‘Duta masker’ dan ketaatan dalam protokol kesehatan, ‘jangan siap lucu-lucuan dan insidental saja’

7 menit yang awut-awutan

Sumber tulisan, AMPELSA/ANTARA FOTO

Mas status ‘duta masker’ oleh pihak berwenang di Surabaya dan Bekasi kepada dua orang yang semula menumpukan mengenakan masker dan lalu berbalik mendukungnya, dipertanyakan oleh seorang pakar kesehatan kelompok.

Dia meminta biar tindakan itu tidak bersifat insidental dan bukan jadi bentuk hukuman kepada perut orang yang semula anti-masker dan kemudian berbalik mendukungnya.

“Jangan dijadikan sejenis hal yang sifatnya insidentil, apalagi [pemberian status duta masker] cukup kontroversial. Jadi, nyata apakah ini hukuman ataupun sebuah strategi. ” logat pakar kesehatan masyarakat lantaran Universitas Padjajaran, Bandung, Deni Kurniadi Sunjaya, kepada BBC News Indonesia, Kamis (06/05).

Seorang warga Surabaya, Putu Aribawa, yang dikenai hukuman sosial dan administrasi pokok ‘kampanye’ anti-masker melalui video, ditunjuk sebagai duta kedok oleh pihak berwenang setempat, setelah dia mengaku bertobat.

“Pasti kami khilaf. Sangat serius hamba berubah, apalagi semua karakter menyoroti saya. Pandemi ini memang ada. Saya yang semula tak mengenakan kedok, lalu mengenakan masker, ” kata Putu Aribawa kepada BBC News Indonesia, Kamis (06/05).

Dia kemudian ditugasi mengampanyekan penggunaan masker mencuaikan media sosial yang dimilikinya.

Sumber gambar, Roni Fauzan/Istimewa

Adapun Eddy Christijanto, Koordinator bidang pengamanan dan penegakan hukum Gugus suruhan percepatan penanganan Covid-19 Pemkot Surabaya, mengeklaim pemberian status duta masyarakat kepada Putu Arimbawa akan mampu mengedukasi masyarakat agar taat aturan kesehatan.

“Orang-orang yang pernah melakukan sesuatu itu [menolak masker] akhirnya menjelma sadar, menjadi faktor tersendiri untuk mempengaruhi orang buat mempertahankan protokol kesehatan, ” kata Eddy Christijanto.

Sementara di kota Bekasi, Jawa Barat, seorang awak bernama Nawir yang merampus dan mencopot masker seorang jemaah di sebuah masjid, kemudian meminta maaf sesudah tindakannya menimbulkan kemarahan masyarakat di media sosial.

Baca juga:

Sumber gambar, Kompas. com/Istimewa

Belakangan setelah difasilitasi sebab pihak berwenang, Nawir dan pihak pengelola masjid meminta maaf dan sepakat berdamai dengan korban. Dan si pelaku kemudian ditunjuk sebagai duta masker.

Kebijaksanaan pihak berwenang di Surabaya dan Bekasi ini kemudian menimbulkan polemik di klub.

Di sinilah, taat Deni Sunjaya, pemerintah seharusnya lebih fokus untuk mengampanyekan penggunaan masker yang lebih masif.

“Mudah-mudahan mereka [yang ditunjuk sebagai duta protokol kesehatan] sadar, walaupun mungkin sifatnya seperti ‘lucu-lucuan’ dan sifatnya kontroversi, tapi yang lebih penting serta harus dilakukan [pemerintah] adalah kampanye penggunaan masker yang harus murni, ” kata Deni Sunjaya.

‘Naikkan denda bagi pelanggar protokol kesehatan’

Tempat juga mendukung apabila pemerintah menunjuk sebanyak mungkin utusan protokol kesehatan di pada setiap kabupaten atau kota.

“Kuncinya harus masif, libatkan pula guru, dosen serta kepala sekolah, misalnya masa sekolah tatap muka dibuka nanti, ” kata Deni.

Hal ini ditekankan Deni karena ketaatan pada penerapan masker dan protokol kesehatan lainnya merupakan salah-satu jalan paling krusial untuk menyalahi penularan covid.

