dengan pertemuannya dengan Bung Karno. “Bung Karno punya wibawa tumbuh, ” katanya mengenang.

Kala bertemu, Soekarno memberinya arloji. “Setelah itu saya ramah, tidak lama, sekitar setengah jam lebih, ” introduksi Hwie dengan bersemangat.

Dalam beberapa kali pertemuan, Hwie mewawancarai Soekarno tentang bermacam-macam hal, termasuk soal Manifesto Politik. Tulisannya pun dimuat di Trompet Masjarakat.

Tulisan-tulisan dan koran Trompet Masjarakat itu sempat dia kumpulkan. “Sayang sebagian mulia koleksi Trompet Masjarakat hamba sudah dibakar, ” prawacana dia.

Dituduh PKI

Pagi hari tanggal 1 Oktober, Hwie pertama kali mengindahkan tentang pembunuhan para jenderal yang terjadi di Jakarta. Dia belum tahu peristiwa itu akan mengubah hidupnya.

“Katanya ada pembunuhan, itu saya pertama dengar, aku belum tahu apa-apa, beta masih muda. Saya tak tahu apa dampaknya pembunuhan besar itu, ” sebutan Hwie.

Kurang sejak sebulan kemudian, Hwie pun ditahan. “Tuduhan pertama, karena saya PKI. Padahal tak, saya bukan anggota PKI, ” kata Hwie.

Tetapi dia sadar bahwa pergerakannya di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) adalah lupa satu penyebab dia ditangkap.

“Baperki dianggap underbouw (afiliasi) PKI, padahal tidak, lain. Akibatnya banyak diantara kita Baperki ditangkap dan banyak yang ditahan di Buru, ” kata dia.

Selain tersebut, Hwie yakin, pertemuannya secara Soekarno dan tulisan-tulisannya dengan seiring dengan Manifesto Politik, Nasakom dan Bung Karno, adalah salah satu sebab dia ditangkap menyusul perihal 30 September.

“Karena saya wartawan yang interview Bung Karno, saya dituduh Sukarno-sentris, memihak pada Soekarno, ” kata dia. Media wadah dia bekerja, Trompet Masjarakat, pun dikenal sebagai media yang dekat dengan Soekarno.

Goei Poo Aan, majikan umum Trompet Masjarakat, juga dituding terlibat peristiwa Kegiatan 30 September.

Di dalam 9 Oktober 1965, Hwie mencatat, bahwa koran tersebut masih terbit dan “dengan berani malah memuat” pemberitahuan Politbiro CC-PKI yang berjudul “PKI Mendukung Amanat Kepala Soekarno”.

Buku “Seabad pers kebangsaan 1907-2007′ mencatat bahwa pada 65 Goei Poo Aan dipenjara di Lowokwaru sebagai tahanan kelas A, kemudian nasibnya tak diketahui lagi.

Harian itu pun berhenti terbit buat selamanya.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, BBC Indonesia

Dunia Hwie sebagai seorang pemuda 29 tahun yang semula merata, mendadak tertutup.

Setelah dia ditangkap, koleksi bukunya kendati dijarah dan dibakar.

“Saya ditahan, mulai dari Sial, di penjara Malang ndak lama, pindah ke Sundal, ndak lama dibawa ke Jawa Tengah. Sampai Jawa Tengah nyabrang laut, dibawa ke Nusa Kambangan, ” kata Hwie.

Meski ditahan tanpa pengadilan, selama pengurungan itu Hwie masih berasa beruntung. “Beruntung, saya tak pernah dipukuli, cuma digebrak-gebrak. Padahal yang lain… tidak dipukul lagi, banyak dengan dibunuh. ”

Dalam memoarnya, Hwie menceritakan bahwa selama ditahan, dia sering mendapat perlakuan rasis. “Para penyelidik tak segan menghardik dan berlaku keras bila ada tapol menyebut ‘Tionghoa’ dan bukan ‘Cina’, ” katanya.

Di dalam tahanan pula, Hwie diminta mengganti nama Tionghoanya menjadi nama Indonesia, namun dia menolak. Ketika dipaksa, akhirnya dia mengatakan di interogatornya, “Terserah Bapak, jika mau ganti, ganti saja”.

