Covid di Indonesia: ‘Puncak bukit es’ di tengah lonjakan kasus akibat mobilisasi warga dan varian baru

  • Ayomi Amindoni
  • Wartawan BBC News Indonesia

2 jam yang lalu

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

Tren kasus Covid-19 dan keterisian tempat tidur rumah lara – khususnya di Sumatra – yang terus mengalami peningkatan di tengah laporan tambahan kasus varian sebab Inggris dan India merupakan “puncak gunung es” yang menunjukkan Covid-19 di Nusantara jauh lebih parah sebab kenyatannya, kata epidemiolog.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bertambahnya kasus varian baru dan mobilisasi penduduk selama liburan Lebaran berkontribusi pada gaya lonjakan kasus selama kurang hari terakhir – mencapai 5. 000 kasus mulai hari – yang diprediksi akan terus meningkat sampai pertengahan Juni.

Spesialis epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Berakal, menyebut tren lonjakan peristiwa selama sepekan terakhir adalah “sinyal yang sangat serius” di tengah “minimnya pengetesan dan pelacakan”.

“Dengan situasi minimnya testing & tracing , di tengah sebagian urusan terjadi di rumah-rumah serta ada peningkatan di rumah sakit, itu adalah puncak gunung es yang sudah menyentuh rumah sakit. Berarti, kasus yang sebenarnya di daerah jauh lebih serius, harus dilakukan pendataan ke rumah-rumah, ” kata Dicky Budiman kepada BBC News Indonesia, Senin (24/05).

Baca serupa:

Di sisi lain, ia memprediksi pada dua hingga tiga bulan ke depan Indonesia akan menghadapi lonjakan kasus Covid-19 dengan semakin banyaknya kasus varian B117 dari Inggris dan varian B1617 lantaran India yang ditemukan Nusantara.

Badan Penelitian serta Pengembangan Kementerian Kesehatan melahirkan bahwa sudah ada 54 kasus mutasi virus SARS-Cov-2 yang tergolong varian t of concern (VoC), dengan rincian 18 urusan B117, 32 kasus B1617 dan 4 kasus varian B1351 dari Afrika Daksina.

Empat provinsi di Sumatra, yakni Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau dan Sumatra Selatan, termasuk dalam daerah merah Covid-19 dengan efek tinggi.

Sumber gambar, KURUN FOTO/Teguh Prihatna

Departemen Kesehatan mencatat rata-rata keterisian ranjang atau bed occupancy rate (BOR) di Nusantara berkisar 30%, namun dalam Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau di atas 50%. Riau mencatat rata-rata BOR unit perawatan intesif (ICU) tertinggi, yakni 65%.

Jumlah itu melebihi ambang batas aman bagian BOR rumah sakit dengan ditetapkan Organisasi Kesehatan Negeri (WHO), yakni sebesar 60 persen.

‘Keterisian ICU 80 % maka 100%’

Suasana dalam Pasar Raya Padang di dalam Minggu (23/05) tampak penuh dijejali dengan warga yang berbelanja. Mereka tampak berimpitan satu sama lain pada antara lapak-lapak pedagang yang berjejer tanpa menjaga senggang. Kebanyakan dari mereka, tampak tak mengenakan masker.

Situasi abai protokol kesehatan tubuh juga tampak terjadi di Pantai Padang, pada Minggu (23/05) sore.

Sumber gambar, Agus Embun

Salah satu warga, Maharajo, seorang sopir angkot dalam Padang, mengaku tak sedang percaya dengan Covid serta menyebutnya sebagai “konspirasi”.

Kendati ada tren pelonjakan kasus di tempat tinggalnya, pria berusia 40 tahun ini mengaku tak curiga dengan bahaya Covid-19.

“Percaya nggak percaya. Dengan mati itu tetap mau mati, itu takdir Tuhan. Saya masih tetap tidak percaya, ” ungkap Maharajo kepada wartawan Agus Uap yang melaporkan dari Padang, Sumatra Barat.

“Saya ngerasa itu bisnis industri pandemi. Contohnya vaksin, masak vaksin itu yang harus kita pakai? Apa tidak tersedia pilihan lain? Obat flu aja ada pilihannya, masa vaksin nggak ada pilihannya? Jadi saya tidak percaya itu, pandai-pandai mereka aja, ” katanya.

Situasi senada diungkapkan oleh warga di Padang Pariaman, Armaini, yang menyebut tak merasakan perlu mengenakan masker dan menerapkan protokol kesehatan dengan lain.

“Banyak wafat karena Covid. Di sini, tak ada orang wafat. Tapi ada yang demam dan batuk langsung dibilang Covid. Dulu, kalau batuk darah itu adalah penyakit yang sudah lumrah terjadi pada setiap orang. Karena ciri cuaca saja itu, ” jelas Armaini.

Sumber gambar, Agus Embun

Gaya penambahan kasus di Sumatra Barat yang terjadi belakangan, membuat salah satu rumah sakit yang menangani penderita Covid-19, RPSUP DR. M Djamil Padang, kewalahan.

