Afghanistan: Black Hawk dan Humvee – Persenjataan militer yang kini dikuasai Taliban

  • Vikas Pandey & Shadab Nazmi
  • BBC News, Delhi

5 jam dengan lalu

Sumber gambar, Getty Images

Pesawat multiguna dengan empat baling-baling ini sekadar meluncur pada landasan, tapi aktivitas tersebut mengirim pesan pada dunia: Taliban bukan lagi sekelompok tentara urakan yang merangkup senapan serbu Kalashnikov di truk pikcup yang sudah rusak.

Di tempat lain, sejak kejatuhan Kabul pada 15 Agustus ke tangan kelompok garis keras Islam ini, foto-foto tentara Taliban memamerkan sejumlah persenjataan & kendaraan buatan AS cerai-berai.

Beberapa dari mereka terlihat dengan perlengkapan tempur penuh di unggahan media sosial, dan tak bisa dibedakan dari pasukan khusus lain yang ada di segenap dunia. Tak ada jenggot panjang, atau pakaian tradisional salwar kameez , dan tentu sekadar tak ada senjata yang berkarat.

Mereka menyita persenjataan itu setelah pasukan dari Tentara Pertahanan dan Keamanan Aghanistan (Ands) menyerahkan satu bagi satu kota ke tangan Taliban.

Sejumlah unggahan di media sosial mengatakan, hal ini membuat Taliban menjadi satu-satunya kelompok ekstrimis yang memiliki angkatan udara.

Berapa banyak pesawat yang dimiliki Taliban?

Per akhir Juni lalu, angkatan udara pemerintah Afghanistan tercatat mengoperasikan 167 pesawat, termasuk helikopter terjang, menurut laporan Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (Sigar) yang berbasis di AS.

Akan tetapi masih belum jelas berapa banyak di antara 167 pesawat itu yang sungguh-sungguh diambil alih oleh Taliban. Citra satelit di Bandara Kandahar yang diperoleh BBC dari Planet Labs, membuktikan sejumlah pesawat militer Afghanistan terparkir di landasan.

Suatu gambar, sejak enam keadaan peralihan kekuasaan ke lengah Taliban, menunjukkan lima motor – setidaknya dua helikopter MI-17, dua Black Hawks (UH-60) dan helikopter ke-3 yang bisa jadi UH-60, menurut Angad Singh, spesialis penerbangan militer di Observer Research Foundation yang berbasis di Delhi.

Sebaliknya, 16 pesawat — termasuk sembilan helikopter Black Hawks dan dua MI-17 serta lima pesawat bersayap — dapat dilihat meniti citra satelit lain yang diambil pada 16 Juli.

Ini artinya sejumlah udara di sana telah diterbangkan ke luar negeri, atau dipindahkan ke pangkalan udara lainnya.

Taliban juga menawan sembilan pangkalan udara Afghanistan lain, termasuk di antaranya yang berada di Herat, Khost, Kunduz, dan Mazar-i-Sharif — tapi masih belum jelas berapa banyak udara yang telah mereka sita, karena citra satelit tidak tersedia dari bandara-bandara tersebut.

Tapi ada juga tanggapan bahwa sejumlah pesawat itu telah diterbangkan ke sungguh Afghanistan, sebelum negara itu diambil alih oleh pasukan Taliban.

Analisis citra satelit yang diambil pada 16 Agustus dari bandara Termez Uzbekistan menunjukkan lebih lantaran dua lusin helikopter, tercatat MI-17, MI-25, Black Hawks dan juga sejumlah pesawat A-29 serta C-208, patuh pakar penerbangan di Delhi yang enggan disebutkan namanya.

Senjata menyerang apa lagi yang dimiliki Taliban?

Di samping perkara mengenai kekuatan udara Taliban, para ahli setuju, Taliban memiliki pengalaman mengoperasikan senjata, senapan dan kendaraan tempur yang canggih. Dan, perlengkapan militer seperti itu sangat banyak di Afghanistan.

Antara 2003-2016, AS menggunakan sejumlah gede perangkat keras militer era pasukan mereka bertempur beserta pasukan Afghanistan: 358. 530 senapan berbagai merek, bertambah dari 64. 000 senapan mesin, 25. 327 peluncur granat, dan 22. 174 Humvee (kendaraan tempur segala medan), menurut laporan Akuntabilitas Pemerintah AS.

Setelah pasukan NATO mengakhiri pertempuran mereka pada 2014, pasukan Afghanistan ditugaskan untuk mengamankan negara. Saat mereka berjuang melayani Taliban, AS menyediakan lebih banyak perlengkapan perang, serta menggantikan peralatan yang sudah tua.

