Konflik Afghanistan berkecamuk lagi, membuat rumah sakit kewalahan merawat korban luka yang terus bertambah

55 menit yang lalu

Sumber gambar, MSF

Sebesar laporan dari kota Angkatan Gah di Afghanistan daksina menunjukkan puluhan pejuang Taliban tewas dalam serangan hawa dan pertempuran sengit pada jalan-jalan di tengah proses pasukan pemerintah mengusir mereka.

Sebagian besar kota Laskar Gah – ibu kota strategis provinsi Helmand – sempat dikuasai oleh Taliban.

Banyak yang wafat kota itu dan dengan masih terperangkap kekurangan makanan, air dan obat-obatan. Beberapa pihak menggambarkan melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Makin banyak anak-anak dan hawa yang menjadi korban kelanjutan pertempuran antara pasukan pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban dalam memperebutkan kota-kota sari, seperti Lashkar Gah & Kandahar.

Sebesar dokter mengungkapkan bahwa bagian rumah sakit tengah berjuang mengatasi lonjakan jumlah objek yang terluka.

“Saya tak pernah mengalami situasi bengkak seperti ini sepanjang tumbuh saya, ” tutur Tabib Masood Khan yang sudah tujuh tahun bekerja buat lembaga Medecins Sans Frontieres (MSF).

“Akibat pertempuran, beberapa orang terluka. Beberapa dari itu bahkan tidak dapat menjangkau rumah sakit. Secara umum kami menerima lebih penuh pasien dari biasanya. ”

Baca juga:

Milisi Taliban menangguk keuntungan di seluruh Afghanistan serta menguasai banyak distrik sejak pasukan Amerika Serikat melalaikan negara tersebut bulan morat-marit.

Mereka kini menargetkan kota-kota dan selama sepekan belakang terjadi pertempuran sengit pada sekitar Herat, dekat pinggiran barat dengan Iran, serta Lashkar Gah dan Kandahar di bagian selatan.

Nasib Laskar Gah pun bersandar pada keseimbangan dan, ada laporan bahwa pasukan Taliban telah mengambil alih rumah-rumah, toko-toko dan pasar, jadi orang-orang di kota itu terjebak.

Dokter Khan mengungkapkan tengah berjuang mengatasi penderita terluka parah yang terus-menerus mengalir datang ke sendi sakit Boost—dengan kapasitas 300 tempat tidur—dan merupakan tunggal rumah sakit rujukan dalam provinsi Helmand yang menuntaskan layanan darurat dan hancur.

Sumber gambar, Reuters

Ia menuturkan, ketersediaan pada rumah sakit itu sudah nyaris habis.

Selama tiga bulan terakhir, rumah lara Dokter Khan merawat sama lima orang yang terluka parah setiap harinya. Akan tetapi dengan lonjakan kekerasan belakangan, itu artinya korban awak sipil pun bisa maka akan lebih banyak.

Cuma dalam tiga hari jarang 29 hingga 31 Juli, rumah sakit telah menyelenggarakan 70 korban luka akibat pertempuran.

Dari 482 penderita yang dirawat di vila sakit antara Mei tenggat Juli, hampir 90 tip antara lain mengalami cedera kelanjutan tembakan dari beberapa macam peluru. MSF mengatakan akan ada lebih banyak korban luka yang tak mampu mencapai ke rumah melempem.

“Konflik ini mempengaruhi semua orang. Bahkan di vila sakit, kami tidak ngerasa betul-betul aman ketika mengikuti suara tembakan, ” cakap dia.

“Ada pertempuran dalam mana-mana. Kami mendengar penuh suara di rumah melempem kami. ”

PBB membuktikan pada Selasa bahwa setidaknya 40 warga sipil mati dalam 24 jam belakang.

‘Taliban ada di mana-mana’

Sumber gambar, Getty Images

Pasukan pemerintah Afghanistan telah meminta sekitar 200. 000 penduduk Lashkar Gah untuk pergi. Pasukan angkatan suasana mengebom posisi para pengacau dan ada laporan yang menyatakan pertempuran memanas dalam dekat markas polisi.

Taliban telah merebut lebih sejak selusin stasiun radio dan TV lokal.

“Taliban tersedia di mana-mana di praja, Anda dapat melihat mereka dengan sepeda motor di jalan-jalan, ” cerita seorang penduduk kepada kantor berita AFP tanpa menyebut tanda.

