Covid-19: Pelancong padati tempat wisata, epidemiolog sebut ‘Indonesia pas seperti India’

33 menit yang lalu

Sumber gambar, ANTARA

Ledakan kasus positif Covid-19 di Indonesia diperkirakan mencapai dua kali lipat sejak tahun lalu seiring tingginya pergerakan orang saat mudik Lebaran dan membludaknya tamu di sejumlah tempat turisme pada akhir pekan awut-awutan, kata seorang pakar epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman.

Kata dia, kebijakan negeri Indonesia yang membuka tempat wisata “sangat riskan” sebab potensi penularan virus corona sangat besar sementara negeri tidak bisa memastikan pemimpin wisata menerapkan strategi keselamatan Covid-19 yang baik pada lapangan.

Tapi Pakar bicara Penanganan Covid-19 lantaran Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kebijakan pemerintah pusat membolehkan tempat turisme beroperasi karena tidak mau ada “penumpukan masyarakat pada satu tempat”.

Menyuarakan juga:

Sejumlah tempat pariwisata dalam DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat seperti Rajin Impian Jaya Ancol, Akik Karas di Pangandaran, & Pantai Anyer-Carita, diserbu tamu sejak 14-16 Mei berserakan.

Dalam video yang beredar di media sosial pelancong terlihat berkerumun tanpa tenggang di pinggir pantai & tidak memakai masker.

Kondisi serupa juga terjadi di Kebun Binatang Bandung Zoologi Garden.

Pada Minggu (16/05), pelancong yang sampai mencapai 6. 000 orang yang berasal dari Subang, Garut, Tasikmalaya, dan Purwakarta.

Sumber gambar, Yulia Alazka

Salah satu tamu Ina Setiawati dari Cimahi. Ia memberanikan liburan bersama empat anggota keluarganya karena tak bisa mudik ke kampung halamannya di Garut.

“Liburan ke parak binatang karena dekat vila. Terus bisa bawa anak-anak, ” ujar Ina pada Yulia Saputra yang mengadukan untuk BBC News Nusantara.

Perempuan 31 tahun tersebut juga mengaku tidak sungguh-sungguh khawatir tertular virus corona karena protokol kesehatan dengan diberlakukan pengelola kebun fauna dianggap cukup ketat yaitu harus melakukan pengetesan antigen dan wajib memakai masker.

“Memberanikan diri aja, telah enggak tahan pengen libur. Tahun kemarin enggak beristirahat, baru tahun sekarang aja. ”

Tedi, warga Bandung, liburan ke kebun fauna bersama istri dan dua anaknya. Berwisata ke sini, katanya, dipilih karena depan dengan rumah dan karena merasa bosan terus masuk berada di rumah.

“Memang sudah lumayan kesal juga. Mungkin momen selalu, sudah kebiasaan bertahun-tahun, ” imbuh Tedi.

Meski ada ketakutan tertular virus corona, tapi dengan menjalankan adat kesehatan yang ketat dia buang jauh-jauh kekhawatiran itu.

“Kita tetap gunakan masker. Meski sebetulnya invalid nyaman, panas, pengap. Tapi minimal wajib dipakai dan selalu membawa cairan pembersih tangan, juga menjaga jangka. ”

Sumber gambar, ANTARA

Juru bicara Kebun Fauna Bandung Zoologi Garden, Sulhan Syafi’i, menjelaskan pihaknya menerapkan sistem buka-tutup sebagai perkiraan membludaknya pengunjung.

Pembelian tiket dilakukan secara daring atau online, sejumlah petugas dikerahkan untuk memantau pengunjung agar menaati protokol kesehatan.

“Kalau sudah pada dalam, kadang-kadang buka masker, ya kita ingetin. Harap dipatuhi protokol kesehatan. Ya namanya kejar-kejaran dengan manusia. Yang melanggar ada, ya ada. Banyak, kita ingetin , ” tutur Syafi’i.

Kebijakan membolehkan wisata ‘tidak berbasis pada manajemen risiko yang baik’

Keputusan pemerintah Nusantara yang tak melarang kesibukan pariwisata disebut epidemiolog Dicky Budiman sebagai kebijakan dengan “tidak dipersiapkan dengan cara dan tidak berbasis pada manajemen risiko yang mumpuni”.

Ini karena mengambil lokasi wisata di pusat pandemi Covid-19 sangat berisiko dan berpotensi besar menularkan virus corona.

Patuh Dicky, jika pemerintah mau membatasi pergerakan masyarakat secara melarang mudik Lebaran oleh sebab itu seharusnya sejalan dengan mencegah warga berwisata.

Begitu pula dengan menutup kemungkinan masuk bagi warga ganjil dari luar negeri.

“Kalau kita ingin membatasi karakter bergerak, maka jangan menggelar sekecil mungkin celah. Negeri Indonesia harus memperbaiki manajemen risikonya, ” imbuh Dicky saat dihubungi wartawan Quin Pasaribu yang melaporkan buat BBC News Indonesia, Minggu (16/05).

Sumber gambar, ANTARA

Syarat tempat wisata boleh dibuka

Namun demikian jika pemerintah membuat pelonggaran secara membolehkan aktivitas wisata oleh karena itu harus dipastikan pemda melaksanakan strategi keselamatan Covid-19.

Semisal daerah yang bisa membuka pariwisata adalah provinsi yang tingkat penularan virus coronanya tidak lebih sejak lima persen.

Kemudian, tidak ada kasus mair akibat Covid-19.

“Kasus positifnya juga cenderung satu digit-an, ” kata Dicky.

