Covid-19: Setahun pandemi virus corona, Indonesia belum aman sedang ‘stadium empat’

  • Aghnia Adzkia
  • BBC East Asia Visual Journalism

3 jam yang lalu

Satu tahun pandemi

Tepat setahun pagebluk Covid-19 dalam Indonesia, jumlah kasus harian masih dinamis. Semakin penuh orang yang dites, maka kasus baru pun bermunculan. Namun, kunci memutus lupa rantai dengan penelusuran serta tes usap dinilai belum maksimal.

“Dokter! Ibu saya perutnya nggak garit! “Adit (35) berteriak panik saat tahu ibunya yang terbaring di kasur kawasan sebuah rumah sakit rujukan covid-19 daerah Tangerang Selatan dengan selang oksigen tiba-tiba terdiam.

Adit, yang saat itu juga masih memiliki perawatan dengan jarum infus menempel di tangan kanannya, tergolek lemas. Ibunya telah dua hari menunggu pada Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan medis kemudian.

Sehari sebelumnya, di 11 Januari 2021, si ibu melakukan tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) setelah mengalami sesak nafas, mual, dan pusing. Tetapi, hasil tes belum muncul dan sang ibu telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pihak rumah melempem tidak mengharuskan agar ibunya dimakamkan dengan prosedur Covid-19. Alhasil, Adit memutuskan membawa pulang jenazah dan dimakamkan dengan prosedur pemakaman berpunya.

Sedikitnya 40 orang sedia melayat pada 12 Januari 2021 lalu. Di kurun mereka termasuk tetangga pada sekitar rumah, keluarga, kru, serta tiga petugas dengan memandikan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah.

Setelah pemakaman usai, surat hasil uji PCR keluar: sang ibu terkonfirmasi positif Covid-19.

Adit segera melapor ke RT. Selanjutnya, Puskesmas menghubunginya untuk tes PCR keluarga.

Hasil pun keluar, lima orang dinyatakan positif: Adit bersama akang, bapak, serta dua ahli iparnya. Sementara, ketiga aparat ambulans dinyatakan negatif.

“Selain keluarga dan petugas ambulans, pihak Puskesmas tidak men-swab siapa yang melayat. Swab PCR dilakukan kalau ada yang bergejala, ” perkataan Adit ketika dihubungi di Jumat (26/02).

Puskesmas tidak menguji usap puluhan karakter yang melayat karena tak menunjukkan gejala. Beberapa dengan melayat kemudian melakukan ulangan usap Antigen dengan uang pribadi.

Tes pun pula termasuk pada orang tidak bergejala. Bisa jadi, mereka termasuk kategori orang asimtomatik atau tanpa gejala. Ada pula orang presimtomatik, atau karakter yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala.

Minimnya penelusuran kontak erat serupa dirasakan Alex (31) (bukan nama sebenarnya), warga Rawalumbu, Bekasi. Ia dan istrinya sempat dinyatakan positif Covid-19 awal Februari 2021. Sesaat, ia segera melapor ke RT dan berobat ke rumah sakit swasta punca Covid-19 di Jawa Barat.

“Rumah sakit seharusnya menyerahkan panduan, harus menghubungi siapa dan kenapa, ” ujar Alex ketika dihubungi di Minggu (28/02).

Menurut modus, RT melaporkan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan kaya Puskesmas untuk penelusuran relasi erat.

“Tidak ada tracing dari Puskesmas. Saya menyelenggarakan tracing mandiri dan menemui orang-orang yang berinteraksi secara saya dalam beberapa keadaan sebelumnya. ”

Ia biar segera mengetes kontak eratnya dan sang istri, yaitu 10 orang anggota anak. “Saya tes Antigen buat keluarga dan mereka minus, ” katanya.

Pakar Matematika Epidemiologi ITB Nuning Hati menilai pemerintah Indonesia masih minim melakukan testing (pengujian) dan tracing (penelusuran).

