G30S: Tragedi 65 dalam corak, film dan ‘berbagi ingatan’ lewat media sosial awut-awutan Cara baru ‘perlawanan untuk pengungkapan kebenaran’

  • Ayomi Amindoni
  • Wartawan BBC News Nusantara

30 September 2021, 07: 28 WIB

Uchikowati Fauzie, Kaminah, Kusdalini, Agnes

Lebih dari 50 tahun setelah Peristiwa 65 berkecamuk, sejumlah generasi muda mengusulkan narasi alternatif sejarah 1965 melalui media sosial dan seni sebagai bentuk ‘perlawanan untuk pengungkapan kebenaran’.

Bayangan sekelompok hawa muda setengah telanjang tengah menari diiringi lagu Genjer-Genjer di depan para jenderal dalam kegelapan malam masih membekas di benak umum orang yang menghabiskan zaman kecilnya menonton film Pemberontakan G30S/PKI yang ditayangkan setiap tahun di TV di dalam zaman pemerintahan Soeharto.

Konotasi negatif tentang para perempuan yang dituding berperan dalam peristiwa yang dikenal sebagai Geger 65 tersebut tak lekang oleh zaman, bahkan setelah Orde Anyar lengser pada 1998.

Seperti yang pernah dialami Indraswari Agnes, pekerja pabrik kreatif berusia 33 tahun yang pernah disebut “Gerwani” oleh rekan kerjanya, hanya karena beda pendapat soal proyek yang mereka garap.

Baca juga:

Sebutan itu merujuk pada sistem perempuan yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dituding terlibat pada pembunuhan para jenderal.

“Kenapa sih mesti konotasi yang negatif itu ada pada Gerwani? Ini kan hal yang dari zaman saya SD sampai dewasa dijejali cerita kaya gitu, jika Gerwani itu buruk & segala macam, ” tutur Agnes ketika mengawali rapat dengan BBC News Indonesia.

Bersama kawan-kawannya, Agnes aktif dalam sejumlah order kolektif, Warisan Ingatan serta 1965 Setiap Hari, dengan memberi edukasi pada tingkatan muda dan mengkampanyekan narasi alternatif tentang Peristiwa 65 melalui platform media baik.

“Makin ke sini, rasanya kawan-kawan muda sudah mulai kritis untuk memahami atau memahami apa gerangan yang terjadi di tarikh 1965-1966, tragedi kemanusiaan apa sih. ”

Indraswari Agnes

Sumber gambar, Indraswari Agnes

“Ternyata ini bukan sekedar kebijakan doang lho. Ada [sekitar] 500. 000, nyaris satu juta, dengan dibunuh di masa itu. Terus ada kebohongan dengan dibuat selama 30 tahun oleh Soeharto, ” tuturnya.

Aksi mengkampanyekan riwayat alternatif sejarah 65 juga digaungkan oleh Dialita, kaum paduan suara beranggotakan para perempuan penyintas Peristiwa 65. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang dibuat para tahanan politik ketika di balik jeruji besi.

“Kami menyuarakan suara persahabatan dan perdamaian, melakukan perlawanan untuk pengungkapan kebenaran melalui media musik, dan itu diterima oleh banyak orang-orang muda, ” kata Uchikowati Fauzia, salah satu anggota Dialita yang selalu generasi kedua Peristiwa 65.

Uchikowati Fauzia

Sumber gambar, Ayomi Amindoni

Kebanyakan dari rani yang dituding terlibat pada Peristiwa 65, ditahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan. Kebengisan menjadi pengalaman yang membiasakan mereka rasakan.

Sesudah pembebasan, mereka harus berjibaku dengan trauma dan ciri akibat stereotip yang disematkan pada mereka oleh penguasa sebagai ‘penyiksa para jenderal’ dan menggemari ‘pergaulan bebas’.

Angin segar perombakan

Stigma itu situ langgeng meski Peristiwa 65 sudah berlalu ketika di era 1980-an, pemerintah Indonesia menugaskan sutradara Arifin C Noer membuat film dengan mengisahkan Peristiwa 65 dibanding kacamata pemerintah.

