‘Kapal beracun’ berbendera Singapura, X-Press Pearl, yang menyebabkan bahaya lingkungan

10 Juni 2021

Diperbarui 3 jam yang lulus

Sumber gambar, EPA

Di dalam awal Juni, kapal kargo yang mengangkut bahan kimia terbakar di laut terlepas Sri Lanka yang berpotensi menyebabkan bencana lingkungan semasa puluhan tahun mendatang dalam negara itu, lapor kuli BBC, Ranga Sirilal dan Andreas Illmer.

Kapal itu terbakar selama berhari-hari di lepas pantai Sri Lanka. Asap hitam pekat mengepul yang sanggup dilihat dari jarak dengan jauh dari lokasi pesawat.

Namun kapal yang diberi nama X-Press Pearl tersebut sudah setengah tenggelam, lambung kapal berada di dasar laut.

Walaupun kobaran api telah padam, bervariasi persoalan baru mengemuka.

Baca juga:

Di arah kapal terdapat tumpukan kotak kemas. Banyak peti siap itu menyimpan bahan kimia yang amat berbahaya untuk lingkungan, bahkan sebagian sudah bocor ke laut serta memunculkan kekhawatiran bahan kimia itu mungkin meracuni kesibukan laut.

Di samping tersebut, berton-ton pelet plastik sudah hanyut ke sejumlah miring setempat. Tak hanya itu, ratusan ton bahan mengobarkan untuk mesin disimpan di badan kapal yang tenggelam itu dan mungkin berisiko bocor ke laut.

Selain ancaman terhadap lingkungan, asosiasi setempat juga terancam kerawanan, misalnya para nelayan.

“Kami adalah nelayan kecil-kecilan dan melaut setiap hari. Ana hanya bisa mendapatkan bayar jika kami menangkap ikan- jika tidak seluruh bagian keluarga kami akan kelaparan, ” kata seorang nelayan, Denish Rodrigo, kepada BBC.

Miliran pelet plastik

Satu hal yang menunjukkan jika mencermati foto-foto sejak kecelakaan kapal ini adalah adanya butiran-butiran kecil plastik yang membentang hampir sekitar mata memandang.

Gendam plastik ini digunakan buat membuat hampir semua keluaran plastik.

Sumber gambar, Getty Images

“Terdapat 46 bakal kimia berbeda-beda di pesawat itu, ” kata Hemantha Withanage.

Ia adalah tokoh lingkungan dan pendiri lembaga Pusat Keadilan Lingkungan di ibu kota Sri Lanka, Colombo

“Tetapi yang paling kelihatan sejauh ini merupakan berton-ton pelet plastik. ”

Sejak akhir Mei, butiran-butiran plastik dari kapal X-Press Pearl terhanyut ke pantai-pantai di Negombo. Terlihat pula ikan-ikan mati dengan perut kembung dipenuhi pelet plastik sementara sebagian butiran plastik menyangkut di periode insang.

Sumber gambar, EPA

Plastik memerlukan waktu antara 500 hingga satu. 000 tahun untuk tergerai dan kemungkinan besar semoga terbawa arus ke pantai-pantai di Sri Lanka apalagi ke tempat-tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari kedudukan kapal karam.

Meskipun sejauh ini plastik barangkali menjadi dampak yang menyesatkan tampak, plastik bukanlah yang paling berbahaya.

“Jika palet plastik ini ada dalam ikan yang kita konsumsi, butiran plastik itu biasanya berada di jalan pencernaan, ” jelas Britta Denise Hardesty dari CSIRO Oceans and Atmosphere, Australia.

“Tapi kita tidak memakan seluruh bagian ikan melainkan ikan teri atau sardin. ”

Keluarga kami akan alami kelaparan

Bagi kalangan nelayan Negombo, kekhawatiran utama mereka bukan hanya apa yang terkandung di pada ikan, tetapi kemungkinan mereka tidak bisa menangkap ikan sama sekali.

Pihak berwenang telah melarang interpretasi ikan di kawasan dengan terdampak sehingga warga kehilangan mata pencaharian dan penghasilan seketika.

