Covid di Indonesia: IGD serta ICU sejumlah rumah sakit penuh, pasien dirawat di tenda – ‘Kondisinya genting mirip perang’

4 Juli 2021, 11: 38 WIB

Diperbarui 35 menit yang berantakan

Sumber gambar, Getty Images

Layanan instalasi gawat (IGD) dan unit perawatan intensif (ICU) sejumlah rumah sakit di Bandung, Solo, dan Pamekasan penuh secara pasien Covid-19, pada Sabtu (03/07).

Dalam Kota dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebanyak besar rumah sakit umum wilayah bahkan menutup layanan instalasi gawat darurat (IGD) untuk pasien Covid 19 lantaran minimnya pasokan oksigen.

Namun rumah sakit umum wilayah di Kota Solo, Jawa Tengah, mendirikan tenda-tenda di luar gedung RS buat menampung pasien.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui saat ini sistem pelayanan kesehatan Indonesia ada di level ‘terbatas’ atau kurang memadai dan meminta rumah rendah swasta turut melayani pasien Covid-19.

‘Kondisinya darurat mirip perang’

Pikiran Suryanti kalut ketika ibunya ditolak masuk tempat isolasi sebuah rumah melempem di kawasan Solo Baru.

Padahal, kondisi saturasi oksigen sang ibu sudah di bawah 90 & kadar gula darahnya pas tinggi.

“Ibu ditolak karena ruang isolasinya penuh. Lalu rencana mau dibawa ke rumah sakit lainnya, tapi driver taksi online yang disewanya itu bilang jika stok oksigen di kurang rumah sakit di Tunggal habis. Terus disuruh ke Moewardi karena oksigennya penuh, ” kata Suryanti.

Baca juga:

Minus berpikir panjang, ia memutuskan untuk membawa ibunya ke RSUD dr Moewardi Solo pada Sabtu (26/06) berserakan.

Namun, karena tempat perawatan untuk pasien Covid-19 penuh, ibunya harus melaksanakan perawatan sementara di pada tenda darurat selama tiga hari, sembari menunggu putaran untuk mendapatkan kamar perawatan dalam rumah sakit.

“Ketika masuk, kondisinya lebih padat dibandingkan hari ini (Sabtu, 3 Juli 2021) makin sampai ke teras-teras dan area parkir. Ada pula pasien yang tidurnya cuma dengan tandu.

“Yang dalam tenda itu kalau hujan bawahnya becek kan kondisinya darurat sekali mirip perang, ” papar Suryanti kepada Fajar Sodiq, kuli di Solo yang melaporkan untuk BBC News Nusantara.

Sumber gambar, Fajar Sodiq untuk BBC News Indonesia

Selama menjalani perawatan di dalam tenda, menurut Suryanti, kondisi psikis ibunya tahu anjlok.

Meski demikian, ibunya tetap bisa bertahan serta kini mendapatkan penanganan pada ruang ICU rumah melempem karena kondisinya sempat teliti.

“Pasien yang di depannya meninggal, terus di sampingnya meninggal. Itu membuat status ibu drop dan barangkali jadi memperparah kondisinya sebab melihat situasi di sekitarnya seperti itu jadi menyeramkan sekali.

“Tapi jika untuk tenaga medisnya, pelayanannya sangat baik dan ramah. Kasihan mereka petugasnya terbatas dan harus merawat banyak pasien, ” ujarnya.

Sedang dua hari berikutnya putaran bapaknya dilarikan ke panti sakit yang sama sebab juga terpapar Covid-19.

“Bapak itu masuk Senin dan di tenda perlu hanya semalam. Hari Selasa sudah dipindah di bangsal, ” ujarnya.

Sumber tulisan, Getty Images

Dua kamp berukuran besar dan kepala tenda berukuran sedang terpasang di depan halaman Vila Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi Solo, Sabtu (03/07).

Di dalam tenda-tenda itu terdapat puluhan peraduan untuk pasien.