Hidup berjudul Pengkhianatan G30S/PKI itu menjadi tontonan wajib seluruh penduduk Indonesia hingga alhasil Soeharto lengser pada 1998 dan disusul dengan Reformasi.

“Di situlah beta merasakan reformasi itu jadi sebuah angin segar. Kok? Karena saya dan teman-teman baru [merasa] ini ada sebuah modifikasi, ” ujar Uchikowati ketika ditemui di rumahnya pertengahan Juni silam.

Hartati

Sumber gambar, Arsip Uchikowati Fauzia

Setelah itu, organisasi yang didirikan oleh para-para korban atau penyintas 65 bermunculan. Dalam pertemuan sesama penyintas, mereka bertukar picik dan pengalaman.

“Ketika kami bercerita, ternyata saya punya pengalaman yang pas, semua isinya stigma, trauma, ya pokoknya penderitaan. Tapi ketika kami bercerita penderitaan itu, saya dan teman-teman tertawa, tapi menangis. ”

“Ternyata begitu udah ketemu, pulang, kok lega ya. Saya tidak merasa tunggal, tidak merasa paling berat karena ternyata ketika bertemu, ‘Oh itu [ada yang] lebih berat lagi’.

Pada 2005, bertepatan dengan 40 tahun Perihal 65, generasi kedua daripada tragedi itu membuat sendi antologi puisi, cerpen serta esai, berjudul ‘Tragedi Kemanusiaan 65’.

Dialita

Sumber tulisan, Adrian Mulya

Di buku itu, Uchi menyumbang satu tulisan bertajuk Natal Kelabu.

“Ternyata menulis tersebut juga menjadi healing untuk kami. ”

“Dengan berdamai dengan diri tunggal itu membuat saya mampu lebih melihat dengan lurus peristiwa ini, bisa bertambah melihat ke depan semacam apa, ” tutur Uchi.

Bermula dari irama, lahirlah Dialita

Pertemuan sesama penyintas berlanjut dengan anjangsana ke eks-tapol perempuan dengan telah memasuki usia burit.

Untuk membiayai kunjungan itu, kata Uchi, terbesit ide untuk mengumpulkan dan menjual barang-barang bekas.

“Nah ketika sortir itulah kami berkumpul, kami serupa rengeng-rengeng (bersenandung).

B aca juga:

“Terus ada yang bilang gini, ‘Kenapa kita tidak bikin gabungan suara ya’. Paduan suara juga bisa buat ngamen, kita bisa dapat kekayaan, uangnya bisa kita gunakan juga untuk ibu-ibu, untuk biaya-biaya ini. ” nyata Uchi.

Nama Dialita dipilih setelah salah satu dari mereka mengusulkan nama tersebut, yang berarti “di atas lima puluh tahun”.

“Karena waktu itu kami rata-rata kan [berusia] di pada 50 tahun. Terus disetujui, dan jadilah paduan suara Dialita. ”

Paduan suara beranggotakan para penyintas 65 itu lahir pada 4 Desember 2011.

Dialita

Sumber gambar, Adrian Mulya

Lagu-lagu karya tapol di tahanan

Hal dengan istimewa dari paduan suara ini adalah lagu-lagu yang mereka nyanyikan merupakan pembawaan karya para tapol selama dalam penjara.

Uchi mengungkapkan, lagu-lagu itu sudah dikumpulkan oleh sesama anggota Dialita, Utati Koesalah kepala yang menjadi tapol tangsi politik tanpa proses pengadilan – sejak 2000.

“Kita belum tau bakal diapain, tapi kalau sudah dikumpulkan, mungkin suatu era ada orang-orang muda mampu menyanyikan lagu-lagu ini dan bisa dikenal bahwa ibu-ibu di dalam juga bekerja. ”

Salah satu corak dengan lirik menyentuh dengan dinyanyikan Dialita adalah pembawaan Ujian .

Mudjiati, yang pula bergabung dalam paduan suara tersebut, mengisahkan sejarah lagak itu bermula ketika dia dan Utati ditahan dalam penjara Bukit Duri.