Pada 2017, GANDAR mengirim setidaknya 20. 000 senapan M16. Pada tahun-tahun berikutnya, AS memasok teristimewa setidaknya 3. 598 bedil M4, dan 3. 012 Humvee untuk mempersenjatai pasukan Afghanistan antara 2017-2021, menurut Sigar.

Pasukan Afghanistan pula punya kendaraan lapis baja, yang digunakan untuk serbuan cepat. Kendaraan 4×4 itu juga bisa digunakan untuk mengangkut pasukan atau logistik perang lainnya.

Apa yang bisa dilakukan Taliban dengan persenjataan barunya?

Tergantung pada persenjataanya.

Mengambil alih pesawat mungkin barangkali bagi Taliban, tapi mengoperasikan dan memeliharanya akan pelik, kata Dr Jonathan Schroden, direktur di grup kunsultasi CNA sekaligus mantan advokat pasukan di Afghanistan.

Suku cadang kerap perlu servis dan kadang harus diganti, dan sebuah pasukan hawa sangat bergantung dari tim teknis yang bekerja untuk menjaga kelayakan setiap udara.

Banyak pemeliharaan pesawat dikerjakan oleh kontraktor swasta AS, yang telah meninggalkan negeri tersebut, bahkan sebelum Taliban mulai mengambil alih kota-kota dan provinsi pada Agustus.

Jodi Vittori, profesor bidang politik dan keamanan di Universitas Georgetow sekaligus veteran pasukan udara AS dengan bertugas di Afghanistan, setuju kalau Taliban kekurangan cakap untuk membuat pesawat itu beroperasi.

“Jadi, tak ada ancaman langsung bahwa Taliban akan menggunakan pesawat-pesawat itu, ” katanya sekali lalu menekankan, bisa saja pesawat-pesawat itu sudah dipreteli sebelum pasukan Afghanistan menyerah.

Dengan jalan apa pun, Taliban akan mencari jalan memaksa mantan-mantan pilot Afghanistan untuk menerbangkan pesawat-pesawat itu, kata Jason Campbell, seorang peneliti di Rand Corporation. “Taliban akan mengancam itu dan keluarganya. Jadi mereka mungkin bisa membawa pesawat-pesawat ini terbang ke angkasa, tapi dalam jangka-panjang terlihat suram. ”

Dan, Taliban kemungkinan bisa mengoperasikan helikopter MI-17 buatan Rusia, karena helikopter-helikopter itu sudah tersedia di negara itu selama beberapa dekade. Tapi untuk pesawat sisanya, mereka jadi akan mencari negara-negara lain untuk meminta pelatihan & pemeliharaan.

Persenjataan lain mau jauh lebih mudah dikuasai para milisi. Bahkan gerombolan Taliban lebih akrab secara persenjataan berbasis darat yang mereka sita.

Semasa bertahun-tahun, pos-pos keamanan yang direbut dan pasukan dengan membelot telah membuat itu terbiasa dengan persenjataan tersebut.

Bahwa kelompok ini mempunyai akses pada persenjataan modern seperti itu merupakan “kegagalan besar” kata Michael Kugelman, wakil direktur Wilson Center di Washington.

Tapi efeknya tidak akan terbatas di dalam Afghanistan. Ada kekhawatiran senjata-senjata akan mulai bermunculan pada pasar gelap, dan menimbulkan pemberontakan di seluruh negeri.

Ini bukan risiko tepat, kata Vittori, tapi ikatan dagang bisa muncul kira-kira bulan kemudian. Tanggung pikiran untuk menghentikan ini tersedia di tangan negara-negara tetangga Afghanistan, seperti Pakistan, China dan Rusia.

Champbell mengucapkan, Taliban nampaknya ingin membuktikan wajah bertanggung jawab, walaupun sulit bagi mereka buat tidak mendukung kelompok-kelompok secara ideologi yang sama di semesta dunia.

Persatuan di jarang Taliban adalah faktor penting lain yang akan berlaku dalam hal bagaimana senjata-senjata itu digunakan.

Vittori mengucapkan ada kemungkinan bahwa kelompok sempalan dari sekutu-sekutu Taliban memutuskan untuk hengkang, dan membawa serta persenjataan itu. Jadi, ini akan bergantung pada bagaimana para kepala Taliban menyatukan kelompok setelah euforia awal pengambilalihan Afghanistan mereda.

David Brown ikut berkontribusi dalam laporan ini.

Related Post