Covid di Indonesia: Lonjakan kejadian terjadi di Madura, epidemiolog duga jumlah sebenarnya mampu jauh lebih besar

5 jam yang lalu

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Setelah Tanah air Kudus di Jawa Sedang, lonjakan tajam kasus Covid-19 kini terjadi di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Seluruh tempat tidur vila sakit yang disediakan buat pasien Covid-19 di kabupaten itu sekarang sudah terisi hampir 100%.

Pakar kesehatan masyarakat menduga total kasus Covid-19 di Bangkalan sebenarnya jauh lebih tinggi ketimbang yang sudah tercatat. Jumlah tes yang kurang disebutnya menyembunyikan banyak peristiwa di bawah permukaan.

Otoritas kesehatan di Jawa Timur mengeklaim telah membatasi kesibukan warga tiga kecamatan di Bangkalan yang digolongkan zona merah. Namun apakah cara ini cukup?

Mengaji juga:

Ginan, warga Bangkalan, mengaku telah mengurangi aktivitas pada luar rumah sejak pandemi terjadi. Risiko dirinya tertular virus corona kini menyusun karena dua kampung pada sebelah desanya tengah diguncang Covid-19.

Khawatir orang tuanya yang berusia lanjut terpapar Covid, Ginan berharap pemerintahan Bangkalan berupaya maksimal mengatasi penyakit ini.

“Sejak pandemi saya jarang keluar sendi. Kalau mau berkumpul secara keluarga ya di vila saja, ” ujarnya, Senin (07/06).

“Saya cemas karena daerah yang rawan berjajar dengan desa saya. Orang tua dan nenek beta di rumah sudah lansia. Mereka juga sering batuk-batuk.

“Bupati sebagai pimpinan sepantasnya tegas, apa saja dengan harus dilakukan dalam perihal seperti ini, ” kata pendahuluan Ginan.

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Tiga kecamatan dalam kabupaten yang berada pada Pulau Madura itu, yaitu Arusbaya, Klampis, dan Bangkalan, dinyatakan sebagai zona merah kasus Covid-19.

Dua puskesmas dan satu rumah kecil umum milik daerah dalam tiga kecamatan itu ditutup dalam beberapa hari terakhir. Puluhan tenaga kesehatan di lembaga itu positif Covid.

Juru Bicara Satgas Pengerjaan Covid-19 Bangkalan, Agus Sugianto Zein, menyebut 87 dari 90 tempat tidur khusus anak obat penyakit ini juga telah terisi.

Padahal, merujuk kaki penanganan pandemi yang ditata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), keterisian peraduan khusus ini semestinya tidak boleh bertambah dari 60%.

Lonjakan urusan ini, menurut Agus, dipicu aktivitas silaturahmi tatap membuang masyarakat saat libur Idul Fitri lalu dan arus kepulangan pekerja migran lantaran luar negeri.

“Ada kebiasaan saling mengunjungi saat lebaran. Saat itu masyarakat jadi sudah mengabaikan protokol kesehatan tubuh, ” kata Agus.

“Situasi itu ditambah kepulangan praktisi migran yang paling penuh ke Kecamatan Arusbaya. Maka kami sekarang meminta kesibukan masyarakat di sana diperketat, ” ucapnya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Kondisi faktual pandemi di Bangkalan dipercaya lebih buruk oleh epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo.

Sejak awal pandemi, Windhu menyebut jumlah ulangan Covid-19 yang dilakukan kepada warga Bangkalan dan tiga kabupaten lain di Tanah Madura tergolong rendah.

Angkanya, kata dia, lebih aib dibandingkan rata-rata nasional dengan secara global termasuk yang terbawah di antara lebih lantaran 200 negara.

“Bangkalan, Terhenti, Pamekasan, dan Sumenep semasa berbulan-bulan masuk zona kuning. Itu aneh karena kalau Anda datang ke Madura, Anda akan jarang bertemu orang memakai masker, ” ujar Windhu.

“Di pasar yang ramai, orang-orang tidak pakai masker. Mereka bilang virus corona itu tidak ada.

“Artinya, perilaku itu tidak tergambarkan dalam jumlah kasus. Kasus yang terekam seolah rendah. Bahkan suatu ketika disebut kasus nyata hariannya nol, ” ucapnya.

Baca juga:

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Pada 6 Juni lalu, Bangkalan adalah daerah pada Jatim dengan jumlah kejadian positif baru terbanyak, yaitu 23 kasus. Ini berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan provinsi tersebut.

Dua kabupaten lain di Pulau Madura, yakni Sumenep dan Pamekasan masing-masing mencatat 14 dan dua kasus positif baru.

Sementara satu di kabupaten lainnya, yaitu Terhenti, yang berada di antara Bangkalan dan Pamekasan, diklaim tidak muncul satu pun kasus positif.

“Unsur pimpinan di Forkopimda di daerah-daerah memang tidak ingin daerah itu melakukan tes dan penelusuran kontak yang bagus supaya kasusnya tidak terlihat banyak, ” kata Windu.

