Ivermectin dapat restu uji klinis dari BPOM untuk terapi Covid-19

23 Juni 2021

Diperbarui 2 jam yang lalu

Ivermectin adalah obat untuk indikasi infeksi kecacingan yang digunakan sebagai terapi pengobatan Covid-19.

Sumber gambar, COPYRIGHTAFP

Lembaga Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberi persetujuan pengamalan uji klinis Ivermectin buat menjadi terapi perawatan penderita Covid-19. Ivermectin adalah “obat keras” antiparasit untuk memulihkan cacingan.

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, mengatakan uji klinis tersebut berangkat dari data-data epidemiologi, termasuk publikasi global yang menunjukkan ivermectin bisa digunakan untuk terapi Covid-19.

“Dan ada juga guideline daripada WHO dikaitkan dengan Covid-19 treatment , yang merekomendasikan bahwa ivermectin dapat digunakan dalam kerangka uji klinis, ” logat Penny dalam keterangan Pers, Senin (28/06).

Uji klinis Ivermectin untuk terapi Covid-19 yang diinisasi Kementerian Kesehatan ini nantinya akan dikerjakan di delapan rumah kecil. Di antaranya, RS Persahabatan, RS Sulianti Saroso, RS Sudarso di Pontianak RS Adam Malik di Kawasan, RSPAD Gatot Subroto, RSAU Jakarta, RSU Suyoto, dan RSD Wisma Atlet Jakarta.

“Namun, seandainya masyarakat membutuhkan obat ini, dan tidak dapat menimbrung dalam uji klinis, dokter juga dapat memberikan obat ini tentunya dengan menghiraukan penggunaan sesuai dengan protokol uji klinis yang disetujui, ” Kata Penny.

BPOM juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan obat itu secara sembarangan, selama belum ada hasil dari uji klinis.

“Kami mengibau kepada masyarakt dengan pengamalan uji klinis maka masyarakat tidak membeli obat ivermectin secara bebas, termasuk selalu tidak membeli melalui platform online yang ilegal, ” kata Penny.

Sebelumnya, obat antiparasit cacingan Ivermectin yang siap diproduksi Indofarma tidak mendapatkan izin edar lantaran Badan Pengawas Obat serta Makanan (BPOM) untuk digunakan sebagai pengobatan bagi pasien Covid-19.

“Ivermectin kaplet 12 mg terdaftar di Nusantara untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis), ” tulis BPOM dalam rilisnya yang diterima BBC News Indonesia, Selasa (22/06).

Pernyataan tersebut menanggapi data Menteri BUMN Erick Thohir yang sebelumnya memperkenalkan Ivermectin sebagai obat pencegahan & terapi Covid-19 dan telah mendapatkan izin edar lantaran BPOM.

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada, Zullies Ikawati mengatakan, terjadi misleading atau info menyesatkan jika Ivermectin telah mendapatkan izin edar BPOM untuk terapi Covid-19.

File image of an Intravenous drip, leading from saline solution bag

Sumber gambar, Getty Images

BPOM Amerika Serikat menyatakan Ivermectin bukan antivirus dan belum menyetujui penggunaannya untuk mengobati atau mencegah Covid-19 pada manusia.

“Ivermectin bukan antivirus (obat untuk mengobati virus). Kemudian, penggunaan obat ini di dosis besar akan berbahaya dan dapat menyebabkan kerawanan serius, ” kata BPOM AS dalam keterangannya.

Badan Obat Eropa belum lama ini juga menyatakan Ivermectin tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam manajemen rutin anak obat COVID-19.

Erick Thohir: Izin edar BPOM atas Ivermectin

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Indofarma telah mendapat izin edar Badan POM RI untuk produk generik Ivermectin.

Sumber gambar, Antara Foto/Dhemas Reviyanto

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, PT Indofarma, sebagai bagian dari holding BUMN farmasi, telah mendapat izin edar Badan POM RI untuk produk generik Ivermectin 12 miligram.

“Kami ingin menyampaikan mengenai obat Ivermectin, yaitu obat antiparasit, yang alhamdulillah hari ini sudah keluar kerelaan edarnya dari BPOM, & kami terus melakukan hubungan intensif kepada Kementerian Kesehatan, karena dari studi yang ada Ivermectin ini dianggap bisa membantu dari di dalam terapi pencegahan, ” sebutan Erick dalam konferensi pers yang dilansir dari akun Instagramnya, Senin (21/06).