Tidak hanya pasien Covid-19, tenda itu juga diperuntukkan bagi pasien non Covid-19 sambil menungu antrean untuk menghunjam ke dalam rumah lara.

Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) lengkap dengan menggunakan APD tampak mendorong troli berisi tumpukan kardus makanan.

Selanjutnya mereka membagikan terbengkalai kotak itu kepada para pasien yang dirawat di bawah tenda darurat itu.

Selain itu juga ada nakes yang berperan mendorong tabung oksigen berukuran besar untuk diganti.

Jadi rumah sakit paling tinggi di wilayah Solo Umum, RSUD dr Moewardi menjadi satu diantara rumah sakit punca bagi penanganan pasien Covid-19.

Sumber gambar, Getty Images

Para pasien Covid-19 yang masuk ke RSUD dr Moewardi tidak hanya bersandarkan hasil rujukan dari sendi sakit setempat, tapi mereka juga memang datang sendiri agar bisa dirawat di rumah sakit tersebut.

Meskipun tanpa rujukan, Cahyono mengaku tetap akan menerima pasien tersebut agar lekas mendapatkan perawatan.

“Bukan cuma Solo dan sekitarnya, akan tetapi dari daerah Jawa Timur masuk Moewardi. Bahkan, dari Pati, Semarang, Batang mendalam ke kita. Saya nyata tidak akan melakukan perlawanan (pasien), ” kata Eksekutif Utama RSUD dr Moewardi Solo, Cahyono Hadi, Sabtu (3/7).

Untuk mengatasi penambahan jumlah pasien yang masuk, dijelaskan Cahyono, pihaknya melaksanakan tiga tenda yang difungsikan sebagai tempat untuk memukul pasien yang akan mendalam.

Nantinya setelah dalam tersedia kamar untuk perawatan, pasien yang mengantre di luar itu hendak langsung dibawa masuk.

Sumber gambar, Getty Images

Adanya lonjakan jumlah pasien Covid-19 yang masuk ke RSUD dr Moewardi menyebabkan adanya penambahan jumlah tempat terbaring untuk pasien Covid-19.

“Sudah saya tingkatkan tapi tingkat BOR sudah menyentuh 90-95%. Sedangkan untuk ICU itu jumlahnya 68 bed tapi juga penuh seluruh. Jadi jumlah 400 bed itu termasuk dengan ICU, ” sebutnya.

BOR Isolasi dan ICU di Solo hampir 100%

Sementara itu Kepada Dinas Kesehatan Solo, Siti Wahyuningsih menyebutkan jumlah BOR ICU maupun isolasi di rumah sakit Tunggal sudah mencapai di akan 90%.

Dengan suasana seperti itu, ia berharap sejumlah rumah sakit di luar Solo untuk melaksanakan penguatan di daerahnya per.

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Pasalnya, pasien Covid-19 yang dirawat di panti sakit Solo sebagain tumbuh berasal dari luar Tunggal.

“Kalau kita lihat anak obat (Covid-19) di Solo tersebut 60% adalah pasien luar kota. Teman-teman rumah lara ini sudah menambahi bed hampir setiap hari dan sekarang sudah tembus nilai 1. 050-an…

“Ini adalah angka lebih besar dari pada puncak Januari berarakan, ” ujarnya.

Berdasarkan bahan BOR rumah sakit pada Solo yang diperoleh BBC News Indonesia, BOR Isolasi telah mencapai 97% serta BOR ICU mencapai 98%.

“Hampir semua vila sakit untuk IGD serta isolasi hampir penuh, ” ujarnya.

Baca juga:

Dengan kondisi semacam itu, ia pun telah melaksanakan koordinasi dengan sejumlah vila sakit untuk menambah kapasitas tempat tidur.

Hanya saja, penambahan jumlah bukan perkara yang mudah sebab terkait dengan keberadaan SDM.

