Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bersitegang, harga minyak jadi naik – mengapa bisa terjadi?

  • Sameer Hashmi
  • Koresponden BBC bidang bisnis Timur Tengah

7 menit yang semrawut

Arab Saudi

Sumber gambar, Reuters

Polemik antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi mengenai kuota produksi minyak dengan terjadi pekan ini menimbulkan pembicaraan antara negara-negara anggota OPEC dikesampingkan dan membina pasar energi dalam ketidakpastian, sehingga mendorong harga patra ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Sebanyak 23 negara yang tergabung dalam OPEC+, yakni gabungan anggota organisasi pengekspor minyak dan produsen-produsen tinggi lainnya seperti Rusia, terdesak harus menunda negosiasi buat sementara waktu.

Situasi itu meningkatkan kekhawatiran atas stabilitas forum itu, yang semasa 18 bulan terakhir mencari jalan menstabilkan pasokan minyak dalam tengah krisis global terpaut pandemi Covid.

Perkara bermula pekan lalu, saat Uni Emirat Arab menumpukan proposal dari pimpinan OPEC+, yaitu Arab Saudi & Rusia, untuk memperpanjang penyekatan produksi selama delapan kamar lagi.

OPEC

Sumber gambar, Reuters

UEA ingin melakukan perundingan ulang soal basis produksinya masa ini – taraf buat menghitung apakah pemotongan atau pemangkasan produksi perlu dikerjakan – agar negara tersebut bisa leluasa memompa lebih banyak minyak.

Namun, Arab Saudi dan Rusia menegasikan usulan itu.

Negosiasi berubah menjadi polemik ketika menteri energi UEA serta Arab Saudi, yang bersekutu dekat, mengutarakan perbedaan aksi mereka kepada publik.

“Perseteruan itu mengejutkan, tapi mungkin polemik tak terelakkan, ” kata Ben Cahill, pengamat dari Center for Strategic and International Studies di Washington.

“Kapasitas produksi Abu Dhabi tidak bahasa dengan kuota di OPEC. Negara itu telah berinvestasi banyak uang untuk mendaulat produksinya. Dan kini menuntut bisa menuai hasilnya.

“Itu sebabnya UEA oleh sebab itu frustrasi sejak tahun awut-awutan karena tidak leluasa menimbulkan produksi, ” tambahnya.

Hubungan dua pangeran

Semasa beberapa tahun terakhir, kemitraan antara Arab Saudi dan UEA telah membentuk geopolitik dunia Arab.

Ikatan personal antara Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, dan Putra Tali jiwa Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed, memainkan peran pokok dalam mempererat kemitraan itu.

Arab Saudi

Sumber gambar, Reuters

Keduanya pun dilihat sebagai penguasa de facto negara masing-masing dan sama-sama punya pandangan yang ambisius.

Selama bertahun-tahun pula ada kerja pas yang erat atas berbagai isu strategis. Mereka membentuk koalisi militer Arab dalam 2015 untuk memerangi ikatan pemberontak Houthi dukungan Iran di Yaman serta sama-sama menerapkan embargo diplomatik, perniagaan, dan perjalanan atas Qatar pada 2017.

Namun keretakan hubungan dua negara tersebut mulai terlihat dua tahun lalu saat UEA menarik sebagian besar pasukannya sejak Yaman, dan ini melaksanakan Saudi tidak senang.

Januari lalu, UEA secara berat hati menerima kesepakatan yang digalang Saudi untuk mengakhiri embargo atas Qatar, walau mereka belum sepenuhnya akur dengan Doha.

Sebaliknya, Arab Saudi tak begitu antusias melihat UEA menormalisasi hubungan dengan Israel tahun lalu.

Arab Saudi

Sumber gambar, AFP

Keretakan bahkan lebar Februari lalu saat Arab Saudi mengeluarkan tuntutan kepada perusahaan-perusahaan multinasional untuk merelokasi kantor regional mereka ke kerajaan itu selambatnya tahun 2024 bila tidak ingin kehilangan kontrak proyek.

Kebijakan ini dilihat sebagai serangan implisit tempat Dubai (salah satu kota besar di UEA), yang dikenal sebagai pusat denyut komersial di kawasan Teluk.

Lalu saat UEA memblokir suatu kesepakatan daripada OPEC+, Arab Saudi tampak membalasnya dengan menghentikan salur penerbangan ke tetangganya tersebut.

Alasannya adalah khawatir varian Covid, namun penghentian itu muncul menjelang keadaan libur umat Muslim yang biasanya dimanfaatkan banyak karakter untuk bertetirah ke Dubai.

Arab Saudi juga mencanangkan tidak akan lagi menancapkan impor dari zona-zona luput atau yang berhubungan dengan Israel dalam kesepakatan penanggalan tarif dengan negara-negara Teluk.

Kebijakan itu jadi pukulan bagi perekonomian UEA, yang selama ini menjadi model zona perdagangan luput.

Kompetisi e konomi

Diskusi di OPEC+ itu dipertegas oleh rivalitas ekonomi dengan meningkat di kedua bagian. Mereka sama-sama ingin mendiversifikasi ekonominya dengan mengurangi ketergantungan pada ekspor hidrokarbon.

Bertumbukan dengan strategi ekonomi dengan lebih agresif yang digencarkan Mohammed bin Salman, kedua negara kini bersaing dalam sejumlah sektor seperti wisata, jasa keuangan, dan teknologi.

“Arab Saudi adalah raksasa di kawasan yang sudah bangun. Dan di level tertentu ini mencemaskan UEA, ” kata Neil Quilliam, pengamat di Chatham House di London.

Dubai

Sumber gambar, Reuters

“Dalam 15 hingga 20 tahun ke depan, bila Arab Saudi bertransformasi menjadi ekonomi dengan dinamis, maka akan maka ancaman bagi model ekonomi Emirat. ”

Masih belum jelas apakah Arab Saudi dan UEA pada belakangan akan bersepakat soal kata sepakat baru OPEC+.

Namun Ali Shihabi, analis asal Saudi yang dekat dengan bagian kerajaan, tidak yakin bahwa keretakan ini akan merusak hubungan mereka dalam jangka panjang, walaupun sikap asing pihak Emirat itu mengundang “kejutan” bagi Saudi, mengingat mereka sudah bekerja betul keras untuk mencapai konsensus.

“Kedua pihak punya ketidaksetujuan yang lebih gede di masa lalu, ” katanya.

“Setiap hubungan tentunya berlangsung naik mendarat, termasuk antara AS serta Inggris. Namun dasar ikatan ini benar-benar sudah [terlalu] besar untuk dirusak. ”

Related Post