Israel: Pengakuan mantan bos mata-mata Mossad yang ungkap proses intelijen untuk melawan Iran

29 menit yang berarakan

Yossi Cohen

Sumber tulisan, Getty Images

Yossi Cohen, yang baru sekadar pensiun dari posisinya sebagai kepala badan intelijen Israel, Mossad, telah membeberkan proses mata-mata negaranya terhadap Iran melalui sebuah wawancara dengan media.

Patuh Cohen, Mossad melancarkan ulah pencurian dokumen-dokumen program nuklir Iran di sebuah gudang pada 2018. Operasi itu berhasil memindahkan puluhan seperseribu dokumen dari Iran ke Israel.

Dia juga menunjukkan bahwa Israel terlibat dalam penghancuran fasilitas nuklir Iran di Natanz serta pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Iran.

Cohen menjabarkan situasi ini kepada wartawan Ilana Dayan dalam program dokumenter Uvda yang disiarkan tumpuan televisi Israel Channel 12.

Cohen sendiri pensiun sebagai kepala Mossad minggu lalu.

Baca juga:

Cohen diangkat sebagai kepala Mossad dalam akhir 2015 oleh Benjamin Netanyahu yang saat tersebut masih menjabat perdana gajah. Netanyahu baru saja dilengserkan oleh politikus Naftali Bennett dan koalisi sayap kanan.

Cohen bukan orang perdana di badan intelijen Israel. Dia bergabung dengan institusi tersebut pada 1982 setelah mengenyam pendidikan sarjana dalam London, Inggris.

Dalam wawancara dengan Ilana Dayan, Cohen mengaku punya “ratusan paspor” selama kariernya.

Pengucapan terpenting Cohen saat diwawancara adalah mengenai pencurian arsip-arsip program nuklir Iran.

Isi arsip-arsip itu sudah disinggung Netanyahu dalam jumpa pers pada 2018. Saat itu dia mengklaim dirinya punya bukti bahwa Iran berupaya menciptakan senjata nuklir secara rahasia seraya mempertahankan pengetahuan tersebut rapat-rapat—tuduhan dengan kemudian dibantah Iran.

Untuk menyesatkan video ini, aktifkan JavaScript atau coba di instrumen pencari lain

Akhirnya, sewaktu diwawancara, Cohen mengatakan perlu dua tahun buat merencanakan operasi pencurian puluhan ribu dokumen program nuklir Iran.

Secara keseluruhan terdapat 20 agen Mossad dengan dikerahkan di lapangan—tiada seorang pun dari mereka dengan berkewarganegaraan Israel, sebut kuli Ilana Dayan.

Bos mata-mata Israel itu menyaksikan sebab markas komando di Tel Aviv ketika para wakil menerobos masuk ke di dalam gudang dan membongkar lebih dari 30 lemari tukul. Saat foto-foto temuan lahir di layar, “kami seluruh luar biasa gembira, ” kata Cohen sebagaimana dikutip Times of Israel.

Semua agen lapangan selamat dan dalam kondisi baik, tambah Cohen, walau ada yang harus dijemput dari Iran.

line

Wawancara yang asing biasa rinci

Raffi Berg, Editor BBC News Online bidang Timur Sedang

Sebenarnya bukan peristiwa aneh bagi mantan besar Mossad untuk diwawancara ataupun menyampaikan pandangan pada topik tertentu. Bagaimanapun, penuturan Yossi Cohen luar biasa dalam situasi rincian yang dia beberkan.

Karena itu, Times of Israel menyebut wawancara tersebut “menakjubkan [dan] mencerahkan”.

Menyimak penjabaran Cohen ibarat membaca buku novel yang menegangkan. Contohnya, ketika dia menuturkan bagaimana para agen menjebol lemari-lemari tukul, mengangkut berton-ton dokumen kalender nuklir Iran, serta membawanya keluar negara tersebut sembari dikejar.

Cohen serupa mengindikasikan keterlibatan Mossad pada operasi lain yang periode digosipkan sebagai hasil order agen-agen Israel.

Penjabarannya kian dekat menuju pengakuan bahwa Israel mensabotase sarana nuklir Iran yang dirahasiakan.

Meski demikian, muatan wawancara itu terukur dan sudah pasti telah disetujui sensor militer Israel.

Perilisan dokumenter ini serupa menarik. Sebab, wawancara tersebut mengemuka seiring dengan bahan dimulainya perundingan nuklir Iran di tengah kabar adanya kemajuan.

Di samping itu, wawancara itu menjadi sama dengan wanti-wanti terhadap musuh-musuh Israel bahwa Mossad mampu berlaku di belakang garis ajaran pihak-pihak yang dianggap jadi musuh.

line

Israel sebelumnya telah berbicara secara terbuka mengenai niat mereka mengambil ribuan dokumen kalender nuklir Iran.

Dalam ramah itu, Cohen juga berbahasa mengenai fasilitas nulir Iran di Natanz.

Iran mengutarakan bahwa aksi sabotase membuahkan kebakaran di lokasi pengayaan uranium pada Juli 2020. Kemudian sehari setelah mengungkap peralatan baru pada April tahun ini, para pejabat mengklaim fasilitas itu lagi-lagi disabotase dan mengalami keburukan besar. Iran menuduh Israel melakukan “terorisme nuklir”.

Natanz

Sumber gambar, Reuters

Cohen mengaku kepada wartawan Ilana Dayan bahwa dia mengenal sarana di Natanz dengan benar baik. Bahkan, Cohen mengklaim bisa mengajak Dayan ke ruang “tempat mesin pemutar sentrifugal berada”.

Tempat menambahkan: “Mesin-mesin itu yang dipakai untuk memutar [uranium]. Kini ruangan itu tidak nampak seperti kondisi sebelumnya”.

Membaca juga:

Lebih lanjut, Cohen menyinggung soal Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir Iran yang dibunuh di berkepanjangan di luar Kota Teheran, November 2020 lalu. Iran secara gamblang menyalahkan Israel atas peristiwa itu.

Mantan kepala Mossad itu tak membenarkan atau membantah kontribusi agen-agen intelijen Israel di dalam kematian Fakhrizadeh. Dia justru menekankan ilmuwan tersebut ialah target “selama bertahun-tahun” serta pengetahuan ilmiahnya merisaukan Mossad.

“Jika pria itu memiliki kemampuan yang membahayakan masyarakat Israel, keberadaannya harus dihentikan, ” kata Cohen.

Namun, tambahnya, seseorang bisa luput dari pembunuhan “jika dia siap mengubah profesinya dan tidak mencederai ana lagi. ”

Mohsen Fakhrizadeh

Sumber tulisan, EPA

Related Post