IGD RS di Bandung tutup karena pasokan oksigen kurang

Sementara itu, di Bandung, Rumah Sakit Ijmal Daerah (RSUD) Kota Bandung menutup layanan IGD pasien Covid per 2 Juli 2021.

Salah mulia penyebabnya adalah kurangnya sediaan oksigen.

“Empat hari dengan lalu sudah merasakan kurangnya pasokan oksigen dari distributor dan vendor. Makanya empat hari yang lalu tersebut, sudah coba mengefisiensikan penerapan oksigen ini, ” logat Direktur RSUD Kota Bandung, Mulyadi, saat dihubungi, Sabtu (03/07).

Menurut dia, tersedia dua hal yang menerbitkan kekurangan oksigen.

Sumber gambar, Getty Images

Baru, lonjakan pasien Covid 19 yang membutuhkan oksigen meningkat hingga dua kali lipat, dari biasanya tiga mematok empat menjadi delapan hingga sepuluh tabung FCL.

Kedua, terbatasnya pasokan lantaran distributor.

“Ya memang pemasok kayaknya kesulitan karena rumah sakit-rumah sakit lain sama (membutuhkan), jadi dari hulunya ini. Jadi tidak sebanding antara produksi dengan kebutuhan yang melonjak, ” tutur Mulyadi.

Baca juga:

Selama empat keadaan terakhir, RSUD kelas B Majalaya Kabupaten Bandung pula menutup layanan IGD buat pasien Covid 19 dan juga umum gara-gara simpanan oksigen yang berkurang.

“Kita evaluasi mudah-mudahan secepatnya, begitu pasokan oksigen memadai, kita akan normalkan sedang untuk pelayanan IGD, ” kata Humas RSUD Majalaya, Agus Heri Zukari, kepada wartawan Yuli Saputra dengan melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Agus menjelaskan, total pasien Covid 19 menggila hingga hampir 270 lawatan per 28 Juni 2021, atau sekitar tiga kali lipat jika dibandingkan bulan Mei.

Sumber gambar, KURUN FOTO

Sebagian mulia pasien Covid 19, kata pendahuluan Agus, sudah membutuhkan tumpuan oksigen.

“Hampir semua yang datang ke vila sakit itu, rata-rata telah status kuning dan merah. Jadi hampir semua yang masuk itu menggunakan oksigen dalam jumlah besar, ” ungkapnya.

Sumber gambar, ANTARA MEMOTRET

Di tempat asing, Rumah Sakit Khusus Pokok dan Anak (RSKIA) Tanah air Bandung memutuskan menutup layanan klinik atau rawat tiang, meski stok oksigen sedang mencukupi.

Keputusan tersebut diambil lantaran banyak gaya kesehatan yang terpapar.

Direktur Utama RSKIA, Setia Tagore, mengungkapkan, dari 90 orang tenaga medis terpapar virus SAR CoV2, 10 orang di antara mereka harus menjalani perawatan dalam rumah sakit dan sisanya isolasi mandiri.

Saat itu, Taat tidak bisa menetapkan, sampai kapan stok oksigen bisa mencukupi.

“Kita selalu punya alat penghasil oksigen, tapi skalanya tidak dirancang untuk situasi saat itu. Kalau hanya mengandalkan instrumen penghasil oksigen dari RSKIA, nggak akan mampu, ” ujar Taat.

Warga pengganggu mencari oksigen sendiri

Empat hari ke perempuan, Nang Sudrajat, warga Tanah air Bandung, mulai kesulitan mengisi ulang tabung oksigen untuk anaknya yang sedang mengidap Covid 19.

Adam 57 tahun itu harus berkeliling ke sejumlah wadah isi ulang oksigen yang sebagian besar menyatakan habis.

Kalaupun ada, Nang harus indent atau mengambil terlebih dahulu dan mengantre untuk hari berikutnya.

