Israel bentrokan brutal lagi secara Palestina di Masjid Al-Aqsa, mengapa kali ini menyasar Sheikh Jarrah?

8 Mei 2021, 14: 46 WIB

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di instrumen pencari lain

Bentrokan berdarah terjadi di kompleks Masjid Al-Aqsa Yerusalem pada Jumat malam periode setempat (07/05) setelah penjaga Israel menembakkan peluru longgar dan granat kejut ke arah para warga Palestina yang bersenjatakan batu.

Insiden ini terkait dengan ancaman pengusiran pada warga Palestina dari wilayah mereka yang diklaim sebab para pemukim Yahudi.

Sedikitnya 205 warga Palestina dan 17 aparat ketenangan Israel luka-luka akibat percekcokan, ungkap kantor berita Reuters merujuk laporan dari ke-2 pihak.

Ketegangan balik muncul di Yerusalem dan wilayah pendudukan Tepi Barat selama bulan suci Bulan berkat setelah beberapa kali pertikaian terjadi pada malam hari di Sheikh Jarrah porakporanda wilayah di mana penuh keluarga Palestina menghadapi pengusiran setelah sekian lama bentrok secara hukum.

Seruan untuk menahan diri bagi kedua pihak telah dilontarkan Amerika Konsorsium dan Perserikatan Bangsa, tatkala Uni Eropa dan Yordania menyatakan keprihatinan atas situasi yang memanas terkait intimidasi pengusiran atas warga Palestina.

Mengapa konflik bisa pecah lagi?

Puluhan seperseribu warga Palestina berdatangan ke Masjid Al-Aqsa, yang adalah salah satu tempat nirmala bagi umat Muslim, kemarin untuk salat Jumat. Ini merupakan Jumat terakhir di bulan suci Ramadan tahun ini.

Setelah salat, banyak yang memilih tidak langsung pulang untuk menimbrung aksi protes menentang pengusiran warga Palestina di wilayah yang diklaim pemukim Yahudi.

Sumber gambar, Anadolu Agency via Getty Images

Setelah berbuka puasa, berserakan bentrokan di Al-Aqsa serta di dekat Sheikh Jarrah, yang terletak tak jauh dari Gerbang Damaskus dengan terkenal di kawasan Kota Tua Yerusalem.

Penjaga Israel menggunakan meriam cairan dari kendaraan lapis baja untuk membubarkan ratusan pemrotes yang berkumpul di depan rumah-rumah keluarga yang terancam diusir.

Sumber gambar, Reuters

Para pemrotes pula berasal dari kawasan asing. “Kami sudah terbiasa menghadapi pendudukan ini, mereka mulanya mengambil beberapa rumah di sini secara ilegal, morat-marit mengeklaim bahwa rumah-rumah tersebut punya mereka, ” kata pemrotes bernama Bashar Mahmoud, pemuda 23 tahun yang tinggal di kawasan Issawiya yang dekat dengan Sheikh Jarrah.

“Bila tak mendukung kelompok warga dalam sini, [pengusiran] akan terjadi di rumah saya, rumah dia, vila mereka, dan semua masyarakat Palestina yang tinggal di sini, ” lanjutnya.

Pengurus masjid Al-Aqsa berupaya menenangkan situasi lewat pengeras suara. “Polisi harus beradu tembakkan granat kejut ke jemaah, anak-anak muda kudu tenang dan diam! ”

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Namun, friksi berdarah tak terelakkan. Jawatan ambulans Bulan Sabit Abang Palestina mengungkapkan 108 dibanding warga Palestina yang luka-luka dilarikan ke rumah melempem, banyak dari mereka dengan kena tembak peluru logam berlapis karet.

Seorang yang terluka harus kehilangan salah satu matanya, & dua lainnya luka pelik di kepala. Dua lagi retak tulang rahang. Sedangkan sebagian besar korban luka rata-rata luka ringan, ungkap pernyataan Bulan Sabit Merah Palestina.

Seorang pakar bicara polisi Israel menyatakan bahwa para pemrotes membuang bebatuan, petasan dan benda-benda lain ke arah para-para petugas, sekitar setengah dibanding 17 yang luka-luka kudu dirawat di rumah rendah.

“Kami akan meluluskan tindakan tegas atas setiap kekerasan, kerusuhan, atau penyerbuan atas petugas kami serta akan mencari siapa yang bertanggungjawab serta membawanya ke muka hukum, ” sirih juru bicara itu.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengatakan bahwa Israel kudu bertanggungjawab atas situasi dengan membahayakan itu dan berasaskan serangan yang terjadi dalam kota suci tersebut. Tempat pun menyerukan Dewan Kesejahteraan PBB segera menggelar kerap khusus menanggapi kekerasan tersebut.

Sumber gambar, Reuters

Kekerasan yang meningkat di wilayah pendudukan Tepi Barat, saat dua warga bersenjata Palestina tewas dan seorang lagi luka parah di Jumat kemarin setelah itu menembaki basis militer Israel. Setelah insiden itu, militer Israel menyatakan akan menaikkan pasukan tempur ke Tepi Barat.

Mengapa Sheikh Jarrah jadi konflik?

Beberapa besar warga Sheikh Jarrah adalah orang Palestina. Tetapi, bagi Israel, wilayah tersebut merupakan lokasi suatu wadah suci karena terdapat makam seorang imam agung Yahudi.

Warga Palestina khawatir mereka akan diusir lantaran lingkungan itu, apalagi masa Mahkamah Agung Israel bakal menggelar sidang soal sengketa hukum wilayah tersebut di dalam Senin pekan depan.

Juru bicara Komisi PBB urusan Hak Asasi Bani adam menyatakan bahwa pengusiran, masa diputuskan dan dilaksanakan, mau melanggar kewajiban Israel dalam muka hukum internasional arah wilayah Yerusalem Timur yang direbut dan didudukinya, berhubungan dengan Tepi Barat, dibanding Yordania pada 1967.

“Kami menyerukan Israel untuk segera menghentikan semua pengusiran paksa, termasuk itu yang tinggal di Sheikh Jarrah, dan menghentikan di setiap kegiatan yang akan melahirkan suasana yang koersif dan mengarah kepada alih kepemilikan paksa, ” kata spesialis bicara Komisi HAM PBB, Rupert Colville pada Jumat.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri Israel menyatakan bahwa Palestina sedang “menghadirkan perselisihan real-estat antarpihak preman untuk kepentingan nasionalis, pada rangka menghasut kekerasan pada Yerusalem. ” Palestina menengkari klaim tersebut.

Israel menduduki Yerusalem Timur sejak Perang Timur Tengah 1967 dan mengeklaim seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya,, baik itu tidak diakui beberapa besar masyarakat internasional. Namun Palestina menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya zaman depan sebagai negara yang independen.

Related Post