“Dan ini luar piawai harganya sangat murah. Tapi kembali ditekankan ini ialah terapi, bukan obat Covid, ini bagian dari lupa satu terapi, ” ujarnya.

Obat Ivermectin dijual dengan harga Rp5. 000 hingga Rp7. 000 per tablet.

Erick menambahkan Ivermectin adalah obat antiparasit yang sudah digunakan terbatas untuk terapi penyembuhan Covid-19 di berbagai negara lantaran India sampai Amerika, juga Indonesia.

Menurut Erick mengutip beberapa jurnal kesehatan, obat ini dapat menekan transmisi dan perkembangan virus Covid-19 – Balitbangkes dan kaum rumah sakit kini padahal melakukan uji klinis obat itu.

Indofarma, sekapur Erick, siap memproduksi 4 juta tablet ivermectin 12 miligram per bulan sesudah mendapatkan izin edar BPOM RI bernomor GKL2120943310A1.

Selain Ivermectin, Indofarma telah membikin dan memperoleh izin memutar antara lain Oseltamivir 75 mg kapsul dan Remdesivir 100 mg injeksi dengan merekDesrem.

“Namun, Harap diingat, Ivermectin tergolong obat membanting dan harus digunakan dengan resep serta pengawasan sinse. Jadi, jangan sekali-kali mengkonsumsi obat ini tanpa resep dokter, ” katanya.

Pernyataan yang ‘menyesatkan’

Ilustrasi obat.

Sumber gambar, Getty Images

Namun pernyataan Erick yang membicarakan Ivermectin telah mendapatkan kerelaan edar BPOM untuk sanggup digunakan dalam terapi pengobatan Covid-19 menimbulkan kontroversi.

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada, Zullies Ikawati, melihat maklumat itu menyesatkan atau misleading .

“Izin edar pasti disertai dengan indikasi. Ini menjadi misleading karena izin memutar yang dikeluarkan untuk obat itu dengan indikasi antiparasit atau anticacing tapi lalu dibungkus atau digunakan buat Covid-19, ” kata Zullies.

Zullies menambahkan, Ivermectin pertama kali diwacanakan sebagai obat terapi Covid bersandarkan penelitian di Australia kepala menyebut obat ini dapat menimbulkan efek antiviral kepada virus SARS-CoV2 namun segar secara in vitro (laboratorium) dan belum diuji kemanusian.

“Memang sudah tersedia uji klinis beberapa negeri tapi bukti klinisnya sedang bervariasi. Bahkan WHO belum berani merekomendasikan digunakan bani adam, baru dalam koridor tes klinis, ” katanya.

Menurut Zullies, tidak lupa menggunakan obat yang sudah ada seperti Ivermectin buat terapi Covid-19. Namun diperlukan kehati-hatian dalam melihat potensi efek samping yang ditimbulkan.

“Saya setuju jika obat ini digunakan untuk terapi Covid, tapi kudu ada uji klinis terlebih dahulu dan mendapatkan persetujuan sesuai indikasinya agar bertambah aman, ” ujar Zullies.

Zullies menambahkan, efek samping obat ini relatif kecil dan umum jika memakai resep dokter, seperti nyeri otot, ruam, demam, namun akan berbahaya jika digunakan dalam jumlah besar serta sembarangan oleh masyarakat.

“Lalu untuk masyarakat sebaiknya sabar menunggu putusan dibanding BPOM apakah bisa dimanfaatkan untuk Covid atau tidak dan menanyakan ke sinse apakah bisa digunakan atau tidak, ” kata Tutor besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada itu.

Stafsus BUMN: Izin edar untuk antiparasit bukan untuk Covid

Perawat mengenakan alat pelindung diri (APD) menangani pasien di Poli Pinere RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, Kamis (09/08).

Sumber gambar, Antara Foto

Staf khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga menyatakan bahwa yang dimaksud izin memutar Ivermectin oleh Erick Thohir adalah untuk antiparasit cacing, bukan Covid.