Nang seperti berlomba dengan zaman karena persediaan oksigen harus terpenuhi sebelum stok beres.

Dua tabung oksigen yang dia miliki hanya mampu bertahan untuk 6-8 jam.

Sementara, anaknya mengalami sesak dengan saturasi oksigen dalam darah hina, namun tidak bisa dirawat di rumah sakit sebab penuh.

“Susahnya tiga-empat keadaan ke belakang sulit sebab mungkin peningkatan orang dengan terpapar dan makin penuh orang yang melakukan isolasi mandiri. Artinya persediaan oksigen harus menyediakan sendiri.

“Rumah sakit gak agak-agak melayani, puskesmas juga tidak punya sarananya, ” membuka Nang, saat dihubungi Sabtu (03/07).

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Selain sulit, taat Nang, harganya pun terbang dua kali lipat.

Untuk isi ulang, yang biasanya Rp25. 000 tenggat Rp30. 000 per meter kubik, menjadi Rp50. 000 per meter kubik.

Belum lagi jika membeli satu set tabung oksigen yang harganya melonjak intelek hingga Rp1, 8 juta.

Nang meminta pihak berkuasa segera mengatasi persoalan tersebut.

“Apakah pemerintah menyimpan atau membantu distribusi, tersebut perlu. Minimal informasi kalau di sini ada (isi ulang oksigen) 24 tanda. Saya pikir itu belum ada, padahal itu sangat strategis dan kalau tidak tertangani kebutuhan oksigennya mampu fatal, ” ujarnya.

Negeri Kota Bandung jamin sediaan oksigen aman

Terkait urusan itu, pemerintah Kota Bandung memastikan pasokan oksigen terpenuhi bagi rumah sakit.

“Intinya kita alokasi oksigen ini tadinya 75% untuk industri dan 25% buat medis, sebelum pandemi. Sekarang pada saat Juni berganti total 95% untuk medis. Jadi industri hanya diisikan 5%, ” kata Kepala Dinas Perdagangan dan Pabrik Kota Bandung, Eli Wasliah.

Namun, Eli tidak memungkiri pasokan oksigen sempat terhenti beberapa hari ke dapur dikarenakan masalah distribusi.

Sementara, pasokan oksigen untuk pasien yang isolasi mandiri, Eli mengakui hal itu belum menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung, lantaran pasien dengan isolasi mandiri adalah pasien OTG dan bergejala rendah sehingga dianggap tidak membutuhkan oksigen.

Tetapi melihat kondisi banyaknya pasien isolasi mandiri yang mengalami sesak napas dan tidak bisa dirawat karena terbatasnya daya rumah sakit, Eli mengucapkan, pemerintah akan mengkaji kurang opsi.

“Ini sesuatu yang luar biasa akhir-akhir tersebut. Kemarin memang kami komitmennya memprioritaskan rumah sakit & puskesmas. Persepsi kita dengan di rumah itu dengan OTG dan gejala kecil, kemungkinan sedikit yang butuh oksigen karena yang medium dan berat dibawa ke rumah sakit, ” cakap Eli.

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Ia meminta warga untuk langsung pergi ke agen ketika membutuhkan oksigen.

“Sejauh ini pasokan aman. Jadi kalau memang sangat terpaksa, bisa tepat ke agen atau ke filling station (stasiun pengisian oksigen), kalau memang sampai di pengecer sulit.

“Ini yang memang belum diatur Disdagin (Dinas Perniagaan dan Industri) dengan filling station (mengenai distribusi) datang ke pasien isolasi mandiri di rumah-rumah, ” ujarnya.

RSUD di Pamekasan tak lagi mampu tampung anak obat baru

Lonjakan peristiwa Covid-19 juga terjadi pada Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

“Kami sudah over kapasitas. Sampai sekarang ini kami sudah membuka 88 bed, penuh. Awalnya 14, kami tambah lagi, tambahan 8, tambah 20 sampai terakhir punya kapasitas bed 88, ” ungkap Kepala Tim Penanganan Pasien Covid-19 RSUD Smart Pamekasan, Syaiful Hidayat, kepada Mustopa, kuli di Madura yang mengadukan untuk BBC News Nusantara.