“Sejak awal pandemi, memang testing masih kurang. Pelunasan tracing dan testing 20 maka 30 orang di sekitar orang terkonfirmasi positif tidak terpenuhi, (rata-rata) hanya lima orang. Jadi melesetnya mulia, ” ujar Nuning kala diwawancara pada Jumat (26/02) lalu.

“Artinya, malah memperburuk transmisi (virus) dengan situasi yang demikian. ”

Daya penyebaran tinggi

Minimnya ulangan dan penelusuran menjadi lupa satu faktor angka urusan Covid-19 masih tinggi di Indonesia. Merujuk analisis yang dilakukan BBC East Asia Visual Journalism yang diolah dari data Kementerian Kesehatan, nilai korelasi antara kasus baru harian dengan jumlah uji PCR tiap harinya berada di angka 0, 89.

Artinya, semakin banyak yang dites maka cenderung bermunculan kasus mutakhir yang lebih banyak. Sejenis juga sebaliknya.

Satu tahun pandemi

Nuning membaca hasil temuan ini dan menjelaskan, “potensi penyaluran Covid-19 di Indonesia sedang tinggi. ”

Pandemi belum bisa dikatakan berakhir dalam Indonesia dalam waktu depan. Dari sisi epidemiologi, menurutnya, Indonesia sudah masuk ke “stadium 4”.

“Kalau tak disiplin (protokol kesehatan) itu sudah tidak bisa tracing dan tidak tahu kena dari mana. Itu perkara yang sulit dijawab, ” ujar Nuning.

Indonesia mampu dianggap aman dan kejadian mulai mereda apabila total tes makin tinggi, yaitu sebanyak 1% hingga 2% dari total populasi, disertai rasio orang yang tentu semakin rendah.

Hingga 27 Februari 2021, rasio orang terkonfirmasi positif dibandingkan total uji atau biasa dikenal dengan positivity rate dalam Indonesia masih di angka 18, 5% dari mutlak 7, 1 juta orang yang diperiksa.

Dibandingkan secara enam negara lainnya pada Asia Tenggara dan Asia Timur, Indonesia masih menempati urutan pertama.

Satu tahun pandemi

Akal orang terkonfirmasi positif paling rendah yakni di Singapura, senilai 0, 82%. Bola lampu 27 Februari 2021, kampung Singa ini sudah memeriksa PCR sebanyak 7. 290. 760 kali dengan total kasus positif 59. 925. Grafik kasus harian terakhir pun cenderung stagnan.

Dalam Malaysia, angka rasio membuktikan hampir empat kali lebih rendah dari angka dalam Indonesia, sementara di Korea Selatan, 18 kali bertambah rendah.

Korea Selatan ialah negara yang menjadi ‘kiblat’ tes usap lantaran mengambil gebrakan dengan menguji massal orang-orang kontak erat maupun non kontak erat dalam awal pandemi.

Studi sebab Brigham and Women’s Hospital dan Fakultas Kesehatan Universitas Boston, Amerika Serikat, menuturkan Korea Selatan berhasil merespons dengan cepat untuk mengabulkan tes usap bekerja sebanding dengan sektor privat. Setidaknya 600 laboratorim uji dibangun dengan kapasitas tes menyentuh 15. 000 hingga 20. 000 tes saban harinya.

Selain itu, studi gabungan dari The George Washington University, National Research Foundation of Korea, dan Utah University menyebutkan kebijakan Korea Selatan dibuat sejak pengalaman mereka menghadapi pandemi MERS pada 2015 berserakan.

Hingga kini, Korea Selatan telah menguji 6. 649. 006 orang dan mendapati 89. 676 urusan positif.

Kurva masih rajin

Dengan tes usap yang belum maksimal, bagaimana kurva Covid-19 Indonesia selama setahun dibandingkan dengan negara lainnya?

BBC East Asia Visual Journalism menghitung jumlah kejadian baru per harinya serta rata-rata kasus selama tujuh hari menggunakan exponential moving average dari data Kementerian Kesehatan untuk melihat gaya penambahan jumlah kasus; apakah sudah stagnan atau malah masih dinamis.