Petugas yang menginterogasinya bertanya, ganti nama apa? Hwie menjawab, ‘Mergo Dipekso”. Artinya, karena dipaksa.

Namanya tidak jadi diganti. Namun beberapa waktu setelah percakapan tersebut, Hwie dikirim untuk menjadi tahanan dalam Pulau Buru.

“Tidak tersedia rumah, hanya ada gedung gedhek (anyaman bambu). Pulau Buru masih hutan belukar, ke mana-mana harus jalan lengah karena tidak ada instrumen, ” kata dia.

Dalam Pulau Buru, Hwie ditempatkan di Unit 4, Savanajaya. Tahanan ditugaskan membabat alas dan menanam padi.

Para-para tahanan yang sebagian gede adalah kaum intelektual, harus bekerja keras secara fisik.

“Harus macul (mencangkul), babat, tandur (menanam), saya tidak sudah bekerja begitu sebelumnya, ” kata Hwie.

Mereka harus berlelah-lelah dengan makanan dengan terbatas. Sebelum panen jadi, para tapol harus meramban ladang dan hutan, memeriksa daun yang dapat dimakan. Dia bercerita sering sajian krokot, karena mengandung banyak vitamin C.

“Kalau rencana [soal masa] di tahanan gini jadi peduli tenan . Ingat semua, ingat teman-teman…, ” kata Hwie yang lalu terdiam beberapa era.

“Kami sering lapar. Kalau cerita masa tersebut… payah. Banyak yang wafat. Teman-teman masih muda banyak yang…, ” kata Hwie, tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Membantu Pramoedya pada Buru

Di Pulau Kejar itulah dia bertemu secara Pramoedya Ananta Toer, pujangga penulis buku Tetralogi Buru.

Saat itu, Hwie sudah mengenal sosok Pramoedya sebab sering datang meliput ceramah-ceramah yang diadakan oleh Pram. “Waktu itu belum depan, baru di tahanan itu menjadi dekat sekali. ”

Dalam kesulitan, Pram memberinya semangat. “Pram bilang, ‘Hwie, jangan mikir abu ibu, apalagi mikir teman-teman, jangan. Kalau punya pacar, jangan mikir pacar, ‘ Saya jawab, ‘Saya tak punya pacar pak’, ” kata Hwie sambil tertawa.

“Pram bilang, ‘Sekarang yang penting belajar, pendapat saya dosen, you siswanya, ‘ kata Hwie.

Satu diantara materi ‘kuliah’ Pramoedya tersebut menjadi cikal bakal Tetralogi Buru.

“Sampai rencana tulisannya Pram, Bumi Pribadi, Anak Semua Bangsa, Alur Langkah, Rumah Kaca. Itu awalnya cerita, ” kata pendahuluan dia dengan bersemangat.

Hwie yang saat itu berusia 85 tahun bicara dengan suara pelan serta perlahan. Namun ketika menunjukkan tentang Soekarno dan Pram, suaranya menjadi penuh vitalitas.

Saat itu, Pramoedya yang semula dilarang merekam, sudah diizinkan untuk menulis lagi di bawah pengawasan dan sensor yang betul ketat.

Namun, kata Hwie, para tahanan politik begitu menghargai arti penting karya-karya Pram. Dia menceritakan dengan jalan apa dirinya, dan tahanan asing, bahu membahu membantu Pramoedya menulis.

“Pram diisolasi di gubuk gedhek , sekitar satu kilo jauhnya dari tapol lainnya. Dia diawasi secara lebih ketat dan tidak boleh bertemu orang lain, ” kata dia.

Isolasi ini membuat Pram tidak dapat bertukar pikiran dengan tahanan lain untuk mendapatkan referensi untuk tulisannya.

Hwie bertugas menjelma pembawa pesan, untuk mengambil masukan kepada tapol lain soal hal-hal yang medium ditulis Pram. “Dinding gedheknya berlubang, saya intip, kalau yang jaga pergi hamba masuk, sembunyi-sembunyi”.