Sebenarnya, kata Syaiful, tenda darurat awalnya didirikan buat menggantikan fungsi Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena bagian IGD sudah dimodifikasi sebagai ruang isolasi untuk penderita Covid-19.

Namun, dalam perkembangannya, tenda darurat digunakan buat menampung pasien Covid-19 yang menunggu giliran masuk ke ruang isolasi.

“Tiap keadaan yang datang banyak, 10 sampai 15 pasien Covid-19, antrean banyak, ” imbuh dokter spesialis paru tersebut.

Bahkan, menurut Syaiful, pihak RSUD terpaksa menolak kira-kira pasien yang hendak dirujuk karena sudah tidak mampu menampung.

Sumber gambar, ANTARA MENJEPRET

Oleh karena itu, dia mendorong agar Satgas Covid-19 atau Dinas Kesehatan tubuh setempat untuk mendirikan panti sakit lapangan.

“Seperti dalam Jakarta ada Wisma Olahragawan, di Surabaya ada sendi sakit Indrapura, karena nggak mungkin kalau mengandalkan RSUD, jebol ini, 88 bed itu sudah penuh, ” tegas Syaiful.

Ketersediaan oksigen di RSUD Smart Pamekasan masih cukup karena memiliki mesin sendiri. Namun, berbarengan penambahan kasus, stoknya diperkirakan semakin menipis.

Lebih jauh, Syaiful mengatakan bahwa peristiwa Covid-19 di Kabupaten Pamekasan lebih berat dari gelombang pertama.

Sebab, mayoritas pasien yang dirawat pada RSUD Smart Pamekasan terpapar virus varian baru yakni Varian Delta, seperti dengan terjadi di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

“Kalau menurut saya virus ini betul ganas sekarang, lebih mengandung dari yang dulu, varian baru, varian delta, persis dengan Bangkalan karena saya satu pulau, ” sendat Syaiful.

Pasien yang dirawat usianya juga beragam mulai dari 35 sampai 80 tahun.

Rata-rata sejak mereka masih punya hubungan keluarga, seperti pasangan suami istri, pengampu dan bani, bahkan adik-kakak.

Sumber gambar, JARANG FOTO

Direktur Istimewa RSUD Smart Pamekasan, Farid Anwar, menekankan agar pengerjaan kasus Covid-19 tidak cuma dibebankan kepada rumah rendah.

“Berapa pun ana sediakan tabung oksigen, berapa tempat tidur yang ana sediakan, kalau hulunya dibiarkan, mulai dari pencegahannya, penegakan disiplin protokol kesehatan, kalau dibiarkan, ambyar hilirnya, ” tandas Farid.

Sementara tersebut, Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Pamekasan belum punya strategi khusus untuk menekan lonjakan kasus di wilayah tersebut.

Satgas hanya mewujudkan instruksi Presiden Republik Indonesia terkait Pemberlakuan Pembatasan Kesibukan Masyarakat (PPKM) Darurat.

“Tentunya harus bekerjasama, bersinergi dengan semua pihak, termasuk umum karena salah satu kunci keberhasilan penanganan Covid-19 merupakan kebersamaan, ” jelas Humas Satgas Covid-19 Kabupaten Pamekasan, Sigit Priyono.

Pemerintah menimbulkan dukungan swasta

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui saat itu sistem pelayanan kesehatan Indonesia ada di level ‘terbatas’.

Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Menular Departemen Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan kondisi ini ditunjukkan dengan penuhnya tingkat keterisian rumah sakit hingga sulitnya warga mendapatkan ruang perawatan Covid-19.

