Greysia Polii dan Rahayu Apriani lolos ke final berpasangan putri Olimpiade Tokyo: ‘Belum ingin puas dulu, saya masih harus bermain untuk emas’

31 Juli 2021, 09: 46 WIB

Diperbarui 4 jam yang lalu

Sumber tulisan, Getty Images

Greysia Polii dan Rahayu Apriyani kembali mencetak sejarah secara menembus babak final bulutangkis Ganda Putri Olimpiade Tokyo 2020.

Ini perdana kalinya ganda putri Nusantara menembus final Olimpiade sejak badminton dipertandingkan di perhelatan olahraga terbesar dunia itu pada 1992.

Dalam fragmen semifinal Sabtu (31/7) di Musashino Forest Sports Plaza Tokyo, mereka berhasil mengandaskan ganda andalan Korea Daksina, Lee Soo Hee & Shin Seung Chan, dalam dua set langsung, 21-19 dan 21-17, selama 71 menit.

Selanjutnya, di babak final pada Senin (2/8), mereka akan melayani ganda putri asal China, Jia Yifan/Chen Qingchen, dengan dalam pertandingan semifinal yang lain, juga mengalahkan pasangan Korsel, Kong Hee-yong/Kim So-yeong, dalam dua set.

“Saya belum ingin puas dulu, kami masih kudu bermain untuk emas, ” ujar Apri, panggilan dekat Rahayu Apriani, usai musabaqah seperti yang disiarkan rilis resmi PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia).

“Ya, masih ada tugas yang kami harus selesaikan. Saya belum banyak yang bisa disampaikan tapi kami memohon ciri restu dan dukungan semesta rakyat Indonesia untuk ana di final. Semoga ana bisa memberikan yang ulung, ” tambah Greys, nama bagi Greysia.

Peraih bintang emas Olimpiade cabang cara raga Bulu Tangkis

4 Agustus 1992

Pemain tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan bintang emas Olimpiade untuk Nusantara untuk pertama kalinya setelah mengalahkan rekan setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam di Barcelona, Spanyol.

Sementara pemain tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Selatan Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada ajang yang serupa.

31 Juli 1996

Pemain berpasangan putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemajuan setelah membabat habis lawannya, pasangan dari Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), dengan skor 5-15, 15-13, 15-12 pada Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.

21 September 2000

Pemeran ganda putra Candra Kejayaan dan Tony Gunawan membawa podium kampiun Olimpiade dalam Sydney, Australia setelah mengganyang pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung melalui musabaqah tiga set dengan skor 15-10, 9-15, dan 15-7. Keduanya menjadi satu-satunya penyumbang medali emas untuk Nusantara pada gelaran olah badan bergengsi dunia pada tarikh tersebut.

21 Agustus 2004

Atlet Taufik Hidayat mengalahkan pemeran tunggal putra asal Korea Selatan Shon Seung-Mo di dua gim, 15-8 dan 15-7 pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

8 Desember 2008

Sempat kalah dalam gim pertama, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido akhirnya melayani balik dengan skor 12-21, 21-11, dan 21-16. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk Indonesia setelah mengalahkan pasangan China Cai Yun & Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 di Beijing, China.

17 Agustus 2016

Pasangan berpasangan campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Negeri brazil, yang jatuh bersamaan secara Hari Kemerdekaan Indonesia. Keduanya menyumbangkan medali emas buat tim Merah Putih setelah membabat habis lawannya pokok Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Sumber gambar, Antara Memotret

Dalam jumpa pers usai pertandingan, Greysia melahirkan penguasaan mental atas suasana pertandingan menjadi kunci kemenangan. “Karena kita sering bersemuka, jadi secara teknik serta fisik kita sudah sama-sama tahu.

Jadi hamba bersama Apri dan pembimbing sepakat mentalnya dulu dengan dinaikin, itu strateginya, ” ujar Greys, demikian seruan akrabnya, dalam jumpa pers yang ditayangkan Champions TV .

