Cerita walikota perempuan Afghanistan kabur dari Taliban: ‘Saya umpet di bawah kursi mobil’

  • Joshua Nevett
  • BBC News

28 Agustus 2021, 09: 09 WIB

Jatuhnya Kabul ke lengah Taliban menjadi firasat bagi Zarifa Ghafari, salah satu walikota perempuan pertama di Afghanistan.

Setelah petempur Taliban merangsek ke pokok kota Afghanistan itu, dia menyadari bahwa nyawanya di bahaya. Beberapa hari lalu ia kabur bersama keluarganya ke Jerman dan menerangkan pengalamannya kepada BBC.

Baca juga:

Ghafari, 29 tahun, telah menjelma pejabat publik terkemuka dan suara lantang bagi hak-hak perempuan.

Dia meyakini predikatnya tersebut menjadikannya ancaman bagi Taliban, dengan terkenal kerap membatasi posisi perempuan sejalan dengan keterangan kaku mereka terhadap petuah Islam. “Suara saya punya kekuatan yang tidak dipunyai senjata, ” ujarnya.

Awalnya Ghafari ngotot ingin status selama perebutan kekuasaan dengan sangat cepat oleh Taliban, meskipun ia takut bakal nyawanya. Namun optimisme itu berubah menjadi keputusasaan.

Sumber gambar, Zarifa Ghafari

Tak lama setelah Taliban mengambil alih, Ghafari disarankan supaya pindah dari rumahnya. Kewaswasan akan keamanannya segera terbentuk ketika beberapa petempur Taliban datang ke rumahnya. Menurutnya, para petempur Taliban memukuli penjaga keamanannya.

Keamanan telah menjadi persoalan terus-menerus bagi Ghafari dalam beberapa tahun terakhir. Ia sudah beberapa kali lolos dari jalan pembunuhan sejak 2018, masa pada usia 26 tahun ia diangkat menjadi walikota Maidan Shar, kota wadah Taliban mendapat dukungan merata.

Kebencian terhadap Ghafari naik dengan pembunuhan terhadap ayahnya tutup tahun lalu. Sang ayah adalah anggota senior militer Afghanistan dan Ghafari memeriksa ia punya musuh di Taliban.

Ketika Taliban kembali menguasai Afghanistan pada rata-rata Agustus, Ghafari memutuskan telah waktunya untuk meninggalkan daerah itu.

Sumber gambar, Zarifa Ghafari

Pada 18 Agustus, dia menyewa sebuah mobil untuk membawanya dan keluarganya ke bandara Kabul.

Selama perjalanan, dia bersembunyi di bawah kursi mobil, merunduk untuk berlindung setiap kali mereka melewati pos penelitian Taliban.

“Ketika kami sampai di gerbang bandara, ada petempur Taliban di mana-mana, ” katanya. “Saya bersusah-payah untuk menyembunyikan diri. ”

Sumber gambar, Zarifa Ghafari

Di bandara, duta gembung Turki di Kabul membantu mereka untuk menumpang udara ke Istanbul. Dari sana, mereka terbang ke Jerman.

“Ketika saya kehilangan abu saya, [saya pikir saya] tidak akan pernah merasakan hal yang sama teristimewa dalam hidup ini, ” ujarnya. “Tetapi ketika aku naik pesawat untuk mencuaikan negara saya, itu bertambah menyakitkan daripada kehilangan abu saya. ”

Hari jatuhnya Kabul adalah “momen terburuk dalam hidup saya”, katanya.

“Saya tidak akan sudah bisa meredakan rasa rendah di hati saya. Kami tidak pernah berencana buat meninggalkan negara saya, ” katanya.

Sekarang dalam suasana aman di kota Düsseldorf, Jerman, Ghafari mengakui bahwa ia adalah salah satu yang beruntung seiring situasi di sekitar bandara Kabul menjadi semakin berbahaya.

Sumber gambar, Zarifa Ghafari

Dia berjanji untuk bertemu dengan para politikus dan kepala dunia untuk menarik mengindahkan pada kehidupan warga Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban.

Ia juga bersedia untuk berbicara dengan Taliban, karena “kita perlu saling memahami”.

“Pasukan asing tidak hendak datang untuk membantu ana. Ini waktunya kami menyelesaikan masalah dengan Taliban. Aku siap mengambil tanggungan itu, ” katanya.

Sumber tulisan, Zarifa Ghafari

Namun, dia tetap tidak mempercayai Taliban, terutama dalam hal hak-hak perempuan.

Terakhir kali mereka berkuasa sebelum 2001, Taliban memberlakukan versi ua-konservatif sejak hukum Islam, yang mereka jadikan pembenaran untuk melarang perempuan pergi ke madrasah atau bekerja.

Pekan morat-marit juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan perempuan “akan sangat aktif dalam klub namun dalam kerangka Islam”. Tetapi Ghafari skeptis: “Kata-kata mereka tidak pernah sesuai dengan tindakan mereka. ”

Ia berharap untuk kembali ke Afghanistan suatu keadaan nanti, setelah keadaannya tenteram.

“Itu negara saya berantakan saya turut membangunnya. Saya bertahun-tahun berjuang untuk membangunnya, ” katanya.

“Saya ingin mengembalikan sedikit pasir yang saya bawa dari negara saya ke tempat asalnya. ”

Related Post