Karena usianya pada era itu masih belia dan jauh dari orang sampai umur, ia kerap merindukan abu dan ibunya. Bersama kawan-kawan tapol sebayanya, ia kerap berbagi tangis di kala rindu dan lapar menghantam.

“Ibu-ibu ini ada dengan mau menghibur kita, suka ngajak kita supaya kita jangan putus asa, terjadilah itu dibuatkan sajak, dijadikan lagu untuk memberikan kita kekuatan, yaitu lagu Ujian . ”

Mudjiati, Uchikowati

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Ayomi Amindoni

Mudjiati mengutarakan, Ujian diciptakan oleh Siti Yus Zubairah, seorang tutor yang juga bernasib cocok seperti tapol perempuan yang lain, ditahan tanpa jalan pengadilan.

Lagu itu menjadi pembuka album pertama yang dirilis pada 2016. Ketika latihan bernyanyi dan pentas, Dialita dibantu oleh Martin Lapanguli — yang turut diasingkan ke Pulau Buru — sebagai pelatih dan konduktor.

Martin Lapanguli meninggal pada Agustus 2021 lalu.

‘Perjumpaan dengan generasi muda’

Semasa beberapa tahun terakhir, pra pandemi, Dialita kerap menjadikan konser di sejumlah kawasan, termasuk berkolaborasi dengan musisi muda seperti Bonita, Frau dan Cholil Mahmud sebab Efek Rumah Kaca.

Dituturkan Uchi, pentas itu di Jogja Biennale di 2015 menjadi “titik balik” dari suatu perjumpaan.

“Itu sebuah titik ketika Dialita bertemu, ada perjumpaan Dialita dengan orang muda, yang orang muda ini bukan keluarga 65, bukan pencetus, tapi mereka adalah seniman, dan juga mahasiswa.

“Perjumpaan itu lah yang membuat Dialita itu menjelma berubah, tidak hanya ego ini korban, tapi Dialita menjadi sesuatu yang diterima oleh anak muda yang sama sekali tidak ngerti 65, ” katanya.

Lebih lanjut Uchi mengatakan, bagi para penyintas, menyanyi bisa “memulihkan diri daripada trauma”.

Dialita

Sumber tulisan, Adrian Mulya

Tengah bagi pendengar, menurut Uchi, lagu Dialita “bisa meluluskan ruang” bagi generasi muda untuk mengenal Peristiwa 65 melalui lagu-lagu yang dinyanyikan.

“Pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak muda — tentu dibanding hati mereka — kenapa lagu itu diciptakan di penjara? Kenapa ibu-ibu dipenjarakan? Apa yang menjadi penyebabnya? ”

“Pertanyaan-pertanyaan itulah ternyata setelah mendengar lagu-lagu Dialita menimbulkan sejumlah pertanyaan & pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian anak-anak muda mencari terang. Sudah banyak tersedia jalan sosial, kami tidak menetapkan menggurui, ” terang Uchi.

“Akhirnya kami punya kesimpulan bahwa melalui lagu-lagu tersebut lah kami bisa menyelenggarakan sebuah perlawanan dengan cara mungkin baru, karena sebelumnya melalui advokasi. ”

Permufakatan untuk ‘berbagi ingatan’

Kaya diungkapkan oleh Uchi, di media sosial, bermunculan beramai-ramai sejumlah generasi muda dengan menyuarakan narasi alternatif mengenai 65, salah satunya merupakan Warisan Ingatan.

Kolektif ini memanfaatkan platform webinar yang marak di sedang pandemi Covid-19, dengan mengundang penyintas sebagai pembicaranya.

Awalnya, diskusi daring itu dimaksudkan untuk “berbagi ingatan”, kata Gloria Truly Estrelita, salah satu pencetus ide Warisan Ingatan, yang serupa peneliti tentang 65.

Gloria Truly Estrelita

Sumber gambar, Gloria Truly Estrelita

“Dialog antar generasi, tujuannya begitu, makanya kok judulnya Warisan Ingatan, & kenapa juga akhirnya kita bikin ruang seperti itu, karena memang untuk melengkapi apa [yang dilakukan] kawan-kawan lainnya yang telah memulai pergerakan terkait rumor ini, ” ujar Truly.

