Belanda tawarkan ganti rugi Rp86 juta kepada anak-anak korban pembantaian 1945-1950, tapi harus didukung bukti dokumentasi

Belanda tawarkan ganti rugi Rp86 juta kepada anak-anak korban pembantaian 1945-1950, tapi harus didukung bukti dokumentasi post thumbnail image

Westerling

Pemerintah Belanda menyatakan akan menawarkan ganti rugi kepada anak-anak dari warga Indonesia yang dieksekusi oleh prajurit Belanda dalam perang kemerdekaan kurun tahun 1945 hingga 1950.

Pemerintah Belanda menjanjikan ganti hilang sebesar 5. 000 euro ataupun sekitar Rp86 juta kepada anak-anak yang ayahnya terbukti dieksekusi oleh Belanda pada periode itu.

Kepastian itu disampaikan oleh Menteri Asing Negeri Stef Blok dan Menteri Pertahanan Ank Bijleveld, dalam tulisan kepada parlemen.

“Anak-anak yang dapat meyakinkan ayah mereka adalah korban daripada eksekusi semena-mena sebagaimana diuraikan… mempunyai mendapatkan kompensasi, ” kata dua menteri Belanda ini pada Senin (19/10).

Ditambahkan hingga kini belum jelas berapa orang yang akan mengajukan permintaan ganti rugi berdasarkan skema baru.

Pemerintah, menurut kedua menteri itu, juga tidak bakal mengajukan banding atas keputusan pengadilan pada Maret lalu yang menganjurkan ganti rugi kepada janda & anak dari 11 pria dengan dieksekusi di Sulawesi Selatan jarang tahun 1946 hingga 1947. Kini pemerintah menawarkan “instrumen yang sanggup diakses ” kepada anak-anak korban.

Itu yang mengajukan ganti rugi harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara asing bukti bahwa ayah mereka memang dibunuh dalam eksekusi yang terdokumentasikan dan juga dokumen yang membuktikan mereka anak dari ayah yang dibunuh.

Disebutkan pula tawaran ganti rugi dimaksudkan untuk mengakhiri gugatan-gugatan yang berkepanjangan menyusul berbagai kejadian yang diajukan oleh anak-anak objek kekejaman Belanda, termasuk dalam perihal yang dikenal dengan pembantaian arahan Raymond Westerling di Sulawesi Selatan pada tahun 1946 sampai 1947.

Ganti rugi janda dan anak berbeda jauh

Banyak penduduk laki-laki dieksekusi lantaran dianggap prokemerdekaan ketika tersebut.

Oleh karena itu, anak-anak mereka menuntut agar kompensasi tidak hanya diberikan kepada para janda, namun juga anak-anak mereka.

Sebagian janda yang mengajukan ganti rugi telah menerima uang 20. 000 euro atau setara Rp346 juta berdasarkan kurs saat ini melalui perintah pengadilan pada tahun 2013.

Abdul Halik; Westerling

Kaum tuntutan dari anak korban juga telah diputuskan meskipun nilai ganti rugi jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah yang diberikan kepada bujang.

Sebagai contoh, Pengadilan Sipil Den Haag pada tanggal 30 September lalu memerintahkan pemberian ganti rugi 874. 80 euro atau kira-kira Rp15 juta kepada Malik Abubakar, putra dari Andi Abubakar Lambogo, pejuang asal Sulawesi Selatan yang kepalanya dipenggal oleh serdadu Belanda pada tahun 1947.

Menanggapi tawaran ganti rugi pemerintah Belanda ini, Syamsir Halik, cucu dari Becce Beta, warga Bulukumba yang dieksekusi prajurit Westerling mengatakan ia akan bersepakat dengan ayahnya, Abdul Halik jadi keturunan langsung dari korban.

Namun menetapi jumlah tawaran jauh dari tuntutan, ia mengindikasikan mungkin tawaran itu sulit diterima.

“Mungkin kalau tawaran substitusi rugi sesuai dengan permintaan budak korban yaitu setidaknya sama dengan yang diberikan kepada janda 20. 000 euro, mungkin anak objek mau, ” kata Syamsir Halik melalui sambungan telepon kepada kuli BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir pada Senin malam (19/10).

“Kalau bujang setelah suaminya ditembak tentara Belanda, ia menikah lagi. Tapi kalau anak ditinggal ayahnya, maka tidak ada yang menafkahinya sehingga tidak bisa bersekolah dan masa depannya hilang, ” ia memberikan kausa mengapa ganti rugi untuk bani semestinya sama dengan janda.

Raja Belanda

Syamsir Halik aktif di LSM Lidik Pro yang antara lain berperan dalam pendampingan keluarga korban pembantaian di Sulawesi Selatan.

Sepengatuannya, had kini terdapat sekitar 146 bani korban yang masih hidup sebab sekitar 200 orang yang menuntut.

Mahkamah Belanda masih menangani sejumlah urusan tuntutan ganti rugi atas kebiadaban yang dilakukan oleh pasukan Belanda sesudah Proklamasi Kemerdekaan.

Untuk mula-mula kalinya, Kerajaan Belanda melalui Indra Willem-Alexander dalam kunjungan ke Nusantara pada Maret lalu menyampaikan tuntutan maafnya kepada Indonesia atas kebengisan yang terjadi di masa lulus, khususnya sesudah Prokolamasi.

Permintaan maaf Raja Willem Alexander yang cuma dikhususkan pada periode itu menimbulkan kritikan sejumlah sejarawan Belanda.

Keluarga target pembantaian Westerling menerima permintaan maaf tersebut ketika itu meskipun mengucapkan kesalahan Belanda harus tetap ditebus.

Related Post