Covid-19 di India: Warga menyusul tabung oksigen dan obat-obatan di pasar gelap, harganya meroket

8 jam dengan lalu

Sumber gambar, Getty Images

Ketika rumah sakit-rumah kecil di Delhi dan banyak kota lainnya kehabisan ranjang, warga India terpaksa mencari cara-cara lain untuk merawat pasien Covid-19 di sendi, lapor wartawan BBC News di Delhi, Vikas Pandey.

Banyak di antara mereka mencari di rekan gelap meskpun harga buyung oksigen, oksigen kosentrator dan obat-obatan yang diperlukan telah meroket. Selain itu, obat-obatan yang diragukan keasliannya pula menjamur.

Langkah itu antara lain dilakukan oleh Anshu Priya. Ia rusak mendapatkan tempat tidur di rumah sakit di seluruh kota Delhi atau di kawasan pinggiran Noida untuk ayah mertuanya padahal kondisi kesehatannya memburuk.

Anshu menghabiskan waktu sehari penuh mencari tabung oksigen namun tidak juga berhasil.

Ia akhirnya memeriksa tabung oksigen di rekan gelap. Ia terpaksa merogoh koceh 50. 000 rupee (atau sekitar Rp9, enam juta) padahal harga normalnya 6. 000 rupee (sekitar Rp1, 1 juta) bagi tabung.

Karena ibu mertuanya juga kesulitan bernapas, Anshu tahu ia mungkin tak akan bisa mendapatkan buyung oksigen lagi di rekan gelap atau bisa membayarnya.

Sumber gambar, Getty Images

Kejadian ini tidak hanya dialami warga di Delhi tetapi juga di Noida, Lucknow, Allahabad, Indore serta begitu banyak kota yang lain. Warga berusaha mati-matian buat memberikan perawatan di rumah.

Namun sebagian besar penduduk India tidak mampu melakukannya. Sejauh ini sudah muncul laporan bahwa sejumlah warga sekarat di kemungkinan rumah sakit karena itu tidak mampu membeli obat-obatan yang diperlukan dan oksigen di pasar gelap.

BBC menghubungi penyalur tabung oksigen dan rata-rata mematok harga 10 kali lipat dari harga normal.

Kondisi berbahaya khususnya terjadi di Delhi dengan seluruh peraduan ruang ICU telah habis. Keluarga yang sanggup membayar akhirnya mempekerjakan perawat secara mandiri dan melangsungkan konsultasi daring dengan sinse untuk menyelamatkan anggota suku.

Tetapi warga harus berjuang keras untuk mendapatkan layanan tes darah hingga penggambaran CT atau sinar x.

Laboratorium penuh serta diperlukan waktu hingga 3 hari untuk menunggu hasil tes. Kondisi ini menyusahkan para dokter untuk pelajaran perkembangan penyakit pasien.

Pemeriksaan CT juga digunakan oleh dokter untuk memeriksa kondisi pasien tetapi untuk memperoleh pelayanan itu, orang harus menunggu sampai berhari-hari.

Tes PCR juga memerlukan berhari-hari sampai hasilnya keluar.

Membeli obat di rekan gelap

Seorang warga, Anuj Tiwari, menyewa perawat untuk membantu merawat saudaranya pada rumah setelah begitu penuh rumah sakit menolaknya.

Sebagian rumah sakit berargumen tak mempunyai ranjang yang tersisa dan sebagian yang lain mengatakan tidak menerima penderita baru karena adanya ketidakpastian tentang kelanjutan suplai oksigen. Sejumlah pasien meninggal dunia di Delhi karena kehabisan oksigen.

Sumber gambar, Sumit Kumar

Rumah sakit-rumah lara di ibu kota India itu mengeluarkan peringatan harian bahwa oksigen yang mereka miliki hanya cukup buat beberapa jam saja. Negeri menanggapinya dengan mengirimkan tangki oksigen yang mencukupi tujuan sehari.

Seorang dokter di Delhi menceritakan dengan jalan apa rumah sakit beroperasi & “sekarang muncul ketakutan bahwa tragedi besar mungkin terjadi”.