“Tidak ada pernah beliau sejumlah izin edar itu untuk obat Covid-19. Lihat pada Instagram beliau, bahwa itu untuk terapi, ” logat Arya.

“Jadi izin memutar obat itu untuk sakat. Lalu penggunannya untuk Covid itu bukan sebagai obat tapi untuk terapi. Awut-awutan, obat itu juga diberikan di beberapa negara kaya India dan sudah tersedia jurnal ilmiahnya, jadi tidak asal, ” tambah Arya.

Arya juga menguatkan, obat Ivermectin telah dikasih beberapa dokter bagi penderita Covid di Indonesia.

“Ini cukup efektif sebagai terapi, sama dengan obat lain yang dipakai jadi terapi penyembuhan corona tersebut karena memang sampai sekarang belum ada obat corona, ” katanya

Arya menambahkan, Ivermectin akan cocok dengan obat seperti Favipiravir, Azithromycin, Avigan atau vitamin lainnya yang digunakan sebagai terapi pengobatan yang dikasih kepada pasien Covid-19.

Barang apa itu obat Ivermectin?

Ilustrasi obat yang diberikan untuk pasien Covid-19.

Sumber gambar, AFP/GETTY IMAGES

Tahun berlalu, efektivitas obat Ivermectin dan obat turunannya dalam mengobati infeksi cacing sakat memberikan manfaat besar bagi manusia dan hewan kepala sehingga penemunya, William C Campbell dan Satoshi Omura dianugrahi Nobel Prize.

Ivermectin saat ini diresepkan pada bentuk tablet untuk memulihkan cacing gelang yang berpotensi menyebabkan kebutaan manusia & dalam bentuk krim buat mengobati peradangan kulit laksana rosacea.

Namun biasanya obat ini paling kerap digunakan untuk mengobati sakat pada hewan.

BPOM: Belum ada uji klinis keistimewaan Ivermectin untuk Covid-19

BPOM menyebut, Ivermectin kaplet 12 miligram yang terdaftar di Indonesia untuk indikasi infeksi kecacingan.

Sumber gambar, Indonesia. go. id

Terkait berkembangnya izin memutar dan manfaat Ivermectin buat terapi Covid-19, BPOM Nusantara memberikan penjelasan.

Di dalam siaran persnya, BPOM membicarakan, Ivermectin kaplet 12 miligram yang terdaftar di Nusantara untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis) yang masuk dalam kategori obat keras sehingga pembeliannya kudu dengan resep dokter serta penggunaannya di bawah pengawasan dokter.

“Data uji klinik yang cukup untuk membuktikan khasiat Ivermectin pada mencegah dan mengobati COVID-19 hingga saat ini belum tersedia. Dengan demikian, Ivermectin belum dapat disetujui buat indikasi tersebut, ” tulis rilis BPOM tersebut.

Kemudian menurut BPOM, Ivermectin yang digunakan tanpa tanda medis dan tanpa resep dokter dalam jangka periode panjang dapat mengakibatkan buah samping, antara lain nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, melanggar, dan Sindrom Stevens-Johnson.

Penggunaan obat ini pada manusia masih baru pada Indonesia sehingga BPOM menganjurkan batas waktu kedaluwarsa selama enam bulan terhadap obat tersebut.

Obat tersebut hanya disetujui pada jumlah yang sangat spesifik buat mengobati cacing parasit, kutu kepala, dan gangguan indra peraba wajah seperti rosacea.

“Ivermectin bukan antivirus (obat untuk mengobati virus), ” tulisnya.

Kemudian, penerapan obat ini dalam ukuran besar akan berbahaya serta dapat menyebabkan bahaya benar-benar.

“Bahkan pada tingkat yang disetujui saja dapat ketika berinteraksi dengan obat lain dapat menyebabkan pengenceran darah. Lalu overdosis obat tersebut menyebabkan mual, muntah, diare, hipotensi (tekanan darah rendah), reaksi alergi (gatal serta gatal-gatal), pusing, ataksia (masalah dengan keseimbangan), kejang, koma dan bahkan kematian, ” tulisnya.

Senada dengan itu, Badan Obat Eropa juga tidak merekomendasikan obat ini untuk digunakan pada manajemen rutin pasien COVID-19 karena tidak ada pas bukti khasiatnya.

Related Post