“Pasien kita sekarang ini lebih kurang 120 dengan dirawat yang positif Covid, pasien tersebut dirawat dalam ruang ICU. Ruang ICU kita itu keterisiannya bertambah kurang 80%. Kemudian, kadang-kadang kala ruang ICU yang pakai ventilator keterisiannya mampu 100%, ” kata Gustafianof, juru bicara RSUP DR. M Djamil Padang.

Tengah keterisian tempat tidur dalam ruang isolasi perawatan Covid, lanjut Gustafianof, kurang lebih 40-50%.

Sumber gambar, Agus Embun

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, manajemen rumah sakit menyiapkan ruang tambahan dengan 84 wadah tidur, 20 ranjang di antaranya untuk perawatan intesif.

Adapun, rata-rata keterisian tempat tidur rumah rendah di Sumatra Barat serta Riau sebanyak 53%. Namun di Sumatra Utara sejumlah 58%.

‘Hampir seluruh Sumatra alami kenaikan’

Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kemenkes Kesehatan Azhar Jaya mengungkapkan dekat seluruh provinsi di Sumatra mengalami kenaikan kasus Covid-19.

Bahkan, tren peningkatan kejadian di Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat dan Kepulauan Riau telah terjadi pra masa libur panjang Lebaran.

“Ini kita perkirakan karena provinsi-provinsi ini dengan banyak pekerja migrannya serta memang sangat sulit sekali, berdasar keterangan para besar dinas dan direktur sendi sakit, karena banyak sekali punya pos lintas batas tradisional, ” ujar Azhar dalam rapat koordinasi satuan tugas penanganan Covid-19 Nasional, Minggu (23/05).

Sumber gambar, Satgas Covid-19

“Maka istimewa untuk Sumatra trennya nggak turun-turun, naik terus. Oleh sebab itu ini adalah lima provinsi yang kami terus cermati, karena ada potensi selain mudik lokal, PMI-nya pula sangat tinggi, ” imbuhnya.

Tren peningkatan kasus juga terjadi di seluruh provinsi di Pulau Jawa, sebagai imbas dari mobilisasi penduduk selama libur panjang Lebaran.

Wakil Gajah Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menambahkan mobilisasi penduduk, di tambah semakin meningkatnya jumlah kasus varian baru di Indonesia, berkontribusi pada total peningkatan kasus Covid-19.

“Kita bisa melihat di empat hari terakhir, pengembangan kasus baru itu menyentuh 5. 000 [per hari]. Ini menunjukkan mobilisasi selama Ramadan sudah terlihat minggu ini.

Sumber tulisan, ANTARA FOTO/Teguh Prihatna

“Prediksi yang kita lakukan, mungkin akan mencapai peningkatannya datang pertengahan Juni, ” introduksi Dante dalam konferensi pers, Senin (24/05).

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, menyuarakan tren lonjakan kasus semasa sepekan terakhir adalah “sinyal yang sangat serius” pada tengah “minimnya pengetesan dan pelacakan”.

“Dengan status minimnya testing dan tracing , di tengah sebagian kasus berlaku di rumah-rumah dan ada peningkatan di rumah melempem, itu adalah puncak gunung es yang sudah mengenai rumah sakit. Artinya, kasus yang sebenarnya di wilayah jauh lebih serius, kudu dilakukan pendataan ke rumah-rumah, ” kata Dicky.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Kasus varian dari India dan Inggris bertambah

Dante menambahkan, mematok kini Kementerian Kesehatan telah mencatat 54 kasus varian yang dikategorikan sebagai variant of concern oleh WHO, yang berasal dari Inggris, Afrika Selatan dan India. Jumlah ini meningkat tiga kali lipat ketimbang total 17 kasus yang tercatat pada April lalu.

“35 antara lain berasal dibanding migran dari luar Nusantara dan 19 kasus berawal dari Indonesia, jadi sudah ada penyebaran internal dari varian tersebut. ”

“Kombinasi antara mobilisasi dan mutasi dari virus menyebabkan peristiwa ini akan meningkat di dalam beberapa saat ke pendahuluan, ” jelas Dante.

Sumber gambar, PA Media

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, memprediksi dalam dua bulan ke depan, Nusantara akan menghadapi lonjakan kejadian varian B117 yang berawal dari Inggris.

Disebutkan oleh Dicky, varian tersebut menambah tingkat keparahan penyakit sehingga akan membuat orang-orang yang disebut rawan – baik dari segi piawai dan komorbiditas – hendak cenderung mencari layanan kesehatan.

Menurutnya, potensi tersebut akan jauh lebih membatalkan lagi dua-tiga bulan ke depan dengan adanya buah dari varian B1617 sebab India, sebab data terakhir menunjukkan B1617 memiliki hasil atau gejala kinlis yang cenderung lebih buruk sejak B117.