Ketika Pram perlu masukan soal kaum fakta sejarah, misalnya, Hwie menanyakan fakta tersebut ke Profesor Saleh Iskandar di Unit V dan para-para ahli lain di bidang masing-masing. Fakta dan masukan itu kemudian ditulisnya untuk diserahkan para Pram.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Dokumen pribadi

“Saya bisa ketemu Pram, menyampaikan pesan dan sanggup banyak penjelasan dari Pram, ” katanya.

Ketika Pram menulis buku “Perawan Remaja di Sarang Penyamun”, para tapol lain mencari jalan melakukan penyelidikan dengan mendatangi para bekas jugun ianfu di Pulau Buru. Hasilnya dilaporkan pada Pram.

Dia sadar risiko mengunjungi Pram yang disebutnya “tahanan kelas besar” secara sembunyi-sembunyi.

“Kalau ketahuan ya mampu digepukin, ” katanya sambil tertawa mengenang kejadian bertambah dari 40 tahun berantakan itu. “Tapi karena semangatnya, tidak pernah saya merasakan takut. Biar diburu, tercampak saja. Tapi untung tak ketahuan. ”

Ketika Pramoedya membutuhkan lebih banyak kertas untuk menulis, Hwie juga yang bertugas mencarikan kertas. Dia mengambil kertas-kertas emas biru sisa pembangunan, lalu membuang dan memotongnya seukuran folio.

Jika Pram membutuhkan pensil dan pena, para-para tapol bekerjasama sembunyi-sembunyi menukar telur-telur ayam hutan secara alat tulis di Namlea, kota terbesar di pulau itu. “Ya sebisa-bisanya, ” kata Hwie.

Tugas Hwie yang lain terjadi kala datang kabar bahwa tempat akan dibebaskan.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber tulisan, Davies Surya

“Pak Pram ngomong dengan saya. “Hwie, kalau bebas saya titip ya, kamu berani? ” “Berani. Titip apa? ” kata saya, ” demikian Hwie mengulang percakapannya dengan Pram.

Pramoedya mencatat beberapa naskah tulisannya buat dibawa ke luar Tanah Buru. Salah satunya ialah Bumi Manusia dan Ensiklopedi Citrawi Indonesia, dalam bentuk naskah asli tulisan tangan, dan ada juga salinan yang diketik.

Agar tidak ketahuan, naskah Pram dia sembunyikan dalam gulungan baju kotor, lalu dimasukkan ke dalam besek.

Dia mengingat jantungnya berdegup kencang ketika melewati pemeriksaan.

“Untungnya ada tentara yang cantik, saya tidak digeledah, walaupun teman-teman saya digeledah, diperiksa. Coba digeledah, besek tersebut bisa dirampas, dan barangkali saya dibui, dicemplung ke laut, habis. Ndak mampu apa-apa, ” kata Hwie.

Naskah itu dibawanya pulang dengan selamat. Setahun kemudian ketika Pram selamat, dia ingin mengembalikan naskah-naskah itu.

“Kata Pram, ‘Tolong fotokopikan, kasih ke aku fotokopinya. Yang asli awak simpan, jadi kalau dirampas, yang dirampas fotokopinya’. Berantakan saya simpan naskah-naskah tersebut secara rahasia, ” prawacana Hwie.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Davies Surya

Menanti keadilan buat korban 1965

Membawa besek berisi naskah selundupan dan tas plastik, Oei Hiem Hwie, yang ditangkap kala berusia 29 tahun, mutakhir dibebaskan sebagai seorang adam berusia 43 tahun.

Tanpa pernah diadili, 13 tahun usia produktifnya dihabiskan dari penjara ke penjara.

Setibanya di panti, berbagai diskriminasi menantinya.

“Saya tidak bisa apa-apa, mana bisa, karena KTP ET. Tidak bisa kerja, ” katanya. Kode ET, atau Eks Tapol, dicantumkan pada KTP para bekas tahanan politik.

Isyarat itu menjadi penanda untuk orang-orang yang kemudian akan diperlakukan secara diskriminatif sepanjang Orde Baru.

