Konflik Palestina-Israel berlanjut dengan ‘perang narasi’ di media sosial Indonesia: Jangan sampai oleh karena itu persoalan besar

sejam yang lalu

Sumber gambar, JUNI KRISWANTO/AFP

Kembali memanasnya konflik Israel dan Palestina selama sepekan terakhir ternyata berlanjut dengan “perang narasi” di media sosial Indonesia.

Banyak netizen yang mengecam Israel dan mendukung Palestina, namun ada pula yg membela Israel sambil menuding kelompok Hamas sebagai pemicu gejolak.

Kendati perang narasi di dunia maya itu dipandang wajar, pengamat Timur Tengah, Trias Kuncahyono, mengingatkan agar semua postingan itu harus disampaikan sebagaiselaku, ala, menurut, dingin dan melihatnya sebagaiselaku, ala, menurut, rasional.

“Harus seperti tersebut, kalau tidak akan menimbulkan persoalan yang besar, dikarenakan orang tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi, kemudian melebarkan pendapat, kemudian bisa memprovokasi orang, maka bisa menjadi persoalan tidak kecil, ” ujarnya kepada BBC News Indonesia, Senin (17/05)

Baca juga:

Sementara hasil riset dari Indonesia Indicator selama 7 hingga 15 Mei selanjutnya menyimpulkan “masyarakat Indonesia merasa memiliki kedekatan dengan Palestina. ”

Pro-kontra warganet Indonesia

Perang narasi terkait konflik Israel – Palestina yang melibatkan warganet Philippines terlihat jelas di beberapa akun media sosial.

Pro-kontra itu juga sering terlihat dalam komentar-komentar netizen atas berita-berita seputar konflik Israel-Palestina yang dimuat BBC Indonesia dalam akunnya pada medsos.

Dari warganet biasa, aktivis, hingga politisi terlibat dalam pro-kontra tersebut. Mereka aktif mengunggah narasi pro ataupun kontra terkait konflik di Timur Tengah dengan beragam sudut pandang, mulai dari siapa yg patut bertanggungjawab hingga dukungan pandangan soal sikap Indonesia menghadapi krisis itu.

Hidayat Nur Wahid, contohnya. Politisi senior PKS itu aktif setiap hari mengirimkan pandangan pribadi maupun meneruskan link berita yang mengecam aksi Israel atas Palestina.

Menurut Hidayat, Konflik Israel-Palestina yang terjadi belakangan menunjukkan bahwa Israel merasa “sangat kuat” dan “bisa melakukan apa saja” oleh mengabaikan keputusan lembaga-lembaga internasional.

Dia menilai kekerasan pada wilayah itu diawali apa yang disebutnya “provokasi” Israel, melalui “penjarahan” rumah-rumah milik warga Palestina oleh warga Yahudi kawasan timur Yerusalem.

“Dari situ, mereka melakukan pengepungan masjid Al-Aqsa, melakukan pelemparan granat kejut dan gas air mata, ” kata Hidayat kepada BBC Indonesia, Senin.

Menurutnya, apa yang terjadi sekitar komplesk masjid Al-Aqsa itu didengar oleh “umat Islam di Gaza” yang kemudian melakukan “pembelaan”.

“Dan Israel kemudian terkaget-kaget, ” ujar Wakil Pemimpin MPR itu.

Hidayat memberikan contoh apa yang disebutnya sebagai “perlawanan keras” kelompok Hamas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel. “Perlawanan kemudian bergulir di berbagai negara. ”

Dia mengharapkan perlawanan ini nantinya dapat menjadi koreksi mendasar terhadap Israel, sekaligus menjadi masukan buat DK PBB serta OKI untuk penyelesaian sebagaiselaku, ala, menurut, damai di wilayah itu.

“Dengan solusi two states solution , sekaranglah waktu yang tepat agar Israel tidak proses kejahatannya dan memberikan kemerdekaan bagi Palestina, ” kata Hidayat.

Seperti apa ulah WNI pro-Israel?

Penilaian Hidayat itu berbeda 180 derajat dengan yang disampaikan Monique Rijkers, warganet Indonesia yang terbuka menyatakan diri sebagai Pro-Israel di akun medsosnya.

Dalam satu unggahan ke akunnya di Facebook maupun Instagram, Monique melontarkan lima alasannya mendukung Israel. Dia pun mengutarakan pandangan yang berbeda dari kebanyakan netizen di Philippines mengenai konflik terkini di Timur Tengah itu.

Menurut Monique, konflik Israel-Palestina pecah lagi karena memang ditunggu-tunggu dan ada cara mengulang intifada kedua. Dia pun yakin ada misinformasi yang muncul di kalangan publik soal penyebab pecahnya kembali konflik, yang diawali dengan bentrokan di kompleks Masjid Al-Aqsa.