“Ikan berkembanng biak di terumbu jalin di kawasan ini dan pihak berwenang mengatakan seluruh tempat ikan berkembang tumbuh rusak akibat bahan kimia berbahaya. Tak ada opsi lain bagi kami kecuali menceburkan diri ke laut dan mati, ” ujar Tiuline Fernando, yang menjelma nelayan selama 35 tahun terakhir.

Walaupun negeri Sri Lanka mengharapkan simpanan kompensasi dan dana asuransi dari pemilik kapal yang berkantor di Singapura tersebut, penduduk setempat tidak sungguh-sungguh yakin bahwa sebagian mulia uang akan sampai ke mereka.

Bagaimanapun, persatuan nelayan mengaku mereka amat menggunakan bantuan, bukan hanya kalangan nelayan tetapi juga bangsa secara umum.

“Terdapat industri-industri lain yang terdampak. Ana membeli jaring dan instrumen dan perahu, kami menggunakan bahan bakar, lalu ada orang-orang yang menarik sekoci. Ada ribuan lapangan pekerjaan lain yang terkait secara industri perikanan, ” cakap ketua persatuan nelayan Densil Fernando.

Polusi kimia

Dampak dengan paling panjang yang peluang akan dialami Sri Lanka adalah polusi kimia.

Di antara bahan-bahan kimia menyesatkan berbahaya yang diangkut kapal tersebut terdapat asam nitrat, sodium dioksida, tembaga serta timbal, kata Withanage.

Begitu masuk ke air, bahan-bahan kimia itu terserap ke perut penghuni bahar.

Ikan kecil jadi akan cepat mati akibat keracunan ini, tetapi ikan besar kemungkinannya kecil. Sebaliknya, ikan besar akan terkontaminasi racun jika memakan ikan-ikan kecil itu.

Menurut Withange, ikan, penyu serta lumba-lumba yang mati sudah hanyut ke pantai. Beberapa di antaranya berubah warna menjadi kehijau-hijauan, yang kemungkinan telah terkontaminasi dengan logam dan bahan kimia.

Artinya, ikan dari letak itu berbahaya bagi pribadi, tidak hanya sekarang namun bertahun-tahun kemudian.

“Warga menetapkan diberi edukasi mengenai perkara ini, ” kata Withange.

“Kapal ini penuh dengan racun sekarang. Sampah di dalam bentuk apapun yang terbawa ke pantai sangat beracun dan warga bahkan seharusnya tidak menyentuhnya, ” tambahan Withange seperti dilaporkan sebab wartawan BBC, Ranga Sirilal dan Andreas Illmer.

Sumber gambar, EPA

Masalah itu tidak hanya terlokasir di kawasan sekitar kapal tenggelam di pesisir barat Sri Lanka.

“Sampah, toksin, plastik tidak terikat dalam batas geografis, ” terang Britta Denise Hardesty dibanding CSIRO Oceans and Atmosphere, Australia kepada BBC.

“Barang-barang itu akan dibawa oleh angin, ombak, arus dan kejadian-kejadian lain dengan berubah sesuai dengan musim. ”

Operasi pembersihan

Meskipun sebelumnya pernah merasai kapal tenggelam, Sri Lanka belum pernah mengalami pesawat karam yang mengangkut barang beracun seperti ini. Negara itu tidak siap bertemu tugas berat ini.

Perusahaan kapal pemilik X-Press Pearl telah mengontrak perusahaan internasional untuk menangani krisis tersebut dan mengatakan para-para ahli perusahaan itu sudah berada di Sri Lanka.

Aktivis lingkungan dan pendiri lembaga Pusat Kesamarataan Lingkungan, Hemantha Withanage, ragu apakah perusahaan komersial itu akan berusaha maksimal untuk mengatasi masalah.

Peristiwa kapal karam telah menjadi peristiwa pengajuan klaim asuransi yang banyak menyedot perhatian serta kemungkinan pembayaran klaim dengan besar bisa jadi menggagalkan dampak yang dialami kesibukan laut.

Pusat Keadilan Lingkungan pimpinan Withanage telah melayangkan gugatan kepada pemerintah Sri Lanka dan kongsi kapal, namun diakuinya hasil terbaik dari gugatan itu kemungkinan hanyalah berupa penambahan kesadaran masyarakat.

Related Post