Buah hati Rizieq: Pengaruhnya ‘makin melemah’ atau menunggu ‘peran’ zaman Pilpres 2024?

2 jam yang lalu

Sumber gambar, Eko Siswono Toyudho/Getty

Elok Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (27/05) dijadwalkan membaca putusan vonis tempat kasus kerumunan di Petamburan dan Mega Mendung dengan terdakwa Rizieq Shihab setelah proses sidang selama berminggu-minggu.

Apapun vonis hakim atas Rizieq Shihab dan walau organisasinya telah dibubarkan, menurut pengamat politik dari Netfid (Network for Indonesia Democratic Society), Dahliah Umar, pimpinan FPI tersebut masih punya pengaruh kebijakan, terutama menyangkut kepentingan kebijakan identitas, menjelang tahun Pemilu 2024.

Namun Dahliah melihat besar kecilnya efek Rizieq juga tergantung pada isu yang bisa menumpukan massa dalam jumlah banyak, mengingat FPI berbasis kekuatan massa.

“Selama tak ada pengumpulan massa serta tidak ada isu yang kemudian mampu untuk membakar massa, menurut saya bakal semakin mengecil pengaruhnya. ”

Tatkala Rizieq Shihab, menurut pengacaranya, berkukuh tetap akan berpolitik dan bersikap oposisi kepada pemerintah.

“Sikap kebijakan itu dilindungi undang-undang, oleh sebab itu tidak ada yang mempunyai menghalangi. Sikap politik tempat akan dicarikan momentum dengan tepat, ketika dia telah di luar (penjara), ” ujar Sugito Atmo Prawiro, pengacara Rizieq.

Sumber gambar, DANY KRISNADHI/AFP

Sedangkan politisi Partai Golkar, Dave Laksono mengatakan, walaupun sulit menghilangkan isu politik identitas, namun menurutnya pengaruh Rizieq Shihab sudah melemah sejak dua kubu yang berseteru di Pemilu 2019 telah berpadu dalam koalisi pemerintah.

“Karena waktu pilpres dengan lalu, calonnya [kubu Rizieq Shihab] Pak Prabowo. [Dan] Pak Prabowo sekarang sudah gabung ke pemerintah, ” kata Dave kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/05).

Pada November lalu, Rizieq ditetapkan jadi tersangka kasus kerumunan massa yang melanggar protokol kesehatan Covid-19, setelah dia pulang dari Arab Saudi.

Sumber gambar, Adriana Adie/Getty

Dan akhir April morat-marit, polisi menangkap salah-seorang arahan FPI Munarman karena diduga menggerakkan orang lain dan mufakat jahat untuk melaksanakan tindak pidana terorisme.

Dalam berbagai kesempatan, Rizieq Shihab atau pimpinan FPI lainnya menuduh apa dengan dialami pihaknya sebagai kriminalisasi dan korban kezaliman penguasa.

Tuduhan seperti tersebut sudah berulangkali dibantah oleh aparat kepolisian dan pejabat keamanan pemerintah.

Menyuarakan juga:

‘Masih punya pengaruh untuk politik identitas’

Pengamat politik dari Netfid (Network for Indonesia Democratic Society), Dahliah Umar, membuktikan walaupun FPI sudah dibubarkan dan Rizieq Shihab bertemu proses hukum di mahkamah, pengaruhnya belum habis memikirkan masih punya banyak loyalis dan itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik terpaut politik identitas jelang Pemilu 2024.

Namun tersebut semua tergantung pada cermin gerakannya, jadi tidak akan signifikan selama tidak ada pengerahan massa atau tidak ada isu yang menggerakkan massa.

“Kalau kita lihat figur-figur yang kemudian dipenjara sebenarnya masih bisa menyampaikan pesan-pesan melalui media sosial yang diadministrasikan sebab loyalisnya.

Sumber tulisan, ANTARA FOTO

“Dia bisa bermain di media baik, tetapi karena FPI tersebut kekuatan massa, selama tak ada pengumpulan massa & tidak ada isu yang kemudian mampu untuk menggerakkan massa, menurut saya akan semakin mengecil pengaruhnya.

“Apalagi sekarang perpolitikan dengan dulu terpolarisasi sudah menyatu dalam koalisi pemerintahan, ” kata Dahliah kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/05).

