Afghanistan: Kehidupan di Ibu Kota Kabul setelah dikuasai Taliban, lengang, perempuan masih beraktifitas di luar, sebagian warga menyapa milisi

  • Malik Mudassir
  • BBC News, Kabul

4 jam yang lalu

Taliban merebut serta menguasai ibukota Afghanistan, Kabul, pada 15 Agustus berantakan atau 20 tahun sesudah mereka digulingkan Amerika Serikat dan sekutunya dari kekuasaan. Seperti apa kehidupan pada kota itu setelah dikendalikan Taliban?

Pasukan Taliban ada di berbagai bintik di Kabul, termasuk dalam pos-pos pemeriksaan yang dulunya merupakan barikade polisi atau tentara Afganistan.

Kepanikan tidak begitu terlihat di Kabul, Senin (16/08). Ini berbeda dengan satu hari sebelumnya,

Pada Selasa (17/08), jalan-jalan masih kosong, sangat kecil kendaraan di jalan awam.

Warga kecil dan merasa kondisi dapat berubah menjadi buruk teks saja, jadi mereka memastikan untuk tetap tinggal di rumah.

Kondisi di pusat kota Kabul ini benar berbeda dengan bandar suasana, tempat banyak orang berbondong-bondong dan mencoba meninggalkan Afghanistan.

Di sejumlah lokasi, tentara Taliban mengatur lalu lintas. Mereka menggeledah mobil, terutama kendaraan yang dulunya milik polisi dan tentara.

Mereka telah mengambil seluruh kendaraan itu dan menggunakannya.

Kalaupun ada orang yang mengaku Taliban mengendarai instrumen itu, dia tetap dihentikan di pos pemeriksaan. Gerombolan Taliban berkata kepada awak bahwa mereka ingin mengisbatkan para pengendara itu tidak penjarah atau pencuri dengan menyamar sebagai anggota Taliban.

Sementara itu yang terjadi bandara adalah sebuah ‘bencana’. Ada banyak suku, terdiri dari anak-anak, karakter tua, orang muda, segenap berjalan di jalur udara sepanjang dua kilometer.

Mereka berjuang melarikan diri dari Afganistan. Sebagian besar dari mereka hanya menunggu, di sekitar bandara. Jumlah mereka bertambah dari 10. 000 orang.

Di dekat gerbang masuk utama bandara, rombongan Taliban dengan senjata mengandung terlihat mencoba membubarkan kerumunan dengan menembak ke suasana.

Orang-orang yang ingin menyelap lalu memanjat tembok, gerbang, bahkan kawat berduri. Pada setiap orang mendorong untuk masuk.

Sumber gambar, Reuters

Saya berbicara dengan seorang bukti mata yang terjebak dalam bandara pada hari Minggu lalu. Dia memiliki jadwal penerbangan ke Uzbekistan, akan tetapi pesawat itu batal amblas.

Para pimpinan serta karyawan bandara telah kelam dari tempat kerja mereka.

Orang-orang datang ke bandara tanpa tiket atau paspor. Mereka berpikir bisa terangkat pesawat apa saja serta bisa terbang ke wadah lain di dunia, sebutan seorang saksi mata.

Ribuan orang terjebak di dalam bandara, tanpa makanan ataupun air. Ada banyak hawa, anak-anak, dan difabel.

Pusat kota tenang

Namun jika Anda kabur ke pusat Kabul, kehidupan tampak normal. Lalu lin terlihat lengang. Sebagian gembung toko tutup.

Sumber gambar, Getty Images

Walaupun begitu, warga tampak jauh lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya, saat beberapa orang tampak sangat marah. Ketika itu terjadi kemacetan yang payah.

Sumber gambar, Getty Images

Saya hanya melihat kira-kira perempuan di jalan, kaum dari mereka berjalan tanpa pendamping. Beberapa perempuan menggunakan burka biru, tapi beta juga melihat beberapa menggunakan masker wajah dan kudung. Dan pasukan Taliban terlihat tidak mengusik mereka.

Di jalanan sama sekali tidak terdengar alunan musik. Biasanya hotel memainkan musik, akan tetapi itu tak terjadi sedang. Staf hotel terlihat gamang.

Sumber gambar, Getty Images

Namun, kota ini sedang terus berjalan. Nuansanya mati. Saya belum berbicara secara banyak penduduk, tapi sopir taksi lokal yang mengantar saya berkata dia tak ambil pusing soal Taliban yang kini menguasai negeri.

Sumber gambar, Getty Images

Anehnya, saya melihat orang-orang menyapa milisi Taliban. Itu antara lain mengatakan, “Halo, lebih banyak kekuatan buat Anda, semoga berhasil”.

Rombongan Taliban juga tampak suka. Saya berbicara dengan kira-kira dari mereka, termasuk dengan sedang berpatroli.

Awak mencoba masuk ke istana kepresidenan tapi mereka tak mengizinkan kami. Mereka bilang kami butuh izin sejak komando yang lebih tinggi. Namun para milisi yang saya lihat itu ramah kepada kami.

Saya sebenarnya agak takut kemarin, bingung akan terjadi kekerasan serta hal-hal lainnya. Tapi untungnya tidak terjadi apa-apa.

Kota ini begitu tenang dan tenang. Saya tidak percaya bahwa kekuasaan untuk ibu kota Afganistan ini telah berpindah tangan sesudah 20 tahun. Semuanya sejenis sunyi.

Related Post