Covid-19 di India: Apakah pandemi virus corona akan berakhir di India, sejalan dengan penurunan kasus?

  • Soutik Biswas
  • Juru India

12 menit yang lalu

Apakah penurunan pandai kasus virus corona di India sedrastis yang dipikirkan sebagian kalangan?

Apakah pandemi memang telah berkurang di negara yang menurut prediksi para pakar di awal wabah, akan menyebabkan jutaan orang wafat akibat Covid-19?

Oktober tahun lalu, aku telah banyak menulis soal mengapa pandemi tampak mulai menurun di India.

Jumlah kasusnya sudah menyentuh rekor tertinggi di pertengahan September tahun lalu – lebih dibanding sejuta kasus aktif. Sesudah itu, jumlah kasus baru dan mair harian mulai menurun di sedang pengetesan yang teratur dan kaum lonjakan yang singkat dan berpengaruh di beberapa kota seperti Delhi.

Sejak saat itu situasinya membaik.

Pertengahan pekan lalu, India mencatat kasus Covid harian rata-rata 10. 000. Dalam tujuh keadaan berturut-turut, rata-rata kematian harian kelanjutan penyakit itu menjadi di bawah 100.

Lebih dari setengah mutlak negara bagian di India tak mencatat adanya kematian akibat Covid. Selasa lalu, Delhi, yang tahu menjadi titik utama penularan, untuk kali pertama dalam 10 kamar terakhir, tidak melaporkan adanya satu kasus pun kematian akibat Covid.

Hingga kini, India telah menyimpan lebih dari 10 juta kejadian – terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Data mair tercatat lebih dari 150. 000 kematian.

Jumlah kematiannya per satu juta jiwa berada di angka 112, jauh lebih rendah dari dengan terjadi di Eropa maupun Amerika Utara. Jelas pula bahwa turunnya kasus di India bukan sebab tingkat pengetesan yang rendah.

Kebanyakan pandemi biasanya naik dan turun dalam kurva berbentuk lonceng. Tidak terkecuali di India.

Negara itu juga mengalami tingginya proporsi kasus dan kematian warga berusia di atas 65 tahun yang tinggal di kota-kota berpenduduk padat, memasukkan tren infeksi di seluruh negeri.

“Tidak ada yang ganjil mengenai turunnya penularan di India. Tidak ada yang ajaib, ” prawacana virolog terkemuka Dr Shahid Jameel.

Kalangan pakar menyatakan belum ada pengantara pasti terkait menurunnya tingkat transmisi dan jumlah kasus di India.

“Kami masih belum memiliki penjelasan yang kausal. Tapi yang saya tahu, India sebagai sebuah negeri masih jauh dari herd immunity, ” kata Bhramar Mukherjee, profesor biostatistika dan epidemiolog di University of Michigan, Amerika Serikat, dengan telah memantau pola pandemi.

Herd immunity terjadi setelah sebagian mulia dari suatu komunitas menjadi kebal dari suatu penyakit melalui vaksinasi atau melalui penyebaran penyakit dengan massal.

Mengapa India masih jauh mencapai herd immunity?

Survei serologi terbaru semrawut studi yang berbasis antibodi kacau menunjukkan bahwa 21% orang kala dan 25 anak-anak telah tertular Covid-19.

Ditemukan juga bahwa 31% karakter yang tinggal di pemukiman kumuh, 26% kaum urban yang tak menghuni pemukiman kumuh, dan 19% yang tinggal di luar praja telah terpapar virus tersebut.

Itu masih di bawah 50% semrawut angka yang dilaporkan di sebesar kota-kota yang lebih besar, bagaikan Pune dan Delhi.

Di sini, ada bukti tingkat keterpaparan dengan jauh lebih tinggi atas virus tersebut, menandakan bahwa tempat-tempat itu tampaknya kian dekat ke herd immunity.

Namun, kalangan pakar menilai angka-angka tersebut masih terlalu kecil.

