Covid-19 di Uttar Pradesh, India: ‘Rumah sakit penuh, warga meninggal di ambulans, krematorium penuh dengan jenazah’

9 jam yang lalu

Sumber gambar, Sumit Kumar

Gelombang ke-2 pandemi Covid-19 tengah mencengkeram India, ditandai dengan meroketnya angka kasus positif.

Dampak dari aliran kedua pandemi paling terasa di negara bagian Uttar Pradesh, yang juga dikenal sebagai negara bagian dengan jumlah penduduk terbanyak.

Total penduduknya mencapai 240 juta jiwa.

Jika Uttar Pradesh adalah negara, daerah ini akan menjadi negara keempat dengan jumlah penduduk terbesar di dunia sesudah China, India, Amerika Konsorsium dan Indonesia.

Dengan ukuran populasi pada atas 240 juta, Uttar Pradesh lebih besar dipadankan Pakistan dan Brasil.

Vimal Kapoor, seorang warga dalam Varanasi, salah satu tanah air di Uttar Pradesh, kematian sang ibu, yang wafat dunia di rumah sakit setelah terkena virus corona.

Kapoor menggambarkan situasi dalam kotanya “menakutkan”.

Dalam situasi normal, mendapatkan dokter & ambulans bisa sangat pelik. Pandemi Covid-19 dan lagu terhadap sistem kesehatan bisa dipastikan akan membuat awak makin kesulitan mendapatkan servis dokter.

“Saya saksikan banyak orang meninggal di ambulans. Rumah-rumah sakit menolak pasien karena tidak ada teristimewa tempat bagi mereka… obat-obatan dan pasok oksigen selalu sangat minim, ” logat Kapoor.

Baca selalu :

Kapoor mengungkapkan zaman membawa jenazah ibunya buat dikremasi, dirinya menyaksikan “tumpukan jenazah”.

Sumber tulisan, Sumit Kumar

Di mana-mana ambulans dan jenazah

Kehormatan kayu yang dipakai buat membakar jenazah naik tiga kali lipat dan zaman tunggu untuk mendapatkan tempat pembakaran jenazah makin periode.

Tadinya pihak keluarga menunggu antara 15 had 20 menit, namun saat ini harus menunggu hingga lima atau enam jam.

“Saya tak pernah menyaksikan status ini sebelumnya, di mana-mana ambulans dan jenazah, ” kata Kapoor.

Yang juga kehilangan anggota keluarga kelanjutan Covid-19 adalah warga kota Kanpur, Kanwal Jeet Singh.

Ayahnya yang berusia 58 tahun, Niranjan Pal Singh, meninggal dunia di atas ambulans ketika berusaha mendapatkan tempat perawatan setelah sebelumnya ditolak oleh empat sendi sakit.

“Hati saya hancur, ” kata Singh. “Saya yakin, andai saja tempat mendapatkan perawatan, nyawanya bisa diselamatkan. Namun [yang terjadi adalah], kami tak ada memperoleh bantuan baik dari penjaga, otoritas kesehatan, maupun sejak pemerintah, ” jelasnya.

Sekitar ini, terdapat setidaknya 851. 620 kasus positif secara jumlah kematian 9. 830 di Uttar Pradesh. Kejadian harian bertambah ribuan, walaupun banyak yang meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Sumber gambar, Getty Images

Pemerintah mengatakan “situasinya dapat dikendalikan”, namun lokasi-lokasi ulangan Covid-19 penuh sesak, rumah-rumah sakit kewalahan dan menegasikan pasien, sementara kayu-kayu yang membakar jenazah di tempat-tempat kremasi seakan tak sudah padam selama 24 tanda.

Situasi ini terjadi dalam kota-kota besar di Uttar Pradesh seperti Varanasi, Kanpur dan Allahabad.

Pusat-pusat kesehatan yang tidak bisa lagi menampung penderita membuat warga sangat kacau.

Seorang perempuan muda dalam Kanpur, dalam rekaman gambar, tampak menangis karena besar rumah sakit menolak menyelenggarakan ibunya.