Namun, lanjut dia, walaupun di koalisi pemerintahan untuk mengurangi polarisasi itu diusahakan oleh elit politik, tidak kemudian membuat akar suket itu menyatu juga. Tersebut yang membuat Rizieq Shihab masih punya pengaruh.

“Jadi politik identitas itu selesai di elit, akan tetapi tidak selesai di lembah. Itulah kenapa kemudian Buah hati Rizieq ini walaupun nanti dia divonis atau dipenjara, tetap pengikut setianya ada dan mereka akan semakin sulit untuk dikontrol karena FPI-nya bubar.

“Jadi ada organisasi yang massanya besar, dibubarkan, tapi secara ideologi kan mereka tak hilang. ”

Sumber gambar, Reuters

Maka, lanjut Dahliah, sebenarnya dibubarkannya FPI tak kemudian membuat kekuatan pengikut ini langsung hilang.

“Dia hanya senyap sekilat, tapi kalau nanti sudah mendapatkan pemimpin baru, misalkan Habib Rizieq nanti dipenjara, kemudian Habib Rizieq lalu menunjuk si A untuk meneruskan dan posisinya tersebut di luar penjara serta bisa menggalang kekuatan, massa terkumpul lagi dengan berganti nama. Jadi mereka lulus berganti nama aja.

Maka sebenarnya tidak selesai secara membuat atau menjerat pemimpinnya dalam kasus-kasus pidana terbatas, kemudian kita berharap organisasinya berhenti. Itu hal yang sangat sulit untuk dituju. ”

Menurut Dahliah, sesudah FPI dibubarkan, negara serupa harus memikirkan apa yang akan dilakukan terhadap para-para pengikut Rizieq Shihab.

Sumber gambar, BBC Indonesia

“Di FPI bisa saja selain ada unsur-unsur yang bertambah condong mendukung kelompok-kelompok ekstremis, namun ada anggota dengan tergolong biasa-biasa saja, yakni orang-orang Islam yang suka mengaji kemudian gabung ke FPI.

Jadi, taat saya negara harus memasukkan terus bagaimana, apa sekadar yang dilakukan oleh pendukung Habib Rizieq di FPI ini, dan kemudian tak boleh melabeli bahwa semua pengikut Habib Rizieq tersebut berpotensi sebagai ancaman negeri. ”

Maka, dengan adanya eksponen-eksponen eks FPI yang membentu organisasi baru, Dahliah menyarankan agar tidak dilarang, apalagi kalau mereka lalu dilihat sebagai kelompok dengan lebih mengarah ke faedah.

Organisasi baru lemahkan Rizieq Shihab?

Di bagian lain, setelah dibubarkannya FPI, muncul dua organisasi anyar yang dibentuk eksponennya, yaitu Front Persaudaraan Islam dengan dideklarasikan oleh Aziz Yanuar dan Ada Front Persatuan Islam yang dideklarasikan Ahmad Sobri Lubis.

Sumber gambar, ANTON RAHARJO/GETTY

Taat Dahliah dengan adanya organisasi yang kemudian mengklaim jadi pengganti FPI, bisa saja kemudian pengaruh Rizieq Shihab itu jadi melemah.

“Artinya sebenarnya dibubarkan FPI ini dengan adanya pola baru, usaha untuk menggugat pembubarannya menjadi ‘tidak dianggap terlalu penting’ karena toh sudah ada organisasi terakhir yang akan melanjutkan misi-misi FPI.

“Organisasi baru itu ada pemimpinnya juga, maka sudah semakin terfragmentasi eksponen-eksponen FPI yang kemudian menyusun organisasi sendiri-sendiri yang diklaim melanjutkan FPI.

“Itu satu diantara indikator mengapa kemudian mampu saja Rizieq Shihab menjadi semakin melemah karena dia tidak lagi punya organisasi yang dia pimpin, kemudian ada eksponen FPI dengan membuat organisasi sendiri-sendiri yang itu bisa saja menjadi kekuatan politik yang digunakan oleh siapapun untuk hajat politik nasional 2024, ” ujarnya.

‘Rizieq Shihab bukan ancaman besar’

Dave Laksono, politikus Partai Golkar yang juga anggota Persen I DPR mengatakan, dirinya tidak melihat kehadiran wujud Rizieq Shihab dan pendukungnya sebagai ancaman, lantaran peta perpolitikan nasional sudah bertukar belakangan.