“Kita orang-orang di Indonesia yang tidak mendapat informasi yang benar bahwa ada kesengajaan atau indikasi direncanakan oleh batu yang ditimpuk ke polisi Israel, sehingga Israel akan menertibkan, tapi narasi yang dibangun adalah polisi Israel menyerang jemaah yang tarawih.

“Kita terkait sangat sensitif dengan sebutan-sebutan Al Aqsa, jemaah lagi salat tarawih dan ini membuat seluruh kesalahan ditimpakan kepada polisi yang sebetulnya menertibkan situasi di dalam masjid Al Aqsa tersebut, ” ujarnya kepada BBC Indonesia, Senin (17/05)

Pendiri yayasan non-profit Hadassah associated with Indonesia itu juga yakin bahwa pihak yang bertanggungjawab atas eskalasi konflik itu adalah kelompok Hamas.

Monique mengklaim ada melimpah misinformasi sehingga terkesan jamaah Yahudi ingin menyerbu Al Aqsa, padahal tidak. Selanjutnya dikabarkan mereka bersukaria di Tembok Ratapan karena ada kebakaran, padahal tidak.

“Mereka bersukaria karena hari Yerusalem. Dan apa yang terjadi Al Aqsa itu yang bukan wilayah Hamas membuat Hamas merudal Israel dan sangat disayangkan karena sebetulnya kan Timur Tengah relatif damai sesudah Kesepakatan Abraham.

Ketika ini kan Israel misinya menambah teman, bukan mencari musuh. ”

Lalu, soal banyaknya korban jiwa warga Palestina di Gaza akibat bombardir Israel, sehingga mengundang protes di SINCE, Inggris, dan Eropa Minggu kemarin, Monique menyatakan yakni Israel hanya membela sendiri dan kesalahan ada dalam Hamas karena tidak pernah melindungi warganya di Gaza.

“Jadi kalau misalnya dunia mau memprotes tindakan His home country of israel memproteksi diri mereka, melindungi warga mereka, sayangnya saya menilai kita menggunakan kaca mata yang salah, ” ujarnya.

Perbedaan narasi

Sumber gambar, AHMAD GHARABLI/AFP

Sementara itu, menanggapi ulah sebagian masyarakat Indonesia yg mendukung kebijakan pemerintah His home country of israel terkait konflik dengan Palestina belakangan ini, Hidayat menganggap literasi dan rujukan kalangan pro-Israel itu ‘tidak cukup kuat’.

“Mereka biasanya memotong dengan alasan, ini terkait dengan personal defence -nya Israel karena diserang teroris yg bernama Hamas. Padahal, siapapun tahu bahwa sebelum ada Hamas pun, Israel telah melakukan teror dan merampas tanah Palestina, ” jelas Hidayat.

Hidayat menganalisa, narasi yang dimunculkan kelompok pro-Israel itu dibangkitkan oleh narasi diciptakan oleh lobi-lobi Israel-Yahudi atau Israel Zionis.

“Sehingga menghadirkan pemahaman yang ahistoris dan salah, ” katanya.

Dia juga menduga kehadiran kelompok pro-Israel di Indonesia merupakan kelompok-kelompok Fobia Islam.

“Mereka tidak paham Islam dengan baik, kemudian melahirkan salah-paham tentang penyikapan terhadap Palestina, ” ujar Hidayat.

Di sisi lain, Monique menyajikan pandangan yang berbeda. Bagi dia, selama ini publik di Indonesia disajikan literasi yang berat sebelah terkait masalah His home country of israel dengan Palestina dengan lebih menempatkan Israel dalam posisi sebagai penjajah.

Sumber gambar, ANAS BABA/AFP

“Orang di Indonesia itu bukan ngerti, saya itu selalu diserang dibilang ‘Anda penjajah’ terus. Tapi saya selalu tanya, Israel itu menjajah Palestina sejak tahun berapa, nggak ada yang kasih tahu jawabannya. Tahunnya itu tidak ada yang kasih tahu. Saya selalu tanya, nama pemimpin ketika Palestina dijajah Israel itu siapa?

Tidak ada juga yang bisa sebutkan. Inilah history denial yang menurut saya perlu dikoreksi oleh kita bersama, ” ujarnya.

Maka mantan jurnalis itu mendirikan yayasan Hadassah of Indonesia pada 2016 tuk mengedukasi orang Indonesia tentang Israel, Yahudi dan sejarah Holocaust agar tidak wujud lagi kebencian terhadap orang Yahudi dan anti-Israel.