Sebagai bekas wartawan, Hwie menjelaskan bahwa kode ini membuatnya tak dapat mengirim tulisan ke media. Ingin memulai daya, mendapat pinjaman bank biar tak mungkin. “Di sendi saja pun saya kerap diperiksa, ” kata dia.

“Setelah [presidennya] ganti Habibie, baru hamba bisa bicara, ” cakap Hwie.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Bahwa naskah Pramoedya ada padanya pun dia rahasiakan semasa bertahun-tahun. “Dulu tidak ada yang tahu, ini (menunjuk mulut) tutup, ” katanya.

Pada tahun 2011, Hwie mengadu kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia & meminta rehabilitasi dan pengembalian haknya atas tuduhan yang ditimpakan kepadanya pada tahun 1965, dan penahanan minus peradilan selama 13 tahun. Hwie juga mengadukan segregasi yang dia terima sebab label Ex Tapol dalam KTP-nya.

Namun hingga kini, rehabilitasi dan pengembalian sah yang dia harapkan tak kunjung tercapai.

Hwie mengiakan masih berharap akan penyelesaian kasus 65. Tapi bagaimanapun, dia pesimis.

“Kalau presidennya mau, ya bisa, tapi harus melalui suatu keberanian pemimpin, baru bisa, ” katanya.

Pasalnya, tempat menjelaskan, kejadiannya sudah terlalu lama dan para bukti yang penting sudah penuh yang meninggal. “Ada yang tidak berani cerita, ada yang berani tapi tidak bisa. ”

Meski demikian, dia merasa perlu untuk bersuara dan menceritakan sejarah hidupnya sebagai bagian sejak sejarah kelam Indonesia. Tujuannya menceritakan kisahnya sebagai tahanan politik adalah karena dia ingin anak muda tahu.

“Kalau saya nggak cerita, anak muda tidak tahu. Tapi konsekuensinya, hamba dianggap orang menyebar aliran tertentu. Padahal bukan, hamba apa adanya, ” katanya.

Perpustakaan Medayu Agung

Setelah bebas dari penjara, Hwie kembali menekuni hobinya membaca dan membuat kliping.

Mujur, beberapa koleksi bukunya sedang ada yang selamat lantaran pembakaran, karena sempat disembunyikan di atas plafon sendi.

Meski bebas, ruang geraknya terasa terbatas karena dia merasa terus dimata-matai, bahkan di tingkat RT serta RW.

“Lalu datang seorang Tionghoa, namanya Haji Masagung yang punya Gunung Gede. Dia bilang, ‘Hwie, kamu kalau di Malang terus nggak bisa maju, sini saya bantu, ‘ jadi saya pindah ke Surabaya, ” kata Hwie.

Tempat lalu bekerja di kongsi Haji Masagung hingga pensiun dan memutuskan untuk membuat perpustakaan umum di Surabaya, bernama Perpustakaan Medayu Agung.

Perpustakaan ini dibuka untuk umum, dan berisi bermacam-macam buku, puluhan ribu eksemplar koleksi koran, & beberapa memorabilia. Hwie sudah mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai “kolektor surat kabar terlengkap sejak pangkal terbit”.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Di perpustakaan ini pula dia mengemasi naskah-naskah Pramoedya yang tahu dia selundupkan keluar Tanah Buru.

“Bahan-bahan itu ada orang luar negeri yang mau beli, 1 miliar, tapi enggak beta jual. Saya tolak, menetapkan sejarah Indonesia, ini pelajaran tentang Indonesia, ” logat dia.

Hwie kacau jika buku-buku tersebut dia jual, orang Indonesia akan kesulitan belajar tentang daerah mereka sendiri.

Kini, Hwie masih membuat kliping. Setiap pagi pula dia tetap menjaga perpustakaannya, kadang membersihkannya sendiri.

Taman bacaan Medayu Agung, adalah harapannya.

“Agar generasi bujang tahu. Kalau generasi muda nggak tahu, nggak ada gunanya. Orang bisa hancur tapi harus punya pengabdian, ini peninggalan saya, ” kata Hwie.

Related Post