Covid-19: Presiden Jokowi pidato perdana di sidang majelis umum PBB, diharapkan menjadi ‘penyambung lidah’ negara-negara bapet untuk keadilan vaksin

Covid-19: Presiden Jokowi pidato perdana di sidang majelis umum PBB, diharapkan menjadi ‘penyambung lidah’ negara-negara bapet untuk keadilan vaksin post thumbnail image

Untuk pertama kalinya semenjak menjabat sebagai presiden pada 2014, Presiden Joko Widodo berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Marga (PBB). Pidato Presiden Jokowi dibanding podium sidang majelis umum PBB ke-75 ini berlangsung secara virtual, pada Rabu, (23/09).

Pakar hubungan internasional menilai ini merupakan momentum Presiden Joko Widodo menyerukan keadilan distribusi vaksin Covid-19, saat negara2 miskin sedang dilanda kekhawatiran tidak mendapat jatah vaksin tersebut.

Sementara, negara maju seperti Inggris bersama WHO dan lembaga internasional lainnya sedangkan menggodok rencana akses berkeadilan terhadap vaksin.

Apa yang akan disampaikan Pemimpin Jokowi?

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan, Indonesia akan menyampaikan suruhan penting, antara lain mengenai “memajukan kerja sama internasional dan simpati global bagi penanganan pandemi, tertib di sektor kesehatan maupun efek sosial-ekonomi dari pandemi tersebut”.

“Mendorong pengembangan kinerja, serta peran PBB lalu menyerukan pentingnya seluruh negara terus memperkuat PBB dan multilateralisme, ” sebut Menlu Retno dalam tanda kepada media.

Retno menambahkan, pertemuan internasional yang dihelat 22-29 September 2020 akan menghasilkan deklarasi peringatan 75 tahun PBB.

Mengapa Presiden Jokowi baru muncul di sidang PBB?

Sejak terpilih menjadi orang mengedepankan di Indonesia pada 2014 lalu, Jokowi selalu mendelegasikan sidang majelis ijmal PBB kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Melalui keterangan kepada jalan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko era momentum sidang umum PBB 2019 mengatakan agenda Presiden Jokowi benar padat. Dia mengatakan, pekerjaan kepala cukup menyita waktu, “jadi mengirim Wapres, ” katanya.

Apa yang menjadi kekhawatiran negara-negara di tengah pandemi?

Pengamat Hubungan Internasional, Prof Dewi Fortuna Anwar, mengatakan kekhawatiran seluruh negeri di tengah pandemi adalah menyimpan dosis vaksin untuk kebutuhan di dalam negeri.

“Mengingat keperluan yang begitu mulia, dan barang kali antara supply & demand itu belum bisa terimbangi dengan baik, ada kekhawatiran negara-negara miskin tidak kebagian, ” katanya pada BBC News Indonesia, Selasa (22/09).

Seberapa istimewa keberadaan Presiden Jokowi dalam taktik vaksin Covid-19?

Menurut Prof Dewi, Nusantara memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan distribusi vaksin yang betul. Secara historis, Indonesia dianggap sebagai negara ‘ middle-power ‘ yang bisa merangkul negara2 dengan ekonomi rendah di Asia dan Afrika untuk menyerukan kesamarataan vaksin.

“Ini Indonesia memiliki tanggung tanggungan moral, dari dulu Indonesia telah menempatkan dirinya sebagai penyambung lidah negara-negara berkembang, ” katanya.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Paramadina, Dinna Prapto Raharja, mengatakan jangkauan keadilan vaksin juga perlu dilakukan dengan kerja sama pemerintahan negara dengan perusahaan.

“Di sini berarti, kita, perlu ada beberapa aspek tambahan, bahwa agenda tersebut bisa didengar oleh pengusaha itu sendiri, karena pemilik lisensi itu pada perusahaan, ” katanya.

Bagaimana negara-negara maju merencanakan kesamarataan vaksin?

Saat ini dunia sedang berkompetisi untuk menemukan vaksin Covid-19.

China menyebut telah membuat vaksin dengan efektif. Mereka menentukan, pengguna awal produksi vaksin itu adalah awak angkatan bersenjata China.

Namun, tidak satu pun dari dua vaksin tadi meresap daftar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang vaksin yang sudah melampui tiga uji coba klinis. Periode itu merupakan uji coba besar terhadap manusia.

Sementara itu, produsen obat asal Inggris, AstraZeneca, pemegang sertifikat untuk vaksin yang dikembangkan Oxford University, menggenjot kapasitas produksi.

Mereka selalu sepakat memasok 100 juta dosis vaksin untuk Inggris dan kira-kira dua miliar dosis untuk karakter di seluruh dunia.

Saat kunjungannya ke Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, mengatakan, “Inggris akan menjadi tuan rumah jadwal vaksin virtual bersama dengan PBB, WHO, dan Afrika Selatan, ” katanya melalui siaran pers.

Kegiatan ini sebagai kelanjutan dari kesuksesan KTT Vaksin Global yang diselenggarakan oleh Inggris pada bulan Juni.

“Saat kami secara kolektif berhasil menyiapkan US$8, 8 miliar, acara ini akan menyatukan negara-negara dan para mitra internasional untuk berkomitmen dalam memastikan akses global yang seimbang terhadap vaksin, perawatan, dan pemeriksaan COVID-19 baru, ” kata Dominic Raab.

Setidaknya 80 negara kaya, termasuk Inggris telah menggagas rencana vaksin global yang mereka beri tanda Covax. Tujuan program itu adalah mengumpulkan Rp29 triliun sebelum tahun 2021.

“Kami percaya cara terbaik buat mengatasi corona adalah dengan bekerjasama dengan organisasi-organisasi internasional, ” sirih juru bicara Kepala Bidang Koneksi Kedutaan Inggris, John Nickell.

Uang itu diklaim akan digunakan untuk membeli dan mendistribusikan obat-obatan secara betul.

Secara mengumpulkan sumber daya di Covax, anggota koalisi berharap mampu menjamin 92 negara berekonomi rendah dalam Afrika, Asia, dan Amerika Daksina, untuk mendapatkan akses terhadap vaksin virus corona.

Related Post