“Mereka menangkap atau mengarahkan orang-orang yang memiliki telepon pintar, ” lanjut dia lagi.

Seorang warga bertanda Saleh Mohammad mengatakan ratusan keluarga berhasil melarikan muncul, tapi banyak juga antara lain yang terjebak di sedang baku tembak.

“Tidak ada cara untuk melarikan diri dari daerah itu, karena pertempuran sedang berlangsung. Tidak ada jaminan bahwa saya tidak akan terbunuh pada jalan, ” kata Mohammad.

“Pemerintah dan Taliban menghancurkan kami, ” ucap tempat lagi kepada AFP.

Dokter Khan belum bisa kembali selama dua hari belakang karena pertempuran masih bergolak. Sebagaimana stafnya, ia status di rumah sakit.

“Akses ke rumah sakit betul sulit. Jadi kami susunan di rumah sakit. Awak bekerja siang dan suangi dan tidur di bunker. ”

Sumber gambar, MSF

Menurut Dokter Khan, total pasien dan kebutuhan menyusun tetapi pasokan medis serta staf justru menurun.

“Kami berusaha memberikan perawatan berisi kepada pasien. Tapi awak tidak menerima cukup pasokan. Semua toko tutup dalam kota. Kota benar-benar terkundi, ” ungkap dia.

Stagnan dan terluka

Rumah rendah di Kandahar, kota kedua Afghanistan, juga dilaporkan menghantam lebih banyak pasien.

“Dalam tiga minggu kami menyambut 145 jenazah, ” cakap Dokter Daud Farhad, Besar Rumah Sakit Merwais dalam Kandahar.

Menurut dia, status saat ini menjadi bertambah baik karena pasukan negeri kembali menghalau serangan Taliban yang dimulai sejak 3 pekan lalu.

Sumber tulisan, BBC News

Dokter Farhad mengatakan kepada BBC bahwa pada hari-hari tertentu, mereka bisa menerima 10 mematok 30 pasien luka objek.

Rumah sakit Merwais memiliki 115 dokter dan 600 tempat tidur, tetapi itu juga telah mendirikan auditorium darurat dengan kapasitas 30 tempat tidur terpisah untuk menangani kian banyaknya objek.

“Tiga minggu lalu, Taliban tiba di dekat kota dan kami mulai menyambut korban. Sampai sekarang saya telah menerima 513 urusan, ” urai dia.

“Warga sipil yang terluka mencapai 80 persen. Di jarang mereka ada yang terluka parah, 110 di antaranya anak-anak, sekitar 75 penderita adalah perempuan. ”

Cela staf

Dokter Farhad mengatakan bahwa rumah sakitnya—tempat di mana Palang Merah Internasional juga beroperasi—memiliki simpanan obat-obatan yang cukup dan mampu memberikan perawatan dengan baik.

Tapi karena begitu parahnya cedera, ia kacau beberapa dari mereka dengan terluka berpotensi meninggal pada beberapa hari mendatang.

“Kami menangani luka tembak, luka ranjau, luka bakar, shock akibat ledakan bom, luka pecahan peluru. Ada penderita yang kehilangan kaki & tangan, ” terang Sinse Farhad.

Konflik telah menimbulkan ribuan orang mengungsi dan, di banyak kota tumbuh juga kecil, beberapa dalam antara mereka adalah tabib.

“Sebagian besar dokter ana tinggal di rumah melempem, tetapi perawat dan staf medis lainnya yang tinggal di luar rumah melempem sulit untuk datang ke rumah sakit. Kami serupa kekurangan staf non-medis, ” tambah Dokter Farhad.

MSF menyatakan sejak Mei, para staf juga telah menyaksikan alarm peningkatan yang merisaukan dari tingkat keparahan penyakit pasien.

Dia pun memasukkan, “Orang-orang telah menggambarkan kalau bagaimanapun, betatapun mereka memerlukan perawatan medis, mereka terdesak harus menunggu di panti sampai pertempuran mereda ataupun mengambil rute alternatif yang berbahaya”.

“Dengan perang yang berlangsung tak jauh sejak rumah sakit Boost, & orang-orang yang terlalu curiga untuk meninggalkan rumah karena kekerasan di mana-mana, akses ke perawatan kesehatan menjelma sangat terbatas. ”

Related Post