“Jadi kalau kita lihat kapasitas responsnya tersebut terbatas karena transmisinya luar biasa dan kapasitas respons ini harus dioptimalkan atau kurang memadai ya, karena kita lihat banyak vila sakit penuh dan umum susah untuk mendapat pembelaan, ” terang Nadia pada wartawan Nurika Manan dengan melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (04/07).

Nadia pun membeberkan, saat tersebut rata-rata tingkat keterisian rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) pasien Covid-19 secara nasional ada pada atas 75 persen.

Padahal, Organisasi Kesehatan Negeri (WHO) menetapkan ambang batas aman BOR di nilai 60 persen.

Sumber tulisan, KURUN FOTO

Itu hangat perkara keterisian tempat rebah untuk ruang isolasi dan ruang perawatan insentif (ICU).

Nadia menuturkan, suasana tak kalah genting berlaku di penanganan kegawatdaruratan.

“Itu yang antre banyak sekali. Sebab pasien yang datang ini bersamaan dan dalam total yang banyak, jadi sungguh sudah over capacity buat penanganan, ” ujarnya.

Nadia mengaku pemerintah tidak lagi sanggup mengupayakan ketersediaan tempat tidur ini sendirian.

“Kami minta dukungan RS Swasta harus mau untuk membantu kita untuk bersama-sama, jadi jangan datang ada masyarakat yang tertolak dalam situasi seperti itu, ” tutur dia.

Ia mengatakan, situasi lonjakan tersebut masih akan dihadapi Indonesia setidaknya dalam dua minggu ke depan.

Bila biasanya rumah sakit menampung 20-30 pasien, kini yang datang jumlahnya bisa ratusan.

“Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas hak pemerintah. Kami tahu telah banyak rumah sakit preman yang membantu, kami mengimbau rumah sakit swasta yang saat ini belum (membantu), mari kami minta buat mengulurkan tangan, terutama buat mencoba menangani pasien yang membutuhkan perawatan, ” tambahan dia lagi.

Apa penyelesaian kelangkaan oksigen?

Nadia dari Kementerian Kesehatan masih menyambut komitmen produsen gas dengan pada pekan lalu menanggung bakal mengalihkan kapasitas penerapan gas industri menjadi oksigen medis.

“Belum konkret seperti yang kami harapkan, agak-agak sudah ada konversi (kapasitas produksi gas industri dialihkan ke produksi oksigen medis) tapi terlalu kecil. Kita mengharapkan kurang lebih 40-50 persen dari kapasitas industri gas nasional diberikan buat sektor kesehatan, ” sirih Nadia.

Sumber gambar, Antara memotret

Pasalnya dia mengungkapkan dengan kasus Covid-19 dengan berlipat ini Indonesia setidaknya membutuhkan tiga hingga empat kali lipat dari keinginan normal.

“Rata-rata kebutuhan oksigen kita itu hanya besar sampai empat ton bola lampu hari, tapi saat itu sudah hampir kebutuhannya bisa sampai 10 ton semenjak hari untuk seluruh Indonesia.

“Sementara kapasitas penerapan kita masih berbagi untuk pemenuhan oksigen kesehatan & gas industri, ” sekapur Nadia mengilustrasikan kebutuhan oksigen saat ini.

Selain menodong janji produsen gas, Nadia juga mengimbau warga untuk tidak panik sehingga menumpuk tabung oksigen dan oksigen.

Ia menganjurkan terapi penderita Covid-19 harus di lembah pengawasan dokter.

“Kami menimbulkan masyarakat juga jangan panic buying karena oksigen yang terpatok ini kalau bisa kita fokuskan dulu untuk pembelaan di rumah sakit.

“Kalau masyarakat menyimpan stok tabung dan oksigen, maka kita akan mengalami kelangkaan, ” kata Nadia.

Wartawan di Bandung, Yuli Saputra; wartawan di Tunggal, Fajar Sodiq; dan kuli di Madura, Mustopa, berkontribusi dalam artikel ini.

Related Post