Grafik di bawah menunjukkan kurva Nusantara masih dinamis. Dari lima orang yang dites, mau ditemukan satu kasus membangun.

Satu tahun pandemi

Negara secara kurva serupa Indonesia yaitu Malaysia. Di Malaysia, pada setiap 17 Tes usap PCR, ditemukan satu kasus meyakinkan.

Baik Indonesia maupun Malaysia, mengalami puncak pandemi di dalam Januari 2021.

Korea Daksina, Jepang, Amerika Serikat, & Vietnam, setidaknya mengalami tiga kali gelombang penyebaran virus ini dalam setahun. Kurva ketiganya cenderung menurun di dalam beberapa pekan belakangan.

Perut negara yang sudah merasai ‘gelombang besar’ yakni India dan Filipina; di mana pertengahan tahun sampai kuartal ketiga mereka mengalami kemajuan kasus yang signifikan, lalu mulai menyusut.

Beda dengan negara lainnya, kurva China dan Singapura cenderung lebih stagnan. Mereka berhasil menekan munculnya kasus baru di negaranya.

Di Singapura, setiap 121 tes, ditemukan utama kasus positif Covid-19.

Mengantre kasur RS

Secara sistem tes usap & penelusuran yang belum maksimal, mata rantai penyebaran menjadi semakin sulit diputus.

Apabila penyakit ini menyerang karakter dengan penyakit bawaan ataupun dengan daya tahan awak yang rendah, ancaman maut menjadi dekat.

Ibunda Adit, harus menunggu dua keadaan di UGD untuk memperoleh kasur. Kadar oksigen sebelum meninggal, sempat menyentuh angka 74 atau di bawah batas orang normal, 92.

“Perawatan tidak maksimal serta lambat, karena banyak juga pasien yang harus dirawat dan dipantau, ” perkataan Adit.

Saat kamar rawat inap sudah berhasil didapat, tak lama nyawa sudah tak tertolong.

Merujuk data Sistem Informasi Rawat Inap Kementerian Kesehatan yang diolah BBC dari 1. 775 rumah sakit rujukan Covid-19 di 34 provinsi, hanya tersedia 40, 57 bagian isolasi bertekanan negatif, mulai 26 Februari 2021. Daerah bertekanan negatif dibuat buat menghambat transmisi virus.

Satu tahun pandemi

Jika menilik data bola lampu provinsi dengan rasio jumlah kasus per 1. 000 penduduk yang tinggi, seolah-olah DKI Jakarta, ketersediaan tikar kosong tak banyak.

Sebanyak tujuh dari 10 tikar di kamar isolasi bertekanan negatif sudah penuh, & enam dari 10 tikar di kamar isolasi minus tekanan negatif terisi.

Untuk mendapatkan tiga kasur isolasi di rumah sakit, penderita mesti berebut. Sementara penggandaan kasus baru pada 27 Februari 2021 yakni satu. 737 kasus.

Aktifkan Javascript untuk melihat ini.

Penelaahan di level desa

Kepala Joko Widodo dalam khotbah virtualnya pada sebuah konferensi pada Kamis (25/02), dengan dilansir dari laman setkab. go. id, menyebutkan pengukuhan 3T ( testing, tracing, treatment ), pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level mikro, vaksinasi COVID-19, dan penerapan protokol kesehatan, menjadi bagian penting menyelesaikan pandemi.

PPKM skala mikro mulai diterapkan dan didukung dengan pendirian Posko Covid-19 di level desa dan kelurahan pada seluruh Indonesia. PPKM aci mulai 9 Februari 2021 lalu.