Sumber gambar, ANTARA MEMOTRET

Walaupun sentimen ‘anti-Jokowi’ masih disuarakan Rizieq Shibab dan pendukungnya, Dave menganggap sentimen seperti itu kian melemah.

“Karena waktu pilpres yang lalu, calonnya [kubu Rizieq Shihab] Pak Prabowo. [Dan] Pak Prabowo sekarang sudah gabung ke pemerintah, ” kata pendahuluan Dave kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/05).

Dengan demikian, Dave tidak melihat kehadiran Rizieq yang menyuarakan dirinya sebagai oposisi jadi “ancaman yang besar”.

“Saya tidak melihatnya sebagai ancaman yang besar, ” ujarnya.

Jika saat ini dirasakan sentimen anti pemerintahan Jokowi itu masih terlihat, kejadian itu lantaran kejadiannya “masih baru”.

Sumber gambar, MUHAMMAD IQBAL/ANTARA FOTO

“Ini kejadiannya baru beberapa tahun yang lalu, dan sekarang ‘kan Presidennya masih Jokowi, bakal tetapi saya melihat sentimennya makin melemah, ” jelasnya.

Namun demikian Dave meminta pemerintahan Jokowi agar tak melakukan pendekatan “kekerasan atau hantam langsung” terhadap orang-orang yang selama ini dianggap sebagai pendukung Rizieq.

Di sisi lain, Dave Laksono mengatakan, penggunaan politik identitas keagamaan dalam perpolitikan, tidak cocok bagi proses demokrasi yang sehat.

“Kita mengambil calon bukan berdasarkan penguasaan atau kecakapan seseorang, akan tetapi dilihat dari identitas [suku atau agama]… ini memberangus demokrasi itu sendiri, ” kata Dave kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/05).

Sumber gambar, ED WRAY/GETTY IMAGES

Dalam praktiknya, Dave tidak memungkiri politik individualitas masih berlangsung di bangsa, yang antara lain ditunjukkan sentimen berdasarkan isu agama.

Dia mencontohkan hal tersebut terlihat nyata dalam Pilpres 2019 dan di pilkada di Jakarta.

“Pasti [politik identitas] akan selalu ada semangat itu, dan selalu digunakan lawan kebijakan untuk mengurangi suara kita, ” kata Dave.

Pengacara: ‘ Rizieq Shihab berpotensi menjadi vote getter di Pilpres 2024′

Salah-seorang pengacara Rizieq Sihab, Sugito Atmo Prawiro mengatakan kliennya berkukuh langgeng akan berpolitik dan berpose oposisi terhadap pemerintah.

“Sikap politik itu dilindungi Undang-undang, jadi tidak ada yang berhak menghalangi. Kelakuan politik dia akan dicarikan momentum yang tepat, masa dia sudah di asing (penjara), ” ujar Sugito Atmo Prawiro, pengacara Shihab kepada BBC News Nusantara, Rabu (26/05).

Namun diakuinya, saat ini gerak-gerik kliennya dibatasi, dikontrol, dan diatur, sehingga kesulitan untuk mengutarakan sikap politiknya. “Kecuali jika nanti dia sudah khali, ” ujarnya.

Menurutnya, Rizieq merupakan pendukung “tokoh tertentu” terkait Pemilu Presiden 2024. Kenyataan ini pula dengan disebutnya membuat kliennya diperkarakan secara hukum, belakangan.

“[Rizieq Sihab] dianggap berpotensi untuk menjadi vo t e getter bagi pemilih pemula atau umat Islam, juga bisa merisaukan, ” katanya.

Sumber gambar, Sigit Prasetya/Getty

Bukti lainnya, banyak dugaan pelanggaran protokol kesehatan yang berlaku di masyarakat, tapi menurutnya “hanya Rizieq Shihab dengan disidangkan”.

“Ini sudah menjelma gambaran jelas (lebih ialah perkara politik), ” ujarnya.

Sugito mengaku apa yang dialami kliennya saat tersebut menyebabkan kekuatannya sebagai oposisi menjadi “dibungkam”.

“Dan akhirnya pendukungnya bersikap di dalam diam. Bukan berarti tidak bersikap. Kalau nanti tersedia pilpres, atau kegiatan kebijakan, ketika ada momentum tertentu, pasti akan bersikap, ” jelas Sugito.

“Sekarang diam dalam ketakutan, karena kekuatan sekarang sangat represif terhadap yang berbeda pendapat, ” tambahnya.

Related Post