Kebakaran Lapas Tangerang: Keluarga korban tuntut tanggung jawab negeri – ‘Saya minta dibuka dengan sejujur-jujurnya’

12 September 2021, 08: 20 WIB

Sumber tulisan, Muhammad Iqbal

Tahun depan, Jueni semestinya telah bisa pulang ke vila sekaligus memeluk ibunya, bersenda gurau lagi dengan empat saudaranya, bekerja, mengumpulkan kekayaan untuk membeli motor impiannya RX King serta membentuk rumah tangga.

Impian-impian pria berusia 25 tarikh itu pernah dibicarakan secara Enjum, ibunya. Namun seluruh cita-cita tersebut ambruk kelanjutan kebakaran hebat yang melahap sebagian Lapas Kelas I Tangerang, Banten, Kamis 9 September lalu.

Juaeni bersama dengan 43 target lainnya masuk ke pada daftar narapidana yang tak selamat.

Baca Juga:

“Nanti kalau sudah di sendi, sudah tua umurnya, ya kata saya jangan terulang lagi. Lebih baik cari kerjaan. Terus untuk era depan, punya istri. ‘Iya’ kata dia ‘mudah-mudahan’, ” kata Enjum mengenang dialog itu sambil menyeka cairan mata.

Jueni sudah menjalani tujuh tarikh masa hukuman dari vonis 13 tahun enam kamar atas kasus kepemilikan narkotika. Dia mendekam di tangsi usai lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat usianya masih 18 tahun.

Belakang kali, Enjum dapat memiliki wajah anaknya dua tarikh silam saat besuk ke dalam penjara. “Ini mah udah dua tahun nggak bisa dibesuk, ” kata Enjum dengan suara bergerak.

Sumber gambar, Muhammad Iqbal

Selama dua tahun terakhir, Enjum dan keluarga hanya bisa berbicara dengan Jueni melalui sambungan telepon. Jueni terakhir melakukan komunikasi dalam Sabtu, 4 September atau empat hari sebelum kebakaran.

Enjum mengatakan, anaknya memiliki kebiasaan menelpon 4 saudaranya yang lain masa malam. Kala mengobrol di sambungan telepon, Enjum mengiakan sering meminta Jueni memberhentikan obrolannya di telepon.

Sebabnya, dia tak berpengaruh mendengar Jueni mengeluh rindu. “Katanya kalau ngobrol periode, ingat ingin pulang sekadar, ingat sama orang tua gitu, ” kata Enjum menirukan kata-kata anaknya.

Sumber gambar, Muhammad Iqbal

Enjum masih ingat betul, kaum waktu lalu, Jueni memprotes kesal dengan keadaan dirinya di Lapas.

“Kesal, ingin pulang. Kata saya, ‘Ya gimana , kan nggak sama kayak di kobong [pesantren tradisional]. Kalau di kobong membangun mau pulang bisa teks saja, kalau di danau kan gimana mau pulang? ‘” kata Enjum masa ditemui wartawan Muhammad Iqbal yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Enjum tetap meminta anaknya bersabar menjalani kehidupannya. Sebab, kata Enjum, dirinya dan suaminya, Karna, 56 tahun, — yang sehari-hari berdagang bakso keliling kampung — sudah mengajukan pembebasan bersyarat.

“Nggak lama lagi juga bersetuju bebas dia, sudah kami urus-urusin itu (bebas bersyarat) pihak Lapas juga, ” kata warga Kabupaten Serang, Banten ini.

Masih belum yakin

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Handout/Bal/

Sampai kini, Enjum masih tidak percaya Jueni masuk daftar puluhan target tewas. “Karena anaknya pada [bagian] Arah A, ” kata Enjum.

Enjum berharap tim DVI Polri segera mengidentifikasi jasad yang memiliki kesamaan DNA dengannya. Ia juga mau meyakinkan dirinya bahwa Jueni anaknya sudah meninggal, dengan cara melakukan prosesi pemakaman selayaknya.

“Kalau sudah pulang, benar berarti, sudah ulangan DNA, berarti sudah seragam. Berarti sudah itu bujang saya, ini kalau belum ada kepastian itu kayaknya nggak percaya itu bujang saya, ” kata dia.

Dibuka sejujur-jujurnya

Sumber gambar, Muhammad Iqbal

Upi, pakcik Jueni, merasa skeptis dengan alasan yang dijabarkan Gajah Hukum dan Ham Yasonna Laoly bahwa musabab kebakaran Lapas adalah arus rendah listrik.

“Saya minta dibuka dengan sejujur-jujurnya dibuka secara keterbukaan ke masyarakat khususnya ke keluarga korban apa yang sebenarnya terjadi pada Lapas Tangerang yang menjelma korban kebakaran ini.

“Karena itu kan Lapas kelas A. Masa iya sih fasilitasnya tidak baik? ” kata Upi, dengan mengurusi segala macam perkara Jueni saat ini.

Jika ada kelalaian, kata Jueni, siapa yang punya kebijaksanaan di situ? Apakah Lapas, apakah penjaga blok? “Ya kita nggak tahu pastinya, yang tahu hanya mereka dan kepolisian lebih terang siapa yang bertanggung pikiran, ” kata Upi.

Upi mengatakan, jika nantinya diketahui bahwa kejadian nahas yang menimpa keponakannya ada bagian kesengajaan, dirinya meminta segera diberitahukan, agar ada jalan keadilan yang dilakukan buat para korban.

Polisi temukan unsur pidana

Sumber tulisan, ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/

Sekitar ini kepolisian telah menaikkan status kasus kebakaran Lapas Kelas I Tangerang sebab penyelidikan ke penyidikan. Artinya, dalam kasus ini terdapat unsur pidana yang kudu dipertanggungjawabkan.

Belum ada tersangka, tapi kepolisian bakal melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, mengatakan akan memanggil Kalapas Kelas I Tangerang beserta 14 pegawai lapas dengan melaksanakan piket hari tersebut.

Selain itu, kepolisian juga akan menggali bukti dari “tujuh orang warga binaan, pemeriksaan pada tiga orang anggota damkar, tiga orang saksi dari PLN. ”

“Pemeriksaan sebagai saksi dilaksanakan pada keadaan Senin, 13 September 2021, di Polda Metro Hebat, ” Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Sabtu, (11/09).

Sejumlah barang bukti yang disita kepolisian antara lain rekaman CCTV, belasan HP, gembok dan anak kunci, “serta barang bukti lain terkait tindak pidana”.

Kuli Muhammad Iqbal di Terjang berkontribusi dalam artikel tersebut.

Related Post