“Tidak ada daerah di negara itu yang bisa dianggap sudah mencapai herd immunity, walau pada tempat-tempat kecil mungkin saja berlaku, ” kata Dr K Srinath Reddy, Ketua Yayasan Kesehatan Umum India, suatu lembaga pemikir berbasis di Delhi, kepada saya.

Oleh karena itu mereka yang masih belum terpapar virus di tempat-tempat yang mempunyai tingkat infeksi yang tinggi kira-kira tetap terlindungi di komunitasnya, namun bisa menjadi rentan bila berangkat ke wilayah-wilayah yang tingkat penularannya lebih rendah.

Menurut kalangan pakar, barangkali ada dua penyebab.

Salah satunya, India telah mengalami pandemi “tambal sulam” yang mana total kasusnya muncul dan redup dalam waktu dan wilayah yang berbeda.

Makin banyak orang yang tertular di perkotaan – terutama di pemukiman kumuh – maupun di wilayah-wilayah yang sudah maju ketimbang di pedesaan.

Di semua wadah tersebut, keterpaparan mereka atas virus sangat bervariasi. Kasus-kasusnya kini melambat di kebanyakan wilayah perkotaan, tetapi pedesaan India masih tetap jadi misteri.

“Firasat saya ialah paparan atas penularan itu jauh lebih tinggi dari yang ditunjukkan survei. Juga, kita jangan kadar kasus yang di India hanya dari satu kesatuan. Di kurang kota seperti Delhi, Mumbai, Pune, dan Bangalore, hingga 60% warganya telah ditemukan antibodi atas virus tersebut. Jadi semuanya masih betul timpang, ” kata Dr Shahid Jamee, virolog terkemuka.

Penjelasan lainnya adalah India telah dan tetap kesulitan memantau banyak kasus, beberapa besar karena banyak mereka dengan terpapar tidak menunjukkan gejala sesuai sekali atau tergolong sangat mudah.

“Bila memiliki banyak kasus ysang bergejala sangat ringan atau asimtomatik, kita mungkin telah mencapai ambang herd immunity. Bila itu yang terjadi, kita masih harus jelaskan, mengapa begitu banyak kasus secara gejala yang sangat ringan di India? ” tanya Partha Mukhopadhyay, peneliti senior di Centre for Policy Research di Delhi, dengan mempelajari pandemi.

Apakah rendahnya tingkat kematian jadi misteri?

Kebanyakan ilmuwan tetap bahwa lebih banyak warga India yang meninggal akibat Covid-19 daripada jumlah yang diumumkan resmi. India terkenal punya catatan buruk dalam melaporkan kematian dan banyak masyarakat yang meninggal di rumah.

Sekalipun demikian, hal itu tidak datang menimbulkan kepanikan masyarakat atau menghasilkan rumah sakit jadi kewalahan.

Khayalkan, India memiliki 600. 000 desa. Namun sistem kesehatan masyarakatnya tak sampai kewalahan bila ada satu kematian yang terdiagnosis dan tak dilaporkan di masing-masing desa setiap hari.

India menerapkan razia dan penyudahan akhir Maret tahun lalu buat menahan laju penyebaran virus Covid-19. Kalangan ilmuwan yakin bahwa penutupan itu, yang berlangsung selama dekat 70 hari, benar-benar mencegah lebih banyak lagi penularan dan moralitas.

Penularan jadi melambat di kota-kota dengan tergolong parah karena makin meluasnya kewajiban pakai masker wajah, bangun jarak fisik, penutupan sekolah serta kantor serta memaksa warga kerja dari rumah.

Para ilmuwan yang menilai turunnya tingkat kematian akibat banyaknya populasi kaum muda, imunitas yang terlindungi, banyaknya pedesaan yang sulit dijangkau dari kota-kota tinggi, faktor genetika, kebersihan yang membatalkan, dan cukup protein pelindung peparu.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa penularan itu kebanyakan disebarkan oleh virus yang berada pada ruang tertutup maupun cipratan iler yang berada di udara di dalam ruangan berventilasi buruk.