Di bagian lain, infection contraction transmission varian ini 50-60% lebih tinggi dari B117, sebutan Dicky.

“Baru tiba ya, tapi belum puncaknya, ” katanya.

Sumber gambar, Getty Images

Minimnya surveilans genomik varian virus corona, kata Dicky, menyusun Indonesia “tidak terlalu menyelami pemetaan varian yang bersirkulasi di Indonesia saat tersebut secara menyeluruh”.

Adapun, merujuk data Kementerian Kesehatan, hingga kini telah dilakukan satu. 749 sekuens genomik virus Sars-Cov2.

Dari danau, tercatat ada 54 urusan dengan rincian 18 kejadian varian B117 dari Inggris, empat kasus varian B1351 dari Afrika Selatan dan 32 kasus varian B1617 dari India.

Kejadian varian baru itu kebanyakan berasal dari pekerja migran Indonesia (PMI) yang balik ke kampung halaman lantaran sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Ghana dan Malaysia.

Sisanya, berasal sebab warga negara asing yang tiba dari Taiwan, Singapura dan India.

Sumber gambar, Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO

Mengapa Covid di Indonesia tampak terkendali?

Di zaman Indonesia menghadapi tren lonjakan kasus selama empat hari terakhir, negara-negara tetangga pada Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand, telah lebih dulu menikmati lonjakan kasus.

Tetapi tak seperti negara-negara pada kawasan, situasi Covid pada Indonesia tampak lebih terarah, mengapa demikian?

Baca juga:

Pakar epidemiologi Dicky Budiman membicarakan “situasi di Indonesia serupa tidak ada masalah” pokok kebanyakan warga Indonesia sedang mengaggap enteng Covid-19 dan memilih untuk mengobati keburukan secara mandiri ketimbang merujuk ke fasilitas kesehatan.

Budaya seperti ini, kata Dicky, juga terjadi di India dan Brazil sebelum pada akhirnya terjadi lonjakan kasus dan fasilitas kesehatan tubuh kewalahan.

Indonesia, menurutnya, memiliki pra-kondisi di mana “tsunami Covid” seperti yang terjadi di India, kemungkinan terjadi.

“Itu dengan menyebabkan India seperti sekarang ini dan itu akan berpotensi dialami di Nusantara, paling tidak dua-tiga bulan ke depan. Ini menanggapi kenapa Indonesia seperti tidak ada masalah, kalau diperiksa, banyak, ” kata tempat.

Sumber gambar, Ravi Kumar/Getty

Pengetesan dan penyelidikan minim

Lebih lanjut, Dicky menyatakan bahwa laporan harian Covid-19 di Indonesia, cuma sepersepuluh dari estimasi permodelan epidemiologi kasus harian, yang menurutnya, tak memenuhi logika program epidemiologi.

Dalam logika epidemiologi, kasus bisa diklaim mengalami penurunan jika positivity rate maksimal 5%. Namun di Indonesia, kasus diklaim turun dalam kondisi positivity rate tinggi, yakni sekitar 10%.

“Itu adalah petunjuk banyak kasus tidak terkendali karena logika program epidemiologi, jika ada 5, 000 kasus dilaporkan dalam 3×24 jam ada 100, 000 testing, itu minimal.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

“Tapi kita tidak pernah melihat itu selama satu tahun terakhir. Itu menggambarkan dari kepala kasus positif itu tak tuntas tracing -nya, bagaimana kita berharap karantinanya efektif?

“Yang dilaporkan pemerintah tidak menggambarkan angka yang sesungguhnya. Makin di angka kematian saja itu tidak mendekati dalam kondisi yang hampir nisbi riil, apalagi angka-angka kejadian poisitifnya, ” jelas Dicky.

Pakar permodelan matematika dari Institut Teknologi Enau, Nuning Nuriani menyebut daya pengetesan memang berkurang sebab relawan tracing dan testing berhenti. Akibatnya, sumber daya untuk melakukan pengetesan serta pelacakan kurang.

“Oleh sebab itu karena kurang dites kasusnya tampaknya tidak terlihat. Padahal kalau dlihat data bulan-bulan terakhir positivity rate-nya tinggi, kisarannya 20-40% padahal kita tahu standardnya 5%. Jadi belum aman sama sekali.

“Berkaitan dengan varian baru yang ditemukan, tentu saja tersebut menambah kecepatan penyebarannya, ” jelas Nuning.

Sumber gambar, Insitute of Health Metric and Evaluation

Kajian itu memprediksi bahwa lebih dari 123. 000 karakter meninggal karena Covid-19 semenjak dimulainya pandemi pada Maret tahun lalu. Jumlah itu lebih dari dua kala lipat dari total angka resmi Satgas Covid-19 sebanyak sekitar 49. 000.

Adapun hingga kemarin, Indonesia mencatat hampir 6. 000 harian dengan jumlah menyeluruh lebih dari 1, 7 juta kasus terkonfirmasi.

Related Post