Kolektif lain ialah 1965 Setiap Hari dengan menggunakan platform media sosial seperti siniar (podcast), instagram dan situs web untuk menggemakan narasi alternatif tentang 65. Indraswari Agnes rajin di dua kolektif itu.

“Kami di Warisan Ingatan dan 1965 Pada setiap Hari selalu bilang, kita semua itu korban ajakan Orde Baru, bukan hanya keluarga dalam sejarah doang, tapi kita semua itu korban, karena ada sejarah atau ada masa semrawut negara ini yang dihilangkan, atau dianggap baik-baik sekadar, ” cetus Agnes.

Para pemenang kehidupan

Cara lain ditempuh oleh fotografer Adrian Mulya, yang membaktikan proyek fotonya untuk para perempuan penyintas 65.

“Saya tuh produk dari Orde Baru, lalu di pikiran saya ada mengecap penasaran tentang Gerwani, sebab hasil cuci otak Susunan Baru masuk ke tokoh saya, gambaran Gerwani dengan kejam dan segala ragam, ” ujar Adrian.

Narasi sejarah yang dia dapat dari pemerintah Susunan Baru runtuh kala Adrian berkenalan langsung dengan para perempuan penyintas 65.

Perjumpaan itu yang lalu menginspirasinya membuat proyek fotografi mendokumentasikan para perempuan penyintas Peristiwa 65 di berbagai daerah.

Suti

Sumber gambar, Adrian Mulya

Kemaluan tujuh tahun lamanya untuk Adrian untuk memungkasi tampang foto yang ia sokong judul ‘Pemenang Kehidupan’ itu.

Ada 20 potret para penyintas yang ia abadikan dengan kamera analog medium formatnya.

Utati dan Mudjiati, termasuk menjelma subjek dalam buku itu.

“Saya memberi ‘label’ para mbah ini winners of life , pemenang kehidupan, sebab buat saya dengan ustaz panjang para mbah itu membuat mereka menjadi winners of life.

Sutradara Fanny Chotimah, juga mengabadikan hari-hari terakhir eks tapol perempuan, Kaminah dan Kusdalini, besar sahabat yang bertemu pada penjara sekitar setengah masa yang lalu karena dituding terlibat PKI.

Kaminah, Kusdalini

Sumber gambar, Adrian Mulya

Sama seperti dengan lain, keduanya tak pernah menjalani proses pengadilan.

Oleh kritikus film Hikmat Darmawan, karya Fanny berhasil menguak sisi lain kesibukan para penyintas 65 dengan gaya observasional – lupa satu metode dalam film dokumenter yang memerlukan ancangan yang sangat intim dengan para subjek – sehingga mereka “sampai pada periode tak sadar kamera”.

Ancangan ini, kata Hikmat, mendirikan pemirsa merasa “duduk bersama” dan “mengamati” para pokok dalam film itu.

Fanny Chotimah, You and I

Sumber gambar, Arsip Fanny Chotimah

Kepada BBC Nusantara, Fanny berharap karyanya bisa menjadi “tambahan informasi” serta “ruang diskusi” bagi tingkatan muda tentang Peristiwa 65.

“Mereka tidak ada ketakutan akan stigma. Mereka lebih mudah punya empati terhadap para penyintas serta itu semoga hal cara untuk mereka tetap Jas Merah, jangan melupakan sejarah.

“Jadi meskipun mereka tak terimbas secara langsung akan tetapi sejarah bangsa ini pula sejarah kita, semoga keingintahuannya masih tinggi untuk membicarakan itu, atau untuk membantu para penyintas, ” cakap Fanny.

‘Berpacu secara waktu’

Komisioner Komnas Hawa, Siti Aminah Tardi, mengatakan upaya mentransformasikan pengetahuan tentang sejarah 65 ke generasi muda “sangat penting supaya kita tidak lagi mengulangi sejarah kelam”.

Di bagian lain, kata Ami, tingkatan saat ini “berpacu secara waktu” sebab kebanyakan para-para penyintas kini sudah menginjak usia senja.

“Satu per satu semakin ingat akan apa yang terjadi dan kemudian meninggal. Sementara upaya-upaya untuk keadilan, fakta dan pemulihan, maupun perbaikan itu belum dilakukan, ” ujar Ami.