“Selama dua hal itu tidak dilakukan dengan tertib, maka kasus sebenarnya tersedia di bawah permukaan serta itu adalah bom zaman, ” ucapnya.

Forkopimda dengan disebut Windhu adalah wadah koordinasi yang melibatkan besar daerah, ketua DPRD, serta orang nomor satu lantaran lembaga kepolisian, militer, kejaksaan, dan pengadilan di sejenis daerah.

Namun setelah hidup 66 kasus baru dalam Bangkalan dalam sepuluh keadaan terakhir, otoritas setempat mengeklaim telah menggelar tes massal dan menelusuri kontak erat orang-orang yang positif Covid.

“Kami sudah tracing & swab massal di Kecamatan Arusbaya. Total ada 170 orang yang kami ulangan. Memang belum ada hasilnya tapi sekarang tes itu juga masih dilanjutkan, ” kata Agus Sugianto lantaran Satgas Covid Bangkalan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Bagaimanapun, epidemiolog Windhu Pramono mendesak pemerintah menangani Covid di Bangkalan secara komprehensif.

Windhu menilai pemerintah semestinya menutup Bangkalan secara lengkap. Artinya, kata dia, awak kabupaten itu untuk tatkala perlu dilarang keluar-masuk daerahnya, kecuali untuk keperluan dengan benar-benar mendasar.

Akhir minggu kemarin kepolisian melakukan ulangan acak kepada pengendara dari Bangkalan yang menuju Surabaya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengeklaim dari tes acak itu terlihat setidaknya 70 orang dengan positif Covid.

Siasat ini menurut Windhu tidak efektif karena tidak semua orang dari Bangkalan melewati tes. Mobilitas warga Bangkalan ke tiga kabupaten lain dalam Madura yang berada di sisi timurnya pun tidak dibatasi.

“Bangkalan sementara tersebut harus dikunci. Kemarin tersedia penyekatan di Suramadu, tapi hanya sampai Magrib. Tersebut apa gunanya? Orang bakal cari celah di sungguh jam penyekatan, ” kata pendahuluan Windhu.

“Orang Indonesia membangun alergi dengan kata ‘lockdown’. Ya sebut saja strategi itu PSBB. Pada era yang sama ada pencarian relasi erat.

“Jadi strateginya bukan uji petik. Itu kan bukan untuk inspeksi. Tujuan kita untuk isolasi orang yang tertular, ” ujarnya.

Sumber gambar, ANTARA MEMOTRET

Namun penutupan provinsi seperti ini bukan muslihat yang dipilih pemerintah setempat.

Yang diterapkan merupakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berskala mikro dalam tiga kecamatan zona merah Bangkalan, kata Juru Kata Satgas Covid-19 Jawa Timur, Makhyan Jibril al Faribi.

“Tidak ditutup total, intervensinya membatasi pergerakan. Orang-orang yang bergejala dites dan kalau hasilnya positif mereka hendak diisolasi, “ujarnya.

Sumber tulisan, JARANG FOTO

Ledakan kejadian Covid seperti di Bangkalan disebut Windhu Pramono berpotensi terjadi di berbagai wilayah karena tren tes dan pelacakan kasus yang semakin rendah.

Pekan lalu, lonjakan kasus yang diduga bersangkutan dengan libur lebaran terjadi di Kudus, Jawa Tengah.

Sama seperti Bangkalan, rumah sakit di Suci juga tak mampu lagi menangani pasien Covid. Ratusan nakes di kota itu terpapar virus corona baik telah mendapatkan vaksin.

Saat pasien Covid di Bangkalan dirujuk ke Surabaya, awak Kudus dengan virus corona dilarikan ke Semarang.

Negeri Kudus mengeluarkan imbauan agar setiap penduduk tetap berkecukupan di rumah untuk memotong rantai penularan.

Namun surat itu tidak memerintahkan penutupan tempat seperti pasar, pusat perbelanjaan, dan kilang.

Sumber gambar, DETIKCOM

Pemimpin Joko Widodo menggelar rapat khusus di Jakarta terpaut kasus Kudus dan Bangkalan, Senin pagi kemarin.

Usai rapat itu, Menteri Kesehatan Budi Sadikin Gunadi menodong pemerintah daerah untuk mencatat dan melaporkan secara uraian setiap kasus positif dengan terkonfirmasi.

“Saya minta dilaporkan secara lengkap supaya kita bisa melakukan antisipasi jika ada yang terkena, ” ujarnya.

Budi juga menodong masyarakat untuk tidak menegah tim penelusuran kasus. “Jangan ditolak. Kalau Anda terpapar, jangan khawatirkan citra Anda. Siapa saja rekan terdekat, akan kita tes, ” ucapnya.

Tren lonjakan kejadian yang terkait musim libur lebaran juga terjadi di berbagai daerah yang menjelma tujuan mudik.

Berdasarkan bahan Satgas Covid-19, provinsi secara kenaikan kasus mingguan tertinggi setelah lebaran ini merupakan DKI Jakarta, Jawa Pusat, DIY, NTB, Lampung, Aceh, dan Riau.

Kuli di Bangkalan, Mustopa, berkontribusi untuk liputan ini.

Related Post