Namun bertambah dari 65% warga India dengan tinggal dan bekerja di pedesaan. Brazil, contohnya, wilayah perkotaannya hampir tiga kali lipat lebih banyak dari India dan itu beberapa bisa menjelaskan tingginya jumlah urusan dan kematian di negara Amerika Latin itu, ungkap para ilmuwan.

Di perkotaan, mayoritas tenaga kerjanya terlibat dalam ekonomi informal. Itu berarti banyak dari mereka, semacam pekerja konstruksi atau pedagang suku lima, tidak bekerja di tempat-tempat tertutup.

“Risiko penularan lebih rendah bagi mereka yang bekerja dalam tempat terbuka atau yang berventiliasi setelah tertutup, ” kata Dr Reddy.

Apakah India sudah menghindari gelombang kedua?

Terlalu dini untuk mengatakannya.

Kalangan pakar khawatir bahwa India bisa mengalami lonjakan infeksi dengan dimulainya musim hujan, yang pula menandai awal musim influenza di negara itu. Ini berlangsung lantaran Juni hingga September dan memasukkan malapetaka banjir di seluruh arah Asia Selatan setiap tahun.

“Awal musim hujan akan datang bahan menjadi masa kritis. Kami cuma membuat penilaian yang berdasarkan fakta apakah pandemi benar-benar telah merembet di India setelah musim sudah, ” kata seorang epidemiolog dengan tidak ingin disebutkan namanya.

Urusan besar yang patut diwaspadai, menurut kalangan ilmuwan, adalah varian-varian anyar virus yang dilaporkan di Afrika Selatan, Brazil, dan Inggris.

Era banyak warga India yang belum terpapar Covid-19, varian dominan mampu dengan mudahnya bergerak ke wilayah-wilayah yang belum terinfeksi dan membuat pecahnya wabah baru.

India sudah melaporkan lebih dari 160 kejadian varian dari Inggris hingga akhir Januari lalu.

Tidak jelas apakah varian lainnya sudah beredar selalu? India pun bisa dengan mudahnya memiliki varian-varian baru yang muncul di dalam negeri.

Varian Inggris itu terlihat di Kent pada September tahun lalu, namun jadi penyebab bagi pecahnya gelombang kedua di negeri itu dua bulan kemudian.

Sejak itu varian tersebut ditemukan pada lebih dari 50 negara, serta kini bakal menjadi varian besar yang baru di tingkat global.

India memiliki cukup banyak laboratorium ilmiah, namun pengurutan genomnya masih belum jelas, kata para ilmuan.

“Varian baru itu masalah mulia. Ini bisa menjungkirbalikkan semua perhitungan kita. Maka kita harus lebih waspada dan laboratorium-laboratorium kita harus meningkatkan pengurutan genome untuk mencari varian-varian baru, ” kata Dr Jameel.

Jelasnya, India perlu mempercepat gerakan vaksinasi. Enam juta vaksin sudah diberikan tidak sampai sebulan. Pemerintah menargetkan 300 juta orang sudah disuntik hingga Agustus kelak untuk memastikan gelombang kedua tidak sampai memperluas penularan.

Dan jangan sampai langsung berpuas diri. Para dokter dan ilmuwan mendesak kelompok untuk jangan dulu kumpul-kumpul atau berada di wilayah ramai orang serta terus memakai masker & selalu mencuci tangan.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Related Post

George Floyd: Presiden AS Donald Trump dukung pelarangan teknik tekan leher dalam penangkapan polisi, namun menetapkan itu sesekali diperlukan

George Floyd: Presiden AS Donald Trump dukung pelarangan teknik tekan leher dalam penangkapan polisi, namun menetapkan itu sesekali diperlukanGeorge Floyd: Presiden AS Donald Trump dukung pelarangan teknik tekan leher dalam penangkapan polisi, namun menetapkan itu sesekali diperlukan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan mendukung penghapusan teknik tekan leher untuk menahan simpulan dalam penangkapan polisi. Namun dia menegaskan bahwa teknik itu sesekali diperlukan. Beberapa kesatuan polisi dalam