Tidak mau terpancing

Sumber gambar, Antara Foto

Ciri penting lainnya, lanjut Greys adalah ketenangan dan ketenangan. “Kami tidak mau terpancing dengan irama permainan itu juga. Justru kami yang harus membuat mereka terpancing sehingga bikin kesalahan tunggal. Main reli-reli panjang, kesimpulannya mereka bikin kesalahan, ” kata Greys yang sempat menderita kram di lengah usai babak perempat final, namun sudah pulih & tampil prima hari tersebut.

Ditanya mengenai anju mereka berikutnya di sesi final, Apri mengungkapkan untuk saat ini adalah perbaikan dulu.

“Kita mau berupaya lagi semaksimal agak-agak, kita tidak mau mikirin gimana nanti mainnya & kita mau istirahat dulu, recovery lagi, masih tersedia waktu satu hari lagi untuk persiapan, ” tinggi Apri sambil berharap sokongan yang terus-menerus dari masyarakat Indonesia.

Sumber tulisan, Jarang Foto

Tidak menyangka bisa ke final

Di dalam pernyataan yang dirilis PBSI, baik Greys dan Apri tidak menyangka bisa mengarungi jauh ke babak final.

“Saya masih belum membenarkan (masuk final). Sebelum berangkat saya sempat bilang, aku tidak pernah berpikiran main di Olimpiade secepat itu tapi tiba-tiba sekarang hamba ada di final, ” sahut Apri, yang tampil di Olimpiade Tokyo jadi debutan.

Dia pun mengungkapkan peran besar Greysia, dengan lebih berpengalaman.

“Saya mengucapkan terima kasih buat Kak Ge (Greysia Polii) yang sudah membawa beta sejauh ini. Saya sempat bilang untuk jangan berehat dulu, bermainlah dengan saya.

Dari situ saya diyakinkan melalui motivasinya, kerja kerasnya setiap hari, ketabahannya, dan keinginannya untuk menjelma juara, ” lanjut pemeran usia 23 tahun pokok Lawulo, Sulawesi Tenggara itu.

Sumber gambar, Antara Foto

Kesan serupa juga dilontarkan Greys. Dari tiga kali mengikuti Olimpiade,, di Tokyo ini lah dia mengambil prestasi tertinggi.

“Puji Tuhan. Rasanya istimewa. Ini Olimpiade ketiga saya dan kami tidak muda lagi. Besar edisi sebelumnya saya malang dapat medali tapi keadaan ini saya (dan serupa Apri) akhirnya bisa ke final. Menyumbang medali untuk Indonesia, ” kata Greys usai pertandingan.

“Saya merasakan situasi dan kondisi pada lapangan benar-benar menguntungkan awak. Kami menang kalah lawan mereka. Jadi kami tidak terlalu memikirkan tentang itu. Kami hanya menyiapkan yang terbaik, ” lanjutnya.

Bersantai Greys sempat kram

Tersebut mengulangi pencapaian luar normal mereka sebelumnya di bagian perempat final. Seperti dilansir laman PBSI, mereka menyudahi perlawanan pasangan China, Menyelaraskan Yue/Li Yin Hui lewat 3 set dengan skor 21-15, 20-22, 21-17 di waktu 97 menit.

“Kami merasa emosional setelah perlombaan hari ini. Tapi ana sadar tugas kami belum selesai, ” ujar Greys.

“Kami bersyukur dengan barang apa yang sudah kami capai tapi kami mau tepat fokus ke pertandingan selanjutnya. Kunci kemenangan kami tadi adalah bermain sabar untuk tidak terpancing pola pertunjukan mereka, ” jelas Greys.

Saat pertandingan tersebut sudah, Greys harus dipapah buat meninggalkan lapangan pertandingan karena mengalami kram.

Sumber tulisan, Kurun Photo

“Ada ketegangan pada otot paha Greys sehingga mengalami kram, sekarang sudah ditangani terapis untuk direcovery. Besok juga tersedia rest jadi harusnya seluruh baik-baik saja, ” papar Eng Hian, sang guru, yang dilansir laman badmintonindonesia. org.

Related Post