Dalam posko itu, aparat TNI/Polri bekerja persis dengan Puskesmas setempat melaksanakan penelusuran kontak erat serta tes usap.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan penelusuran kontak erat oleh para anggota Korps Bhayangkara dan militer dimulai pada Jumat (26/02) di Jawa dan Bali, mengutip laman resmi kemkes. go. id

Dante berharap penelaahan kontak erat bisa dikerjakan sesuai standar WHO sebesar 30 orang yang sudah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif. Dari situ, lalu dilakukan tes usap.

Menurutnya, penelusuran kontak baik menjadi kunci menekan peristiwa karena suspek dapat terlihat lebih dini.

“Yang kritis itu yang tidak mempunyai gejala karena mempunyai potensi untuk menularkan kepada asosiasi sekeliling. Kalau ini tak dihentikan segera maka yang akan kita dapatkan adalah kenaikan kasus terus, ” ucap dr. Dante.

Gencar vaksin, incar ‘herd immunity’

Untuk menekan angka kasus, pemerintah juga tengah gencar vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok atau ‘herd immunity’.

Vaksin dilakukan melalui dua jalur yakni vaksin gratis dari pemerintah dan menggunakan badan usaha bagi para-para pekerja, merujuk beleid Sistem Menteri Kesehatan Republik Nusantara Nomor 10 Tahun 2021.

Hingga 28 Februari, sebesar 1. 691. 724 orang telah divaksinasi dari bermacam-macam kelompok pekerjaan; tenaga medis, wartawan, lanjut usia (lansia), pedagang pasar, atlet & tenaga pendukung cabang olahraga, pendidik dan tenaga kependidikan, serta pelayan publik.

Sebesar 59 persen telah sempurna menerima dosis kedua. Itu mendapatkan vaksin CoronaVac gratis dari pemerintah.

Angka tersebut baru 0, 5 persen dari total sasaran vaksin yakni 181 juta karakter; atau hampir 70 persen populasi Indonesia.

Untuk urat kedua, pemerintah mendesain Vaksin Gotong Royong bagi pelaku.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid., menjelaskan jenis vaksinasi ini diperuntukkan kepada praktisi yang biayanya ditanggung awak usaha, seperti dilansir sejak laman kemkes. go. id.

Pandemi belum berakhir

Meski vaksin sudah berjalan, pertanyaan ‘kapan pandemi berakhir? ‘ masih menghantui. Dari pemodelan matematika menggunakan model Richard yang dibuat Tim Tiruan dan Pemodelan COVID-19 Nusantara (Tim SimCovid), belum ada tanda pandemi berakhir di 2021.

“Kalau kami memprediksikan puncak kasus baru bisa sampai 20 ribu peristiwa per hari. Buat saya ini masih dalam perihal belum aman, ” sekapur Nuning.

Puncak diperkirakan berlaku pada 4 Agustus 2021. Hingga akhir 2021, awak juga menilai kasus pertama per harinya bisa lebih dari 10. 000 urusan.

Ia mengkhawatirkan terjadinya lonjakan orang bepergian lantaran penuh, terutama bilamana libur panjang dan lebaran, serta memandang pandemi berakhir dengan adanya vaksin.

“Kita tidak mampu menganggap pandemi selesai sebab kampanye vaksin dan vaksin sudah ada. Protokol kesehatan harus dijaga, mobilitas dijaga, menghindari kerumunan, ” ujarnya.

Grafik dan ilustrasi oleh Arvin Supriyadi dan Davies Surya.

Related Post

Vaksin AstraZeneca: Regulator obat Uni Eropa ‘sangat yakin’ arah keamanan menyusul langkah sejumlah negara, termasuk Indonesia tunda distribusiVaksin AstraZeneca: Regulator obat Uni Eropa ‘sangat yakin’ arah keamanan menyusul langkah sejumlah negara, termasuk Indonesia tunda distribusi

Diperbarui 2 jam yang lalu Reuters Regulator obat-obatan Uni Eropa mengatakan tetap "sangat yakin" atas manfaat vaksin Oxford-AstraZeneca melebihi risiko yang ditimbulkan. Limiter itu kembali menekankan "tak ada indikasi"