“Mereka mengatakan tidak ada lagi tempat terbaring pasien. Kalau tak ada lagi tempat tidur, ya letakkan saja di arah lantai, setidaknya dengan berada di rumah sakit, ibu saya akan mendapatkan pembelaan. Ada banyak pasien yang bernasib sama dengan ibu saya, ditolak di mana-mana, ” kata perempuan bujang ini.

“Menteri utama mengutarakan tempat tidur di panti sakit cukup, mana buktinya? Tolong rawat ibu kami, ” katanya sambil menangis.

Tak ada petugas yang datang’

Situasi dalam ibu kota negara bagian, Lucknow, juga sangat hati.

Warga di kota ini, Sushil Kumar Srivastava, difoto berada di dalam mobil dengan tabung oksigen. Pihak keluarganya membawanya ke beberapa rumah sakit karena ia sangat membutuhkan pembelaan.

Saat keluarganya menemukan rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Ia meninggal dunia.

Purnawirawan hakim, Ramesh Chandra, serta istrinya terkena Covid-19 dan meminta bantuan pemerintah.

“Saya menelepon nomor bantuan pemerintah setidaknya 50 kali. Tidak satu pun petugas yang datang baik untuk mengirim obat ataupun membawa kami ke rumah sakit, ” kata Chandra dalam mulia tulisan tangan yang viral di media sosial.

“Karena keruwetan administrasi… istri kami meninggal dunia pagi sebetulnya, ” katanya.

Sumber gambar, Sumit Kumar

Pada hari Minggu (18/04), jumlah kasus positif menyentuh 30. 596, rekor harian tertinggi sejak pandemi Maret tahun lalu.

Aktivis serta politisi oposisi meyakini angka tersebut bukan angka yang sebenarnya dan mengeklaim angka sebenarnya lebih tinggi sedang.

Mereka mengatakan tidak semua angka kasus dan kematin dicatat oleh pemerintah. Permintaan ini siapa tahu ada benarnya.

Singh yang meninggal pada Kanpur dan ibu Kapoor yang meninggal di Varanasi tidak dimasukkan ke pada data pemerintah. Akta moralitas yang diterima pihak rumpun tidak menyebutkan bahwa keduanya meninggal karena Covid-19.

Anshuman Rai, direktur Rumah Kecil Heritage, kelompok swasta dengan mengelola sekolah kedokteraan serta rumah sakit pemerintah di Uttar Pradesh mengatakan negara bagian kewalahan karena banyak tenaga kesehatan yang lepas sakit.

Dalam situasi pandemi, kerja sistem kesehatan idealnya ditingkatkan dua kali ganda. “Saat ini kami tak bisa bekerja 100% sebab sektor kesehatan sangat tergantung dengan ketersediaan sumber daya manusia, ” katanya.

Para pengkritik menuduh negeri pusat dan negara periode gagal mengantisipasi datanganya aliran kedua.

Mereka mengatakan, ketika angka kasus melandai antara September 2020 hingga Februari 2021, mestinya pemerintah mendirikan gudang-gudang tabung oksigen dan menambah pasok obat.

Namun kesempatan, kata mereka, dilewatkan.

Laporan oleh Geeta Pandey, analisis data oleh Shadab Nazmi

Related Post

Instrumen militer Pindad: Pembelian 500 Rantis Maung - antara 'tidak mendesak di tengah wabah virus corona' serta mendorong 'industri dalam jati

Instrumen militer Pindad: Pembelian 500 Rantis Maung – antara ‘tidak mendesak di tengah wabah virus corona’ serta mendorong ‘industri dalam jatiInstrumen militer Pindad: Pembelian 500 Rantis Maung – antara ‘tidak mendesak di tengah wabah virus corona’ serta mendorong ‘industri dalam jati

sejam yang semrawut Sumber gambar, Twitter Prabowo Subianto Pengamat militer mengkritik kebijakan Kementerian Pertahanan yang membeli kendaraan strategis (rantis) Maung buatan PT Pindad sebagai kebutuhan "tidak mendesak" serta perlu