Selain itu pengelola tempat wisata juga harus menerapkan sistem pendaftarkan berbasis daring atau online untuk menghindari kontak langsung.

Lalu adanya pengukuran suhu tubuh buat mendeteksi awal gejala Covid-19.

Baca juga:

Yang terpenting, sambung Dicky, menyiapkan petugas di lapangan untuk memastikan pengunjung mengindahkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, serta rajin membersihkan tangan.

“Untuk tempat wisata dengan terbuka bukan berarti lebih aman. Pengelola sebaiknya menyiapkan kipas angin untuk membangun sirkulasi udara. Karena kemajuan angin di bawah 50mph, risiko (penularan) relatif luhur, kalau dibantu kipas angin membantu sirkulasi udara. ”

“Dan tetap berlaku metode menjaga jarak lebih dibanding 1, 8 meter sejak orang lain. Selain langgeng memakai masker dan rutin membersihkan tangan. ”

Kalau semua panduan itu tak bisa dipenuhi, maka ia menyarankan pemerintah menutup tempat wisata.

Sumber gambar, KURUN

Lonjakan kasus Covid di Indonesia bisa besar kali lipat

Sebab buah dari kondisi tersebut, patuh Dicky, akan terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 had dua kali lipat di dalam dua hingga tiga kamar ke depan dengan sebagian besar ledakan kasus dengan tidak terdeteksi terjadi di rumah tangga.

“Kalau tahun lalu kenaikan kasus sampai 93% dan angka moralitas 66%, saat ini minimal bisa sampai dua kali lipat. Karena kita di dalam situasi yang lebih matang penularannya. Sebab banyak klaster penularan tidak teridentifikasi & ada varian baru virus corona dari Inggris yang lebih menular. ”

“Apalagi penularan virus corona dalam Indonesia sudah masuk ke level community transmission . Ini kelas terburuk yang artinya kita tidak bisa menemukan sebagian besar kasus infeksi dan tidak bisa melacak beberapa besar sumber infeksi. ”

“Nah artinya ini bom waktu di mana-mana. Ini yang saya sebutkan Nusantara sama kayak India. ”

Itu mengapa ia menyarankan pemerintah Indonesia agar bersiap menghadapi situasi terburuk dengan menguatkan fasilitas kesehatan serta program deteksi kasus secara aktif.

Kalau menetapkan, katanya, menyiapkan opsi Pembatasan sosial berskala besar pada Indonesia (PSBB) di Jawa-Bali.

Mengapa tempat wisata dapat beroperasi?

Juru bicara Penanganan Covid-19 dari Kementerian Kesehatan tubuh, Siti Nadia Tarmizi, mengutarakan kebijakan pemerintah pusat melegalkan tempat pariwisata beroperasi sebab pemerintah tidak ingin ada “penumpukan masyarakat di kepala tempat”.

Selain juga periode dari Pemberlakuan Pembatasan Kesibukan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Sumber gambar, ANTARA

“Pemerintah kan tidak melayani lockdown secara murni ataupun menutup atau melakukan pemisahan. Ada pelonggaran dalam PPKM skala mikro tapi pasti harus diiringi protokol kesehatan tubuh yang ketat, ” perkataan Siti Nadia Tarmizi kepada BBC News Indonesia, Minggu (16/05).

“Kalau (tempat wisata) ditutup, mal buka terjadi penumpukan di sana serta pasti masyarakat nyolong-nyolong buat wisata. Makanya harus diantisipasi oleh satgas daera buat menegakkan aturan. ”

Tetapi begitu, jika pengelola tempat wisata dianggap tidak bisa menjalankan aturan protokol kesehatan yang ditetapkan dalam PPKM mikro, maka satgas wilayah dalam hal ini pemda harus bertindak dengan menguncup sementara lokasi tersebut sembari menyiapkan infrastruktur yang lebih mumpuni untuk menjalankan aturan kesehatan.

Sesuai metode dalam PPKM skala mikro, pengelola wisata harus menetapkan jumlah pengunjung maksimal 50% dari kapasitas normal.

Pengelola wisata juga kudu memastikan pengunjung memakai kedok, menjaga jarak dan yang utama tidak berkerumun.

Jika pengelola wisata tidak bisa menjalankan aturan itu, maka pemda bisa menggugurkan sanksi semisal menutup tempat tersebut selamanya.

Sumber gambar, ANTARA

Seperti barang apa kesiapan pemerintah hadapi lonjakan kasus?

Bagaimanapun Nadia mengesahkan lonjakan kasus Covid-19 pada Indonesia tak bisa dihindari menyusul tingginya mobilitas bangsa.

Catatan lembaganya sejak April ada 24 provinsi yang terjadi peningkatan kasus positif dengan rata-rata nasional antara 5. 000 datang 6. 000 kasus di setiap hari dan angka maut melonjak di 17 provinsi.

Sebagai antisipasi kemajuan kasus yang akan terjadi pada 2 hingga 3 minggu ke depan, pihaknya menyiapkan beberapa strategi. Seperti pengetesan secara acak terhadap pengendara. Jika menemukan hasil pengetasan menunjukkan positif, oleh karena itu akan langsung diisolasi.

“Di beberapa daerah dilakukan karantina mandiri. Orang dengan datang melakukan karantina di rumah untuk menekan transmisi. Jadi kita coba kandas rantai penularan. ”

“Dari sektor kesehatan, kita siapkan RS, puskesmas yang dilengkapi antigen dan memastikan ketersediaan tempat tidur, ventilator. Serupa menyiapkan RS rujukan jika melebihi kapasitas isolasi serta ICU hingga 80%. Tersebut sudah dibuat strateginya. ”

Related Post