“Jadi jika kita menggunakan masker, kemerosotan tranmisinya sangat besar sekali prosentasenya, ” ujarnya.

Sumber gambar, Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Dia kemudian mengutip masukan lembaga internasional yang menyebut jika suatu negara penggunaan maskernya di atas 95% itu dapat melindungi bisa melindungi dari paparan covid.

Dari hasil penelitian CEDS Universitas Padjajaran, yang membawabawa dirinya, pada Maret-April 2020 lalu, sebanyak 30% dan 40% masyarakat Indonesia tidak mematuhi protokol kesehatan.

Deni pun menyarankan pemerintah perlu membuat aturan yang lebih keras, salah satunya menimbulkan denda yang besar bagi pelanggar protokol kesehatan.

Mengapa Putu Aribawa ditunjuk sebagai duta?

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Surabaya, Eddy Christijanto, mengungkapkan bahwa Putu Aribawa berganti sikap dengan menyesali perbuatannya setelah menjalani hukuman di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Kota Surabaya.

Sudah menjalani hukuman, Eddy memberinya tugas sebagai duta aturan kesehatan.

Salah satu perintah sebagai duta, ungkap Eddy, adalah mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat terkait dengan adat kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Bisa mencuaikan media sosial, kebetulan Putu punya akun di Instagram dan Twitter, katanya.

“Dan dia sanggup. Kami bilang, ‘Pasti nanti setelah ini follower kamu banyak, ‘” kata Eddy kepada wartawan di Surabaya Roni Fauzan, untuk BBC News Indonesia, Kamis (06/05).

Sumber gambar, SIGID KURNIAWAN/ANTARA MENJEPRET

Eddy yakin perubahan sikap Putu itu & menjadikannya sebagai duta bakal membuatnya beralih status dari ” zero menjadi hero ” terkait kesadaran bermasker.

“Dari sesuatu yang negatif, kesudahannya dia mendapatkan sesuatu sebab orang yang ingin berkarib sama dia banyak, sehingga mungkin dengan kesadaran tempat, kata-kata dia menjadi sejenis input bagi masyarakat.

“Dan semoga bisa mempengaruhi bahwa protokol kesehatan, utamanya memakai masker dan jaga jarak, adalah sesuatu dengan sangat utama dalam zaman pandemi, ” ujarnya

Untuk itu, menurut Eddy, pihak berwenang di Surabaya langgeng memelihara kontak dengan Putu.

Sebagai duta, tempat harus siap memberikan keterangan dan memotivasi orang-orang buat tidak anggap enteng covid dengan disiplin menerapkan aturan kesehatan.

“Jadi bahan kami adalah bagaimana dengan kejadian Putu ini dia menjadi sesuatu, menjadi daya ungkit bagi masyarakat buat semakin taat dengan protokol kesehatan, walaupun apa yang dilakukan dimulai dari suatu kesalahan, ” ujar Eddy.

Apa yang akan dilakukan Putu Aribawa?

Di dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Kamis (06/05), Putu Aribawa mengaku khilaf berasaskan perbuatannya tersebut.

“Pasti saya khilaf. Sangat serius aku berubah, apalagi semua orang menyoroti saya, ” ujarnya.

Sumber gambar, Oky Lukmansyah/ANTARA MENJEPRET

Jika semula dia meragukan kebenaran adanya pandemi, kini dia mengakuinya. Untuk itulah, “saya yang awal tak mengenakan masker, lulus mengenakan masker, ” katanya.

Tentang sikap pesimisme beberapa masyarakat terhadap penunjukkannya sebagai duta protokol kesehatan, Putu berulangkali menekankan bahwa dirinya “sangat serius” sudah berubah.

“Apalagi semua orang menyorot saya. Saya harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakat sekitar, ” ujar Putu.

Dia juga berkomitmen untuk mengampanyekan agar asosiasi menaati protokol kesehatan melalaikan media sosial miliknya.

“Syukur, syukur kalau follower saya nambah, sehingga manuver saya makin banyak dilihat banyak diantara kita, ” ungkap pria berusia 28 tahun tersebut.

Related Post