Dengan kondisi sendi sakit semacam itu, Tiwari melahirkan uang banyak untuk membeli konsentrator – yang bisa mengekstrak oksigen dari udara – agar saudaranya tentu bisa bernapas.

Dokter meminta Tiwari membeli obat antiviral remdesivir. Di India, remdesivir telah diberi lampu hijau penggunaan darurat serta lazim diresepkan dokter.

Tiwari tak bisa menjumpai obat itu di semua apotek dan akhirnya dia berpaling ke pasar kelam. Kondisi saudara laki-lakinya terus memburuk dan dokter dengan merawatnya mengatakan ia barangkali akan segera memerlukan pembelaan di rumah sakit. Di sana ia kemungkinan akan diberi obat remdesvir.

“Tak ada tempat rebah. Apa yang seharusnya beta lakukan? Bahkan saya tak bisa membawanya ke mana pun karena saya sudah menghabiskan uang banyak serta saya kehabisan uang saat ini, ” ungkapnya.

Harga remdesivir 100 mg biasanya US$12-51 (sekitar Rp174. 000-768. 000) tetapi di pasar kelam, obat itu dijual secara harga US$330-1. 000 (sekitar Rp4, 8 juta-14, 5 juta).

Sumber gambar, Getty Images

BBC menghubungi sebesar penjual obat-obatan di rekan gelap yang mengatakan persediaan terbatas sehingga mereka menetapkan harga begitu tinggi.

Pemerintah India mengeluarkan kerelaan kepada tujuh perusahaan buat memproduksi remdesivir di negeri itu dan mereka diperintahkan untuk menggenjot produksi.

Menurut epidemiolog dr Lalit Kant, keputusan meningkatkan penerapan itu telah terlambat & seharusnya sudah disiapkan untuk mengantisipasi gelombang kedua.

“Tetapi entah bagaimana caranya obat itu tersedia pada pasar gelap, jadi tersedia kebocoran dalam sistem suplai yang tak terkendalikan sebab pihak redulator, ” prawacana dr Lalit.

“Kami tidak memetik pelajaran dari aliran pertama. ”

Obat palsu

Obat remdesivir buatan juga muncul di rekan gelap. Kepada seorang distributor, BBC mempertanyakan keaslian obat karena nama produsennya tidak tertera dalam daftar perusahaan yang memegang izin produksi di India. Namun si penyalur hanya menjawab “100% asli”.

Tulisan dalam lapis obat penuh dengan kelengahan ejaan. Tetapi si penjual itu hanya mengangkat pundak dan menyarankan BBC buat melakukan pengetesan di lab.. Nama perusahaan yang tertera dalam bungkus obat tersebut juga tidak muncul dalam internet.

Sumber gambar, Getty Images

Tetapi warga begitu putus asa sehingga mereka tetap saja membeli obat-obatan yang keasliannya diragukan. Sebesar warga juga ditipu. Itu terus menerus saling berbagi nomer suplier yang menyediakan segala keperluan, mulai lantaran oksigen hingga obat-obatan. Tetapi tak satu pun nomer telepon itu diverifikasi.

“Begitu saya mengirimkan uangnya, pemilik nomer langsung memblokir nomer saya, ” cerita seorang pekerja di bidang teknologi informasi yang tidak sedia namanya ditulis.

Ia memperoleh nomer itu dari Twitter ketika perlu segera membeli tabung gas dan remdesivir. Pemilik nomer memintanya memenuhi uang muka 10. 000 rupee.

Keputusasaan mendorong orang mempercayai apa saja di saat-saat genting dan tampaknya menyuburkan pasar gelap. Kira-kira negara bagian berjanji memusnahkan pasar gelap obat remdesivir dan telah pula melakukan penangkapan. Tetapi pasar kelam tampaknya tidak terpengaruh.

Taat Anuj Tiwari, orang-orang laksana dirinya tidak mempunyai opsi lain kecuali membayar lebih.

“Tampaknya kami tak bisa mendapatkan peratawan dalam rumah sakit, dan sekarang kami tidak bisa menyelamatkan nyawa anggota keluarga tercinta bahkan di rumah sendiri, ” pungkasnya sebagaimana dilaporkan oleh wartawan BBC News, Vikas Pandey.

Related Post