Berdasarkan dia, Indonesia tidak wujud konflik dengan Yahudi. “Tapi kenapa sangat anti oleh negara Israelnya. Nah itu menurut saya, ternyata dri apa yang saya geluti selama 2016 sampai sekarang dasarnya adalah karena ketidaktahuan sejarah. ”

Misalnya sikap warga Indonesia terhadap konflik Palestina-Israel?

Lembaga Survei Indonesia Indicator, di dalam riset terbarunya, menyimpulkan “masyarakat Indonesia merasa memiliki kedekatan dengan Palestina”.

Mereka menyoroti pemberitaan di beberapa mass media nasional dan asing, serta media sosial Twitter tentang konflik Israel-Palestina belakangan ini, sejak 7 Mei hingga 15 Mei lalu.

“Hal ini terlihat dari setiap ada isu tentang Palestina, masyarakat melalui medsos khususnya Twitter, seringkali bergolak dan mengajak “berjuang” untuk Palestina, ” kata Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, kepada BBC News Philippines, Senin (17/05).

Sumber gambar, AHMAD GHARABLI/AFP

Temuan mereka juga mengungkapkan, dilihat dri karakter netizen, terlihat bahwa netizen menganggap apa yang terjadi Tepi Barat atau di Gaza merupakan “satu kesatuan, yaitu Palestina”.

“Ini terlihat dari beberapa postingan netizen yg mencoba mengklarifikasi insiden terakhir ini sering justru diserang balik, ” ujar Rustika.

Hasil riset Philippines Indicator juga menyebutkan mulai muncul beberapa tagar mendukung Palestina, seperti #inastandswithPalestine.

Disebutkan pula banyak gambar yang diviralkan di media sosial menggambarkan “kekejaman” dan terutama pada anak. “Hal ini yang seringkali menimbulkan empati, ” jelasnya.

Sumber gambar, SAID KHATIB/AFP

“Empati itu telah menimbulkan dukungan masyarakat Indonesia dengan seluruh donasi untuk Palestina oleh jumlah cukup fantastis, inch tambahnya.

Kemudian, “isu ini juga makin ‘panas’ karena netizen mempertanyakan kebenaran perihal isu bank pada Indonesia tidak lagi bisa mengirim uang ke financial institution di Palestina.

Namun di sisi lain, demikian temuan riset Indonesia Indicator, pernyataan tegas Presiden Joko Widodo dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendapat apresiasi dari netizen.

Namun, “mereka menunggu ketegasan ini, ” kata Rustia Herlambang.

Tiga faktor pemicu konflik

Sementara itu pengamat Timur Tengah Trias Kuncahyono mengungkapkan setidaknya ada tiga faktor yang meletupkan kembali konflik Israel dan Palestina.

Salah satu fall pemicunya adalah ancaman penggusuran orang-orang Palestina di wilayah Shiekh Jarrah di Yerusalem Timur. “Nah mereka merasa sudah tinggal di tempat itu selama puluhan tahun, kemudian akan digusur karena akan dipakai untuk permukiman baru. Meskipun sudah proses upaya hukum tetapi tetap kalah, ” ungkap Trias, mantan wartawan yang juga penulis sejumlah buku mengenai Timur Tengah – salah satunya berjudul “Jerusalem: kesucian, konflik, dan pengadilan akhir. ”

Faktor kedua adalah penutupan akses ke Gerbang Damaskus di Kota Lama Yerusalem yang mengarah ke Masjid Suci Al Aqsa. Pada saat itu berlangsung kegiatan keagamaan bertepatan dengan bulan Ramadan.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

“Faktor ketiga yang berbarengan juga sebetulnya dengan ulang tahun kelompok garis keras terkait perebutan Yerusalem Timur setelah 1967. Ketiga faktor itu jadi pemicu atas apa yg terjadi belakangan ini, ” ujar Trias.

Terkait perang narasi media sosial di Indonesia terkait konflik Israel-Palestina, bagi Trias, adalah hal yang wajar, sangat biasa sekali dan pasti akan terjadi.

“Misalnya ada yang pro Palestina, en este momento boleh begitu pula yang pro Israel, asal sepenuhnya alasannya rasional, tidak berdasarkan pada emosi atau kemudian yang tidak ada dasarnya. ”

Maka dia mengingatkan bahwa semua narasi pro dan kontra konflik di Timur Tengah itu diharuskan disampaikan secara dingin dan melihatnya secara rasional.

“Harus seperti itu, kalau bukan akan menimbulkan persoalan yg besar, karena orang bukan tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi, kemudian melebarkan pendapat, kemudian bisa memprovokasi orang maka bisa menjadi persoalan besar ini. Kemudian kalau itu terjadi, bisa ramai sendiri dan kita rugi sendiri. ”

Related Post