Menyuarakan juga:

Kendati begitu, Ami menyebut inisiatif dengan dilakukan saat ini dengan menawarkan narasi alternatif mengenai 65 sebagai “keberpihakan kepada korban” yang memungkinkan rekonsiliasi di level masyarakat lebih bisa diterima, ketimbang rekonsiliasi yang dilakukan negara.

“Seharusnya diakui bahwa memang terjadi kekerasan dan pengingkaran hak orang sepanjang tahun 1965-1970. Maka harus tersedia proses-proses minta maaf, ada proses rekonsiliasi yang datang saat ini belum dilakukan melalui mekanisme UU mahkamah HAM atau melalui negara, ” katanya.

Mengenai, April silam, Presiden Joko Widodo menyiapkan unit kerja penanganan kasus HAM — termasuk tragedi 65 jadi ‘penyelesaian secara kemanusiaan’.

A suspected sympathizer with the Communist-led abortive coup of October 1th is questioned under gunpoint. The Indonesian Army is continuing its careful screening in an effort to uproot dissenters.

Sumber gambar, Bettmann / Getty Images

Timbul Sinaga, Direktur Instrumen HAM dalam Kemenkumham mengatakan tugas lantaran badan yang diberi etiket Unit Kerja Presiden Untuk Penanganan Peristiwa Pelanggaran HAM yang Berat (UKP-PPHB) tersebut adalah memenuhi hak pokok keluarga dan korban pelanggaran HAM berat berdasar kebutuhan mereka, termasuk pendidikan, kesehatan tubuh dan bantuan finansial.

Tanggungan dan korban pelanggaran PEDOMAN berat yang akan dipulihkan hak dasarnya adalah mereka yang terlibat dalam kasus-kasus yang pernah diselidiki Komnas HAM.

Presiden Jokowi, pemerintah akan membentuk badan seleksi (pansel) untuk mengangkat anggota pelaksana yang terdiri dari ketua, wakil pemimpin dan anggota dari tipu masyarakat.

Dalam perpres itu juga disebutkan bahwa pemerintah tidak akan mengulangi kesusahan pelanggaran HAM berat pada masa lalu. Dalam peristiwa ini, kata Timbul, tidak ada klausul “maaf” dibanding pemerintah, tapi “menyesali”.

Uchikowati Fauzia, yang ibunya ditahan selama tujuh tahun minus diadili karena dianggap berperan G30S, mengaku tak berniat banyak pada rencana pemerintah sebab “sudah terbiasa dengan harapan-harapan semu”.

Uchikowati Fauzia

Sumber tulisan, Dwiki Muharam

Namun, ia menegaskan upaya “rekonsiliasi tetap harus disertai pengungkapan kebenaran”.

“Apa yang sudah berlaku pada tahun 65 itu? Karena itulah yang memutar penting, tentang kebenaran itu. Kami dari generasi ke-2 juga ingin tahu kenapa sih ibu saya ditahan sampai tujuh tahun minus proses hukum”.

Mudjiati, penyintas 65 yang berpindah dari satu tahanan satu ke tahanan yang lain tanpa proses pengadilan selama 14 tahun, justru mengiakan pasrah.

“Saya nggak memperkirakan yang terlalu muluk-muluk. Udah jalani aja udah. Kalau memang nanti ada pemulihan, syukur. Nggak , ya udah lah. Saya sudah punya kalian-kalian mau dengar cerita awak aja udah, itu telah menghibur. ”

Related Post

'Paduan spirit keislaman dan sosialisme' di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: 'Susah dan senang, kami tanggung bersama'

‘Paduan spirit keislaman dan sosialisme’ di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: ‘Susah dan senang, kami tanggung bersama’‘Paduan spirit keislaman dan sosialisme’ di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: ‘Susah dan senang, kami tanggung bersama’

6 jam yang lalu Sumber gambar, Nanda Fahriza Batubara Suatu kampung di Langkat, Sumatra Utara dinamai Kampung Majelis Ta'lim Fardhu — lazim disebut Kampung Matfa — yang menjalankan kebersamaan